Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (562): Pahlawan Indonesia dan Perserikatan Sumatra; Tidak Semua Melayu, Sumatra Tidak Semua Islam

Tempo Doelo by Tempo Doelo
30.04.2022
Reading Time: 31 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Hingga
ini hari masih banyak penulis sejarah yang tidak bisa membedakan (organisasi) Perserikatan
Sumatra (Sumtranen Bond) dengan organisasi Jong Sumatranen Bond. Dua
organisasi ini adalah dua organisasi yang berbeda. Perserikatan Sumatra
(Sumatranen Bond) adalah organisasi senior sedangkan Jong Sumatranen Bond
adalah organisasi junior (pemuda). Kurang lebih sama dengan Boedi Oetomo
(senior) dan Jong Java (junior). 
Dinamika Sumatranen Bond berbeda dengan dinamika Boedi Oetomo.

ADVERTISEMENT

Jong Sumatranen Bond adalah
perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang
berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa
serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. Perkumpulan ini didirikan
pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki enam cabang, empat di
Jawa dan dua di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittinggi. Beberapa tahun
kemudian, para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini dikarenakan dominasi
pemuda Minangkabau dalam kepengurusannya. Para pemuda Batak ini membentuk perkumpulan
sendiri, Jong Batak. Kelahiran JSB pada mulanya banyak diragukan orang. Salah
satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang
mengatakan bahwa Sumatra belum matang bagi sebuah politik dan umum. Tanpa
menghiraukan suara-suara miring itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan
perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori
oleh kaum muda ini. Mereka menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi
adat Minang. Aktivis JSB, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua
generasi ini pada edisi perdana Jong Sumatra.
(Wikipedia).

Lantas
bagaimana sejarah Perserikatan Sumatra (Sumatranen Bond)? Seperti disebut di
atas, banyak penulis yang tidak bisa membedakan antara Sumatranen Bond di satu
sisi dan Jong Sumatranen Bond di sisi lain. Apakah ada kaitan Sumatranen Bond
dengan Bataksche Bond? Lalu bagaimana sejarah Sumatranen Bond sendiri
? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan
Perserikatan Sumatra: Tidak Semua Melayu dan Tidak Semua Islam

Nama
Sumatranen sudah dikenal pada tulisan-tulisan Belanda yang mengindikasikan
untuk menyebut Orang Sumatra (lihat Arnhemsche courant, 22-06-1824). Disebutkan
di dalam artikel orang Sumatra terdiri dari kelompok yang berbeda satu sama
lain, antara lain Atjeh, Batak, Minangcabao, Redjang, Lampong, Palembang (ada
elemen Jawa), Melayu plus Nias dn Bangka. Disebutkan Melayu diasosiasikan Islam
(meski Islam juga ada di kelompok penduduk yang lain).

Artikel tersebut merujuk pada tulisan
Eschelskroon yang pernah menjadi Residen Belanda (VOC) di Airbangis 1766-1774 dan
buku yang ditulis oleh Willem Marseden yang diterbitkan pada tahun 1781. Pada
tahun 1824 adalah tahun yang mana antara Belanda dan Inggris melakukan
perjanjian (Tractaat London 1824) yang salah satu diantaranya soal tukar guling
antara Bengkoeloe dan Malaka. Tahun 1824 dapat dikatakan sebagai tahun
pemisahan yang tegas antara Sumatra dan Semenanjung.

Nama
Sumatranen menjadi nama baku (nomenklatur) untuk mengidentifikasi orang yang
berasal (berdiam) di (pulau) Sumatra yang dibedakan dengan Semenanjung dan Jawa.
Orang Jawa disebut Javanen, orang Sulawesi disebut Celebezen, orang Borneo
disebut Borneoten (lihat Algemeen Handelsblad, 17-12-1846). Untuk orang Eropa
disebut Europeanen, orang Melayu (Maleijers), Orang Cina (Chinezen); orang
Sunda (Soedanezen), Makassaren, SArabieren, Mooren, Ambonezen dan lain
sebagianya (lihat Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 20-03-1860).
Orang Belanda disebut Nederlander, Boeginezen, Batakker, Bornezen (lihat Dagblad
van Zuidholland en ‘s Gravenhage, 20-04-1865).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Perserikatan Sumatra dan
Bataksche Bond: Jong Sumatranen Bond dan Jong Batak

Kesadaran
orang Sumatra (Sumatranen) tentang Sumatra muncul paling tidak, kali pertama
pada tahun 1911 dalam satu artikel yang dimuat surat kabar Pembrita Betawi yang
dalam bahasa Belanda diterjemahkan dengan judul Sumatra Vooruit! (lihat Provinciale
Geldersche en Nijmeegsche courant, 08-10-1911). Disebutkan penulis menunjukkan
kurangnya kesempatan bagi orang Sumatera untuk berkembang, karena kurangnya
institusi pendidikan. sedang berjuang untuk setara dengan Jawa, perjuangan itu
harus didorong oleh Pemerintah.

Disebutkan lebih lanjut Sumatera hanya
memiliki satu sekolah guru (kweekschool) di Fort de Koek, sementara hanya di
Padang ada kesempatan bagi pemuda Melayu untuk mahir dalam bahasa Belanda.
Memang pemuda Sumatra bisa dikirim ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, tapi
hanya segelintir yang bisa merasakan manfaatnya. Menurut penulis, orang Sumatra
harus diberi kesempatan yang sama untuk berkembang secara intelektual, seperti
orang Jawa — Sumatera adalah pulau masa depan — sehingga Sumatera dapat
memiliki sekolah kedokteran, sekolah kepala sekolah, sekolah yurisprudensi
sendiri, sekolah untuk dokter hewan, dll.; terutama perlu ada sekolah kejuruan dan
sekolah perdagangan, karena kecenderungan anak muda Sumatra mengarah kesana.
Penulis mengajak seluruh masyarakat Sumatra untuk bergabung dengannya, dan
meminta kepada Pemerintah untuk membuat lembaga yang sangat dibutuhkan Sumatra.

Orang
Sumatra (Sumatranen) semakin banyak dari waktu ke waktu di Jawa, tidak hanya di
Batavia tetapi juga di Buitenzorg dan bahkan Soerabaja. Namun konsentrasi orang
Sumatra di Jawa umumnya di Batavia dan sekitar. Mereka itu sebagai migran karena
tujuan sekolah, bekerja di pemerintahan dan berwirausaha. Jumlah yang
bersekolah di Jawa juga semakin meningkat terus.

Sekolah-sekolah yang dituju di Jawa antara
lain sekolah kedokteran (Docter Djawa School/Stovia) dan sekolah hukum
(revhtschool) di Batavia serta sekolah pertanian (landbouwschool) dan sekolah
kedokteran hewan (veeartsenschool) di Buitenzorg. Selain itu sekolah yang
dituju adalah sekolah menangah atas (HBS) yang baru ada di Jawa dimana di
Batavia terdapat Koning Willem III School dan Wilhelmina School serta Prins
Hendrik School yang dibuka tahun 1915..

Orang
Sumatra (Sumatranen) selain sekolah ke Jawa, juga semakin banyak yang studi ke
Belanda. Orang-orang Sumatra yang studi ke Belanda inilah yang kali pertama
menginisiasi terbentuknya perhimpunan yang berada di luar Sumatra.

Orang-orang Sumatra di Sumatra sudah sejak
lama membentuk perhimpunan. Satu yang pertama, di Padang pada tahun 1900
dibentuk satu perhimpuenan (societeit) yang diinisiasi oleh Saleh Harahap gelar
Dja Endar Moeda, pemimpin surat kabar Pertja Barat. Perhimpunan ini diberi nama
Medan Perdamaian. Organisasi Medan Perdamaian ini dapat dikatakan sebagao
organisasi kebangsaan Indonesia pertama (jauh sebelum Boedi Oetomo didirikan di
Batavia tahun 1908). Organisasi Medan Perdamaian di Padang bersifat nasional.
Pada tahun 1907 di Medan dibentuk organisasi kebangsaan Sarikat Tapanoeli
(yaang hanya terbatas untuk orang-orang Tapanoeli dari wilayah Zuid Tapanoeli).
Pada tahun 1908 di Belanda, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan
menginisiasi pembentukan organisasi pribumi yang studi di Belanda yang diberi
nama Indische Vereeniging. Dja Endar Moeda, ketua Medan Perdamaian yang pertama
di Padang adalah kakak kelas Soetan Casajangan, ketua Indische Vereeniging di
sekolah guru Kweekscholl Padang Sidempoean..

Sorip Tagor Harahap, mahasiswa sekolah kedokteran hewan di Utrecht menginisiasi
pembentukan organisasi pribumi yang studi di Belanda yang berasal dari Sumatra.
Organisasi orang-orang Sumatra (Vereeniging van Sumatranen) yang studi di
Belanda ini didirikan pada tanggal 1 Januari 1917 di Belanda yang diberi nama
Sumatra Sepakat.

Dari pers berbahasa Melayu. Sumatra Sepakat.
Sorlp Tagor Harahap, mahasiswa ilmu kedokteran hewan, di Utrecht,
menginformasikan kepada PD bahwa sebuah perkumpulan Soematranen didirikan di
Belanda pada 1 Januari 1917, dengan nama: “Soematra Sepakat”.
Pengurus terdiri dari: Sorip Tagor, mahasiswa kedokteran hewan, Utrecht, ketua;
Dahlan Abdullah, dosen bahasa Melayu, di Leiden, sekretaris; Toedoeng Harahap
gelar Soetan Goenoeng Moelia, guru, bendahara; Zaid Rasad, mahasiswa pertanian,
di Wageningen; Achmad Salim, kadet di Alkmaar, Mohammad Iljas, mahasiswa di
Sekolah Tinggi Teknik di Delft, Ibrahim Datoek Tan Malaka, Guru di Bussurn,
Amaroellah, Guru Bahasa Melayu di Alkmaar dan di Hellevoetsluis, Agar tidak
lari kebelakang seperti kuda pincang dalam kemajuan zaman sekarang. di Belanda
ingin mengangkat rekan senegaranya lebih dan lebih Mereka bermaksud mengirimkan
berbagai macam artikel ke surat kabar di Sumatera, yang menyangkut: kebijakan,
ekonomi, politik, pengetahuan komersial, industri, manajemen, militansi,
demokrasi, agama, kebesaran suatu negara, pembangunan kerakyatan, kerukunan. ,
patriotisme, negara, pemerintahan, kekuasaan negara dan lain-lain. Para anggota
dewan membagi pembahasan topik tersebut antara lain. Zain Rasad membahas
pertanian, ekonomi pertanian dan manajemen bisnis. Soetan Goenoeng Moelia akan
menulis tentang pembangunan kerakyatan, sosial pemahaman dan aspirasi rakyat
Dahlan Abdullah akan berbicara tentang bahasa Sumatera, sejarah Soematra dan
pendidikan tinggi di Hindia Belanda; Achmad Salim akan memberikan kontribusi
pada militerisme, patriotisme dan pertahanan negara Mobammad Ilyas akan kontribusi
hal konstruksi, irigasi dan industri. Ibrahin Datoek Tan Malaka kontrubusi
dalam hal merawat religi, religi-filosofi dan filsafat. Amarollah akan
berkontribusi pada statistik perdagangan, impor dan ekspor dan perdagangan.
Serlp Tagor akan menulis tentang peternakan, economip dan kesejahteraan
penduduk. Seluruh Sumatera atau afiliasinya dapat menjadi anggota, kontribusi
tidak ditentukan. Dan sumbangan dari yang lain. Uang itu digunakan untuk
membayar ongkos kirim dan membeli buku untuk perpustakaan yang akan didirikan
di Padang, Fort de Koek, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan. Koeta Radja di
tempat lain di Sumatera, ‘Mereka yang ingin mengurus perpustakaan, berharap Sumattra
Sepakat akan membentuk divisi ‘Sumatera Sepakai’ di semua tempat di Hindia
(lihat De Sumatra post, 31-07-1919).  

Satu
bulan kemudian, di Batavia, dibentu bond van Sumatranen yang diberi nama
Keroekoenan Anak (lihat De locomotief, 04-02-1917). Disebutkan di
Hindia
Belanda. Batavia, 4 Februari. Bond van Sumatranen. Di Batavia sebuah Nationale
Bond van Sumatranen telah didirikan hari ini dengan nama “Keroekoenan
Anak”. Tujuh puluh anggota bergabung. Ada sebanyak 800 orang Sumatera di
Batavia, sehingga diharapkan keanggotaan aosisasi akan segera bertambah. Tidak
terinformasikan apakah Sumatranen Bond Batavia ini memiliki kaitan langsung
dengan Sumatranen Bond di Utecht (Belanda).

Menanggap terbentuknya Sumatranen Bond di
Batavia, surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-02-1917
memberi komentar: Sudah menjadi kebiasaan tuan-tuan etika untuk buru-buru
melabeli berbagai gerakan pribumi “nasional” atau
“nasionalis”. Dimana bangsa Sumatera bertanya? ? Orang Atjeh, Djambi,
Palembang dan Batak, dsb. apakah mereka membentuk satu bangsa? Sudah tentu
jawabannya pasti negatif. Beda ras memiliki ciri-ciri yang mencirikan bahkan
tidak ada kesamaan. Dan kalaupun ada satu orang, satu ras, di Sumatra,
komunitas ilmiah tidak akan mengizinkan menggunakan kata bangsa dalam hal ini. Orang
tidak berbicara tentang kafir, tentang bangsa Jawa atau Kalimantan, karena
konsep bangsa tidak hanya mencakup kesatuan nasional tetapi juga tingkat budaya
tertentu. Tidak ada satu atau yang lain di Sumatera. Oleh karena itu, sangat disayangkan
untuk menggelembungkan segala macam hal sepele pribumi sampai memperoleh
penampilan yang ideal, yang segera menyebabkan kata besar dan tebal:
“nasional” disalahgunakan. editor harus berkonsultasi dengan Panduan,
volume 1916, “tetapi di dalamnya mereka akan menemukan penjelasan yang
sangat baik tentang konsep bangsa, dari tangan  J. Havelaar Dan penjelasan itu sangat
dibutuhkan.

Pada
bulan Desember 1917, masih di Batavia dibentuk organisasi Jong Sumatranen Bond
(lihat De locomotief, [Jumat] 14-12-1917). Disebutkan hari Minggu lalu [09-12-1917],
rapat umum pembentukan serikat di atas berlangsung di Batavia. Selain banyak
siswa dari sekolah menengah disini, pertemuan antusias juga dihadiri oleh
banyak pihak yang berkepentingan diantaranya kami mencatat: Ibu Labberton dan
Pak Polderman, Abdoel Moeis dan Soetan Toemenggoeng. Serikat ini adalah satu
untuk kaum muda Sumatera yang memiliki pendidikan menengah, menengah atas atau
kejuruan.

Disebutkan tujuannya, seperti yang kita baca
di JB adalah (1) Untuk mempererat ikatan antara orang-orang Sumatera yang
belajar, yaitu dengan menghilangkan semua delusi rasial dan dengan memupuk dan
memperkuat rasa saling menghargai. (2) Untuk membangkitkan minat pada tanah dan
masyarakat Sumatera. (3) Untuk membangkitkan dan mempertahankan kesadaran
anggota bahwa mereka akan terpanggil untuk bertindak sebagai pemimpin dan
pendidik bagi rakyatnya. (4) Untuk membangkitkan minat dalam praktek bahasa
Sumatera dan untuk memelihara dan mempromosikan seni dan kerajinan Sumatera.
Asosiasi berusaha untuk mencapai tujuannya dengan mempelajari dan mempraktekkan
sejarah, bahasa, budaya dan seni Sumatera; dengan mengundang orang-orang yang
berwenang untuk memberikan kuliah atau menulis artikel tentang geografi,
etnografi, sosial, sejarah, dll tentang setiap bagian dari Sumatera, dan
akhirnya dengan menerbitkan majalah. Pembentukan liga ini sangat penting,
karena hanya dengan cara ini, yaitu dengan membentuk dan memantapkan persatuan
diantara semua anggota generasi muda Sumatera, mungkin untuk menutup keretakan
yang memisahkan ras selama berabad-abad, secara bertahap menghilang untuk
selamanya. Untuk itu, generasi muda harus terhindar dari racun prasangka yang
diancam akan disuntikkan oleh kaum tua konservatif di kampung-kampung. Mencegah
hal ini adalah salah satu tugas serikat yang paling sulit. Kebetulan, asosiasi
ini secara ketat menyembunyikan semua warna politik. Mengenai posisi JSB
terhadap penduduk Hindia lainnya; salah satu pembicara pada pertemuan tersebut
di atas mengatakan tentang hal ini: ‘Siapa pun yang berpikir bahwa asosiasi
kami dibangun di atas antitesis Jawa-Sumatera adalah sangat keliru. Kerjasama
dengan saudara-saudara kita di Jawa dan orang Hindia lainnya tidak hanya
diperbolehkan, tetapi menurut saya bahkan diinginkan, asalkan kemerdekaan kita
tetap terjaga.

Dari
tiga asosiasi yang dibentuk pada tahun 1917, tampaknya ada kemiripan yang
terdapat di Belanda yang dibentuk bulan Januari dan yang didirikan di Batavia
pada bulan Desember.Tidak hanya konsepnya yang sama, juga karakteristik keanggotaan
berasal dari komunitas yang sedang studi baik di Belanda maupun di Batavia.
Organisasi Sumatranen Bond yang didirikan pada bulan Februari 1917 diduga kuat
berbeda dengan dua yang disebut di atas. Sumatranen Bond yang dibentuk bulan
Februari merujuk pada populasi 800 jiwa di Batavia.

Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa organisasi
orang Sumatra yang didirikan di Batavia berbeda golongan. Sumatranen Bond yang
didirikan bulan Februari adalah organisasi para senior, sedangkan organisasi
yang didirikan pada bulan Desember, sesuai namanya (Jong Sumatranen Bond)
adalah golongan junior. Besar dugaan dua organisasi yang didirikan di Batavia
memiliki relasi (senior-junior). Lalu bagaimana dengan yang berada di Belanda?

Besar
dugaan organisasi yang didirikan di Belanda memiliki relasi dengan yang junior
di Batavia. Relasinya diduga telah terjadi proses transfer, yang mana gagasan
Sumatra Sepakat di Belanda telah didelegasikan ke Batavia (Jong Sumatranen
Bond). Hal ini bisa jadi karena jarak Belanda dengan target (bumi dan populasi
Sumatra) begitu jauh, relatif dibandingkan dengan Jong Sumatranen Bond di
Batavia. Sebagaimana diketahui di Belanda sudah eksis organisasi pribumi yang
studi di Belanda, Indische Vereeniging (sejak 1908). Akan lebih mudah bagi
mahasiswa di Belanda melepaskan (melikuidasi) organisasi Sumatra karena para
anggotanya sudah juga tergabung dengan Indische Vereeniging. Seperti kita lihat
nanti, organisasi Sumatra di Belanda benar-benar menghilang (tidak
terinformasikan lagi).

De Sumatra post, 17-01-1918: ‘Jong Sumatranen
Bond. Atas prakarsa beberapa orang, bersama-sama membentuk panitia sementara,
tanggal 9 Desember yang lalu serikat telah dibentuk diantara siswa sekolah
menengah dan kejuruan di kota ini, yaitu Jong-Sumatraenbond, yang tujuan dan
informasinya akan dijelaskan oleh statuta dalam badan federasi yang akan segera
diterbitkan… Diilhami oleh kebenaran diatas, para siswa
sekolah menengah dan kejuruan di Weltevreden, mengikuti contoh (organisasi)
Jong Java, telah mendirikan serikat, yang terdiri dari pemuda Sumatera yang
belajar, tanpa memandang kebangsaan, agama, asal, kecenderungan, dll….Karena
berbagai populasi Sumatera berbicara begitu banyak dan sangat berbeda satu sama
lain pemahaman yang baik hanya Bondsblad (majalah organisasi) hanya
artikel-artikel yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Riouw-Melayu. lagi pula,
kedua bahasa ini saja adalah milik bersama semua anggota….Susunan dewan pengurus
berikut sesuai dengan yang disebutkan ketua, Tengkoe Mansjoer, Pantai Timur
Sumatera, wakil ketua Abdoel Moenier Nasoetion, Tapanoeli, sekretaris Amir dan
Anas, Pantai Barat  Sumatra; bendahara Marzoeki
Pantai Barat Sumatera’. Catatan: Semua nama yang disebut adalah mahasiswa
sekolah kedokteran (STOVIA) di Batavia.

Pengurus
pusat Jong Sumatranen Bond akan membentuk cabang di Padang (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1918). Pada saat liburan, dua anggota
Jong Sumatranen Bond yang keduanya mahasiswa STOVIA akan melakukan propaganda
ke Pantai Barat Sumatra hingga bulan Desember (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
24-07-1918).

Satu yang menjadi perhatian saat pembentukan
Jong Sumatranen Bond di Batavia pada bulan Desember 1917 turut dihadiri oleh
dua orang Belanda serta Abdoel Moeis dan Soetan Toemenggoeng. Dalam hubungan
ini menjadi perhatian karena pengurus segera membentuk cabang di Padang dimana
dua anggota diutus untuk propaganda ke Pantai Barat Sumatra. Mengapa Padan dan
Pantai Barat Sumatra menjadi khusus dalam awal pembentukan Jong Sumatranen
Bond? Sebagaimana diketahui, Abdoel Moeis adalah seorang politisi (yang lama di
Bandoeng) dan pada tahun-tahun ini isu tentang dewan pusat (Volksraad) intens
dibicarakan. Sementara itu berdasarkan catatan hasil Sensus Penduduk 1920,
jumlah migran (asal) Minangkabau di Jawa terbilang hanya sendikit. Apakah
situasi dan kondisi semuanya memiliki relasi satu sama lain?

Sementara
dua anggota Jong Sumatranen Bond ke Pantai Barat Sumatra, Abdoel Moeis juga
melakukan kunjungan ke West Sumatra. Hasil kunjungan Abdoel Moeis ke West
Sumatra dilaporkan Bataviaasch nieuwsblad, 23-09-1918. Hasilnya terbilang
sukses, tetapi ada juga yang menentang kehadirannya, yakni pemimpin surat kabar
Oetoesan Melajoe Datoek Soetan Maharadjo. Disebutkan Abdoel Moeis dalam
kunjungannya selama 28 Juli dan 14 Agustus dalam pertemuannya yang diadakan di
Padang, Priaman, Fort van der Capellen, Pajakombo, Fort de Koek, Padang Pandjang
dan Sawah Loento. Hanya di Pajakombo yang gagal dari dewan secara keseluruhan
dari semua partisipasi. Pada suatu kesempatan, pendukung partai konservatif
Datoe Soetan Maharadjo, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe dan ketua Sarikat
Adat Alam Minangkabau, telah mencoba untuk melawan Abdoel Moeis,

Disebut lebih lanjut dukungan terhadap partai muda
Abdoel Moeis terutama lebih menentukan di Padang Pandjang, dimana merupakan
pertemuan yang cukup umum mewakili Minangkabausch….
Untuk
menghilangkan pengaruh Datu’ Soetan Maharadjo, yang ternyata sama, hanya
memiliki pengikut yang lemah, tetapi berkat kepemilikan organ, Utusan Melaju,
masih dapat memiliki pengaruh penting, Padang sudah menjadi modal penting
terkumpul untuk membeli surat kabar itu. Jika pemiliknya tidak dapat ditemukan
untuk dijual, maka akan didirikan sebuah percetakan dan sebuah surat kabar baru
diterbitkan di Padang, sebagai organ perserikatan yang disebut Perserikatan Minangkabau.
Pusat administrasi perhimpunan ini, yang pembentukannya telah disebutkan
sebelumnya, sekarang diorganisir di Batavia…..diumumkan sebuah komite kecil
dari koloni Minangkabauscbe di Batavia  telah bertemu. Tokoh-tokoh yang paling
menonjol dari koloni itu akan menjadi dewan pengurus, seperti juga Dr. Abdoel
Rival, anggota Volksraad akan diminta untuk bertindak sebagai Komisaris
Administrasi Pusat. Sementara itu baru-baru ini didirikan di Fort de Koek organisasi
“Boedi Baik’, kemudian berganti nama menjadi Sumatranenbond, tetapi
kemudian telah bubar di tempat yang baru didirikanight Perserikatan Minangkabau,
yang sepertinya akan menjadi asosiasi sentral untuk West Sumatra. Catatan:
Sumatranen Bond yang didirikan di Fort de Kock dipimpin oleh adalah Kahar
Masjhoer (lihat De locomotief, 21-08-1918). Namun seiring masuknya Abdoel Moeis
dengan (bendara) Perimpoenan Minangkabau telah membubarkan diri.

Dalam
hubungan ini terlihat bahwa Abdoel Moeis memiliki kepentingan sendiri, Perhimpoenan
Minangkabau, yang berbeda dengan Jong Sumatranen Bond. Pendirian Perhimpoenan
Minangkabau lebih berorientasi pada golongan senior (politik dan Volksraad).
Lalu bagaimana dengan Sumatranen Bond di Batavia yang didirikan pada bulan
Februari 1917? Besar kemungkinan masih eksis, sebab Perhimpoenan Minangkabau yang
didirikan di Batavia (dan kemungkinan akan bergeser ke Fort de Kock) dapat dikatakan
bagian dari Sumatranen Bond di Batavia.

De locomotief, 06-12-1918: ‘Weltevreden, 6 Desember.
Het hoofdbestuur van den Sumatranenbond. Dewan Sumatera, yang terdiri dari dua
puluh enam asosiasi, memutuskan untuk mendesak di tempat yang lebih kompeten
untuk memasukkan perwakilan serikat ke dalam komite parlemen’.

Tampaknya
Sumatranen Bond di West Sumatra telah tamat (digantikan oleh Perhimpoenan
Minangkabau). Sumatranen Bond dengan pusat di Batavia masih eksis. Pada bulan
November 1919 Sumatranen Bond (Perserikatan Sumatra) dibentuk di Soerabaja
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-11-1919). Pengurus Sumatranen
Bond di Soerabaja adalah Sadinan, ketua, Radjamin Nasoetion, pejabat bea dan
cukai di Soerabaja sebagai sekretaris, dan Achir sebagai bendahara. Para
komisaris adalah Siroen, Joesoef dan Abdoel Kadir. Sebagai penasehat adalah Dr
Mohamad Salih.

Beberapa hari sebelumnya di Batavia dibentuk
organisasi Batakschebond (lihat De Sumatra post, 15-11-1919). Disebutkan ikatan
orang-orang Batak (Batakker) di bawah nama ini sebuah asosiasi baru didirikan
di Batavia. Pengurus terdiri dari: ketua Dr Abdoel Rasjid Siregar, wakil ketua:
Radjioen Harahap Soetan Casajangan, sekretaris-1 Abdoei Hamid, sekretaris-2
Mararie Siregar, bendahara W Faril L Tobing, Komisaris: Dr. Maamoe’r Al Rasjid
Nasoetion, Soetan Casajangan, Abdoel Hamid dan Farel L Tobing, Shaboedin (Guru
Pertanian), Hadjoran, (Pengawas), Soetan Pamenan, ex demang dan Achmad Pohan..

Pembentukan
Bataksche Bond ini kurang lebih sama dengan pembentukan Perhimpoenan
Minangkabau. Tapi tampaknya keduanya masih tetap berafiliasi dengan organisasi
yang lebih luas Sumatranen Bond. Di tempat dimana terdapat populasi yang besar
dibentuk organisasi (Minangkabau di Batavia/Fort de Kock dan Bataksche Bond di
Batavia), sementara di tempat yang populasinya heterogen seperti di Batavia dan
di Soerabaja dibentuk Sumatranen Bond.

Lalu bagaimana dengan Jong Sumatranen Bond
sendiri? Organisasi pemuda ini hingga tahun 1919 (didirikannya Bataksche Bond)
hanya satu organisasi pemuda asal Sumatra yakni Jong Sumatranen Bond. Seperti
kita lihat nanti, Jong Batak baru didirikan di Batavia pada tahun 1925.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post
Wisata City Light, Bikin Liburan Lebaran di Jakarta Lebih Kekinian

Wisata City Light, Bikin Liburan Lebaran di Jakarta Lebih Kekinian

al-Mufashshal fi Ahkam al-Mar’ah

Tangkal Pelaku Usaha Bidang Wisata Naikkan Harga di Libur Lebaran, Pemerintah Bantul Lakukan ini

Iklan

Recommended Stories

Bank Mandiri KCP Pademangan Jakarta

30.12.2015

Resep Ayam Kecap Wijen Masak Bumbu Jahe

28.07.2016

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (2)

10.03.2025

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?