*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Seperti apa era kenabian di
Nusantara? Tentulah sudah ada peradaban yang tinggi juga dan navigasi pelayaran
perdagangan yang intens antar pulau di Nusantara. Era kenabian dalam hal ini
diringkas sejak hijrabnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (620 M) sebagai tahun
pertama penanggalan Islam. Dalam konteks ini (pada tahun-tahun kenabian) ada
satu hadis yang menyatakan ‘Tuntutlah ilmu itu walau jauh ke negeri Cina’.

seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim. Muhammad sama-sama menegakkan
ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul
sebelumnya. Lahir di Mekkah, Beranjak remaja, Muhammad bekerja sebagai
pedagang. Diriwayatkan dalam usia ke-40, Muhammad didatangi Malaikat Jibril dan
menerima wahyu pertama dari Allah. Tiga tahun setelah wahyu pertama, Muhammad
mulai berdakwah secara terbuka, menyatakan keesaan Allah dalam bentuk
penyerahan diri melalui Islam sebagai agama yang benar. Muhammad menerima wahyu
berangsur-angsur hingga wafat. Praktik atau amalan Muhammad diriwayatkan dalam
hadis, dirujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran.
Muhammad bersama pengikut awal mendapati berbagai bentuk perlawanan dan
penyiksaan dari beberapa suku Mekkah. Seiring penganiayaan yang terus
berlanjut, Muhammad membenarkan beberapa pengikutnya hijrah ke Habsyah, sebelum
Muhammad memulai misi hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa hijrah
menandai awal penanggalan Kalender Hijriah dalam Islam. Di Madinah, Muhammad
menyatukan suku-suku di bawah Piagam Madinah. Setelah delapan tahun bertahan
atas serangan suku-suku Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10.000 Muslim untuk
mengepung Mekkah. Serangan tidak mendapat perlawanan berarti dan Muhammad
berhasil mengambil alih kota dengan sedikit pertumpahan darah. Ia menghancurkan
berhala-berhala. Pada tahun 632 M, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah
usai menjalani Haji Wada, Muhammad jatuh sakit dan hingga akhirnya wafat.
Muhammad meninggalkan Semenanjung Arab yang telah bersatu dalam pemerintahan
tunggal Islam dan sebagian besar telah menerima Islam. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Tuntutlah Ilmu Itu Meski Jauh ke Negeri Tiongkok? Seperti disebut di atas, Nabi
Muhamma SAW pernah menyatakan saran serupa itu (hadis). Mengapa harus ke
Tiongkok? Bagaimana situasi dan kondsisi saat itu di Nusantara (baca:
Indonesia)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Tuntutlah
Ilmu Itu Meski Jauh ke Negeri Tiongkok: Era Kenabian di Nusantara
Catatan
dinasti Tiongkok Min Shu yang dikompilasi pada akhir abad ke-16 berdasarkan
sumber-sumber kuno oleh Ho Ch’iao-yüan menyatakan T’u-shu Chi-ch’êng,
Chih-fang-tien, bab 1052, halaman 5a bahwa antara tahun 618 dan 626 empat orang
pengikut Muhammad membawa Islam di Tiongkok. Dari laporan Tiongkok terserbut
disebutkan satu orang mengajar di Canton, satu orang di Yang-chow, dan dua orang lainnya di
Ch’üan-chow.
Makam Islam tertua ditemukan di Barus,
Tapanuli Tengah pada tahun 672 M atau tahun 48 Hijriyah. Nabi Muhammad SAW
meninggal di Medinah pada tahun 632 M. Tahun hijriyah pertama adalah tahun 622
M. Makam tua di Barus mengindikasikasikan tahun yang begitu dekat dengan
tahun-tahun kenabian (semasih Nabi Muhammad masih hidup). Tahun makam tua di
Barus ini dapat dibandingkan dengan tahun prasasti Kedukan Bukit (682 M).
Sementara
itu di dalam P’an-yü-hsien-chih bab 53 halaman la menyatakan bahwa ketika
navigasi pelayaran perdagangan dibuka pada dinasti T’ang, Mohammed (beragama)
Muslim adalah Raja di Medinah. Ini mengindikasikan bahwa pada saat itu di
Tiongkok sudah diketahui bahwa raja (Islam) yang beribukota di Madinah adalah Muhammad. Hal ini sebaliknya
juga nama Muhammad sudah mengetahui bagaimana pedagang-pedagang Arab telah
mencapai Tiongkok. Boleh jadi laporan-laporan pedagang Arab melalui lautan ini
yang diketahui oleh Nabi Muhammad sehingga menantang penduduk bahwa menuntut
ilmu itu wajib, bahkan jika harus ke Tiongkok.
Sebagaimana diketahui turunnya ayat pertama
(Al Quran) di gua Hira pada tahun 610 M. Nabi Muhammad sendiri lahir di Mekkah
tahun 570 M, menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah. Pernah menjadi hakim
di kota Mekkah pada usian 35 tahun. Muhammad menerima wahyu pertama 610 pada
usia 40 tahun. Pada tahun 622 Nabi Muhammad dan pengikut pindah dari Mekkah ke
Madinah (sebagai awal tahun Hijriyah). Jika dibandingkan catatan Tiongkok di
atas, empat orang Muhammad sudah berada di Canton pada tahun 618 (sebelum
hijrah).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Era Kenabian di Nusantara:
Mempelajari Pengetahuan hingga ke Sumber-Sumber Sejarah di Tiongkok
Relevan
dengan hadis yang disebut di atas tentang tuntutlah ilmu walau jauh ke
Tiongkok,dalam Al Quran juga ada yang mengindikasikan tentang keberadaan Barus.
Disebutkan dalam QS 76: 5 bahwa Dan orang-orang yang taat akan minum dari
gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus].

Tiongkok dalam navigasi pelayaran perdagangan melalui pelabuhan Barus di pantai
barat Sumatra.suatu pelabuhan kuno dari mana kapur barus (kamper) diekspor.
Dalam catatan Eropa abad ke-2, Ptolomeus menyebutkan sentra produksi kamper
berada di Sumatra bagian utara. Pada catatan Eropa yang berasal dari abad ke-5
sudah disebut secara tegas bahwa kamper diekspor dari pelabuhan yang disebut
Barus. Ini mengindikasikan bahwa kamper dan kota Barus sudah dikenal sebelum
pedagang-pedagang Arab dapat mencapai pantai timur Tiongkok di Kanton.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





