Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (546): Pahlawan Indonesia dan Indonesiasi di Wilayah Asia Tenggara; Era Lingua Franca AntarGenerasi

Tempo Doelo by Tempo Doelo
21.04.2022
Reading Time: 26 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam beberapa minggu terakhir isu
dan debat dimana-mana tentang bahasa resmi di ASEAN mendapatkan gambaran
beragam, khususya di Indonesia dan Malaysia. Panel Indonesia jelas mengakui
bahasa Indonesia berkembang dari bahasa Melayu dan bahwa bahasa Indonesia
berkembang dan dikembangkan secara sadar. Beberapa waktu lalu pernah muncul isu
dimana Malaysia mengklaim batik, rendang, tortor dan sebagainya. Dalam hubungan
isu bahasa ASEAN, seakan Malaysia mengklaim bahasa Melayu itu menjadi hak waris
sejarahnya. Sebaliknya panel Indonesia tegas menyatakan bahasa Melayu berasal
dari bahasa Melayu tetapi tidak mengindikasikan bahwa bahasa Melayu yang
dijadikan bahasa Indonesia berasal dari Malaysia. Jadi, sejatinya, dimana
sesungguhnya bahasa Melayu itu berkembang?

ADVERTISEMENT

Bahasa Melayu adalah suatu bahasa
Austronesia yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Malaka.
Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di
Brunei Darussalam, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga
dikenal sebagai bahasa Malaysia): bahasa nasional Singapura: dan menjadi bahasa
kerja di Timor Leste (sebagai Bahasa Indonesia). Bahasa Melayu merupakan
basantara dalam kegiatan perdagangan dan keagamaan di Nusantara sejak abad
ke-7. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara
yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri
Lanka, Thailand Selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil
Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau
Natal dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia. Dari segi linguistik,
kini ditentukan suatu rumpun bahasa Melayu yang terdiri dari 45 bahasa yang
pada gilirannya dibagi dalam kelompok berikut: Bahasa Melayu dagang (atau biasa
disebut bahasa “Melayu Pasar” atau “Melayu Kreol”), yang
mencakup 10 bahasa: Kelompok Indonesia bagian Tengah ke Timur (9 bahasa): Kupang:
Larantuka: Manado: Maluku Utara: Gorontalo: Bacan: Ambon: Papua: Dayak: Kelompok
Indonesia bagian Barat ke Tengah (2 bahasa): Bali: Makassar: Untuk kelompok
Bahasa Melayu Kreol lainnya diluar Indonesia, selengkapnya lihat Bahasa dagang
dan kreol Melayu & Bahasa Kreol. Bahasa-Bahasa lainnya yang juga termasuk
dialek Melayu lokal diantaranya adalah: Cocos: Bangka: Barisan Selatan: Brunei:
Jambi: Kedah: Kelantan: Kutai: Musi; Pahang: Palembang; Pattani/Bahasa Yawi: Perak:
Sabah: Sarawak: Terengganu: Negeri Sembilan: Sambas: Lawoi: Pontianak: Kuantan:
Kotawaringin. Selain itu, masih banyak lagi dialek-dialek dari Bahasa lokal
masyarakat-masyarakat Melayu. Kelompok Melayu tersebut adalah yang terbesar
dalam Rumpun Bahasa Melayik
.(Wikipedia)   

Lantas
bagaimana sejarah Indonesiaasi di Wilayah Asia Tenggara
? Seperti disebut di atas, satu
isu penting dalam hal ini adalah polemik antara Indonesia dan Malaysia tentang
bahasa. Sejatinya, di Malaysia bahasa Melayu adalah salah satu hal, orang (bangsa)
Melayu adalah hal lain lagi. Di Indonesia, bahasa Indonesia adalah satu hal,
bahasa daerah adalah hal lain lagi. Bagaiman dengan (seku) bangsa Melayu di
Indonesia? Seperti halnya di Malaysia, di Indonesia bahasa Melayu adalah satu
hal, dan (seuku-suku) bangsa Melayu hal lain lagi. Lalu bagaimana sejarah Indonesiaasi
di Wilayah Asia Tenggara
? Seperti
kata ahli
sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan
Indonesiasi di Wilayah Asia Tenggara: Lingua Franca Antar Generasi

Bahasa
Indonesia adalah transformasi bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Demikian
juga di masa lampau, Bahasa Melayu di Nusantara adalah transformasi bahasa
Sanskerta menjadi bahasa Melayu. Lalu, secara futuristik, BAHASA adalah
transformasi Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional (BAHASA). Bagaimana
itu bisa terjadi? Semua era berkembang sesuai jaman. Mari kita periksa bahasa
Melayu sendiri, bermula dari bahasa Sanskerta yang ditemukan dalam prasasti
beraksara Pallawa.

Bukti tertua yang bisa dibuktikan di Nusantara
teredapat di Jawa. Di Sangiran terdapat fosil manusia tertua di bumi. Piramida tertua
Gunung Padang di Cianjur. Ini mengindikasikan bahwa sudah ada peradaban di Jawa
jauh di masa lampau. Namun bahasa apa yang digunakan penduduk (masyarakatnya) dalam
peradaban itu belum diketahui secara jelas. Satu-satunya bukti perekaman bahasa
tertua di Nusantara terdapat dalam prasasti-prasasti. Paling tidak ada dua
bahasa yang digunakan: bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu. Prasasti tertua
ditemukan di Vo Cahn (Vietnam) pada abad ke-3’ prasasti Mulawarman (Kutai) abad
ke-4 dan prasasti Kebon Kopi (Jawa Barat) pada abad ke-4. Bahasa yang digunakan
ketiga prasasti tersebut adalah bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa (India).

Prasasti
beraksara Pallawa dengan bahasa Melayu ditemukan di Vietnam (prasasti Dong Yen
Chau) akhir abad ke-4 dan di Sumatra (prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang
Tuwo dan prasasti Kota Kapur) akhir abad ke-7 serta di Jawa (prasasti
Sojomerto) awal abad ke-7. Dalam prasasti-prasasti berbahasa Melayu ini
tercampur dengan bahasa Sanskerta. Akan tetapi boleh jadi yang diidentifikasi
sebagai bahasa Melayu sebenarnya adalah bahasa Sanskerta. Hingga sejauh ini
tidak/belum ditemukan prasasti dari jaman lampau di wilayah Semenanjung
(Malaysia).

Bukti-bukti adanya peradaban yang lebih tua
dari prasasti-prasasti ditemukan dalam teks Eropa dan Tiongkok. Dalam teks
Eropa yang dicatat Prolomeus (abad ke-2) adalah komoditi kamper (kapur Barus)
bersumber dari (pulau) Sumatra bagian utara; nama tempat bernama Kotta di Kota
Kambajo yang sekarang dan peta Taprobana (peta pulau Borneo/Kalimantan). Pada
era yang sama ditemukan bukti tertulis dari Dinasti Han bahwa seorang Raja yang
berasal dari Tanah Selatan (diduga dari Sumatra atau Jawa) menghadap Kaisar
untuk membuka pos perdagangan di Vietnam yang sekarang. Peta Taprobana ini
tampaknya relevan dengan ditemukannya prasasti Mulawarman di Kutai (abad ke-4).
Sedangkan pusat kamper di Sumatra bagian utara relevan dengan bukti tertulis
dari Eropa yang berasal dari abad ke-5 yang menyebutkan bahwa kamper di
datangkan dari pelabuhan yang disebut Barus (di Tapanuli).

Prasasti-prasasti
yang diidentifikasi sebagai prasasti berbahasa Melayu yang ditemukan di tiga
tempat (Vietnam, Sumatra dan Jawa) mengindikasikasikan adanya relasi
perdagangan antara wilayah/pulau di Nusantara. Garis navigasi pelayaran
perdagangan kuno itu antara Eropa di barat dan Tiongkok di timur melalui
Nusantara (Vietnam, Sumatra dan Jawa). Prasasti-prasasti berbahasa Melayu tersebut
(Sumatra dan Jawa) tampaknya berkaitan satu dengan yang lainnya.

Dalam prasasti Kedukan Bukit (682 M) disebutkan
(raja) Dapunta Hyang Nayik berangkat dari Minanga dengan dua puluh ribu tentara
dengan perbekalan dan tiba di Upang di negeri yang disebut Sriwijaya. Pada
prasasti Talang Tuwo (684 M) disebut raja Sriwijaya yakni Dapunta Hyang Sri
Nagajaya. Pada prasasti Kota Kapur (686 M) disebutkan bala tentara Sriwijaya
telah berangkat menyerang kerajaan di Jawa yang tidak mau bekerjasama (diduga
dalam hal navigasi pelayaran perdagangan). Pada prasasti Sojomerto disebutkan
telah eksis (dinasti) Dapunta Seilendra. Tiga raja yang disebut sama-sama
bergelar Dapunta, tetapi di Sumatra gelarnya Dapuntra Hyang. Dimana itu
Minanga? Sejumlah ahli mengidentifikasi berada di Binanga (Padang Lawas,
Tapanuli). Dalam penggunaan bahasa pada prasasti Kedukan Bukit terkesan ada unsur
linguistik bahasa Batak (Tapanuli, di Sumatra bagian utara) seperti awalan mar
(ber) dan sistem bilangan sapulu dua (12).  

 

Sudah
barang tentu, meski pada masa ini, prasasti-prasasti disebut (sudah) berbahasa
Melayu, tidak dapat dipastikan apakah saat itu sudah terbentuk bahasa Melayu.
Sebab, kosa kata  yang diidentifikasi
bahasa Melayu itu, faktanya terdapat dalam (daftar kosa kata) bahasa Sanskerta
(yang sekarang). Besar dugaan pada era prasasti-prasasti tersebut sebagai
lingua franca adalah bahasa Sanskerta. Lalu, kapan bahasa Melayu terbentuk
sebagai lingua franca?

Seperti disebut di atas, tidak ditemukan
prasasti di Semenanjung (Malaysia), sementara penggunaaa bahasa Sanskerta masih
eksis hingga ratusan tahun berikutnya. Ini dapat dibaca pada prasasti-prasasi
di Sumatra maupun di Jawa pada abad ke-14. Sementara prasasti-prasasti
berbahasa Melayu pada era yang sama juga ditemukan di Sumatra (Sumatra Barat
dan Tapanuli), Jawa dan tempat lainnya. Sedangkan prasasti-prasasti berbahasa
Jawa di Jawa sudah ditemukan pada abad ke-8 dan berbahasa Batak (abad ke-13).    

Bahasa
Melayu diduga kuat terbentuk dari bahasa Sanskerta itu sendiri. Dalam hal ini
bahasa Sanskerta yang digunakan telah berbeda (jauh) dengan bahasa Sanskerta di
India. Menghilangnya pengaruh India (pengguna bahasa Sanskerta), oleh penduduk
Nusantara yang ada di Sumatra, Jawa, Semenanjung, Borneo dan Vietnam serta
wilayah lainnya bahasa Sanskerta Nusantara (varian dari bahasa Sanskerta di
India) kemudian bahasa itu disebut kemudian sebagai bahasa Melayu. Lalu kapan
bahasa lingua franca Nusantara itu disebut bahasa Melayu?

Nama Melayu (Malayu) masih tergolong baru. Diduga asal usul kata Melayu
merujuk pada kata Malaya. Nama Malaya dicatat dalam prasasti Padang Roco di
Dharmasraya (1286). Nama Melayu juga ditemukan pada teks Negarakertagama (1365)
sebagai Pamalayu. Nama Malayu atau Melayu ini secara tekstual ditemukan di
pantai timur Sumatra. Nama Melayu/Malayu diduga kuat merujuk pada nama Malaya
dan nama Malaya ini sendiri merujuk pada nama (gunung) di India (Hi)Malaya.
Nama gunung Himalaya atau Malaya (juga) ditemukan di Sumatra Utara dan
Semenanjung. Di Sumatra nama gunung Malaya terdapat di Padang Lawas/Mandailing
(Tapanuli( dengan nama Malea dan di Semenanjung dengan nama Malaya. Dalam hal
ini nama-nama gunung itu terjadi pada era Hindu/Budha. Pada prasasti Tanjore di
India (1030) dicatat ekspedisi Cola 
(1025) ke sejumlah wilayah termasuk pantai timur Sumatra dan Semenanjung
(selat Malaka). Dalam prasasti ini di daerah selat Malaka yang sekarang wilayah
yang ditaklukkan antara lain Kadaram. Nama Kadaram menurut sejumlah ahli
diketahui sebagai nama lama dari Kedah di Semenanjung. Hanya satu kota ini
dalam ekspedisi Cola di wilayah Semenanjung. Kota-kota lainnya berada di pantai
timur Sumatra yaitu Sriwijaya, Pannai, Malaivur, Ilangasogam, Mappappalam, Mevilimbangam,
Valaippanduru, Takkolam, pulau Madamalingam, Ilamuri-Desam dan Nakkavaram. Nama
Sriwijaya diduga di muara sungai Musi, Panai di muara sungai Batang Pane, Ilangasogam
diduga di muara sungau Barumun. Panai dan Soenggam kini berada di wilayah
Padang Lawas Tapanuli.  Nama-nama lainnya
sulit diidentifikasi dimana kecuali nama kota Ilamuri-Desam yang diduga kota
Lamuri di ujung utara Sumatra di Atjeh. Ada satu pulau disebut yakni pulau
Madamalingam yang diduga sebagai Pulau Sambilan (di muara sungai Wampu). Last
but not least” kota Malaivur. Oleh karena hanya ada satu kota di Semenanjung
dan selebihnya berada di pantai timur/utara Sumatra, maka dimana kota Malaivur
diduga berada di muara sungai Batanghari. Kota Malaivur ini diduga cikal bakal
(kerajaan) Mauli.

Penyebutan
(bahasa) Melayu tentu saja harus dihubungkan dengan nama kota atau nama
wilayah, dimana nama wilayah umumnya merujuk pada nama kota. Seperti disebut di
atas, ada satu nama kota kuno yang dicatat dalam prasasti Tanjore (1030) yakni
Malaivur. Nama ini yang kemudian diketahui sebagai pusat kerajaan Mauli di
muara sungai Batang Hari menjadu relevan beberapa abad kemudian dalam ekspedisi
Pamalayu (Majapahit) yang dicatat dalam teks Negarakertagama (1365). Hubungan
Jawa dan pantai timur Sumatra sudah ada sejak era Singasari dengan rajanya yang
terkenal Kertanegara. Sampai sejauh ini asosiasi nama Melayu hanya dapat
dihubungkan dengan nama tempat atau wilayah di pantai timur Sumatra.

Nama tempat Melayu di pantai timur Sumatra
juga relevan dengan ditemukan dimana bukti-bukti penggunaan bahasa yang
diidentifikasi bahasa Melayu yang terdapat dalam sejumlah prasasti seperti
Kedukan Bukit (682 M), Talang Tuwo (684 M), Kota Kapur (686 M), Sojomerto di
Jawa (awal abad ke-8), Padang Roco (sungai Batanghari) dan prasasti-prasasti
yang ditemukan di wilayah Padang Lawas pada abad ke-14.

Dengan
demikian, nama Melayu diduga kuat bermula di pantai timur Sumatra, wilayah
dimana kemudian bahasa Melayu berkembang (suksesi bahasa Sanskerta). Lantas
bagaimana dengan perkembangan kota-kota di Semenanjung. Bukti-bukti yang ada di
wilayah pantai barat Semenanjung hanya Kadaram yang kemudian dikenal sebagai
Quedah atau Kedah. Dalam perkembangannya muncul dua nama kota di pantai barat
Semenanjung yakni Malaka dan Muar.

Nama kota Malaka diduga diduga muncul pada era
Portugis. Penulis-penulsi Portugis seperti Tome Pires, Barbosa dan Mendes
Pinto. Nama Malaka ini diduga disalin pelaut-pelaut Portugis dair orang-orang
Moor yang mana pelaut-pelaut Portugis mencatat Malaka sebagai Malacca.
Sebelumnya orang-orang Moor mencatat nama kota Malaya menjadi Malaka. Nama kota
Malaya yang kemudian menjadi nama Malaka atau Malacca sendiri merujuk pada nama
gunung Malaya dari mana sungai Malaya berasal dan di muara sungai terbentuk
kota perdagangan baru yang kemudian menyangingi kota Kedah/Quedah. Kota Malaya
ini diduga adalah pos perdagangan orang-orang India, sementara orang-orang Moor
membuka pos perdagangan baru di selatan kota Malaya di muara sungai yang disebut
Muar (merujuk pada nama Moor, Moar dan kemudian Muar). Nama Malaya sendiri oleh
orang-orang India menyebut demikian merujuk pada nama gunung Himalaya. Nama
gunung Malaya ini di wilayah Padang Lawas/Mandailing disebut Malea. Pasangan
nama gunung Melea ini adalah nama gunung Raja di Padang Lawas/Angkola yang di
wilayah Semenanjung juga ditemukan pasangan gunung Malaya dengan gunung Raja
(sejajar dengan pulau Penang). Masih pada era Portugis, nama koat Malaya telah
begeser menjadi Malaka (Moor) atau Malacca (Portugis) tetapi nama Malaya (nama
gunung, sungai dan kota) dijadikan nama wilayah (Semenajung Malaya).

Nama
(bahasa) Melayu diduga bukan berasal dari (kota, gunung, sungai) Malaya di
Semenanjung, tetapi lebih merujuk pada nama kota/wilayah lama di pantai Sumatra
yakni Malaivur (kerajaan Mauli) yang kemudian dipertegas dengan nama eskpedisi
Pamalayu (Majapahit).

Pada era Portugis nama-nama kota yang dicatat
di wilayah Semenanjung Malaya adalah kota Kedah, kota Malaka dan kota Muar (di
pantai barat) dan Pahang (di pantai timur). Nama Terengganu baru muncul
kemudian. Nama-nama kota di Semenanjung lebih bersifat kota-kota pantai
(kota-kota pelabuhan). Berbeda dengan di Sumatra dan Jawa, kota-kota di
Semenanjung hanya terdapat di pantai saja. Tidak ada identifikasi sudah ada
kota di pedalaman yang sudah eksis. Munculnya kota-kota di pedalaman di
Semenanjung baru berkembang, seperti diuraikan nanti, pada era Inggris ketika
ditemukan pertambangan timah.

Dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa sebelum berkembang secara menyeluruh di wilayah
Semenanjung Malaya, penggunaan nama (bahasa) Melayu sudah berkembang sejak
lama. Besar dugaan penggunaan nama Melayu tersebut digunakan untuk
mengidentifikasi nama bahasa yang menjadi lingua franca (suksesi bahasa
Sanskerta). Suatu bahasa yang semakin masif digunakan di wilayah seputar selat
Malaka di pantai timur Sumatra, pantai barat Semenanjung dan pulau-pulau di
utara laut Jawa (kepulauanh Riau).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Indonesiasi di Wilayah Asia
Tenggara: Bahasa Melayu adalah Satu Hal, Orang (bangsa) Melayu adalah Hal Lain Lagi

Adalah
sarjana-sarjana Inggris yang memperkernalkan nama bahasa Melayu ke dunia
internasional khususnya dalam bidang akademik. Namun hal itu belum lama
dilakukan, yakni setelah orang-orang Inggris mengokupasi wilayah Semenanjung Malaya
(perjanjian Traktat London 1824). Sedangkan penulisan kamus bahasa Melayu
sendiri tidak dimulai oleh orang-orang Inggris dan juga bukan oleh orang-orang
Portugis. Penulisan kamus bahasa Melayu justru baru dimulai pada era Belanda
(VOC).

Pada saat ekspedisi pertama Belanda ke Hindia
Timur (1595-1597)  pelaut-pelaut Belanda
tidak memiliki sama sekali pengetahuan bahasa Melayu. Pelaut-pelaut Portugis
dan Moor sebelumnya sudah banyak yang menggunakan bahasa Melayu. Tentu saja
orang-orang Belanda mengetahui bahasa apa yang digunakan di Hindia Timur. Oleh
karena itu ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman ini
menyertakan seorang ahli bahasa yakni Frederik de Houtman (adik dari Cornelis
sendiri). Ekspedisi Belanda ini sebelum berlayar lebih jauh mengarungi samudra
(India) terlebih dahulu singgah selama enam bulan di (pulau) Madagaskar. Di
pulau inilah Frederik de Houtman menyusun kamus bahasa Melayu untuk keperluan
mereka. Mengapa ada orang yang menggunakan bahasa Melayu di Madagaskan? Mereka
ini adalah orang-orang Nusantara yang bekerja sejak lama dengan
pedagang-pedagang Moor dan Portugis dan banyak diantaranya yang menetap di
Madagaskar yang turun temurun menjadi bagian dari penduduk Madagaskan. Frederik
de Houtman dalam kerjanya juga menulis padanan bahasa Melayu dengan bahasa
Madagaskar. Kamus bahasa Melayu inilah yang dibawa ekspedisi Cornelis de
Houtman ini ke Hindia Timur hingga tiba di Banten pada bulan Juni 1596. Pada
eskpedisi kedua Cornelis de Houtman tahun 1599 tidak menuju Banten tetapi
menuju Atjeh. Di kota pelabuhan paling ujung utara Sumatra ini terjadi
kerusuhan sehinggan Cornelis de Houtman terbunuh, sementara Frederik de Houtman
dipenjara. Selama dua setengah tahun di penjara Atjeh, Frederik de Houtman
menyelesaikan kamus bahasa Melayunya yang kemudian di terbitkan di Amsterdam
pada tahun 1603. Kamus Frederik de Houtman inilah yang menjadi pegangan
pelaut-pelaut Belanda untuk waktu yang lama (selama era VOC). Boleh jadi inilah
kamus bahasa Melayu pertama.

Seiring
dengan penulisan kamus bahasa Melayu dan pengembangannya, pelaut-pelaut Belanda
dan Portugis mulai bersaing. Dengan sangat cepat kekuatan Portugis dan pengaruh
Portugis di Hindia Timur (Nusantara) dihilangkan oleh Belanda. Pengarus
Portugis yang hampir satu abad, hanya dalam tempo empat dasawarsa terbilang
lenyap dari Nusantara. Hal ini dengan hilangnya kekuatan terakhir Portugis di
Malaka dimana pada tahun 1641 Belanda/VOC mengusir Portugis dan pada tahun 1642
di Kamboja. Praktis pengaruh Portugis hanya tersisa di tempat terpencil di
Macao dan (pulau) Timor (bagian timur di Dilli). Wilayah Nusantara (Hindia
Timur) secara kekuasaan hanya di bawah Belanda dan Portugis, dimana pulau-pulau
di utara Borno dan Sulawesi dikuasai oleh Spanyol (kepulauan Filipina). Sejak
inilah pengaruh Belanda sangat digdaya di wilayah sisa Nusantara (minus
Filipina).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

KETIKA RIZKI DARI SATU JALAN DITUTUP TERBUKA DUA JALAN

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Asuransi Allianz Indonesia di Madiun

Iklan

Recommended Stories

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Seabank Indonesia di Semarang

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Seabank Indonesia di Semarang

15.06.2021

NIKMAT WAKTU JANGAN DIHABISKAN UNTUK URUSAN DUNIA

19.05.2021

Resep Sup Tahu Jamur Spesial

02.11.2013

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026
Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?