Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (530): Pahlawan Indonesia dan Pangeran Hadiwidjojo dari Solo; Letnan Pribumi Pengagum Belanda

Tempo Doelo by Tempo Doelo
13.04.2022
Reading Time: 23 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pada era Pemerintah Hindia Belanda
tidak sedikit yang membenci Belanda, cukup banyak yang tidak perduli (tidak
memiliki sikap) dan tidak banyak yang menjadi pengagum Belanda. Dari yang tidak
banyak itu, hanya sedikit yang benar-benar pengakum Belanda, salah satu
diantaranya adalah Pangeran Ario Hadiwidjojo dari Solo. Lalu, bagaimana dengan para
pangeran dari Jogjakarta?

ADVERTISEMENT

Kesunanan Surakarta Hadiningrat
adalah sebuah kerajaan di Pulau Jawa bagian tengah yang berdiri pada tahun
1745. Selanjutnya, sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang ditandatangani
pada tanggal 13 Februari 1755 antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)
dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan Mataram, disepakati bahwa
wilayah Mataram dibagi menjadi dua pemerintahan, yaitu Surakarta dan
Yogyakarta. Berlakunya Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Jatisari sejak tahun
1755 menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta,
dengan rajanya Sunan Pakubuwana III; sedangkan Yogyakarta menjadi pusat
pemerintahan Kesultanan Yogyakarta, dengan rajanya Sultan Hamengkubuwana I.
Keraton dan kota Yogyakarta mulai dibangun pada 1755, dengan pola tata kota
yang sama dengan Surakarta yang lebih dulu dibangun. Adanya Perjanjian Salatiga
tanggal 17 Maret 1757 turut memperkecil wilayah Kasunanan, dengan diberikannya
wilayah sebelah utara keraton kepada pihak Pangeran Sambernyawa (Adipati
Mangkunegara I. Kasunanan Surakarta dianggap sebagai pengganti dan penerus
Kesultanan Mataram bersama dengan Kesultanan Yogyakarta, karena raja-rajanya
merupakan keturunan raja-raja Mataram. Setiap raja Kasunanan Surakarta bergelar
susuhunan atau sunan, sedangkan raja Kesultanan Yogyakarta bergelar sultan
(Wikipedia)..

Lantas
bagaimana sejarah
Pangeran
Ario Hadiwidjojo?
Seperti disebut di atas, Pangeran Ario Hadiwidjojo adalah
satu dari para pengagum (peradaban) Belanda. Memang tidak ada yang salah. Sebab
saat itu belum ada dikotomi yang berjarak antara bangsa Belanda dan bangsa
Indonesia. Akan mulai berbeda ketika mulai muncul gerakan pribumi untuk
kemerdekaan bangsa Indonesia. Lalu bagaimana sejarah
Pangeran Ario Hadiwidjojo? Seperti
kata ahli
sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan
Pangeran Ario Hadiwidjojo dari Solo: Letnan Pribumi Pengagum Belanda

Clockener
Brousson masih berada di Hindia tahun 1902. Meski demikian, serial artikel Clockener
Brousson mulai diterbitkan di surat kabar di Belanda. Artikel pertamanya dengan
tajuk Indische Penkrassen I dimuat pada tanggal 7 Desember 1902 (lihat Arnhemsche
courant, 07-12-1902).

Clockener Brousson adalah tentara Belanda
lulusan akademi militer di Breda yang kemudian ditempatkan di Hindia. Namun
setelah lima tahun bertugas, Clockener Brousson mengalami kecelakaan di pantai
timur Atjeh. Akibatnya Clockener Brousson tidak bisa lagi bertugas, meski dia
sendiri sangat mencintai tentara Belanda dan korpsnya. Sejak itulah Clockener
Brousson bermasyarkat, mulai melakuan perjalanan di Indonesia. Hasil
perjalanannya selama di Hindia (termasuk dalam dinas militer) ditulisnya dalam
serial artikel di Belanda. Menurut Clockener Brousson, orang Belanda di Belanda
perlu mengenal lebih baik Hindia. Serial artikelnya dimaksudkan untuk itu. Clockener
Brousson sebelum kembali ke Belanda sempat membina surat kabar berbahasa Melayu
di Batavia (Bandera Wolanda). Dalam perkembangannya, Clockener Brousson
berkolaborasi dengan Dr AA Fokker tahun 1903 dengan menerbitkan majalah
berbahasa Melayu di Belanda (Biutang Hindia).

Dalam salah satu artikel Clockener
Brousson pada serial artikel yang dimuat di surat kabar di Belanda terkait
dengan relasinya dengan pangeran dari Solo, Pangeran Ario Hadiwidjojo.

‘Saya baru saja menerima surat berbahasa Belanda yang
bagus dari teman muda saya Pangeran Ario Hadiwidjojo, putra berusia enam belas
tahun dari Yang Mulia Soesoehoenan dari Soerakarta. “Papa tidak
menyukaimu,” tulis pangeran Jawa itu, “untuk tinggal begitu lama di
Jogja dan mengabaikan teman-temanmu disini di Solo. Jadi datanglah dan
cepat-cepat pergi (dari sana), kalau tidak, kami akan marah padamu disini
selamanya. Datang dan tinggallah dengan saya, itu jauh lebih baik daripada di
hotel, dll.” Penulis surat adalah salah satu putra Kaisar yang paling
cerdas, dan baru saja diangkat menjadi pangeran. Waktu saya di Solo, namanya
hanya Bendoro Radhen Mas Setiadjit dan dia adalah seorang letnan satu di
pasukan Papa, maka ada tanda tangan: ‘Mantan kolega Anda dan teman abadi.
Pangeran Hadiwidjojo VII.”.

Hubungan antara Clockener
Brousson dan Pangeran Ario Hadiwidjojo tampaknya telah terbentuk sejak di Solo.
Pertemanan mereka ini tampaknya abadi. Dalam konteks inilah sosok Pangeran Ario
Hadiwidjojo muncul ke permukaan di wilayah Jawa khususnya di daerah
(residentie) Soerakarta. Nama Pangeran Ario Hadiwidjojo kemudian diberitakan
pada tahun 1906.

De locomotief, 02-06-1906: ‘Ke Eropa. Cukup diketahui
bahwa tiga putra yang mulia Soesoehoenan pergi ke Belanda bersama Overste Linck
untuk melanjutkan studi mereka di bawah pengawasan Linck. Sebagai seorang ayah
yang bijaksana, Soesoehoenan, ketika atasan memintanya, tidak ragu-ragu sejenak
untuk membiarkan hal ini, terutama mengingat kenyataan bahwa tahun-tahun
kebijaksanaan telah datang untuk beberapa anak muda. Ketiga putra ini adalah
pangeran Harjo Hadiwidjoyo dan Raden Mas Soemeh dan Hirawan. Kedua pemuda itu
yang sudah lama tinggal bersama kepala sekolahnya, Eysenburger, sudah lama
memakai celana pendek. Ketika diputuskan bahwa pangeran juga akan menyeberangi
laut, dia mengikuti contoh itu. Pangeran Hadiwidjojo sekarang berjumlah lebih
dari delapan tahun, seorang pemuda cerdas yang pandai berbicara dalam bahasa
Belanda. ketiganya bisa mendapatkan banyak manfaat dari mereka. Anak-anak muda
didampingi oleh seorang priyayi, Raden Ng. Sastropradoto, yang tidak bisa
berbahasa Belanda, Pangeran yang mengerti bahasa Belanda dengan baik dan
membaca dengan mudah. Pada hari Rabu Overste Linck akan berangkat dengan murid-muridnya
ke Semarang untuk kemudian menumpang kapal Ardjoeno pada hari Kamis.

Pangeran
Ario Hadiwidjojo
dan
adik-adiknya tidak disebutkan apa yang menjadi tujuan ketiga putra Susuhunan ke
Belanda, Overste Linck sebelumnya disebutkan Overste infrantri JP Linck,
komandan militer di Solo akan pensiun terhitung pada 6 Juni (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-04-1906).  

Pada akhir tahun 1905, Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan menulis artikel di majalah Bintang Hindia yang terbit di Amsterdam
yang berisi tips mengenai studi di Belanda. Dalam artikel ini juga disebut apa
yang perlu dipersiapkan di tanah air, selama pelayaran dan selama studi di
Belanda. Soetan Casajangan juga memberi keterangan mengenai perguruan tinggi
yang dapat diiikuti di Belanda. Majalah Bintang Hindia beredar luas di Hindia,
tetapi tidak diketahui apakah ketiga putra Susuhunan itu pernah membaca artikel
Soetan Casajangan. Yang jelas di Solo sudah banyak yang berlangganan majalah
Bintang Hindia (lihat De nieuwe vorstenlanden, 
06-01-1906).  Pada tahun 1906 ini
sudah ada beberapa mahasiswa pribumi di Hindia, selain Soetan Casajanga adalah
Raden Kartono putra dari bupati Rembang (abang dari RA Kartini).

Saat berangkat Pangeran Harjo
Hadiwidjojo diperkirakan berumur lebih dari 17 tahun. Hal ini didasarkan suatu
keterangan pada tahun 1905 Pangeran Harjo Hadiwidjojo berumur enam belas tahun
(lihat Arnhemsche courant, 08-07-1905).

Pangeran Harjo Hadiwidjojo sendiri berpangkat letnan
pengawal kerajaan. Nama Harjo Hadiwidjojo mengambil gelar dari kakeknya yang
meninggal tahun 1893 (lihat De nieuwe vorstenlanden, 17-03-1893). Pangeran
Harjo Hadiwidjojo sendiri baru tahun 1904 dinobatkan sebagai pangeran dengan
gelar Pangeran Hadiwiodjojo VII yang nama kecilnya adalah Bendoro Raden Mas
Setiadjit (lihat De nieuwe vorstenlanden, 09-11-1904), Dalam berita ini juga
disebut salah satu putra Susuhunan sedangn berada di Belanda yang juga
dinobatkan sebagai pengeran: Raden Mas Soegianto dengan gelar Pangeran Harjo
Notobroto. Dalam hal ini Raden Mas Soemeh dan Hirawan tentu saja usianya jauh
lebih muda dari Pangeran Harjo Hadiwidjojo.

Putra-putra Susuhunan Soerakarta
berangkat dengan kapal ss Ardjoeno (lihat  De locomotief, 08-06-1906). Disebutkan kapal
ss Ardjoeno berangkat dengan tujuan akhir Nederland. Di dalam manifes kapal
para penumpang antara lain Overste JP Linck dengan istri dan delapan anak plus
pembantu pribumi; tiga pengeran pribumi dari Soeracarta yakni Prins Hendri,
Prins Herman, dan Prins Tony plus seorang pembantu Prins Hendri. Di Batavia ada
sejumlah penumpang naik dan pembantu keluarga Linck turun (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 15-06-1906). Disebutkan kapal ss Ardjoeno dengan tujuan Marseille.
Ada sejumlah penumpang naik dari Padang (lihat Land en volk, 11-07-1906).
Disebutkan kapal ss Ardjono berangkat dari Batavia tanggal 13 Juni dan tiba di
Marseille tanggal 9 Juli. Kapan Pangeran Harjo Hadiwidjaja kembali ke tanah air
tidak terinformasikan. Namun paling tidak Pangeran Harjo Hadiwidjaja diketahui
sudah di Soeracarta tahun 1909 (lihat De locomotief, 26-03-1909). Sementara
itu. Bendoro Raden Mas Ario (BRMA) Hirawan dan BRMA Soemeh diketahui masih sekolah
di HBS Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 13-07-1913),

Selain Pangeran Harjo Hirawan dan Pangeran Soemeh serta
Pangeran Notobroto, putra Susuhunan di Belanda adalah Pangeran Nawawi (lihat De
nieuwe vorstenlanden, 04-12-1911). Disebutkan Dr. Radjiman akan segera kembali
ke Belanda untuk beberapa waktu mendatang, dua orang putra Soesohunan, Pangeran
Notobroto dan Raden Mas Nawawi mengalami sakit berat dan berada di saatorium di
Lcysin di Swiss, pergi ke sanatorium untuk menjenguk, Mungkin pangeran
Notobroto dan Raden Mas Nawawi akan pulang ke (rumah) komandan Linck setelah
kesembuhannya. Dr Radjiman harus menyelesaikan masalah ini, selain itu dia juga
harus melaporkan keadaan umum putra-putra Sesoehoeuan yang tinggal di Belanda.
Pada tahun 1913 putra sulung Susuhunan Pangeran Ngabehi akan ke Belanda untuk
menemani adiknya Pangeran Soedianto Notobroto dalam pelayaran pulang ke tanah
air (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1913). Namun
dalam perkembangannya diketahui Notobroto telah menikah dengan gadis Swiss
(lihat De nieuwe vorstenlanden, 01-07-1914).

Berdasarkan laporan pendidikan di
HBS Leiden salah satu yang lulus ujian akhir pada bulan Juli adalah Bandoro
Raden Mas Hirawan (lihat Verzameling van verslagen en rapporten behoorende bij
de Nederlandsche Staatscourant, 1915). Disebutkan BRM Hirawan lahir di Soerakarta
22 Februari 1897. Lantas bagaimana dengan BRMA Soemeh?

Pada bulan Agustus 1915 BRMA Hirawan dan BRMA Soemeh
pulang ke tanah air (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 13-08-1915).
Disebutkan kapal st Prins der Nederland berangkat tanggal 14 Agustus  dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia
dimana keduanya terdapat dalam manifest kapal. Dalam manifes ini juga terdapat
nama JP Linck (yang membawa mereka pada tahun 1906).

Sesampai
di tanah air, Pangeran Hirawan bergegas kembali ke Belanda (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-10-1915). Disebutkan kapal st Prins der
Nederland berangkat dari Batavia tanggal 14 Oktiober dengan tujuan akhir
Nderlland. Hirawan tidak sendiri tetapi bersama Bendoro  RM Khakoesman, Bendoro RM Rochialoen serta
Bendoro RM Soejono. Penumpang lainnya antara lain Raden Koesman, Bendioro RM
Soebekti.

Pada bulan November 1915 disebutkan lima putra-putra
Susuhunan Soerakarta telah tiba di Belanda (lihat De Telegraaf, 19-11-1915).
Disebutkan lima pangeran Solo telah kembali ke Belanda di bawah arahan JP
Linck. Mereka itu adalah BRM Hirawan, BRM Kaharkoesman, BRM Soebekti, BEM
Soedjono dan BRM Roekialoen. Yang tertua adalah Hirawan yang telah lulus HBS
bulan Juli dan pulang ke tanah air bersama Soemeh.
Setelah
tinggal satu bulan di Kraton di Surakarta, BRM Hirawan berangkat ke Belanda
lagi untuk melanjutkan studinya di bidang sastra atau hukum Hindia. Putra-putra
lainnya juga ikut akan melanjutkan studi mereka. Seorang putra yang lebih tua,
Pangéran Notobroto, sakit selama beberapa tahun di Leysin, Swiss. Sedangkan BRM
Soemeh setelah kembali ke tanah air dinobatkan sebagai pangeran.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pangeran Ario Hadiwidjojo: Pribumi
Visioner Pembaharu di Jawa

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

3 Syarat dalam Perjalanan Boleh Tidak Puasa Ramadan

Cara Aman Traveling di Hutan Kalimantan

Cara Aman Traveling di Hutan Kalimantan

Iklan

Recommended Stories

Misteri Manusia Purba – Benarkah Nabi Adam Tingginya Mencapai 27 Meter?

Sensasi Perjalanan dan Keindahan Alam di Jalur Cangar kota Batu

08.04.2015
Menanti Kedatangan Umar dan Shalahuddin

Milkiyo, Kenikmatan Susu Sapi Segar di Pontianak

14.12.2018
Alamat PT Pegadaian Di Gianyar

Alamat PT Pegadaian Di Gianyar

18.04.2017

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026
Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?