*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Orang pribumi tidak hanya sekolah
keguruan dan sekolah kedokteran, juga mulai memasuki sekolah pertanian. Siswa
yang pertama bersekolah di sekolah pertanian (Landbouwschool) di Wageningen
adalah Raden Mas Soemardji dan Baginda Djamaloedin. Sementara itu di Hindia
(baca: Indonesia) sudah diselenggarakan sekolah pertanian di Buitenzorg. Apa
perbedaan sekolah pertanian di Buitenzorg dan Wageningen? Siapa pribumi pertama
yang menjadi insinyur pertanian? Itu baru terjadi setelah di Wageningen
didirikan Hoogere Landbouw school. Apakah Zainoeddin Rasad?

sebagai berikut: Ir. Zainuddin Rasad
adalah seorang ahli pertanian dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat
sebagai Menteri Pertanian dan Persediaan Republik Indonesia. Zainuddin pernah
bertugas sebagai Menteri Pertanian dan Persediaan pada Kabinet Sjahrir II dari
tanggal 12 Maret 1946 sampai 26 Juni 1946. Zainuddin tidak manjalani tugasnya
sampai masa kabinet berakhir karena pada 26 Juni 1946 ia mengundurkan diri. Ia
digantikan oleh Darmawan Mangunkusumo sebagai Menteri dan Saksono sebagai
Menteri Muda dengan perubahan nama kementerian menjadi Kementerian Kemakmuran.
Memasuki masa sekolah, orang tua Zainuddin memasukkannya ke sekolah rakyat atau
sekolah sekuler. Ia bersama saudaranya, Jamaluddin, Siti Fatimah dan Dahlan
Abdullah kemudian melanjutkan pendidikan ke kota Fort de Kock (Bukittinggi)
sekitar tahun 1908-1913. Bertiga dengan Jamaluddin dan Dahlan Abdullah ia
menempuh pendidikan di Kweekschool, sedangkan adik perempuannya di Sekolah
Keputrian. Selanjutnya, bersama saudaranya, Jamaluddin, ia menempuh pendidikan
di Wagenigen, Belanda. Ia di sekolah tinggi pertanian Landbouwhoogeschool,
sedangkan Jamaluddin mengambil sekolah menengah pertanian Middelbare Landbouw
School di kota yang sama. Zainuddin kemudian meraih gelar sarjana (insinyur)
pertanian dan Jamaluddin meraih gelar sarjana muda pertanian. Namun sumber
berita lain menyebut, Jamaluddin Rasad-lah sebagai putra Indonesia pertama yang
berhasil meraih gelar insinyur pertanian di Negeri Belanda. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Raden Mas Soemardji? Seperti disebut di atas, RM Soemardji bersama
Djamaloedin adalah dua pribumi yang studi di Belanda yang memasuki sekolah
pertanian di Belanda yang berada di Wageningen. Lalu bagaimana sejarah RM
Soemardji? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Raden
Mas Soemardji: Studi Pertanian di Wageningen 1905
Nama
Soemardji kali pertama diberitakan tahun 1902. Soemardji berangkat ke Belanda
pada tahun 1902 (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1902). Disebutkan kapal ss Koning Willem I
berangkat dari Batavia 11 Juni dengan tujuan akhir Nederland dimana salah satu
penumpang adalah (anak muda) Soemardji. Dari puluhan penumpang hanya Soemardji
bernama non Eropa/Belanda. Dengan siapa Soemardji berangkat ke Belanda?
Di Belanda sejatinya baru ada satu orang
pribumi yakni Raden Kartono (abang RA Kartini). Raden Kartono lulus HBS
Semarang pada tahun 1896 dan kemudian berangkat ke Belanda. Awalnya studi Delft
tetapi kemudian pindah ke Leiden. Pribumi kedua di Belanda adalah Abdoel Rivai,
lulusan sekolah kedokteran di Batvia Docter Djawa School berangkat ke Belanda
tahun 1899. Abdoel Rivai telah kembali ke tanah air pada tahun 1900. Praktis
hanya R Kartono yang berada di Belanda. Pada tahun 1903 Abdoel Rivai kembali ke
Belanda. Sementara ada dua guru yang diantar Saleh Harahap gelar Dja Endar
Moeda ke Belanda yakni Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan dan
Djamaloedin. Dja Endar Moedan pemimpin surat kabar Pertja Barat di Padang
bekerjasama dengan Dr AA Fokker di Belanda yang akan menerbitkan majalah
Bintang Hindia. Di Belanda Abdoel Rivai, Soetan Casajangan dan Djamaloedin
membantu Fokker dalam menerbitkan Bintang Hindia. Soetan Casajangan adalah adik
kelas Dja Endar Moeda di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Masih pada
tahun 1903 M Boenjamin, lulusan Docter Djawa School tiba di Belanda untuk
melanjutkan studi. Pada tahun 1904 menyusul datang Hoesein Djadiningrat,
lulusan HBS Batavia untuk melanjutkan studi. Kemudian pada tahun 1905 dua
pribumi tiba di Belanda yakni Asmaoen, lulusan Docter Djawa School dan RM
Notokworo lulusan HBS Semarang untuk melanjutkan studi. Hanya mereka itulah
pribumi yang ada di Belanda hingga tahun 1905.
Pada
tahun 1905 Soemardji lulus ujian masuk (ditempatkan di kelas satu) di sekolah
pertanian Landbouwschool di Wageningen (lihat Arnhemsche courant, 18-07-1905).
Selain Raden Mas Soemardji yang juga diterima di kelas satu Landbouwschool
adalah Djamaloedin. Disebutkan RM Soemardji berasal dari Kediri dan Djamaloedin
dari Priaman.

sekolah pertanian pemerintah. Syarat masuk adalah pernah sekolah di HBS atau
sederajat. Kandidat yang menyelesaikan satu tahun di HBS ditempatkan di kelas
persiapan (satu tahun) dan kandidat yang dua tahun di HBS ditempatkan di kelas
satu. Lama studi di Landbouwschool dua tahun. Bagi yang lulus ujian akhir dapat
meneruskan studi pada kursus satu tahun (kelas Hindia atau Indische Klasse).
Dalam hal ini Djamaloedin, lulusan sekolah guru (kweekschool) tiga tahun
ditempatkan di kelas satu. Lalu bagaimana dengan RM Soemardji? Besar dugaan RM
Soemardji telah menyelesaikan HBS dua tahun (naik ke kelas tiga) di Belanda.
Dalam hubungan ini diduga RM Soemardji lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda
(ELS) di Kediri yang kemudian pada tahun 1902 melanjutkan studi ke Belanda.
Setelah melakukan ujian penyetaran tahun 1902/1903, RM Soemardji masuk HBS di
Belanda dan pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik ke kelas dua dan kemudian
tahun 1905 lulus ujian transisi naik ke kelas tiga. Dengan bekal HBS dua tahun,
RM Soemarhi mengikuti ujian masuk di Landbouwschool di Wageningen. Dengan
memperhatikan lama studi, sekolah pertanian Landbouwschool di Wageningen selama
dua tahun, maka lulusannya berada di bawah lulusan HBS (lima tahun). Sedangkan
tambahan kursus satu tahun, sertifikatnya kira-kira setara dengan lulusan HBS
(lima tahuhn).
Pada
tahun 1906 RM Soemardji dan Djamaloedin lulus ujian transisi di Landbouwschool
Wageningen naik dari kelas satu ke kelas dua (lihat Arnhemsche courant, 13-07-1906).
Dari daftar kelulusan pada tahun 1906 hanya kelulusan naik dari kelas persiapan
ke kelas satu dan dari kelas satu ke kelas dua. Mengapa tidak ada kelulusan
naik ke kelas tiga? Besar dugaan sekolah Landbouwschool Wageningen adalah
sekolah yang baru dibuka, dalam hal ini dibuka pada tahun 1905 (dimana RM
Soemitro dan Djamaloedin adalah angkatan pertama).

bermula tahun 1856 (lihat Bredasche courant, 06-11-1856). Disebutkan muncul keputusan
untuk mengusulkan kepada Raja: Pendirian satu sekolah pertanian di Belanda,
sebaiknya terletak di tengah negara, pada jarak yang cukup dari semua tempat).
Dalam perkembangannya dibuka sekolah pertanian di Groningen tahun 1870 (lihat Provinciale
Overijsselsche en Zwolsche courant, 21-09-1870). Pada tahun 1874 di Hindia
dibentuk sekolah pertanian yang menjadi bagian dari ‘s Lands Plantentuin (kebun
raya) (lihat Bijblad van de landbouw-courant, 1874). Hingga tahun 1905 sekolah
pertanian di Buitenzorg masih eksis (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 10-05-1905).
Pada
tahun 1907 RM Soemardji lulus ujian di Wageningen (lihat Arnhemsche courant, 10-07-1907).
Disebutkan lulus ujian akhir kelas dua (Iie Klasse) Wageningen antara laian RM
Soemardji dari Trenggalek (Kediri) dan Djamaloedin dari Priaman. Dalam berita
itu juga disebutkan kelulusan dari kelas Hindia (Indische Klasse). RM Soemardji
melanjutkan studi dengan mengikuti kursus satu tahun. Pada tahun 1908 RM
Soemardji lulus ujian akhir (Eindexamen Indische Klasse). Dalam berita
kelulusan ini tidak ada nama Djamaloedin. Dalam hal ini besar kemungkinan
Djamaloedin tidak meneruskan studi pada kursus satu tahun (hanya RM Soemardji).
Setelah RM Soemardji dan Djamaloedin di
Wageningen, generasi berikutnya yang studi landbouwschool adalah Raden Oetarjo.
RM Oetarjo lulus ujian transisi dari kelas satu ke kelas dua di Rijks
Landbouwschool di Wageningen (lihat Arnhemsche courant, 07-09-1908). Disebutkan
RM Oetarjo berasal dari Pekalongan Pada tahun 1909 RM Oetarjo lulus ujian di
Landvouwschool di Wageningen dari kelas dua kelas tiga (lihat Algemeen
Handelsblad, 15-07-1909). Dalam daftar lulus hanya RM Oetarjo bernama non
Eropa/Belanda. Disebutkan RM Oetarjo berasal dari Djepara. Pada tahun 1910 RM
Oetarjo lulus ujian akhir (lihat Arnhemsche courant, 12-07-1910). Hanya RM
Oetarjo, asal Djepara yang bernama non Eropa/Belanda. RM Oetarjo kemudian
melanjutkan studi untuk mendapatkan sertifikat kursus satu tahun (Indische
Klaase). Ini mengindikasikan bahwa Landbouwschool di Wageningen telah
ditingkatkan. Sebelumnya RM Soiemardji setelah lulus kelas dua (ujiaan akhir)
diteruskan ke kursus satu tahun (Indische Klasse). Dalam hal ini, RM Soemardji
masih setara HBS (lima tahun) sedangkan RM Oetarjo sudah setara satu tahun di
atas HBS lima tahun (kira-kira akademi/diploma satu tahun). Pada
tahun 1911 RM Oetarjo di Rijks Landbouwschool di Wageningen lulus ujian
sertifikat Indische Klasse (lihat Arnhemsche courant, 12-07-1911). Sementara
itu di Hoogere Burgerschool (HBS) 5 tahun di Harlem tahun 1909, yang mana yang
lulus ujian naik dari kelas satu ke kelas dua antara lain SM Latif (lihat
Nieuwe Haarlemsche courant, 14-07-1909). Ini mengindikasikan bahwa SM :Latif
masuk HBS Haarlem tahun 1908. Pada tahun 1911 SM Latif lulus ujian masuk
sekolah pertanian pemerintah Rijks Landbouwschool di Wageningen (lihat
Arnhemsche courant, 17-07-1911). Disebutkan SM Latif ditempatkan di kelas satu.
Dalam hal ini SM Latif telah menyelesaikan sekolah HBS tiga tahun. Pada tahun
1912 SM Latif lulus ujian di Landbouwschool di Wageningen dari kelas satu naik
kelas dua (lihat Arnhemsche courant, 08-07-1912). Pada tahun 1914 SM Latif
lulus ujian akhir di Landboiwschool (lihat Provinciale Overijsselsche en
Zwolsche courant, 16-07-1914). Ini mengindikasikan bahwa SM Latif lancar dalam
studi di Landbouwschool Wageningen. Pada tahun 1915 sekolah pertanian di
Groningen diketahui sebagai Middlebare Landbouwschool, sementara di Wageningen
dan kota-kota lainnya sebagai Landbouwschool. Sementara itu di Buitenzorg pada
tahun 1912 nama Landbouwschool telah diubah menjadi Middlebare Landbouwschool.
Dalam hal ini persyaratan masuk sekolah Middlebare Landbouwschool adalah
lulusan HBS tiga tahun (kelak setara MULO). Pada tahun 1916 di Wageningen
dibentuk secara resmi sekolah pertanian baru dengan nama Rijks Hoogere land,
tuin en boschbouwschool (lihat De Telegraaf, 15-06-1916). Sekolah ini disebut
sebagai sekolah pertanian tertinggi di Belanda (lihat Nederlandsch landbouw
weekblad, 17-06-1916). Pada bulan Agustus diadakan ujian akhir di sekolah ini
dimana ada dua siswa yang lalus yang mana satu diploma Nederland dan yang lain
diploma Indische (lihat Limburger koerier, 02-08-1916). Lama studi ditambah
dari tiga tahun menjadi lima tahun (lihat Arnhemsche
courant, 12-10-1916). Meski bukan hoogeschool tetapi Rijks Hoogere mencerminkan
karakter universutas.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Para Pionir Bidang Pertanian:
Wageningen, Buitenzorg dan Soekaboemi
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





