*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Deklarasi bahasa Indonesia dimulai
pada Kongres Pemuda 1928. Sebelumnya lingua franca diantara penduduk pribumi
disebut bahasa Melayu. Dengan demikian pada tahun 1928 adalah awal dari promosi
bahasa Indonesia. Satu dasawarsa sebelumnya (1917) nama Indonesia dalam Kongres
Mahasiswa Hindia di Belanda yang dipimpin HJ van Mook, para anggota Indische
Vereeniging mempromosikan nama Indonesia sebagai penggantik nama Hindia
Belanda. Pada Kongres Mahasiswa Hindia di Belanda tahun 1918 nama Indonesia
sudah secara resmi menjadi nama kongres.

promosi nama Bahasa Indonesia (dari bahasa Melayu) adalah buah perjuang para
mahasiswa. Terminologi Indonesia dalam hal ini merujuk pada wilayah
administratif Hindia Belanda yang mana bagsa-bangsa di dalam wilayah tersebut
disatukan menjadi bangsa Indonesia. Ini berarti terminologi Indonesia merujuk
pada sebagian wilayah nusantara yang dikuasai oleh Belanda (Hindia Belanda). Dalam
hal ini tidak termasuk Semenanjung Malaya dan Singapoera serta wilayah Borneo
Utara (Inggris), wilayah pulau Timor bagian timur (Portugis), pulau-pulau
Filipina (Amerika Serikat/eks Spanyol) dan wilayah Papua bagian timur (Inggris/Aistralia/eks
Jerman). Dengan deklarasi Bahasa Indonesia ini, maka penduduk di berbagai
wilayah yang menggunakan bahasa Melayu seperti Riau, Ambon, Betawi, Siak dan
Delu, bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa daerah yang setara dengan bahasa daerah
lainnya seperti bahasa Jawa, bahasa Soenda, bahasa Batak dan sebagainya. Pada
fase ini bahasa Minangkabu belum ada karena hanya disebut bahasa Melayu (belum
dipromosikan nama bahasa Minangkabau).
Lantas
bagaimana sejarah bahasa Melayu bertransformasi menjadi nama Bahasa Indonesia?
Seperti disebut di atas, kini Bahasa Indonesia dipromosikan sebagai bahasa
resmi ASEAN, yang dengan sendirinya akan berlomba dengan bahasa Melayu (di
Malaysia). Lalu bagaimana sejarah bahasa Melayu sendiri? Bahasa Melayu adalah
transformasi lingua franca bahasa Sanskerta. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Promosi
Bahasa Indonesia Bahasa Resmi ASEAN; Bahasa Nusantara Melayu
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Deklarasi Bahasa Indonesia:
Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Daerah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



