Siapa JD Apituley tak ada yang
mengingatnya lagi. Namun demikian saya masih ingat kawan lama bernama Ricky
Apituley (pernah sama-sama kuliah). Padahal nama JD Apituley cukup penting pada
awal pendidikan tinggi bagi pribumio pada era Hindia Belanda. Namun begitulah
narasi sejarah masa kini. Yang lain ditinggikan sementara yang lain direndahkan
bahkan disingkirkan (dilupkan). Akan tetap sejarah tetaplah sejarah. Sejarah
adalah narasi fakta dan data.

merupakan organisasi pergerakan nasional pertama yang menggunakan istilah
“Indonesia”. Bahkan Perhimpunan Indonesia menjadi pelopor kemerdekaan
bangsa Indonesia di kancah internasional. Perhimpunan Indonesia (PI)
diprakarsai oleh Sutan Kasayangan dan R. N. Noto Suroto pada 25 Oktober 1908 di
Leiden, Belanda. Mereka adalah para pelajar Indonesia yang sedang menempuh
pendidikan di negeri Belanda. Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015),
organisasi pergerakan nasional tersebut awalnya berdiri bernama Indische
Vereeniging. Kemudian pada 1922 ketika nasionalisme Indonesia berkembang,
Indische Vereeniging mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Perhimpunan Indonesia merupakan pelopor gerakan nasionalis Indonesia yang
mengadvokasi kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Perhimpunan Indonesia adalah
organisasi politik pertama yang menggunakan istilah “Indonesia” di
dalam namanya. Ide-ide tersebut dipengaruhi oleh ide sosialis dan Mohandas
(Mahatman Gandhi) di India tentang pembangkangan sipil tanpa kekerasan. Saat
Perhimpunan Indonesia kembali ke Indonesia, mereka aktif dalam studi dan
akhirnya di partai politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dua
tokoh Perhimpunan Indonesia yang terkemuka adalah Sutomo dan Mohammad Hatta.
(https://www.kompas.com).
Lantas
bagaimana sejarah JD Apituley? Seperti disebut di atas, JD Apituley studi ke
Belanda dan termasuk salah satu yang hadir dalam pembentukan organisasi pribumi
yang studi di Belanda yang diberi nama Indische Vereeniging. Lalu bagaimana
sejarah JD Apituleyo? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan HJD Apituley
Studi di Amsterdam: Docter Djawa School
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) di Saparoea, HJD Apituley
melanjutkan studi ke sekolah kedokteran, Docter Djawa School di Batavia. Lama
studi di sekolah Docter Djawa School delapan tahun, yang mana dua tahun pertama
tingkat persiapan dan enam tahun tingkat medik. Sekolah kedokteran,
satu-satunya di Batavia ini, hanya dikhusukan untuk siswa-siswa pribumi. Pada
akhir tahun 1899, HJD Aituley lulus ujian transisi naik dari kelas dua tingkat
persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1900.
Pada tahun 1902 HDJ Apituley lulus ujian naik ke kelas empat (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-11-1902_.

Apituley antara lain adalah Abdoel Hakim [Nasoetion] dam Abdoek Karim [Harahap],
Keduanya lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) di Padang Sidempoen.
Yang juga sama-sama lulus dengan HJD Aputuley adalah Tjipto [Mangoenkoesoemo]
dari Poerwadadi.
Pada
tahun 1904 HJD Apituleu lulus ujian naik dari kelas lima ke kelas enam medik
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1904). Yang juga
lulus bersama antara lain Abdoel Hakim Nasoetuon, Abdoel Karim Harahap dan
Tjipto Mangoenkoesoemo. Ini berarti studi mereka tinggal selangkah lagi.
Pada akhir tahun 1905 di sekolah kedokteran
Docter Djawa School diadakan ujian (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 07-11-1905). Dalam daftar kelulusan tidak terdapat nama HDJ
Apituley. Namun nama-nama temannya seperti Abdoel Hakim dan Abdiol Karom dan
Tjipto Mangoekoesoemo termasuk yang dinyatakan lulus ujian akhir dan berhasil
dengan gelar dokter? Bagaimana dengan HJD Apituley. Tidak terinformasikan,
namun diduga HDJ Apituley tinggal kelas atau menunda studi pada tahun ajuran
yang baru lewat.
Pada
akhir tahun 1906 HDJ Apituley diberitakan lulus ujian akhir di sekolah
kedokteran Docter Djawa School (lihat Soerabaijasch handelsblad, 12-10-1906).
Disebutkan di Docter Djawa School lulus ujian akhir yakni Mohamad [Daoelay],
Lumentut. Pratomo, Apituley, Samir, Gerungan, Djalaloedin, Mardjono dan
Soemardi. HJD Apituley kemudian diangkat sebagai dokter pribumi di  Stadsverband (rumah sakit kota) di Batavia
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-10-1906). Lulusan
lainnya ditempatkan di berbagai tempat dimana Mohamad Daoelay ditempatkan di
Kediri. Sementara HF Lumentutu ditempatkan di Stadsverband di Soerabaja. Pada
awal tahun 1907 HJD Apituley meneriama beslit daru pemerintah diizinkan sebagai
apoteker/membuka dokter praktek (lihat De locomotief, 27-02-1907). Namun
seperti kita lihat nanti, HDJ Apituley melanjutkan studi ke Belanda.
Pada tahun 1908 sudah terdapat sejumlah
pribumi asal Hindia yang mempersiapkan dan tengah studi di Belanda. Raden Sosro
Kartono (abang dari RA Kartini) yang lulus HBS Semarang tahun 1896 berangkat
studi ke Belanda. Pada tahun 1903 tiga orang yang datang awalnya untuk bekerja
sebagai redaktur majalah Bintang Hindia kemudian berhenti dan melanjutkan studi
di Belanda yakni Radjieon Harahap gelar Soetan Casajangan (lulusan sekolah guru
Kweekschool Padang Sidempoean), Baginda Djamaloedin (lulusan Kweekschool Fort de
Kock) dan Abdoel Rivai (lulusan Docter Djawa School). Pada bulan Juli 1906 RM
Notosoeroto berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi (lihat De locomotief,
20-07-1906). SM Latif yang lulus ujian masuk KW III S di Batavia tahun 1908 tidak
mendaftar tetapi berangkat ke Belanda HBS di Wageningen. KJ Leitemei HBS di
Koningin Wilhelmina Schoool di Batavia meneruskan studi ke Haarlem pada tahun
1907. Raden Mas Oetarjo siswa HBS Semarang meneruskan HBS/Landbouwschool di
Wageningen pada tahun 1907. Raden Soemitro siswa HBS di KW III School Batavia
meneruskan sekolah HBS di Leiden pada tahun 1906 (lulus tahun 1908). Pada bulan
Oktober 1908 R Tumbelaka berangkat ke Belanda dengan kapal ss Grotius dimana
kapal berangkat dari Batavia tanggal 10 September dan telah singgal di Genoa
tanggal 4 Oktober (luhat Het vaderland, 07-10-1908). HJD Apituley juga pada
bulan-bulan ini berangkat ke Belanda, tetapi tidak terinformasikan menumpang
kapal apa tanggal berapa. Pada tanggal 25 Oktober 1908 di rumah kediaman Soetan
Casajangan diadakan pertemuan orang pribumi asal Hindia yang akan maupun tengah
studi di Belanda. Dalam pertemuan yang diinisiasi Soetan Casajangan disepakti
perbentukan organisasi yang diberi nama Indische Vereeniging. Sebagai ketua
terpilih Soetan Casajangan dengan sekretaris Raden Soemitro.
Pada
tahun 1909 HDJ Apituley lulus ujian teoritis kedokteran di Amsterdam (lihat Het
vaderland, 03-04-1909). Dalam berita ini juga sama-sama lulus dengan R
Tumbelaka..
Tunggu
deskripsi lengkapnya
HJD Apituley dan Indische
Vereeniging: Reorganisasi STOVIA
Tunggu deskripsi lengkapnya
Â
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




