Dr Sardjito belum lama ini
ditabalkan sebagai pahalwan Indonesia berstatus Pahlawan Nasional. Nama Dr
Sardjito tentulah sangat dikenal karena menjadi rektor Universitas Gadjah Mada
yang pertama. Namanya juga menjadi nama rumah sakit di lingkungan Universitas
Gadjah Mada. Dalam laman Wikipedia narasi sejarah Dr Sardjito sangat minim.
Namun demikian dalam blog ini nama Sardjito sudah pernah dinarasikan dalam
artikel sendiri.
(13 Agustus 1889 – 5 Mei 1970) adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta
dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya ia
menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961,
selanjutnya menjadi Rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit pusat rujukan provinsi di
Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.Pada
tanggal 8 November 2019, Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh
Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Yang menerima
penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Dyani Poedjioetomo, Cucu dari
Sardjito. Sekolah Rakyat di Purwodadi dan Lumajang (1895—1901); Sekolah Belanda
di Lumajang (1901—1907); Sekolah STOVIA di Jakarta (1907—1915); Fakultas
Kedokteran Universitas Amsterdam (1921—1922); Mempelajari penyakit-penyakit
iklim panas di Leiden (memperoleh gelar doktor, 1923). Ketua Boedi Oetomo
Cabang Jakarta dan anggota Pengurus Pusat (1925); Anggota Haminte Jakarta dan
Wakil Wethouder. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Dr Sardjito? Seperti disebut di atas, sejarah Dr Sardjito
sudah pernah dibuat dalam satu artikel pada blog ini. Tentu saja artikel ini
hanya mengulang materi yang dianggap perlua saja, tetapi akan diperkaya dengan
data yang tidak terdapat pada artikel sebelumnya. Lalu bagaimana sejarah Dr
Sardjito? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia Dr Sardjito:
Boedi Oetomo Afdeeling Batavia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dr Sardjito: Studi Kedokteran
ke Belanda
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



