Sjamsi Widagda lulus sekolah guru di Belanda pada akhir tahun 1912.
Sjamsi Widagda kemudian melanjutkan studi bidang keguruan untuk mendapatkan
akta guru bantu Belanda (LO). Sjamsi Widagda lulus ujian akta guru LO pada Juni
1913 (lihat Het vaderland, 02-06-1913). Disebutkan di Den Haag tanggal 2 Juni
lulus ujian akte LO dari delapan kandidiat lulus enam orang diantaranya Sjamsi
Widagda. Pada bulan Agustus Mas Samsi diangkat untuk tahun ajaran 1913/14
sebagai guru sementara pada kursus bahasa Melayu di Handelschool (lihat De
Maasbode, 04-08-1913). Tampaknya posisi ini untuk menggantikan Soetan
Casajangan. Sjamsi Widagda kemudian melanjutkan studi, keguruan untuk
mendapat akta MO seperti Soetan Casajangan. Hal ini sesuai dengan rapat umum
Boedi Oetomo di Solo (lihat Het vaderland, 23-09-1913).
pada bulan Juli 1913 karena sudah turun beslit dari Menteri Koloni untuk
ditempatkan sebagai direktur Kweekschool di Fort de Kock. Soetan Casajangan
adalah sarjana pendidikan (MO) pribumi dan direktur kweekschool pribumi
pertama. Boleh jadi saat Sjamsi Widagda ujian LO, Soetan Casajangan hadir untuk
mendampingi.
keguruan mulai banyak peminat. Selain Soetan Casajanagan dan Sjamsi
Sastrawidagda, pada tahun 1913 dua guru muda tiba di Belanda yakni Dahlan
Abdoellah dan Ibrahim Datoek Tan Malaka. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng
Moelia yang tiba di Belanda tahun 1911 (setelah lulus ELS di Sibolga) pada
akhirnya setelah lulus sekolah menengah memilih studi keguruan. Pada tahun 1914
Sjamsi Widagda diangkat kembali sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool
(lihat De Maasbode, 13-09-1914). Sjamsi Widagda kembali diangkat sebagai guru
bahasa Nmelayu (lihat De Maasbode, 26-09-1915).
Dahlan Abdoellah lulus ujian Onderwij Hulp
Akte pada bulan Juni 1915 (Haagsche courant, 05-06-1915). Dahlan Abdoellah dan
Sjamsi Widagda mengambil kursus singkat dan kemudian lulus ujian bahasa Melayu
dan Etnografi di ‘sGravenhage (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1915).
Sjamsi Widagda kembali diangkat sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool
(lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 08-08-1916).
Pada
tahun 1916 Sjamsi Sastrawidagda lulus ujian akta guru MO (lihat De standaard, 13-09-1916).
Pada tahun 1917 Sjamsi Widagda kembali diangkat sebagai guru bahasa Melayu di
Handelschool (lihat De avondpost, 13-08-1917). Pada tahun 1917 Samsi Sastrawidagda dan Dahlan
Abdoellah diangkat sebagai asisten dosen di Universiteit Leiden (lihat Nederlandsche
staatscourant, 29-08-1917). Dahlan Abdoellah untuk bahasa Melayu dan Samsi Widagda
untuk bahasa Jawa. Sambil mengajar, Sjamsi Widagda juga mengikuti pendidikan di
Handelshoogeschool di Rotterdam.
Jabatan ini pernah dilakukan oleh Soetan
Casajangan pada tahun 1911. Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa
Melayu di Handelschool dan juga merangkap sebagai asisten dosen Prof Charles A.
van Ophuijsen di Universiteit Leiden. CA van Ophuijsen adalah mantan guru dari
Soetan Casajangan di Kweekschool Padang Sidempoean.
Sjamsi
Widagda diangkat sebagai guru bantu bahasa Jawa di Rijksuniversiteir di Leiden
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1918). Sjamsi
lulus ujian kandidat di Handelseconomie di Nederlandsch Handelshoogeschool di Rotterdam
pada tahun 1918 (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 29-06-1918).
Sjamsi Widagda kemudian melanjutkan studi ke Handelshoogeschool Rotterdam.
De locomotief, 05-07-1918: ‘Disebutkan pada
waktu Tirtokoesoemo memimpin Boedi Oetomo, berbagai hal yang menjadi tujuan
Tirtokusumo khususnya adalah peningkatan pendidikan pribumi. Berbagai aksi
berhasil dilakukan. Pertama-tama penerbitan majalah Guru Desa, yang memberikan
informasi kepada penduduk asli tentang pertanian, perdagangan, perdagangan,
peternakan dan lain-lain. Upaya lain juga dilakukan untuk meningkatkan sekolah
pribumi kelas satu menjadi sekolah pribumi Belanda (HIS) dan juga kampanye
untuk memasukkan gadis pribumi ke sekolah taman untuk guru. Selain itu, seorang
murid Kweekschool di Jogja dikirim ke Belanda atas biaya Boedi Oetomo untuk
melanjutkan studinya disana untuk mendapatkan akta guru bantu Nederlaudsche
(LO), dengan tujuan agar dia, setelah menjadi guru, untuk kepentingan dari asosiasi
yang dipekerjakan, karena pimpinan dewan yakin bahwa ada kekurangan yang sangat
besar dari guru Enropean, Menurut pengurus pusat Boedi Oetomo, pendidikan bagi
pribumi hanya dapat dipenuhi sepenuhnya dengan meningkatkan pendidikan bagi
guru pribumi. Mas Samsi, yang berasal dari Solo, dibawa ke Belanda untuk
keperluan ini dimana ia memperoleh akta guru Batu Belanda (LO) dan mendapat
akta guru utama (MO) dua tahun lalu. Karena perang Eropa, Mas Samsi belum bisa
kembali ke Jawa. Saat pengiriman Mas Samsi ke Belanda, pengurus Boedi Oetomo
tak lupa mengucapkan terima kasih antara lain kepada Zuydema, mantan guru
sekolah di Jogjakarta yang mengantarkan Mas Samsi dari Jawa ke Belanda; dan
kepada Mangaradja Soetan Casajangaa Soripada yang menerima siswa tersebut di
Belanda, menempatkannya di sebuah sekolah pelatihan di Den Haag dan
mengawasinya setiap hari’. Dari uraian di atas mungkin tampak bahwa
kepemimpinan RAA Tirtokoesoemo cukup membuahkan hasil bagi Boedi Oetomo’.
Abdoellah dan Samsi diangkat kembali sebagai asisten dosen tahun 1918 (De
Preanger-bode, 05-10-1918). Dahlan Abdoellah dan Samsi Sastrawidagda diangkat
kembali sebagai asisten dosen Melayu dan Jawa (Bataviaasch nieuwsblad,
02-10-1919). Pada tahun 1919 ini Soetan Goenoeng Moelia lulus akta MO, yang
lalu kemudian diangkat sebagai guru HIS di Bengkoelem. Selain mengajar, Sjamsi
Widagda juga aktif di dalam organisasi Indische Vereeniging dan juga aktif
berpartisipasi dalam pengelolaan majalah Hindia Poetra.
Sjamsi Widagda juga berpartsipasi dalam
Kongres Pendidikan yang diadakan pada tahun 1919 (lihat De Tijd :
godsdienstig-staatkundig dagblad, 25-10-1919). Sementara itu Soewardi
Soerjaningrat yang sejak 1913 di Belanda pada akhirnya mengikuti langkah Sjamsi
Widagda untuk mengikuti pendidkan keguruan untuk mendapatkan akta guru LO.
Sjamsi
Sastrawidagda junior dan Soetan Casajangan senior juga menjadi anggota Indisch
Genootschap di Belanda. Dalam merger Vereeniging Moederland en Kolonien dan
Indisch Genootschap yang namanya menjadi Indische Genootschp Sjamsi Widaga juga
sebagai anggota pengurus (lihat De Maasbode, 05-05-1921). Sementara Soetan
Casajangan mengundurkan diri karena kembali ke tanah air. Pada tahun 1922
Sjamsi Widagda termasuk salah satu yang mendiukung otonomi di Hindia.
Soetan Casajangan pada tahun 1918 saat menjabat sebagai direktur
Kweekschool Amboina dipromosikan menjadi asisten Inspektur Pribumi di Batavia.
Pada awal tahun 1920 Soetan Casajangan diberi cuti liburan satu tahun ke Eropa.
Kesempatan ini dimanfaat Soetan Casajangan ke Belanda, bertemu para pengurus
Indisch Vereeniging, malakukan kegiatan pembicaraan dengan berbagai institusi
di Belanda dan tentu saja secara khusus bertemu dengan Sjamsi Widagda. Saat di
Belanda Soetan Casajangan diundang berbicara di Vereeniging Moederland en
Koloniem. Pada awal tahun 1921 Soetan Casajangan kembali ke tanah air dan
diangkatsebagai dierektur sekolah Normaal School di Meester Cornelis. Sementara
itu di Belanda pada tahun 1922 Sjamsi Widagda dan Dahlan Abdoellah mengakhiri
tugas mereka sebagai asisten dosen di Leiden. Jabatan yang ditinggalkan Sjamsi
Widagda dan Dahlan Adoellah kemudian jabatan asisten dosen Melayu di
Universiteit Leiden diisi oleh Soetan Mohammad Zain yang didatangkan dari
Batavia (lihat De Maasbode, 27-07-1922). Untuk posisi asisten dosen Jawa diisi
oleh Perbatjaraka (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 18-09-1922). Dahlan Abdoellah lulus ujian acte MO vóór de Maleis
che taal en letterkunde tahun 1924 (lihat Het Vaderland : staat- en
letterkundig nieuwsblad, 28-06-1923). Dahlan Abdoellah segera kembali ke tanah
air. Lalu kemudian Dahlan Abdoellah diangkat sebagai guru HIS di Tandjong
Pinang (lihat De Preanger-bode, 02-07-1924).
Pada
tahun 1922 Sjamsi Widagda lulus ujian akhir di Handelshoogeschool di Rotterdam
(lihat Arnhemsche courant, 21-03-1923). Sjamsi Widagda masih melanjutkan studi
ke tingkat doktoral. Pada tahun 1925 Sjamsi Widagda lulus dengan gelar doktor
setelah mempertahankan desertasi berjudul De Ontwikkeling der Handelspolitiek
van Japan (lihat De Maasbode, 18-11-1925). Disebutkan Sjamsi Widagda lahir di
Soerakarta. Selesai sudah pendidikan Sjamsi Widagda sejak kedatangannya di
Belanda tahun 1912. Dr Sjamsi Widagda akan kembali ke tanah air pada tahun 1926
ini (lihat De locomotief, 30-03-1926). Sjamsi Widagda,guru Jawa setelah cukup
lama di Belanda kembali ke Jawa di Solo (tempat kelahirannya). Kepulangan
Sjamsi Widagda menjadi viral di semua surat kabar di Hindia.
De Indische courant, 04-10-1926: ‘Kembali.
Hari ini tiba di kampung halamannya setelah bertahun-tahun absen, Dr Samsi
Sastrawidagda. Pada tahun 1912, setelah menyelesaikan studinya di Kweekschool di
Djogja, ia berangkat ke Belanda dan memperoleh gelar hulp en hoofdacre akta LO
dan akta MO disana. Dia kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di
Haudelsboogeechool di Rotterdam dan memperoleh gelar doktor dalam ilmu perdagangan.
Selama masa mahasiswanya ia bertindak sebagai asisten dosen bahasa Jawa di
Universitas Leiden. PC Hooft membawanya ke Belanda. Kami berharap akan
memungkinkan untuk memberinya pekerjaan dimana pengetahuan yang diperolehnya akan
digunakan di Hindia’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Willem Iskander dan Guru Tetaplah Guru: Ki Hadjar Dewantara dan Todoeng Harahap Gelar Soetan Goenoeng Moelia
Guru
tetaplah guru. Soetan Casajangan telah membimbing beberapa pemuda dari Hindia
menjadi guru, paling tidak ada dua nama yakni Soetan Goenoeng Moelia dan Sjamsi
Sastrawidagda. Sjamsi Widagda tidak hanya berhasil lulus guru MO juga telah
meraih gelar doktor dan telah kembali tahun 1926 ke tanah air.
Ini seakan mengingatkan di masa lampau, ketika
Sati Nasution alias Willem Iskander membawa tiga guru muda untuk studi keguruan
di Belanda pada tahun 1874. Tiga guru muda tersebut adalah Barnas Lubis dari
Tapanoeli, Raden Adi Sasmita dari Bandoeng dan Raden Soerono dari Soerakarta.
Tampaknya para pemimpin di Jawa masih mempercayai orang Tapanoeli (Angkola
Mandailing) untuk dititipkan, dibimbing dan diarahkan guru asal Jawa untuk studi
di Belanda. Jika tempoe doloe Raden Soerono dari Soerakarta kepada Willem
Iskander, maka kini Mas Sjamsi Widagda dari Soerakarta kepada Soetan
Casajangan.
Soetan Goenoeng Moelia yang telah kembali ke tanah air pada tahun 1919
setelah mendapat akta guru MO, pada saat menjabat sebagai direktur sekolah HIS
di Kotanopan, telah diangkat menjadi anggota Volksraad dan selama menjadio
anggota Volksraad diangkat sebagai anggota Komisi Pendidikan HIS di Batavia.
Pada tahun 1930 Soetan Goenoeng Moelia kembali ke Belanda untuk melanjutkan
studi tingkat doktoral. Pada tahun 1933 Soetan Goenoeng Moelia berhasil meraih
gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Leiden.
Selama Sjamsi Widagda berada di Belanda,
Soewardi Soerjaningrat mengikuti jejak Sjamsi Widagda. Soewardi Soerjaningrat berhasil
lulus ujian akta guru LO pada tahun 1919 dan kembali ke tanah air pada tahun
1920. Pada tahun 1922 Soewardi Soerjaningrat mendirikan sekolah swasta yang
kemudian dikenal sebagai sekolah Taman Siswa. Soewardi Soerjaningrat kemudian
dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara.
Soetan
Casajangan yang juga pendiri Indische Vereeniging di Belanda (1908) pada tahun
1927 meninggal dunia saat masih menjabat sebagai dierektur sekolah guru Normaal
School di Meester Cornelis (kini Salemba). Dari semua mahasiswa pribumi di
Belanda yang tergolong dekat dengan Soetan Casajangan kemudian terbilang
semuanya sukses.
Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoepon,
yang bekerja di pemerintahan daerah pada tahun 1927 terpilih menjadi anggota
Volksraad dari dapil Province Oost Sumatra. Sjamsi Sastra Widagda tidak hanya
berhasil meraih akta guru MO juga gelar doktor dalam bidang ekonomi. Demikian
juga Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia telah berhasil meraih gelar
doktor dalam bidang sastra dan filsafat dan anggota Volksraad. Dan jangan lupa
Raden Soemitro yang menjadi nsekretarisnya saat menjabat ketua Indische
Vereeniging telah menjadi bupati yang sukses di Jawa (tengah). Last but not
leas pada era kemerdekaaan Indonesia pada kabinet pertama RI, Dr Sjamsi Widagda
menjadi Menteri Keuangan. Pada saat yang bersamaan Soewardi Soerjaningrat alias
Ki Hadjar Dewantara menjadi Menteri Pendidikan. Dalam perkembangannya sebagai
Menteri Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara digantikan oleh Dr Soetan Goenoeng
Moelia.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



