Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (473): Pahlawan Indonesia dan WK Tehupelory dan Indische Vereeniging di Belanda; JE Tehupelory 1908

Tempo Doelo by Tempo Doelo
15.03.2022
Reading Time: 22 mins read
0
ADVERTISEMENT

 




false
IN


























































































































































Siapa WK Tehupelory? Tampkanya
kurang terinformasikan. Namun demikian, paling tidak nama WK Tehupelory
terdapat dalam buku ‘Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda,
1600-1950 yang ditulis oleh Harry A. Poeze, Cornelis Dijk dan Inge van der
Meulen diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, 2008. WK Tehupelory adalah
lulusan sekolah kedokteran di Batavia, Docter Djawa School. Dalam
perkembangannya WK Tehupelory melanjutkan studi di Belanda, Tidak hanya WK
Tehupelory, juga ada JE Tehupelory di Belanda.

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

WK Tehupelory dan JE Tehepelory berasal dari Amboina.
Suatu wilayah terbilang mendapatkan pendidikan modern (aksara Latin). Dua putra
pertama dari Ambon studi ke Belanda adalah JH Watiemna dan ME Anakota. Ini
bermula setelah tiga tahun mengajar di Allang, JH Wattimena dikabarkan akan
berangkat ke Belanda untuk studi lebih lanjut. Disebutkan JH Wattimena tidak
sendiri, rekan lainnya adalah ME Anakota. ME Anakota adalah guru kelas 1 di
Hative dan JH Wattimena adalah guru kelas 1 di Allang (Residentie Amboina).
Mereka berdua studi ke Belanda atas biaya pemerintah (semacam beasiswa). Anakotta
dan JH Wattimena berangkat ke Belanda dengan menumpang kapal Conrad dari
Batavia menuju Amsterdam pada tanggal 13 Agustus 1881. Dalam manifest kapal ini
hanya mereka berdua yang pribumi. Di Belanda mereka berdua di sekolah guru di
Amsterdam yang dipimpin oleh D. Hekker. Anakotta dan JH Wattimena memenuhi
syarat kelas 3 untuk lanjut ke kelas empat atau kelas lima di sekolah guru
Belanda (guru lisensi/akta Belanda). JH Wattimena selama mengikuti pendidikan
tidak menemukan kesulitan. Pada tahun 1884, JH Wattimena dikabarkan lulus sekolah
guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO). Disebutkan dari
14 kandidat yang diuji oleh Universiteit Amsterdam empat siswa dinyatakan
lulus, salah satu diantaranya JH Wattimena (dari Amsterdam). Sementara, ME
Anakotta tidak berumur panjang. Ia 
meninggal saat menjalani study karena penyakit paru-paru yang diidap.
Kepergian Anakotta menambah panjang daftar guru-guru yang meninggal di Belanda
(blog Poestaha Depok dilansir oleh https://beritabeta.com/).

Lantas
bagaimana sejarah WK Tehupelori? Seperti disebut di atas, WK Tehupelory lulusan
sekolah kedokteran di Batavia Docter Djawa School melanjutkan studi di Bellanda,
yang mana WK Tehupelory tidak sendiri, tetapi juga ada JE Tehupelory di Belanda.
Lalu bagaimana sejarah WK Tehupelory? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

ADVERTISEMENT

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan WK
Tehupelory: Studi Kedokteran di Batavia hingga Belanda

WK
Tehupelory studi di sekolah kedokteran di sekolah kedokteram Docter Djawa
School di Batavia, Pada tahun 1897 WK Tehupelory lulus ujian transisi naik dari
afdeeling kelas 2 ke kelas satu tingkat persiapan (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 03-02-1897). Satu kelas bersama dengan antara lain JE Tehupeyorij, Mohamad
Hamzah Harahap, M Asmaoen dan Haroen Al Rasjid [Nasoetion]. Pada kelas
terttinggi naik dari kelas empat ke kelas lima tingkat medik antara lain Mas
Boenjamin.

Pada tahun 1900 WK Tehupelory lulus ujian naik
dari kelas tiga ke kelas empat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-12-1900). Teman-temannya
yang disebut di atas juga sama-sama naik kelas yakni JE Tehupeyorij, Mohamad
Hamzah Harahap, M Asmaoen dan Haroen Al Rasjid [Nasoetion].

Pada
tahun 1901, sementara terus mengikuti studi di Docter Djawa School, salah satu
dari Tehupelory (WK atau JE) tergabung dalam tim redaksi majalah dwi mingguan
Bandera Wolanda yang terbit pertama pada tanggal 15 April 1901 di Batavia
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-06-1901). Pemimpin redaksi adalah F Wiggers
yang dalam tim redaksi ini juga terdapat seorang Jawa, seorang Melayu (Abdoel
Rivai?) dan seorang Cina.

Surat kabar berbahasa Melayu sudah sejak lama
ada di beberapa kota seperti Batavia, Semarang, Soerabaja, Padang dan Manado.
Pada tahun 1905 di Padang terbit surat kabar Pertja Barat dengan editor Saleh
Harahap gelar Dja Endar Moeda. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi
surat kabar Pertja Barat beserta percetakannya yang kemudian menerbitkan lagi
surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Tapian Na Oeli. Pada bulan Juli
1900 di Amsterdam, Abdoel Rivai menerbitkan majalah dwi mingguan berbahasa
Melayu yang diberi nama Pewarta Wolanda. Abdoel Rivai sendiri, lulusan Docter
Djawa School datang ke Belanda pada bulan November 1899 dengan tujuan awal
untuk melanjutkan studi kedokteran. Namun upaya Abdoel Rivai ini tidak bertahan
lama dan pada awal tahun 1901 kembali ke tanah air dan bergabung dengan Soerat
Chabar Soldado yang dipimpin eks tentara Belanda, Claude Clockener Brousson
yang lalu keduanyta menerbitkan majalah Bandera Wolanda sejak 15 April 1901
dimana [WK/JE] Tehupelory ikut bergabung dalam jajaran redaksi. Pada tahun 1902
terbit surat kabar berbahasa Melayu di Medan di bawah Sumatra post yang diberi
nama Pertja Timor dengan kepala editor Hasan Nasoetion gelar Mangaradja
Salamboewe. Pada tahun 1903 Tirto Adhi Soerjo yang pernah studi di Docter Djawa
School masuk jajaran redaksi surat kabar Pembrita Betawi pimpinan Karel
Wojbrand.

Pada
tahun 1901 WK Tehupelory, JE Tehupelory dkk lulus ujian naik dari kelas empat
ke kelas lima (lihat De Preanger-bode, 02-12-1901). Pada tahun 1902 WK
Tehupelory lulus ujian akhir dan mendapat gelar dokter djawa (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-11-1902). Dimana WK Tehupelory
ditempatkan tidak terinformasikan, Demikian juga dengan JE Tehupelory.

De locomotief: Samarangschhandels- en
advertentie-blad edisi 29-12-1902: ‘dokter-dokter baru yang lulus tahun ini
diangkat menjadi pegawai pemerintah dan di tempatkan di kota-kota yang berbeda,
Haroen Al Rasjid ditempatkan di Padang dan Mohammad Hamzah di Telok Betoeng. Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 03-01-1903: ‘Kapal s.s. ‘Van
Riemsdijk’ pagi ini pukul 08.30 melakukan pelayaran (dari Batavia) menuju Telok
Betoeng, Kroe, Benkoelen, Padang en Atjeh. Di dalam manifest pelayaran ini
terdapat antara lain nama Dr. Djawa Mohammad Hamzah dan Dr. Djawa Haroen Al
Rasjid’.

Dalam
perkembangannya diketahui Tehupelory (apakah WK atau JE) termasuk dalam tim
ekspedisi yang akan melakukan perjalanan ke Borneo (lihat Het vaderland, 24-11-1903).
Disebutkan ekspedisi ini akan dipimpin oleh Dr. Nieuwenhuis. Kapan perjalanan
ini dilakukan diperkirakan pada bulan Oktober 1903.

Pada tahun 1903 Dr AA Fokker akan menerbitkan
majalah dwi mingguan di Belanda yang diberi nama Biintang Hindia. Untuk
mendukung rencana tersebut, AA Fokker bekerjasama dengan Dja Endar Moeda,
pemimpin surat kabar Pertja Barat di Padang. Dalam hubungan ini, Dja Endar
Moeda juga merekomendasikan Abdoel Rivai. Dalam kunjungan Dja Endar Moeda pada
tahun 1903 ini ke Belanda, membawa dua guru untuk membantu Bintang Hindia yakni
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan dan Djamaloedin. Soetan Casajangan
adalah guru di Padang Sidempoean yang juga merupakan adik kelas Dja Endar Moeda
di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Sedangkan Djamaloedin adalah
guru muda lulusan Kweekschool Fort de Kock yang selama ini membantu Dja Endar
Moeda sebagai editor pada majalah Insulinden yang terbit di Padang. Pada awal
tahun 1905 Soetan Casajangan pulang ke ke tanah air sehubungan dengan
rencananya untuk melanjutkan studi di Belanda. Soetan Casajangan berangkat
kembali ke Belanda pada bulan Juli 1905. Pada akhir tahun 1905 Soetan
Casajangan menulis artikel yang dimuat di Bintang Hindia yang berisi tentang
ajakan studi ke Belanda yang disertai tip persiapan di tanah air, selama
pelayaran dan selama studi. Soetan Casajangan juga menginformasikan perguruan
tinggio yang dapat dipilih oleh siswa asal Hindia.

Setelah
beberapa waktu, diketahui WK Tehupelory berdinas sebagai dokter pemerintah di
Medan (lihat Sumatra-bode, 09-06-1905). Pada bulan Juli diberitakan JE Tehupelory
lisensi untuk membuka apotik (lihat De locomotief, 11-07-1905). Pada bulan
Agustus WK Tehupelory diketahui di Bagan Siapi-api (lihat De nieuwe courant, 07-08-1905).
Pada bulan September 1906 muncul brosur tentang laporan Borneo yang ditulis Tehupelory
yang diterbitkan Bataviaasch nieuwsblad (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-09-1906).

Rangkuman informasi tersebut mengindikasikan
JE Tehupelory sudah aktif dalam bidang jurnalistik sejak kuliah di Docter Djawa
School, kemudian ikut ekspedisi Borneo dan telah mendapat lisensi apoteker,
sementara WK Tehupelory memulai dinas sebagai dokter di Medan dan Bagan
Siapi-api.

Pada
tahun 1907 JE Tehupelory diketahui sudah di Belanada. Hal ini diketahui dari Soerabaijasch
handelsblad, 12-12-1907 dimana JE Tehupelory editor majalah Bandera Wolanda (suksesi
Bintang Hindia) menulis dari Amsterdam. Lantas dimana WK Tehupelory? Masih di Hindia
atau sudah di Belanda?

Dalam tulisan JE Tehupelory, editor Bandera
Wólanda, bahwa dia berkolaborasi dengan Clockener Brousson. Menyebutkan tiga
pemuda pribumi yang dibawa ke Belanda oleg Clockener dengan kejam dibiarkan
sendiri dan sekarang tanpa roti, tidak dapat lagi kembali ke tanah air. Mereka
itu adalah satu orang Jawa dan dua orang Sumatera dipekerjakan disini oleh
redaktur Bintang Hindia yang sudah ditutup. Mas Songkono Jawa telah dikirim ke
Belanda sebagai korektor pada Februari 1906, Samsoedin Rassat seorang Melayu didatangkan
sebagai asisten editor pada Mei 1906 dengan Clockener Brousson dan Amaroellah seorang
Melayu, mantan guru pribumi di Idi, juga berangkat ke Belanda pada September
1906 untuk membantu editor. Penerbit Bintang Hindia berani mengeluarkan biaya
besar mengingat dukungan pemerintah saat itu. Karena Mas Soenkono tidak
memenuhi syarat sebagai korektor dan publikasi tidak sesuai dengan pekerjaan
yang dilakukan, penerbit memutuskan untuk mengirimnya kembali ke kantor di
Bandung pada Februari 1907 untuk bergabung dengan staf administrasi disana
seperti sebelumnya. Mas Soengkono, bagaimanapun, tidak ingin kembali ke Hindia
dan karena itu mengundurkan diri pada bulan Juni 1907, setelah berkat
intervensi baik dari Asosiasi Timur dan Barat, yang diterima di rumahnya oleh seorang
mantan Resident van Sumatra’s Westkust membantu Soengkono untuk ujian masuk
pertanian di Wageningen. Sayangnya, upaya mulia dari Soengkono yang baik ini
tidak berhasil, karena Sungkono yang malang tiba-tiba jatuh sakit pada bulan
Agustus dan meninggal dalam beberapa hari kemudian. Catatan: Tim baru Bintang
Hindia yang diteruskan oleh Clockener, setelah tim lama dimana Soetan
Casajangan mengundurkan diri karena mau melanjutkan studi. Abdoel Rivai dan
Djamaloedin juga mengikuti langkah Soetan Casajangan.

WK
Tehupelory berangkat ke Belanda (bersama JE Tehupelory dan saudara perempuan
mereka). Di Belanda disebutkan [WK] Tehupelory tampil berbicara di Indisch
Genootschap di Belanda (lihat Soerabaijasch handelsblad, 30-01-1908). Perihal
yang dibicarakan oleh Tehupelory adalah menyangkut posisi sekolah kedokteran
Docter Djawa School/STOVIA di Hindia.

Pada bulan Oktober 1908 di Belanda, Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan meminta Raden Soemitro (lulusan HBS di Belanda)
yang telah diterima di Nederlanasch Administrative Diesnt untuk mengirimkan
undangan kepada semua mahasiswa pribumi di berbagai kota di Belanda. Pada
tanggal 25 Oktober di tempat kediaman Soetan Casajangan di Leiden berkumpul 15
orang mahasiswa. Semua setuju dengan pembentukan organisasi mahasiswa yang
diberi nama Indische Vereeniging. Lalu secara aklamasi diangkat sebagai ketua
Soetan Casajangan dan Raden Soemitro sebagai sekretaris. Soetan Casajangan
adalah mahsiswa kedua di Belanda tiba tahun 1905 (yang pertama adalah Raden Kartono,
abang dari RA Kartini).

Namun
tidak terduga, WK Tehupelory kehilangan saudaranya JE Tehupelory meninggal
dunia (lihat  De Telegraaf, 24-12-1908).
Disebutkan JE Tehupelory hari Jumat meninggal di Utrecht dalam usia 26 tahun.
WK Tehupelory kehilangan seorang abang yang sama-sama studi di Docter Djawa
School dan sama-sama berangkat ke Belanda pada tahun 1907. Tulisan JE
Tehupelori tentang Orang Dajak mendapat perhatian luas.

Middelburgsche courant, 29-12-1908: ‘Pemakaman
dokter JE Tehupelory, kelahiran Amboinia, yang meninggal karena kecelakaan di
Utrecht, dilakukan di pemakaman umum disana, dengan penuh minat. Sejumlah orang
Hindia hadir dan sejumlah besar rangkaian bunga menutupi usungan jenazah.
Beberapa orang berbicara di pemakaman Mr C Th. von Deventer, anggota Tweede
Kamer atas nama semua orang Belanda, Giesbera, atas nama mahasiwa NOVA. Abondanon,
Graanboom, R Soetan Casajangan Soeripada, ketua Inidische Vereeniging di
Belanda dan Victon mahasiswa di Universitas Amsterdam. Saudara almarhum mengucapkan
terima kasih atas minat dan partisipasinya’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

WK Tehupelory dan Bersaudara: Sejarah
Panjang Pendidikan di Ambon

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

CARA MEMBUAT ES TELER 77 UNTUK JUALAN

MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR DIJADIKAN HAMBA YANG BERSYUKUR

Iklan

Recommended Stories

Resep Beef Cubes dengan Creamy Brown Sauce & The Dog Whisperer

12.12.2020

Resep Sarapan Sehat Tim (Kukus) Tahu Jamur Spesial

06.11.2013

PUJIAN DAN KEMULIAAN DENGAN IBADAH DI MALAM HARI

04.04.2016

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?