Siapa Kwa Tjoan Sioe? Tampaknya
kurang terinformasikan. Yang jelas kini namanya dikaitkan dengan awal pendirian
(cikal bakal) Rumah Sakit Husada di Jakarta Utara. Kwa Tjoan Sioe sebenarnya
cukup dikenal pada era Pemerintah Hindia Belanda, karena Kwa Tjoan Sioe adalah
terbilang generasi pertama pelajar-pelajar golongan Cina yang studi ke Belanda.
Pada tahun 1908 organisasi mahasiswa pribumi didirikan di Belanda oleh 15
mahasiswa yang dipimpin Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Lalu kemudian
menyusul pada tahun 1910 organisasi mahasiswa Cina didirikan oleh 14 orang
dengan nama Chung Hwa Hui. Dalam konteks inilah Kwa Tjoan Sioe lulusan HBS
Semarang berangkat studi kedokteran di Belanda (lulus tahu 1920).
sebagai poliklinik oleh Dr. Kwa Tjoan Sioe pada tahun 1924, dan diresmikan
penggunaannya pada tahun berikutnya. Sebelum menjadi rumah sakit besar, Husada
bermula dari sebuah poliklinik sederhana yang dibentuk oleh perkumpulan Jang
Seng Ie. Catatan statistik menunjukkan bahwa pada bulan Mei 1925 sebanyak 281
pasien telah berkunjung ke poliklinik Jang Seng Ie, meningkat menjadi 556
pasien pada bulan Juni 1925. Kompetensinya pun terus meningkat, bahkan
membukukan prestasi sebagai rumah sakit pertama di Asia yang mempunyai unit
perawatan anak, yang didirikan pada tahun 1929. Rumah sakit terus berkembang
dengan pesat dibawah pimpinan politikus dan parlementer Loa Sek Hie, yang
menjabat sebagai kepala pengurus antara 1932 dan 1963. Pada tahun 1965 atas
usulan Menteri Kesehatan waktu itu yaitu Prof Dr Satrio, nama rumah sakit ini
diubah menjadi RS Husada. Kemampuan RS Husada semakin diakui, seperti yang
terjadi pada tahun 1971 dengan ditetapkannya rumah sakit tersebut oleh
pemerintah sebagai Rumah Sakit Pusat II Wilayah Jakarta Utara. Kepercayaan pun
semakin bertambah dan pada tahun 1997 mendapatkan akreditasi penuh dari
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Lantas
bagaimana sejarah Kwa Tjoan Sioe? Seperti disebut di atas, Kwa Tjoan Sioe terbilang
generasi awal pelajar-pelajar golong Cina studi ke Belanda. Pada tahun 1924 Dr Kwa
Tjoan Sioe lulusan Amsterdam mendirikan klinik di Batavia, yang menjadi cikal
bakal RS Husada yang sekarang. Lalu bagaimana sejarah Kwa Tjoan Sioe? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Kwa
Tjoan Sioe: Dokter Lulusan Amsterdam 1920
Setelah
lulus sekolah dasar berbahasa Belanda, Kwa Tjoan Sioe melanjutkan studi ke
sekolah menengah (HBS), Pada tahun 1909 Kwa Tjoan Sioe lulus ujian transisi
dari kelas satu ke kelas dua di HBS Semarang (lihat De locomotief, 01-05-1909).
Pada kelas tertinggi (naik dari kelas empat ke kelas lima) antara lain terdapat
nama RM Soerjopoetro. Pada tahun 1910 Kwa Tjoan Sioe lulus ujian naik ke kelas
tiga (lihat De locomotief, 06-05-1910).
Pada tahun 1908 Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan berinisiatif mendirikan organisasi mahasiswa di Belanda. Ini
bertepatan kedatangan dua kandidar mahasiswa di Belanda, yakni Raden Soemitro
lulusan HBS Semarang dan saudaranya Raden Ambio Soedibio lulusan dari HBS
Soerabaja. Jumlah mahasiswa pribumi menjadi sebanyak 15 orang. Mahasiswa
pribumi pertama di Belanda adalah Raden Kartono lulusan HBS Semarang tahun 1896
dan mahasiswa kedua adalah Soetan Casajangan senidiri yang tiba pada tahun
1905. Soetan Casajangan meminta R Soemitro mengirim surat ke semua mahasiswa di
berbagai kota untuk berkumpul di kediamannya di Leiden pada tanggal 25 Oktober.
Soetan Casajanga membuka rapat dimana diminta yang menjadi sekretaris rapat
adalah Husein Djajadiningrat lulusan HBS KW III School Batavia tahun 1906. Di dalam
pertemuan disepakati pembentukan organisasi mahasiswa dengan nama Indische
Vereeniging (Perhimpoenan Hindia). Juga disepakati secara aklamasi yang menjadi
ketua adalah Soetan Casajangan dan sekretaris Raden Soemitro. Saat itu jumlah
mahasiswa golongan Cina di Belanda belum sebanyak golongan pribumi.
Kwa
Tjoan Sioe lulus ujian akhir di HBS Semarang (lihat De expres, 04-06-1913). Ini
mengindikasikan Kwa Tjoan Sioe lancar dalam studi, tidak pernah ketinggalan
kelas. Tidak terinformasikan kapan Kwa Tjoan Sioe berangkat melanjutkan studi
ke Belanda. Kwa Tjoan Sioe lulus ujian natuurkundig (IPA) pertama (setara ujian
propaeduetisch) di Universiteit te Amsterdam (lihat Provinciale Overijsselsche
en Zwolsche courant, 29-09-1916). Ujian naturrkundig ini adalah persyaratan
pertama di fakultas kedokteran. Ada jarak yang cukup lama antara lulus HBS di
Semarang tahun 1913 dengan lulus ujian natuurkundig di Amsterdam tahun 1916.
Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kawa Tjoan Sioe berangkat tahun 1913 tetapi
tidak berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi dan kemudian mengikuti ujian
pada tahun berikutnya. Kemungkinan kedua Kwa Tjoan Sioe tidak langsung
berangkat tetapi baru belakang dan langsung lulus ujian masuk perguruan tinggi
pada tahun 1915.
Saat Kwa Tjoan Soei tiba di Belanda, sudah ada
organisasi mahasiswa golongan Cina. Organisasi ini dsdirikan sebanyak 14
mahasiswa pada tahun 1911 yang diinisiasi oleh Yap Hong Tjoen yang diberi nama
Chung Hwa Hui. Yap Hong Tjoen lulusan HBS Semarang tiba di Belanda pada tahun
1908 bersama dua lulusan HBS Semarang yakni Raden Soemitro dan Be Tiat Tjong.
Sebagaiimana disebut di atas Kwa Tjoan Sioe juga lulusan HBS Semarang (1913).
Pada tahun 1917 di Belanda diadakan Kongres Mahasiswa Hindia untuk kalli
pertama dimana Indische Vereeniging dan Chung Hwa Hui ikut berpartisipasi.
Kongres ini diketuai oleh HJ van Mook dari perhimpoenan mahasiswa Indologi di
Leiden. HJ van Mook, kelahiran Semarang adalah lulusan HBS Soerabaja. Besar
kemungkinan Kwa Tjoan Sioe juga turut hadir dalam Kongres Mahasiswa Hindia ini.
Organisasi Chung Hwa Hui sudah ada yakni majalah yang diberi nama Chung Hwa
Hui Tsa Chieh.
Tampaknya
Kwa Tjoan Sioe memiliki kemampuan menulis yang baik. Pada edisi ketiga majalah Chung
Hwa Hui Tsa Chieh menulis satu artikel
(lihat Het vaderland, 08-02-1918). Artikel Kwa Tjoan Soei berjudul Timur dan
Barat (Asia dan Eropa) di dalam bahasa Melayu. Isi artikel Kwa Tjoan Soei ini
dengan motto Tout savoir c’est tout pardonner. Artikel yang sama tetapi dengan
bahasa Belanda tampaknya dikirim Kwa Tjoan Soei ke Batavia yang dimuat majalah
Het Weekblad voor Indie No 23 (lihat De nieuwe vorstenlanden, 18-09-1918).
Pada bulan Agustus 1918 di Belanda diadakan
Kongres Mahasiswa Indonesia (sebelumnya pada tahun 1917 namanya Kongres
Mahasiswa Hindia). Kongres ini diketahui oleh JA Jonkman. Indissche Vereeniging
dan Chung Hwa Hui juga berpartisipasi dalam kongres ini. Tiga pembicara dari
Indische Vereeniging adalah Dahlan Abdoellah, Sorip Tagor Harahap dan Goenawan
Mangoenkoesoemo (adik Dr Tjipto).
Dalam
Kongres Mahasiswa Indonesia tahun 1918 Kwa Tjoan Soei ambil bagian berbicara
(lihat De nieuwe courant, 08-09-1919). Tema kongres pada tahun ini adalah
perihal pendidikan. Kwa Tjoan Soei pada intinya mempersoalkan kebijakan
Pemerintah Hindia Belanda yang timpang antara orang Eropa/Belanda dengan
penduduk pribumi. Kwa Tjoan Soei membandingkan pengeluaran per siswa bagi
penduduk pribumi f19 sedangkan warga Eropa/Belanda sebesar f32. Ini sangat
kontras dengan jumlah warga negara Eropa/Belanda yang hanya 100.000 orang dan
40 Juta orang pribumi. Kwa Tjoean Sioe berharap agar Gubernur Jenderal untuk
memberikan peradaban dan pendidikan kepada seluruh penduduk Hindia. Bagaiman
bisa Kwa Tjoan Sioe berbicara atas nama dirinya dalam membela pendidikan bagi
pribumi sementara teman-temannya sesama golongan Cina di Chung Hwa Hui sangat
jarang menyuarakan kepentingan pihak lain kecuali kepentingan sendiri. Apakah
Kwa Tjoan Soei sebagai pembela penduduk pribumi? Lalu apakah Kwa Tjoan sudah
selesai studi kedokterannya di Amsterdam.
Nieuwsblad van het Zuiden, 14-02-1920
memberitakan kongres rahasia, suatu konferensi komunisme internasional ketiga diadakan
di Amsterdam. Insinyur SJ Rutgers di Amersfoort, yang
bekerja selama beberapa waktu sebagai pejabat pemerintah Soviet di Rusia ikut
hadir dalam kongres. Perwakilan komunis dari berbagai negara juga hadir. Konferensi
dibuka di rumah Profesor Mannoury di Koninginneweg di Amsterdam pada hari
Selasa, 3 Februari. Adapun perwakilan negara Belanda ikut serta dalam
konferensi tersebut antara lain : Ibu Heinr. Roland Holst, Dr. Gorter, Prof,
Mannoury, Dr. A. Pannetkoek, de Hoei dan Ny. Rutgers, Tjoan Sioe Kwa dan Augusta de Wit. Bapak Wijnkoop bertindak
sebagai ketua, dalam satu sesi atau lebih hadir sebagai tamu L de Visser, H
Sneevliet, E Bouwman, ketua Federasi Buruh Transportasi Belanda (sindikalis),
ds. De Ligt, ds, Kruijt, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Helen Ankersmit.
Tidak
terinformasikan kapan Kwa Tjoan Soei lulus ujian akhir dan mendapat gelar
dokter di Amsterdam. Yang jelas pada akhir tahun 1920 diketahui Kwa Tjoan Soei
sudah menjadi dokter danh akan ditempatkan di Hindia (lihat Nederlandsche
staatscourant, 22-12-1920). Disebutkan dengan resolusi Menteri Koloni tanggal
18 Desember 1920, Bagian 9, No 87, Kwa Tjoan Sioe di Amsterdam, telah
ditempatkan di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk
diangkat sebagai dokter pemerintah dalam pelayanan medis sipil di Hindia. Zutphensche
courant 23-12-1920 menyebutkan
Kwa Tjoan Soei sebagai dokter pemerintah akan ditempat di Burgelijken
Geneeskundigen Dienst (BGD).
Seorang pembaca menulis yang dimuat surat
kabar Deli courant, 05-03-1921 mempertanyakan kehadiran Dr Kwa Tjoan Soei di
Hindia sebagai orang yang ikut dalam konferensi komunis di Amsterdam. Penulis
juga mempertanyakan mengapa pemertintah tidak menghalangi yang kemungkinan Dr
Kwan Tjoan Soei akan meracuni penduduk pribumi yang akan menjadi gangguan bagi
pemerintah.Penulis juga menginformasikan bahwa studi Kwa Tjoan Soei dibiayai dari
anggaran pemerintah (semacam beasiswa). Lalu apakah Dr Kwa Tjoan Soei dihambat
pemerintah?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dr Kwa Tjoan Sioe di Batavia:
Cikal Bakal RS Husada Jakarta Utara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



