*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Asal
usul orang (bangsa) atau etnik Moro di Filipina khususnya di pulau Mindanao dan
pulau-pulau di sekitar, sama dengan proses asal-usul etnik Melayu di
Semenanjung dan di Borneo utara, etnik Banjar di Kalimantan selatan dan etnik
Kutai di Kalimantan Timur serta etnik Manado di Sulawesi Utara. Etnik-etnik
tersebut terbentuk karena kehadiran orang asing (mix population). Namun sedikit
berbeda dengan etnik yang sudah terbentuk lebih awal di zaman kuno di pedalaman
seperti etnik Minahasa di Sulawesi Utara, berbagai golongan etnik Dayak di
Kalimantan dan etnik Batak di bagian utara pulau Sumatra.

Moro atau etnik Moro. Bangsa Moro yang dimaksud biasanya merujuk pada bangsa
Moro, penduduk yang mendiami wilayah bagian selatan Filipina, utamanya di pulau
Mindanao, pulau Palawan, kepulauan Sulu, dan pulau Basilan. Sebelum pengaruh
Spanyol muncul di Filipina yang juga menjadi sebab munculnya Katolik, penduduk
Filipina sudah banyak yang beragama Islam di berbagai pulau terutama di tiga
pulau besar yang subur di Mindanao, Panay dan Luzon. Misionaris Spanyol yang
bermula di Zebu dan kemudian ke Panay dan akhirnya Manila menjadi sebab
penduduk yang pagan beragama Katolik dan juga penduduk yang sudah beragama
Islam menjadi Katolik, Dalam perkembangannya penduduk Filipina yang beragama
Islam memusat di Mindanao dan pulau-pulau di selatannya ke arah Borneo. Penduduk
beragama Islam inilah yang diidentifikasi atau mengidentifikasi diri sebagai
bangsa (etnik) Moro.
Lantas
bagaimana sejarah asal usul bangsa (etnik) Moro di pulau Mangindanao? Seperti disebut di atas etnik Moro termasuk etnik
yang terbentuk belakangan, seperti halnya etnik Banten, etnik Betawi dan etnik
Cirebon di pantai utara Jawa. Lalu apa keutamaan etnik Moro dalam sejarah Asia
Tenggara, khususnya di Filipina? Satu yang jelas, etnik ini sudah beragama Isla jauh
sebelum kehadiran bangsa Spanyol memperkenalkan Katolik. Orang-orang Moor
tersebar dari Muar di Semenanjung hingga Morotai di Maluku. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Moro: Pelaut-Palaut
Tangguh Orang Moor dari Afrika Utara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Etnik Moro di Filipina: Islam
vs Katolik
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




