*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Apa
keutamaan pulau Palawan di Filipina dengan Indonesia? Yang jelas pulau Palawan
seakan ‘jembatan’ antara pulau Kalimantan (Indonesia) dengan pulau Panay dan
pulau Luzon di Filipina. Jaraknya pulau Palawan yang juga begitu dekat dengan
Sumatra menyebabkan terhubung antara Sumatra dan Kalimantan dengan pulau-pulau
di Filipina. Satu yang unik antara pulau Sumatra dan pulau Palawan sama-sama
memiliki etnik (suku) Batak. Tidak hanya itu, nama Palawan mirip dengan nama
wilayah di provinsi Riau yakni (kabupaten) Pelalawan. Tempo doeloe, nama pulau
Palawan adalah pulau Paragoa.

provinsi di region Mimaropa bagian tengah Filipina. Ibu kota berada di Puerto
Princesa (kota yang didirikan tahun 1818 yang berada di suatu teluk menghadap
timur di bagian tengah pulau). Tidak jauh dari ibu kota ini (70 Km ke arah
timur laut) terdapat perkampongan Batak di Kalakuasan (salah satu dari enam
perkampongan besar Batak di Palawan). Etnik Batak yanga berada di bagian timur
laut Palawan menjadi salah satu dari beberapa etnik di pulau Palawan dan salah
satu 70 etnik di Filipina. Etnik Batak ini berbahasa Batak. Disebutkan kini
etnik Batak ini hanya sekitar 500 jiwa dan
oleh para antropolog disebutkan memiliki hubungan yang dekat dengan etnik Ayta
[Aeta atau Agta] di bagian tengah pulau Luzon, Sementara itu di
Sumatra terdapat nama yang mirip yakni (kabupaten) Pelalawan di provinsi
Riau dengan ibu kota Pangkalan Kerinci (kabupatenpemekaran dari kabupaten
Kampar). Di sebelah utara Riau terdapat etnik Batak yang mendiami lebih dari
separuh wilayah provinsi Sumatra Utara.
Lantas
bagaimana sejarah pulau Palawan di Filipina? Tentu saja sudah ada
yang menulis. Namu sejauh data baru ditemukan narasi sejarah pulau Palawan
terus di perkaya. Seperti disebut di atas salah satu keutamaan pulau Palawan
adalah terdapat etnik Batak, etnik yang kurang lebih sama dengan etnik Batak di
pulau Sumatra. Bagaimana bisa? Yang jelas di masa lampau di wilayah daerah aliran
sungai Barumun (Tapanuli) terdapat kerajaan besar, Kerajaan Aru. Kerajaan ini
menurut Mendes Pinti (1537) memiliki tentara yang juga didatangkan dari
Indaragiri, Borneo dan Luzon. Ups! Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Pulau Paragoa Menjadi
Palawan; Batak Kingdom Kerajaan Aru
Nama
Goa di India bagian barat bukan nama India maupun nama Portugis. Nama Goa
adalah pemukim orang-orang Moor beragama Islam dari Afrika Utara (pasca Perang
Salib di Eropa). Dari kota pelabuhan inilah pedagang-pedagang Moor
menghubungkan mata dagangan kuno seperti emas, gading, kemenyan dan kamper serta
rempah-rempah dari Hindia Timir ke Eropa. Lalu kemudian pelaut-pelaut Portugis
mengikuti rute navigasi pelayaran orang Moor hingga pada akhirnya menaklukkan
dan menduduki kota Goa. Dari Goa pelaut-pelaut Portugis memperluas koloni
dengan menaklukkan kota Malaka tahun 1511.
Ini adalah kehadiran Eropa kedua di Hindia
Timur setelah perjalanan Marco Polo pada tahun 1292 [pada saat ini di Sumatra
terdapat sejumlah kerajaan yakni Ferlec (Perlak), Fansur (Barus), Basman (Bireuen),
Samudra (Pasai) dan Dagroian (Pidie) serta Lambri (Lamuri) dan Battas (Batak)].
Kerajaan Batak ini dikenal sebagai Kerajaan Aru. Keberadaan Kerajaan Aru (Daroe
atau Aroe) telah disebut dalam Pararaton (1336).
Orang-orang
Moor dari Goa sudah sejak lama terhubung dengan kota-kota pelabuhan di Hindia
Timur seperti di Sumatra, Semenanjung, Borneo, Filipina, Tiongkok, Celebes dan
Maluku. Seorang ilmuwan Moor (Tunisia) Ibnu Batutah pada tahun 1345 mengunjungi
Hindia Timur di pantai timur Sumatra (Pasay), Malaka hingga Tiongkok. Koloni
orang Moor di Semenanjung adalah Muar (di sebelah tenggara Malaka).
Sejak melemahnya Majapahit (terkait dengan
wafatnya Radja Hayam Wuruk 1385) terjadi ekspedisi Cheng Ho dari Tiongkok ke
Hindia Timur (1405 hingga 1433). Laporan Tiongkok di era Cheng Ho (1411-1431)
disebutkan terdapat hubungan timbal balik antara Tiongkok dan Kerajaan Aroe.
Pada
saat Mendes Pinto (dari Malaka) mengunjungi Kerajaan Aroe Battak Kingdom tahun
1537 mencatat bahwa tentara Kerajaan Aru juga diperkuat dari Indragiri, Jambi,
Borneo dan Luzon. Mendes Pinto juga mencatat bahwa pasukan (militer) Kerajaan
Aru diperkaya dan dipimpin oleh orang Moor. Mendes Pinto juga mencatat Kerajaan
Aru sedang berselisih dengan Kerajaan Atjeh yang dibantu tentara Turki. Awal
perselisihan disebut Mendes Pinto karena kerajaan Atjeh merebut wilayah
kerajaan Aru dan dua anaknya tewas di Nagur dan Lingau. Kerajaan Aru melalui
pedagang-pedagang orang Moor diduga kuat menjadi asal mula nama pulau di timur
laut Borneo disebut pulau Goa. Pelaut-pelaut Portugis yang berbasis di Malaka
saat mngunjungi Borneo dan Manila pada tahun 1521 diduga nama pulau Goa dicatat
Portugis sebagai pulau Paragoa. Nama Paragoa berganti nama pada era VOC
(Belanda) menjadi Pulau Palawan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Etnik Batak di Pulau Palawan
Filipina
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




