*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
moda transportasi bermula pada moda (navigasi) pelayaran dan lalu berkembang moda
transportasi kereta api masa kini dan moda transportasi udara menjadi moda masa
depan. Namun interseksi untuk kebutuhan angkutan massal moda transportasi laut
dan kereta api bersifat komplemen (saling memperkuat). Moda transportasi udara
pada awalnya lebih bersifat khusus (militer dan kebutuhan pejabat dan orang
kaya). Moda transportasi udara ini cepat berkembang di Australia, bahkan jauh
sebelum moda transportasi kereta api terhubung secara keseluruhan antar negara
bagian (trans Australia).

terbang (bandar udara atau bandara) ibarat pelabuhan dalam sejarah navigasi
pelayaran; pesawat terbang ‘si burung besi’ ibarat kapal laut yang mengarungi
lautan (kapal layar hingga kapal uap) yang terbang di udara di atas kapal-kapal
di atas permukaan laut. Moda transportasi ini berawal dan berkembang di Eropa
termasuk di Inggris, Belanda dan Portugal. Oleh karena munculnya kebutuhan
kapal terbang (awalmya terbatas di militer lalu sipil-komersial) di Hindia
Belanda dan Australia, maka sejarah penerbangan yang ada terkait dengan titik
awal di Eropa. Dalam hal ini posisi strategis (geografis) Hindia Belanda
menjadi penting bagi Australia. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh
Belanda (1949) pejabat-pejabat penerbangan Indonesia belajar dari sistem aviasi
Australia dan Prancis.
Lantas
bagaimana sejarah kebandaraan dan aviasi, penerbangan di Australia? Tentu saja sudah ada yang menulis, namun sejauh
ditemukan data baru narasi sejarahnya terus ditulis. Namun yang jelas sejarah
kebandaraan dan aviasi di Australia tumbuh berkembang bersamaan dengan di
Indonesia (baca: Hindia Belanda). Lalu apakah ada relasi sejarahnya antara Indonesia
dengan Australia? Tentu saja ada. Pada masa ini dari London (Inggris)
hingga Sydney (Australia) dapat ditempuh langsung sekali terbang, tetapi tempo
doeloe harus singgah banyak di berbagai bandara, termasuk penerbangan dari
Singapoera ke Sydney harus singgah di Indonesia (Bangka, Batavia dan
Soerabaja, Koeta). Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bandara di Australia: Militer
hingga Sipil di Hindia Belanda
Penemuan
kapal terbang (setelah penemuan kapal laut dan kereta api bermesin uap) di
Eropa dan setelah berkembanggnya penggunaan pesawat di Eropa, akhirnya
kapal-kapal terbang itu dibeli oleh pemerintah koloni-koloni seperti di Hindia
Belanda untuk kebutuhan militer (untuk memperpendek waktu jarak tempuh dari
satu tempat ke tempat lain mengingat luasnya wilayah Indonesia). Namun itu
hanya terbatas pada kota-kota atau tempat yang telah dibangun landasan untuk
terbang dan mendarat (lapangan terbang). Kapal-kapal itu selain digunankan
untuk untuk eksplorasi wilayah oleh militer juga dapat digunakan pejabat
tinggi.
Untuk kota-kota kecil, kapal-kapal terbang ini
disertakan dalam navigasi pelayaran. Kapal terbang untuk terbang harus lebih
dahulu diturunkan ke laut dan demikian ketika habis mendarat di laut lalu
ditarik dan diderek ke atas kapal. Setiap skuadro angkatan laut Hindia Belanda
memiliki beberapa pesawat di antara beberapa kapal perang. Untuk pendaratan di
pedalaman dapat dipilih dan ditentukan oleh pejabat setempat di danau atau
sungai-sungai yang lebar dan arusnya tidak terlalu deras. Hal serupa inilah
yang terjadi dan dilakukan oleh militer (Inggris) Australia di beberapa wilayah
(negara bagian) Asutralia dan di kawasan Strait Settlements (Penang, Malaka dan
Singapoera).
Dalam
perkembangannya, baik pesawat milik pribadi (perusahaan) maupun militer
Australia mulai mengeksplorasi hubungan (jalur aviasi) antara Singapoera dan
Sydney (Australia). Tentu saja pesawat-pesawat kala itu belum ada teknologinya
mampu terbang langsung dari Singapoera ke Sydney. Oleh karena itu
pesawat-pesawat Inggris dan atau Inggris itu yang harus melintasi udara wilayah
Indonesia (Hindia Belanda) mau tak mau harus mengandalkan lapangan-lapangan
terbang yang ada di Indonesia. Memang pesawat dari Singapoera atau dari Sydney
dapat mendarat di laut tetapi keperluan mendarat di lapangan terbang di
Indonesia karena faktor kebutuhan bahan bakar yang dapat dibeli di lapangan
terbang yang ada.
Jalur penerbangan antara Singapoera dan Sydney
dilakukan melalu lapangan terbang militer Hindia Belanda yang terdapat di
Muntok (Bangka), lapangan terbang di Batavia (Tjililitan), Kalidjati (Soebang),
Semarang, Soerabaja dan Singaradja (Bali). Lalu peswat-pesawat antara
Singapoera dan Inggris, dari Singaradja menuju Australia di Darwin hingga ke
Sydney. Jauh dan melelahkan memang. Namun jalur aviasi antara Singapoera dan
Australia (Sydney) ini dapat dikatakan jalur penerbangan Inggris terjauh di
kawasan pulaua-pulau antara benua Asia dan Australia ini. Ini berarti sistem
kebandaraan dan aviasi Asutralia sudah sedikit meningkat jika dibandingkan
dengan pesawat-pesawat militer di Australia yang antar kota dan pesawat yang disertakan
dalam skudaron militer Inggris.
Pada
tahun 1924 Pemerintah Kerajaan Belanda mensponsori penerbangan gila yang
terbilang sangat tidak mungkin karena begitu jauh. Rencana rutenya dari
Amsterdam ke Batavia (di Hindia Belanda). Ini dapat dikatakan jalur aviasi
terjauh saat itu sebagai penerbangan jarak jauh (long distance). Berita itu
cepat menyebar di surat kabar, tidak hanya di Eropa tetapi juga di Hindia
Belanda dan di Strait Settlements. Para pilot Inggris di Singapoera tidak
percaya berita dan rencana itu. Akhirnya rencana itu terealisasi dan sukses.
Para pilot di Singapoera melongo (rekod jarak aviasi Singapoera-Sydney
terlampaui).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Aviasi di Australia: Indonesia
Belajar dari Australia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




