*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Presiden
(RIS) Ir Soekarno dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia Timur
(Oost-Indonesie) pada tanggal 17 April 1950 selama dua minggu (lihat De vrije
pers : ochtendbulletin, 01-04-1950). Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain:
Makasser, Gorontalo, Menado, Ternate, Ambon, Koepang dan Ende yang selanjutnya ke
pulau Sumbawa, Lombok dan Bali. Dalam kunjungan kenegaraan ini Presiden
Soekarno akan didampingi oleh President van de Negara Indonesla Timu (NIT).
Namun rencana ini tidak terlaksana, Mengapa? Yang jelas tidak ada peberitahuan.

Boendar (KMB) di Belanda. Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Itu
ada di dalam piagam KMB yang akan berlaku pada tanggal 27 Desember 1949. Namun
pengakuan kedaulatan Indonesia itu hanya dinyatakan dalam bentuk Republik
Indonesia Serikat (RI)S, bukan (NK)RI. Akan tetapi tidak semua rakyat Indonesia
sepakat dengan bentuk RIS. Lalu terjadilah konekasi RI di Djogjakarta dan RIS
di Sumatra Timur. Lalu muncul referendum di Sumatra Timur apakah RI atau RIS.
Yang menang adalah (NK)RI. Sejak itulah bergulir semangat bersatu rakyat
Indonesia dalam wujud NKRI. Negara Pasoendan membubarkan diri kemudian
disususul Sumatera Selatan dan Jawa Timur. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus
1950 RIS dibubarkan dan pada tanggal 18 Agustus 1950 diproklaasikan NKRI.
Lantas
kapan Presiden Soekarno berkunjung ke Kupang? Itu baru terwujud setelah Republik Indonesia
Serikat (RIS) dibubarkan dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Dalam kunjungan kenegaraan ke Kepulauan Sunda Ketjil ini yang
dijadwalkan pada tanggal 30 November 1950 tempat yang dikunjungi tidak hanya
Kupang, juga Sumba, Waingapu dan Flores (Ende). Bagaimana rencana yang pertama
gagal dan rencana yang kedua terwujud? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Rencana Kunjungan Pertama: 17
April 1950
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Rencana Kunjungan Kedua: 30
November 1950
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




