*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Tempo
doeloe, Pulau Sumba disebut Pulau Sandelbosch (Pulau Tjindana). Sebelumnya
sudah dikenal nama pulau Sumbawa di barat (masuk wilayah provinsi Nusa Tenggara
Barat) dan pulau Flores di utara. Lantas sejak kapan nama tentang Pulau Sumbawa
disebut Pulau Sumba (menggantikan nama lama Pulau Tjindana)? Lantas apakah itu begitu penting? Tentu saja karena perubahan nama itu bagian dari
sejarah Pulau Sumbawa.

Nusa Tenggara Timur. Pulau ini awalnya dijadikan sebagai satu kabupaten dengan
ibu kota di Waingapu. Pada tahun 1956 kabupaten ini dilikuidasi dan kemudian
Pulau Sumba dibagi menjadi dua kabupaten dengan nama kabupaten Sumba Timur ibu
kota di Wai-ngapu dan kabupaten Sumba Barat dengan ibu kota di Wai-kabubabak.
Pada tahun 2007 kabupaten Sumba Barat dimekarkan dengan membentuk dua
kabupaten: kabupaten Sumba Tengah dengan ibu kota di Wai-bakul dan kabupaten
Sumba Barat Daya dengan ibu kota di Tambolaka.
Bagaimana
sejarah Pulau Sumba? Namanya mirip pulau
Sumbawa. Lantas mengapa nama pulau (nusa) Sumba tempo doeloe disebut pulau
Cendana? Lalu mengapa PTN di provinsi Nusa Tenggara Timur
diberinama Universitas Nusa Cendana? Apakah kayu cendana hanya ada di Pulau Sumba? Tentu saja tidak, kayu cendana bahkan awalnya
diproduksi hanya di Pulau Solor dan Pulau Timor. Okelah kalau begitu. Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Pulau Sumba Pulau
Tjendana, Nama Pulau Flores Pulau Manggarai
Satu
peta tertua nusantara adalah peta yang dibuat Antonio Reinel pada tahun
1517. Pada peta no 21 diidentifikasi
nama Ilha (pulau) Jaoa, ilha de Madura, Ssurubaia (Surabaya), Bllaram (Bali),
Lamboquo (Lombok), Ssimbaua (Sumbawa) dan Aramaram. Pada peta no 20
diidentifikasi nama-nama Ilha de Sollor (Pulau Solor), cabo das Frolles
(Flores), Batoetara (P Komba) dan Ilha de Timor (pulau Timor).
Dalam peta tertua di era Portugis ini nama
pulau Sumbawa sudah diidentifikasi. Namun yang menjadi pertanyaan, penulis-penuli
Belanda tidak menjelaskan nama pulau Aramaram. Jika peta ini dalam garis lurus
(navigasi sebelah utara pulau-pulau), mengidentifikasi nama pulau Solor dan
suatu tanjung di pulau Flores dengan nama Cabo das Frolles. Penulis-penulis
Belanda yang merujuk pada penulis-penulis Portugis Frolles dalam hal ini adalah
Flores (bunga). Namun yang menjadi pertanyaan cabo d Frolles tentulah
didentifikasi tanjung, pintu masuk ke pulau Solor dan pulau Timor. Namun saya
berkesimpulan bahwa Frolles adalah adalah nama orang (namun bergeser menjadi
Flores=bunga). Nama Cabo das Flores muncul kemudian ditemukan pada peta SM
Cabot (1544). Oleh karena pulau Aramaram berada diantara pulau Sumbawa dan
pulau Solor, lalu apakah Aramaram adalah nama lama pulau Flores. Nama yang
mirip secara lingusitik Aramaram adalah pulau Mangarai. Pada peta era VOC pulau
Mangarai kemudian juga diidentifikasi dengan nama pulau Komodo. Oleh karena
pada masa ini, penduduk di bagian barat pulau Flores adalah orang (etnik)
Manggarai, maka pulau Aramaram adalah pulau Manggarai (yang berganti nama
menjadi pulau Komodo). Antara pulau Aramaram dan pulau Solor dimana
diidentifikasi cabo das Frolles (Flores), tentu saja nama tanjung diperkenalkan
oleh orang Portugis. Yang tetap menjadi pertanyaan adalah apa nama lama pulau
Flores. Saya berkesimpulan bahwa nama yang diidentifikasi pada peta Reinel
(1517) dengan nama Aramaram adalah pulau Manggarai, nama lama dari pulau
Flores.
Lalu
kapan nama pulau Sumba diidentifikasi kali pertama? Yang jelas nama pulau Sumbawa sudah ada sejak era Portugis. Sementara itu
nama pulau Flores telah beberapa kali dipertukarkan seperti pulau Larantoeka
dan pulau Ende. Dari banyak nama pulau ini, pada tahun 1636 Gubernur Jenderal
VOC Hendrik Brouwer meresmikan nama pulau menjadi nama Flores. Sejak itu nama
Flores digunakan hingga selanjutnya. Sedangkan nama pulau Sumba tetap disebut
nama pulau Sandelbosch. Akan tetapi pada Peta 1724 (era VOC), nama pulau Sumba
tetap diidentifikasi sebagai Sandelbosch tetapi ditambahkan juga dengan nama
Pulau Tjindana.
Nama Sandelbosch sama
dengan nama Tjindana, tetapi dalam perkembangannya nama Sandelbosch mulai
ditinggalkan dan nama Tjindana semakin mengemuka. Yang sudah paten namanya
sejak lama adalah pulau Sumbawa, pulau Solor dan pulau Timor. Nama-nama pulau
yang lebih kecil sudah banyak yang eksis seperti pulau Rote dan pulau Sawu.
Kapan
nama pulau Sumba diidentifikasi untuk menggantikan nama Sandelbosh (Sandelhoud)
dan Tjindana tidak diketahui secara pasti. Pada tahun 1819 disebut nama selat
Soemba (lihat ‘s Gravenhaagsche courant, 15-09-1819). Dalam literatur Prancis
nama Sumba sudah diidentifikasi pada era Pemerintah Hindia Belanda (lihat Nouvelle
géographie, d’après les meilleurs géographes et les voyageurs les plus récents,
1824).
Pada Peta 1835 nama Sumba sudah diidentifikasi
dengan nama Tanna Sumba atau Tjindana. Pada Peta 1840 nama pulau diidentifikasi
sebagai Pulau Sumba atau pulau Sandelhoud. Seperti halnya nama Pulau Flores, nama
pulau Sumba juga banyak seperti Tjendána, Sandelhout, Sandelwood dan tentu saja
Sandelbosch.
Lantas
mengapa nama pulau Sumba muncul?
Nama Sumba seakan kependekatan dari nama pulau Sumbawa. Apakah kedua pulau ini
memiliki keterkaitan tentang nama atau hal lainnya yang dihubungkan dengan
kedua nama pulau tersebut.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sejarah Kota Waingapu di Pulau
Sumbaa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



