*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
gunung Leuser di kabupaten Gayo Lues, sudah barang tentu jarang ditulis. Hal
itulah mengapa artikel ini ditulis. Gunung Leuser adalah gunung tertinggi di
provinsi Aceh. Dalam navigasi pelayaran kuno, gunung yang kemudian disebut
Leuser ini menjadi salah satu penanda navigasi yang penting. Oleh karena gunung
ini jauh di pedalaman, kebradaan penduduk yang berada di lereng gunung (dataran
tinggi) tidak terinformasikan. Warga penduduk dan pedagang di kota-kota pantai
hanya mengetahui ada aliran perdagangan. Barang industri ke pedalaman dan
barang alamiah ke kota-kota pelabuhan seperti hasil hutan, hasil tambang dan gading
serta produk hewan lainnya seperti kulit.

adalah dua nama yang menyatu ibarat koin dengan dua sisi. Wilayah Gayo Lues
yang berada di daratan tinggi bagian utara pedalaman Sumatra (Atjeh) pada masa
kini dijuluki sebagai Negeri Di Atas Awan. Dari wilayah inilah berhulu
sungai-sungai besar di Aceh seperti sungai Alas (Simpang Kiri) melalui Koeta Tjane dan sungai
Tamiang (Simpang Kanan). Salah satu vegetasi yang unik dari wilayah Gayo
adalah pinus. Sebagaimana diketahui pohon pinus pertama kali ditemukan Jung
Huhn di Sumatra berada di Sipirok (Tapanoeli) pada tahun 1842. Oleh karena itu
pinus Sipirok dinamai secara botani dengan nama Pinus Merkusi (sesuai nama
Gubernur Jenderal yang menugaskan Jung Huhn ekspedisi ke Tapanoeli). Uniknya
ternyata pinus hanya ditemukan di tiga tempat: Sipirok, Kerintji (Djambi) dan
Gayo (Atjeh). Beda pinus Sipirok dengan dua habitat yang lain, di Sipirok
batang pinus bertajuk lurus (seperti cemara) sedangkan di Kerintji dan Gayo
tidak lurus. Apakah tiga wilayah ini telah terhubung sejak zaman kuno, pinus
Sipirok menyebar ke selatan hingga Kerintji dan ke utara hingga Gayo?
Lantas
bagaimana sejarah gunung Leuser? Yang jelas gunung Ophir di Pasaman diukur
ketinggiannya oleh seorang pendaki Jerman pada tahun 1839. Gunung Ophir adalah
gunung pertama di Sumatra yang didaki. Namun gunung Leuser tidak hanya soal
ketinggian tetapi banyak aspek lain yang menjadi terkait seperti penduduk asli
Gayo Lues yang memiliki keterkaitan dengan penduduk asli Batak dan penduduk
asli Kerintji. Tiga wilayah penduduk asli ini uniknya sama-sama memiliki aksara
yang mirip satu sama lain. Bagaimana gunung Leuser dan Gayo (Lues) terhubung
dengan Batak dan Kerintji? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Gunung Leuser: Pinus dan
Orang Oetan
Gunung
Leuser, dilihat pada peta satelit, terdapat wujud kawah-kawah. Ini menandakan
gunung Leuser di masa lampau pernah aktif. Dampak letusan gunung Leuser inilah
yang menyebabkan kawasan Gayo Lues menjadi subur. Tentu saja bahan-bahan
vulkanik tidak hanya memberikan humus yang tinggi pada tanah tetapi juga di
kawasan yang lebih jauh tersimpan di lapisan tanah kandungan mineral nilai
tinggi seperti emas. Itulah sepintas tentang riwayat gunung Leuser. Saudara dekat
gunung Leuser yang kini masik aktif adalah gunung Sinabung (di Tanah Karo).
Menurut hasil pengukuran ketinggian gunung
Leuser pada masa kini adalah 3.466 meter dari permukaan laut. Jaraknya ke lau
di pantai barat Sumatra tidak terlalu jauh. Nama Leuser mungkin bukan nama
Jerman (Leijser atau Leuser) tetapi mungkin nama tempatan. Pada Peta 1883, nama
gunung Leuser ini diidentifikasi dengan nama gunung Sinobong di Gajoelanden yang
tidak jauh dengan nama tempat Laboehan Hadji di pantai. Nama Sinobong tampaknya
tidak unik, karena di Bataklanden juga ada nama gunung Sinaboeng (tetangga
gunung Sibajak) dan nama tempat di pulau Simeulue, Sinabang. Si-Nobong, Si
Naboeng, Si-Nabang dan Si-Bajak sama-sama menggunakan awalan Si. Bagaimana nama
gunung Sinobong menjadi gunung Leuser kita lihat nanti.
Gunung
Leuser sesunguhnya bukanlah gunung yang sulit didaki. Gunung-gunung yang sulit
didaki antara lain gunung Ophir, gunung Salak dan gunung Gede. Gunung Leuser
dalam Perang Atjeh (1879-1904) sudah beberapa kali dikunjungi oleh patroli
militer dari pantai selatan di Meulaboh. Namun pengukuran geografi gunung
Leuser baru dimulai pada tahun 1936 (lihat De locomotief, 23-06-1936).
Disebutkan pekerjaan triangulasi akan dilakukan di bawah arahan Clements,
seorang topografer Hindia Belanda yang terkenal. Untuk semua pekerjaan
pengintaian yang berat.
AO Clements
sebelumnya sudah menjelajahi seluruh pengunungan timur Atjeh. Dalam ekspedisi
Clements ini rute yang diambil untuk mencapai puncak gunung Leuser dari arah utara
dan tidak membutuhkan perlindungan militer. Salah satu misi Clements seperti yang
telah dinyatakan, seorang ahli botani Dr van Steenis, akan mencari jejak-jejak
tumbuhan Alpen di gunung itu sebagaimana telah ditemukan di India. Hasil
ekspedisi gunung Leuser ini dipublikasikan pada tahun 1937 (lihat Tijdschrift
van het Aardrijkskundig Genootschap, 1937). Dari laporan ini diketahui bahwa pemimpin
ekspedisi ini adalah Dr. CGGJ van Steenis, ahli botani di herbarium dan museum
untuk botani di Buitenzorg. Dalam ekspedisi ini juga turut dari badan topografi
Luitenant Cox dan Luitenant Scheepens. Ekspedisi dari Meulaboh hingga mencapai
puncak selama enam hari.
Setelah
ekspedisi Clement ini, kawasan gunung Leuser kemudian ditetapkan sebagai cagar
alam tahun 1937 dengan luasan 4.365 Km2. Disebutkan vegetasi di kawasan gunung
Leuser ini mirip dengan kawasan pegunungan Himalaya di India. Para anggota
ekspedisi terutama Dr. CGGJ van Steenis bertanya-tanya mengapa bisa, sebab
jarak yang jauh yang tidak mungkin terbawa oleh angin dan burung atau hewan
lain.
Pertanyaan Dr. CGGJ van Steenis juga menjadi
pertanyaan baru dalam artikel ini. Okelah, mari kita bantu van Steenis dengan
mengajukan pertanyaan dan hipotesis sebagai berikut: Dalam laporan tersebut di
kawasan tersebut ditemukan hubungan antara beberapa spesies tanaman yang mirip
di Himalaya. Di Hindia Belanda hanya ada dua nama geografi menggunakan nama
Himalaya yakni di Semenanjung Malaya (yang merujuk pada nama gunung Malaya
dekat kota Malaka, sedangkan yang satu lagi berada di Mandailing Angkola
(Tapanuli) nama suatu gunung Malea (baca: Malaya). Nama Malea ini diduga lebih
awal dari Malaya di Semenanjung. Sebab di dekat gunung Malea terdapat candi
Simangambat di Siabu yang diduga eksis pada abad ke-8 (seusia Borobudur). Hal
yang penting lainnya di Angkola terdapat orang utan sebagaima ditemukan di kawasan
Leuser dan masih di Angkola juga ditemukan pinus di Sipirok. Sebagaimana
diketahui orang utan hanya ditemukan di Borneo, Angkola dan Gayo, sedangkan
pinus saat itu hanya ditemukan di Kerinci, Angkola Sipirok dan Gayo yang mana
penduduk di tiga wilayah ini sejak lampau memiliki aksara yang mirip satu sama
lain. Nah, hipotesisnya adalah India terhubung dengan Angkola dan Angkola
terhubung hingga Kerinci dan hingga Gayo di masa lampau zaman kuno melalui
darat. Demikian, selamat belajar sejarah kuno. Sebagaimana situs candi
Simangambat dan situs percandian di Padang Lawas (Angkola Padang Lawas) yang
dibangun abad ke-11 masih eksis hingga ini hari. Hipoetsis tambahan adalah ada
hubungan antara candi Muara Takus (kini, Riau) dengan orang Kerintji. Hipotesis
lainnya orang utan Sumatra dibawa ke Borneo pada era Kerajaan Angkola atau pada
era Kerajaan Aroe..
Lantas
bagaimana dengan nama gunung Leuser?
Seperti disebut di atas pada peta-peta awal diidentifikasi nama gunung
Sinobong. Identifikasi itu sebenarnya tidak salah, dalam laporan ekspedisi,
ternyata ada puncak lain dari kawasan Leuser yang disebut gunung Sinobong
dengan ketiggian 2.500 M. Sedangkan puncak gunung Leuser dalam ekspedisi ini
dicatat setinggi 3.314 M. Puncak gunung lainnya adalah Goh Lemboek (3.014 M). Dnau
kawah yang terdapat di ketinggian dikelilingi oleh tebing dengan tiga puncak
(Leuser, Lemboek dan Leuser) yang diberi nama Laut Tiga Sagi.
Siapa diantara anggota
ekspedisi tersebut yang pertama mencapai puncak Leuser. Ada dua tim pendahulu
yang berangkat yang masing-masing dipimpin oleh Luitenant Scheepens dan kepala
pemandu lokal bernama Amang Mina (amang dalam bahasa Batak adalah ayah).
Awalnya Luitenant
Scheepens ngotot dari arah yang berbeda dengan yang dianjurkan oleh Amang Mina.
Lalu mereka bertaruk siapa yang duluan. Hasilnya Amang Mina jauh lebih duluan
tiba dari Luitenant Scheepens. Jadi, yang pertama mencapai puncak Leuser (yang
tertinggi) adalah Amang Mina (bukan orang Eropa).
Dalam
laporan itu juga disebutkan bahwa nama gunung Leuser (orang Gajoe mengejanya
dengan Losir) bukanlah nama Gayo. Pada atlas-atlas dicatat dengan nama Leuser, Loser,
Loesch Loezeh dan Loser. Lalu siapa yang memberi
nama puncak gunung Leuser?
Jika kembali ke hipotesis di atas, nama Leuser tau Losir diduga sudah ada sejak
zaman kuno. Catatan
lain juga mengindikasikan untuk mencapai puncak Leuser harus ke puncak
Sinobong lebih dahulu dan kemudian turun
200 meter sebelum mendaki puncak Leuser.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Gayo Lues Negari Di Atas Awan:
Koeta Tjane dan Taman Nasional
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




