*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Selatan di blog ini Klik Disini
Pada
masa ini, pulau Kalimantan termasuk salah satu pulau di Indonesia yang memiliki
tanah gambut yang luas. Berdasarkan peta-peta gambut pulau Kalimantan, kawasan
gambut ini terdapat di semua provinsi yang berada di kawasan yang bersinggungan
dengan lautan (kaasan pantai). Namun kawasan gambut ini juga terdapat di
pedalaman di daerah aliran sungai Kapuas dan daerah aliran sungai Mahakam.

lumpur dan sampah tumbuhan seperti daun dan batang pohon yang tinggi kandungan
bahan organiknya. Saat kering dapat terbakar, terbakar yang sulit dipadamkan. Tanah
gambut Indonesia terluas kedua di dunia (setelah Brazil) yang diperkirakan
mencapai 22 juta Ha. Hamparan tanah gambut ini di Indonesia yang terluas di Papua
dengan luas 6,3 juta Ha yang kemudian disusul Kalimantan Tengah (2,7 juta Ha),
Riau (2,2 juta Ha), Kalimantan Barat (1,8 juta Ha) dan Sumatera Selatan (1,7
juta Ha). Selain di provinsi Kalimantan Tengah tanah gambut terdapat di
Kalimantan Timur (0,9 juta Ha), Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara
masing-msing sekitar 0,6 juta Ha.
Lantas
bagaimana sejarah gambut pulau Kalimantan? Pertanyaan tentu saja menyebabkan pertanyaan lain
muncul: Bagaimana terbentuknya kawasan gambut sebagai dampak dari proses
sedimentasi jangka panjang akibat faktor banjir dari sungai-sungai besar (seperti
Barito, Kapuas, Mahakam, Kayan). Dalam hal ini proses sedimentasi dan
terbentuknya gambut (turf atau wetland) menjadi bagian sejarah pulau itu
sendiri. Seeperti dikatakan ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Gambut: Awal Sejarah
Kalimantan Terbentuk
Gambut
adalah suatu kata baru yang merujuk pada tanah basah (wetland). Tanah gambut
ditemukan di banyak tempat di Papoea, Borneo dan Sumatra. Di Sumatra Timur ada
area yang disebut tanah gambut, sebagai suatu nama kampong, Tanah Gamboet yang
dijadikan sebagai konsesi lahan perkebunan (lihat Deli courant, 21-07-1928).

pada tahun 1886 sebagai salah satu marga orang Belanda (lihat Algemeen
Handelsblad, 24-05-1886). Nama gambut juga dicatat di wilaya Tegal sebagai nama
sungai, Kali Gamboet (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-12-1900). Nama gambut
juga ditemukan di wilayah Atjeh sebagai nama gunung (lihat Deli courant, 14-03-1904).
Juga ramboetan oetan disebut gambut (lihat De Indische mercuur; orgaan gewijd
aan den uitvoerhandel, 30-04-1907). Sebagai nama bukit juga diteukan di
Bengkoelen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26-08-1931).
Tentu saja nama gambut ditemukan di Bandjarmasin sebagai nama suatu area (lihat
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-03-1937). Nama gambut juga
ditemukan di pantai Afrika Utara (Lybie) sebagai nama kota (lihat De
residentiebode, 25-10-1941).
Gambut
sebagai suatu jenis lahan tampaknya sudah lama dikenal di berbagai tempat. Paling tidak hal ini
ditemukan di Sumatra Timur dan di Tegal yang tampaknya nama gabut merujuk pada
situasi dan kondisi lahan tertentu karena jenis tanahnya berbeda dengan lahan
lain di sekitarnya. Gambut dalam bahasa Belanda disebut turf. Penggunaan nama
turf sudah lama ada dan orang-orang Belanda menyebut turf untuk jenis tanah
yang disebut penduduk sebagai gambut. Dalam pengertian teknis, terminologi
gambut di Indonesia besar dugaan masih baru (era Republik Indonesia). Hal ini
karena tidak pernah ditemukan pada era kolonial.

menjadi penting. Gambut sebagai suatu kawasan berada diantara Banjarmasin dan
Martapoera. Berdasarkan Peta 1953 kawasan Gambut ini sebagian areal persawahan
dan sebagian yang lain masih rawa-rawa.
Nama
gambut sebagai suatu jenis tanah adalah satu hal dan gambut sebagai nama tempat
adalah hal lain lagi. Sebagaimana di Sumatra Timur dan Tegal, di Bandjarmasin gambut
adalah nama tempat yang menunjukkan jenis tanahnya. Tanah gambut di Gambut (Bandjarmasin)
tentu saja belum lama adanya. Tanah gambut yang terbentuk di Gambut, belum
ribuan tahun tetapi baru sekitar ratusan tahun sehubungan dengan proses
sedimentasi di pulau Borneo.
Proses sedimentasi ini diduga terjadi secara
intensif sejak kehadiran orang-orang Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris) yang
menyebabkan karena intensitas perdagangan di hilir dan proses produksi di
wilayah hulu. Pembalakan, pembakaran hutan telah menyebabkan sampah (daun dan
batang pohon) hanyut ke hilir yang diikuti proses erosi yang membawa lumpur. Jika
memperhatikan peta-peta Portugis batas daratan-lautan tidak di posisi GPS yang
sekarang, tetapi di Kotawaringin, Sampit, Kota Palangkaraya yang sekarang,
Muara Pulau, Muarabahan dan Martapoerra.
Adanya
proses sedimentasi jangka panjang dan terbentuknya gambut menyebabkan bentuk pulau
Kalimantan pada masa ini sesungguhnya berbeda dengan pulau Borneo tempo doeloe
(era Portugis dan VOC). Tentu saja pada saat itu daratan dimana kota
Bandjarmasin yang sekarang masih rawa-rawa. Kota-kota kuno (di era Hindoe)
berada di Martapoera, Nagara dan Taniampoera (Tanjungpura). Dengan kata lain
kota Martapura dan Nagara (Marabahan) yang sekarang tempo doeloe berada di
pantai (tepi laut).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Penyelidikan Awal Kawasan Gambut
Borneo: Dr CM Swachner (1841-1853)
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



