*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
Residentie Manado awalnya berpusat di Ternate. Itu bermula ketika Ternate (dan
Tidore) menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang mana Portugis mengusir
Spanyol (tersingkir ke Filipina). Pada tahun 1575 benteng Portugis di Tèrnate dikuasai
Baab dari Kesultanan Ternate (Portugis terusir ke Tidore dan membangun benteng
di Tidore pada tahun 1578). Lalu giliran Belanda pada tahun 1605 mengusir
Portugis dari Amboina. Kerjasama Kesultanan Ternate dan Belanda (VOC)
mengakhiri pengaruh Spanyol di
semenanjung Celebes dan pulau-pulau sekitar (Sangihe dan Talaud). Belanda VOC
yang telah mendirikan cabang pemerintahan di Ternate (ditempatkannya Residen), lalu
sejak 1661 mulai membangun benteng di Manado (benteng Amsterdam).

Kesultanan Ternate menyebabkan Kesultanan Ternate menjadi sangat kuat di
wilayah Gouverrnent Maloekoe yang mana Gubernur berkedudukan di Amboina. Selain
Resident ditempatkan di Ternate, juga Resident ditempatkan di Banda. Ternate
dan Banda adalah pusat perdagangan rempah-rempah yang paling potensial. Memang
Portugis dan Spanyol telah berhasil diusir Belanda-VOC dari Hindia Timur, namun
musuh VOC-Belanda yang selalu menjadi ancaman adalah Inggris dan Prancis. Perseteruan
antara Belanda-VOC dengan Inggris puncaknya pulau Jawa dikuasai Inggris pada
tahuan 1811 (berakhir 1916).
Ada
satu interval masa sejarah Ternate yang membuat bangga VOC-Belanda. Perang itu
terjadi pada tahun 1795. Sejarah ini kurang terinformasikan. Bagaimana itu bisa
terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Hal
itulah yang membuat positioning Ternate begitu kuat. Namun karena perkembangan
yang baru, wilayah Residentie Ternate dimekarkan pada tahun 1823 dengan membentuk
Residentie Manado. Kebanggaan VOC-Belanda yang dulu, namun di era Pemerintah
Hindia Belanda lambat laun terlupakan dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda
seakan membelakangi Ternate karena semakin bersinarnya Manado. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Perang Ternate: Johan Godfried
Budach 1796-1799
Setelah
VOC-Belanda begitu digdaya di Hindia Timur hampir dua abad, mulai mengalami
penuranan dan banyak kelemahan dan permasalahan ketika pesaing semakin kuat dan
terus mengancam. VOC-Belanda dalam bayang-bayang British East India Company
(Inggris) dan Prancis. Satu per satu wilayah VOC jatuh ke tangan Inggris
seperti Ceylon, Malaka, Riouw, Padang, Amboina dan Banda. Boleh jadi di pulau
Jawa masih kuat, tetapi provinsi Ternate (yang meliputi Manado) dalam situasi
terancam. Itulah posisi VOC-Belanda pada tahun 1795.
Pada tahun 1781, satu skuadron Inggris
berangkat dari Madras dialihkan ke pantai barat Sumatra. Langkah Inggris
ternyata membuat Belanda ciut dan mulai meninggalkan Padang dan semua pos
perdagangan lainnya di pantai barat Sumatra jatuh ke tangan Inggris. Dalam
perkembangannya Inggris sudah menyapu habis semua kekuatan Belanda bahkan di
pulau-pulai kecil. Setelah itu Sir Stamford Raffles ditempatkan sebagai
Gubernur di Benkoelen. Inggris menjadi Radja di pantai barat Sumatra. Sementara
itu VOC mulai melemah, perusahaan dagang Inggris di pantai barat Sumatra
semakin menguat. Kekuatan Inggris di pantai barat Sumatra cepat meningkat karena
kedekatan dengan pusat perdagangan utama Inggris di India (Calcutta). Sehubungan
dengan perseteruan antara Inggris dan Belanda (VOC) para pedagang-pedagang
Inggris lebih konsentrasi jalur perdagangan selat Sunda (Sumatra, China dan
Australia). Inggris pada tahun 1795 membuka cabang pemerintah (setingkat
Residen) di Padang.
Pada
tahun 1795 Prancis menduduki kerajaan Belanda di Eropa dan juga menduduki
Batavia (Oost Indie). Pemerintah VOC diambang kebangkrutan. Sumatra telah
diambilalih Inggris, Batavia juga telah diduduki Prancis. Apakah ini
tanda-tanda berakhirnya VOC-Belanda? Inggris yang semakin menguat di Sumatra
dan Prancis yang tidak berpengalaman di Maluku, menjadi kesempatan bagi Inggris
untuk menguasai Ambon (tempat kedudukan Gubernur Maluku) dan Ternate (tempat
kedudukan Gubernur Ternate). Residentie Manado berada di Province Ternate. Saat
inilah kekuatan Ternate dipertaruhkan ketika Inggris sudah berada di Manado.
Perang Ternate siap meletus. Ternate kemudian dalam posisi terkepung.
Inggris mengambilalih Ambon dari Belanda pada
tanggal 16 Februari 1796. Paralel dengan penguasaan Ambon ini, Inggris juga
telah berada di Kema (Residentie Manado) pada tanggal 23 Februari. Inggris
kemudian merangsek ke Banda pada tanggal 7 Maret 1796 dan pada waktu yang sama
Inggris sudah menguasai Manado (ibu kota Residentie Manado). Inggris tidak puas
hanya di Manado, lalu kemudian menguasai Gorontalo (Residentie Manado) pada
tanggal 11 Mei 1797.
Dalam
Daghregister 6 Desember 1797 disebutkan bahwa Residentie Manado diambilalih
oleh orang Ternate dari Inggris. Namun kapan tepatnya pengambilalihan ini tidak
diketahui secara pasti. Namun yang jelas, Residentie Manado adalah wilayah
Provinsi Ternate. Jadi, ini adalah soal kedaulatan dan tanggungjawab pemerintah
VOC di wilayah Ternate.
Hampir semua properti VOC-Belanda jatuh ke
tangan musuh tanpa perlawanan. Memang ketika Inggris tiba di Hindia, di pusat
properti VOC-Belanda umumnya tidak dalam kondisi yang baik. Namun ada beberapa benteng
masih kuat, masih memiliki garnisun, dan dengan demikian mampu mempertahankan
pertempuran panjang, tetapi ada komandan sudah goyah tidak sesuai sumpah dan
kewajiban untuk tetap setia dan tidak menyerahkan kekuatan yang dipercayakan
kepadanya sampai pertentangan lebih lanjut. Itulah mengapa banyak properti
VOC-Belanda telah jatuh dan berpindah tangan (lihat PA Leupe dala Bijdragen tot
de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1864). Tetapi lain
halnya dengan Ternate, tidak menyerah dan bahkan berbalik dapat merebut Manado
kembali yang sempat dikuasai oleh Inggris. Menurut PA Leupe, pembelaan Ternate
oleh Gubernur Budach yang dibantu oleh garnisun kecil tapi berani yang sebagian
besar terdiri dari pribumi dan oleh para pedagang yang baik. Baik serangan
musuh, maupun bahaya kelaparan tidak mampu menggoyahkan keberanian Ternate yang
terkepung. Upaya mempertahankan itu jelas menempati halaman yang terlalu bagus
dalam sejarah kepemilikan Hindia Timur milik VOC-Belanda pada saat begitu
banyak tindakan pengecut dan ketidaksetiaan.
Siapa
yang memiliki keberanian dan kesetiaan itu adalah Gubernur Ternate dan penduduk
(kesultanan) Ternate. Gubernur
Johan Godfried Budach mendapat dukungan penuh dari penduduk Ternate untuk
mempertahankan setiap jengkal tanah dari incaran Inggris yang terus merajalela.
Penduduk dan serdadu Ternate yang dipersenjatai juga di dalamnya terdapat serdadu
yang berasal dari Makassar dan Manado.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Manado Dipisahkan dari Ternate
1823, Gorontalo Dipisahkan dari Manado (Sulawesi Utara) 2000
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



