*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Nama
Kema pada masa ini di (provinsi) Sulawesi Utara hanyalah nama sebuah kecamatan
di kabupaten Minahasa Utara. Oleh karena itu kota kecil eks pelabuhan ini terkesan
menjadi tidak penting. Namun jika memperhatikan sejarahnya, sesungguhnya nama
Kema dan nama Manado sama pentingnya masa lampau. Dua nama ini tempo doeloe telah
menjadi pusat perdagangan (pelabuhan) bahkan sejak era Spanyol dan Portugis.
Nama Kema bahkan sudah dikenal jauh sebelum nama Minahasa menjadi popular.

secara jelas mengapa namanya disebut Kema. Namun jika namanya sudah eksis sejak
era Spanyol dan Portugis maka nama Kema dapat dihubungkan dengan nama-nama
pelabuhan lain pada era Portugis seperti pulau Kei dan teluk Kaimana.
Berdasarkan peta-peta kuno teluk dalam bahasa Portugis disebut Cayo yang diduga
menjadi asal-usul nama pulau Kai atau Kei. Orang-orang Portugis juga sudah mencapai
Papoea untuk berdagang. Seperti halnya nama pulau Kei, lalu apakah nama Kaimana
juga terkait dengan orang-orang Portugis ini? Itu satu hal. Hal lainnya adalah ketika
kehadiran orang-orang Spanyol dan Portugis di kawasan (sebelum kehadiran orang Belanda)
sudah eksis pedagang-pedagang Moor (asal Afrika Utara). Nama Moor diduga yang
menjadi asal usul nama (pulau) Morotai, nama teluk Amoerang dan nama (etnik)
Moro di pulau Mindanao (Filipina).
Lantas
bagaimana sejarah Kema sendiri? Yang jelas pada masa ini nama Kema tenggelam
setelah nama (pelabuhan) Bitung mengapung pada era perseteruan . Pelabuhan Bitung
sendiri adalah suksesi pelabuhan Kema. Lalu apa pentingnya sejarah Kema? Kema memiliki sejarah yang tua dan begitu lama. Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Oleh karena itu, nama
Kema seharusnya masuk dalam narasi sejarah (provinsi) Sulawesi Utara. Dalam
hubungan ini, seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, sejarah adalah narasi fakta dan data. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Kema Sejak Era Spanyol dan
Portugis
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Pelabuhan Kema Eksis Jauh
Sebelum Bitung
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




