*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Pada tahun 1829 diadakan peringatan 250 tahun
berdirinya VOC di Minahasa (lihat De locomotief, 04-01-1932). Ini mengindasikan
Pemerintah VOC melakukan kerjasama (kontrak) dengan pemimpin Minahasa pada
tahun 1679. Penandatanganan kontrak ini dilakukan Gubernur Ternate, Robbert
Padtbrugge yang mulai menjabat sejak 1676 (lihat Daghregister 29 Desember
1676). Ini bermula sejak kehadiran pedagang-pedagang VOC di Manado pada tahun
1661 dan benteng Amsterdam dibangun Peerintah VOC di Manado pada tahun 1665. Pada
tahun 1679 peta Minahasa dibuat berjudul Kaartje van de Manahassa.

tampaknya lebih dulu dicatat daripada nama Manahasa [Minahasa]. Artinya,
sebelum pedagang-pedagang VOC berinteraksi dengan para pemimpin Minahasa (dan
kemudian membuat kontrak), para pedagang-pedagang VOC sudah lebih dulu eksis di
(kampong, negorij) Manado. Dalam hal ini Minahasa adalah suatu wilayah
(district) sedangkan Manado suatu kampong atau negorij di pulau dan di muara
sungai Tondano. Sebagaiana diketahui pada dekade itu, kontrak-kontrak VOC dilakukan
di luar Jawa (Batavia). Di Padang dilakukan pada tahun 1666, di Gowa (Makassar)
tahun 1667 (dan diperbarui tahun 1669), Baroes (1668), Singkil (1672), Solok di
pantai barat Sumatra dan Minahasa di timur Celebes (1679). Kontrak pertama di
Jawa dimulai di di hulu daerah aliran sungai Tjiliwong (1687). Kontrak adalah
suatu kerjasama saling menguntungkan utamanya dalam bidang ekonomi-perdaganga
dan pertahanan- politik.
Dalam konteks inilah sesungguhnya sejarah
Minahasa dimulai (dibedakan dengan Bolaan Mongondow). Tentu saja nama Minahasa
jauh sebelum itu sudah dikenal sebagai suatu wilayah. Dalam peta-peta Portugis
(sebelum kehadiran Belanda (VOC), wilayah Minahasa ini diidentifikasi sebagai
kerajaan Boelon (Roy de Boelon) yang besar dugaan adalah Kerajaan Bolaang
[Boelang dan Mogondo menjadi Bolaang Mongondow]. Lantas bagaimana sejarah
Minahasa sendiri berlangsung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Nama Minahasa: Zending vs Pemerintah
Nama Minahasa paling tidak sudah dicatat tahun
1679 sehubungan kerjasama Pemerintah VOC dengan pemimpin lokal Minahasa di
pedalaman. Itu berarti interakasi penduduk dan pemimpin lokal Minahasa dengan
asing (orang Belanda) sudah berlangsung lama. Sementara penduduk di
pantai-pantai sudah sejak lama berinteraksi dengan pedagang-pedagang beragama
Islam seperti dari Makassar (Gowa) dan Ternate.
Sementara
di pulau Sumatra nama Batak sudah dicatat pada peta ekspedisi pertama Belanda
yang dipimpin Cornelis de Houtman pada tahun 1597. Pemerintah VOC hanya
menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di pantai yang beragama Islam seperti
kerajaan Baroes, kerajaan Natal dan kerajaan Airbangis. Tidak ada hubungan
kerjasama Pemerintah VOC dengan penduduk dan pemimpin lokal Batak di pedalaman.
Para pedagang VOC tidak terlalu memikirkan agama
penduduk. Pemerintah VOC juga tidak memiliki kebijakan terhadap panganut agama.
Pemerintah Hindia Belanda yang enggantikan Pemerintah VOC juga tidak begitu
tertarik soal agama. Islam, Kristen dan pagan bagi mereka sama penting asal
bersedia bekerjasama dalam perdagangan, membangun jalan dan jembatan. Motif
Pemerintah VOC tidak mencampuradukkan tujuan pemerintah dengan agama.
Agama
adalah urusan misionaris (zending). Pada tahun 1830an misionaris Jerman
memasuki pedalaman Minahasa. Orang Minahasa masih pagan atau menganut
kepercayaan lama (Alifuru). Para penyiar agama Islam juga memasuki pedalaman
Minahasa. Sementara itu yang terjadi kemudian di Tanah Batak sebagian
penduduknya sudah beragama Islam seperti di afdeeling Mandailing en Angkola
(dimana Pemerintah Hindia Belanda telah membentuk cabang pemerintahan sejak
1840). Awal misionaris Belanda bekerja di ujung perbatasan Afdeeling Mandailing
en Angkola sejak 1857 yang lalu kemudian disusul misionaris Jerman pada tahun
1861. Lalu terjadi kesepakatan antara dua misi tersebut sehingga misi Belanda
bekerja di wilayah Pemerintah Hindia Belanda dan misi Jerman di luar wilayah
Pemerintah Hindia Belanda. Salah satu misionaris Jerman yang paling bersemangat
adalah Nommensen (pada tahun 1876 wilayah misi Nommensen ini menjadi afdeeling
Silindoeng en Toba). Dalam hal ini afdeeling Minahasa dan afdeeling Silindoeng
en Toba ada kemiripan juga ada perbedaan. Di Silindoeng dan Toba yang bekerja
adalah RMG Jerman, sedangkan di Minahasa adalah NZG Belanda.
Di Minahasa misionaris mulai membangun sekolah
untuk penduduk. Metode penginjilan melalui pengenalan pendidikan dianggap
efektif di Minahasa (lihat De Oosprong, de Grondslag en de Methode der Zending
doot N Graafland, 1846). Pada tahun 1856 Pemerintah Hindia Belanda membentukan
cabang pemerintahan dengan nama Residentie Manado yang juga meiiputi wilayah
Minahasa. Sebagaimana motif Pemerintah VOC. Pemerintah Hindia Belanda juga tidak mencampuradukkan tujuan pemerintah
dengan agama. Agama adalah satu hal, pemerintahan adalah hal lain.
‘Pendidikan
ini ditujukan untuk membina anak-anak menjadi orang yang berpikir, menjadi
anggota masyarakat yang berguna, dan juga sebagai persiapan menuju agama
Kristen. Anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, menyanyi dan sejarah
alkitabiah, kemudian mereka juga mendapatkan pendidikan geografi. Buku bacaan
berisi bahan untuk pengembangan pikiran dan peningkatan pengetahuan, sedangkan
segala sesuatu yang sesuai mengandung ciri-ciri yang bersumber dari pikiran
Kristiani. Semangat itu bersinar dalam buku bacaan, dalam lagu, dalam
pengajaran sejarah Alkitab, dalam doa, dan dalam percakapan sang guru. Jadi,
anak-anak dibuat menjadi manusia dalam berbagai segi. Pengetahuan bertambah,
pikiran dipertajam, penampilan dimurnikan dan hati meningkat. Dar sekolah
memancarkan cahaya dari antara orang-orang dan masuk ke rumah-rumah; dan kebenaran
sederhana yang diterima disana oleh anak-anak, kemudian mempengaruhi pemikiran
para penatua. Injil kemudian menjadi ragi, yang secara bertahap meresap ke
dalam masyarakat Alifuru dan akhirnya kekuatannya telah mencapai orang-orang
tanpa kontak langsung dengan pohon Injil.’.
Untuk mendukung para misionaris di Minahasa ini sebagian
guru-guru didatangkan dari Ambon. Adanya guru-guru di Ambon bermula ketika seorang
guru muda yang dikirim oleh zending di Belanda dan mulai bekerja di Ambon tahun
1834. Guru muda tersebut, BNJ Roskott juga diberitakan telah dianggap berhasil mengelola sekolah guru (kweekschool) di Ambon (lihat Algemeen
Handelsblad, 24-07-1843). Guru-guru pribumi dari Ambon inilah yang turut
membantu para misionaris di Minahasa.
Setelah terbentuknya pemerintahan di Minahasa, tujuan
pemerintah dalam bidang pendidikan mulai muncul perbedaan. Pemerintah
menganggap pendidikan yang diselenggarakan misionaris tidak memadai dan tidak
sesuai dengan tujuan pemerintah. Komentar ini juga dapat dibaca pada surat
pembaca yang dimuat surat kabar Bataviaasch handelsblad, 31-05-1862: ‘Pendidikan di
Minahasa bersifat eksklusif dan tidak terlalu praktis, seperti di sejumlah
tempat di Hindia Belanda, dimana mereka secara tidak khusus dipercayakan kepada
kepemimpinan ulama dan misionaris…disini mata pelajaran seperti membaca,
menulis, berhitung dan lainnya, tapi pendidikan ini tidak ada yang lebih
berkualitas. Secara umum, oleh guru yang tidak sesuai, yang berfungsi lebih
baik sebagai guru, juga karena mereka tidak menyadarinya’.
Pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan
pendidikan di Ambon dan Minahasa yang selama ini dikelola oleh para misionaris.
Sehubungan dengan itu, sekolah guru di Ambon harus ditutup tahun 1864 karena
dianggap tidak memadai. Penutupan sekolah guru di Ambon dan penyusunan
rencanakan pendidikan di Hindia Belanda terutama di Ambon dan Minahasa diduga
terkait dengan berita keberhasilan pendidikan di Afdeeling Mandailing en Angkola
di Residentie Tapanoeli.
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws-
en advertentieblad, 20-03-1865: ‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke
daerah ini [afdeeeling Mandailing en Angkol]. Di bawah kepemimpinan [Asisten
Residen] Godon daerah ini telah banyak berubah, perbaikan perumahan, pembuatan
jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah membawa [Sati Nasoetion
alias] Willem Iskander studi ke Belanda dan telah kembali ke kampungnya. Ketika
saya tiba, disambut oleh Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe
[onderafdeeling Mandailing] diikuti dengan enam belas murid-muridnya, Willem
Iskander duduk di atas kuda dengan pakaian Eropa murid-muridnya dengan kostum
daerah….Saya tahun lalu ke tempat dimana sekolah Willem Iskander didirikan di
Tanobato…siswa datang dari seluruh Bataklanden…mereka telah diajarkan
aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa
Melayu, bahasa Batak dan bahasa Belanda….saya sangat puas dengan kinerja
sekolah ini’.
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 14-11-1868: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup
adalah perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu
opium). Mari kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’.
Orang Jawa, harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya [Inspektur
Pendidikan Pribui] Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat
Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi gagasan pendidikan
(sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan baik). Kenyataan yang
terjadi di [afdeeeling] Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini benar-benar
terjadi, tandas Chijs’
Seketika berubah semuanya, pandangan orang luar
terhadap Tanah Batak, paling tidak di Afdeeling Mandailing en Angkola, Residentie
Tapanoeli berubah 360 derajat. Berita inilah yang kemudian menyebabkan korban,
sekolah guru di Ambon yang dikelola misionaris ditutup dan lulusannya berhenti
mengalir ke Minahasa. Permasalahan pendidikan tidak hanya di Ambon dan Minahasa
tetapi juga di Jawa.
Pada
tahun 1850 dua sekolah pemerintah dibuka di afdeeling Mandailing en Angkola,
Residentie Tapanoeli. Pada tahun 1854 dua siswa terbaik (Si Asta dan si Angan) diterima
di sekolah kedokteran Docter Djawa School di Batavia (siswa pertama yang
diterima dari luar Jawa) dan keduanya lulus dan mendapat gelar dokter. Si Sati
pada tahun 1857 (adik kelas Si Asta) berangkat ke Belanda untuk menempuh
pendidikan guru di Harlem. Pada tahun 1860 Si Sati dinyatakan lulus dan
mendapat akte guru. Pada tahun 1861 Si Sati alias Willem Iskander pulang ke
kampong halaman di Panjaboengan. Pada tahun 1862 Si Sati [Nasution] alias
Willem Iskander yang baru pulang studi pendidikan guru di Belanda membuka
sekolah guru di Tanobato, Afdeeeling Mandailing en Angkola, Residentie
Tapanoeli, Province Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1864 sekolah guru
(kweekschool) yang didirikan Willem Iskander mendapat pengakuan yang kemudian
diakuisisi pemerintah sebagai sekolah guru negeri yang ketiga di Hindia Belanda
(yang pertama di Soeracarta dibuka pada tahun 1851 dan yang kedua di Fort de
Kock 1856).
Sekolah-sekolah misionaris di Minahasa
menggunakan bahasa pengantar bahasa Melajoe (lihat Tijdschrift voor staathuishoudkunde
en statistiek, 1865). Hal ini karena banyak guru-gurunya yang berasal dari
Ambon. Para misionris juga menulis sendiri buku untuk kebutuhan siswa, seperti:
‘Inilah Pintu Gerbang Pengatahoewan Itu Apakah Dibukan Guna Orang-Orang
Pendudokh Tanah Minahasa ini oleh JGF Riedel; Bahadijan Kalima Artinja Pada
Menjatakan Babarapa Perkara dari pada Khikajatnja Tanah Tanah Minahasa Sampaij
pada Kedatangan Orang Kulit Putih Nederlanda Itu’.
Seorang
pemerhati pendidikan di Hindia Belanda telah mengkritisi penyelenggaraan
pendidikan (oleh misi) di Minahasa (lihat Bijdragen tot de taal-, land- en
volkenkunde van Nederlandsch-Indie, 1866). Dikatakannya buku-buku yang ditulis
dengan judul sepanjang jalan pos Anjer-Panaroekan, bahasa yang digunakan juga
bukan bahasa Melajoe yang sebenarnya. Alih-alih diajarkan dalam bahasa yang
bukan bahasa penduduk asli, isinya juga banyak dongeng. Bandingkan dengan buku
yang ditulis Willem Iskander yang ditulis dalam bahasa Batak yang menyadur
buku-buku terkenal di Eropa (Belanda) seperti ‘Boekoe Parsipodaon di Dakdanak
di Sikola’ yang diterbitkan pertama kali 1862; ‘Hendrik Nadenggan Roa’ terjemahan
dari De Brave Hendrik oleh Nicolaas Anslijn, diterbitkan di Padang oleh
penernit Van Zadelhoff, 1865. Guru-guru lulusan Kweekschool Tanobato juga
menulis buku seperti Dja Sian, Soetan Koelipa dan Dja Rendo berjudul ‘Boekoe
etongan Mandailing etongan ni dakdanak di medja (Mandhelingsche rekenboekje
voor hoogste klasse). Batavia, 1868; Si Mangantar gelar Radja Baginda berjudul ‘On
ma barita tingon binatang-binatang bahatna lima poeloe pitoe. Batavia, 1868; Soetan
Koelipa berjudul ‘Dalanna anso binoto oemoer ni koedo’. Lands Drukkerij, 1869;
dan lainnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Orang Minahasa Terkenal
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




