*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini
Jumlah orang Belanda dari waktu ke waktu
sesungguhnya tidak banyak relatif terhadap luasnya wilayah dan populasi
penduduk di Hindia. Di bidang perdagangan orang-orang Belanda sejak era VOC
sangat mengandalkan pedagang-pedagang Moor, Armenis, Cina, Arab dan
pedagang-pedagang pribumi. Demikian juga untuk mengatur pemerintahan sangat
mengandalkan para pemimpin lokal. Tentu saja orang-orang Belanda juga sangat
mengandalkan pasukan pribumi untuk mendukung kesatuan militer. Para pasukan
pribumi pendukung militer direkrut dari berbagai asal seperti Ambon, Bali,
Boegis, Djawa, Makassar dan Malajoe, Ternate dan Tambora.

era VOC pangkat tertinggi militer VOC adalah Majoor. Di bawahnya terdiri dari
kapitein, luitenant dan sergeant. Pangkat tertinggi dari korps pasukan pribumi
yang tertinggi adalah kapitein (seperti Kapiten Jonker yang terkenal). Pasukan
pribumi ini mendapat gaji yang bertugas untuk membantu perang atau membantu
menjaga benteng-benteng VOC di berbagai tempat. Untuk mendukung kehidupan para
pasukan ini, setiap pemimpin pasukan pribumi diberi lahan di seputar Batavia
untuk mengolah pertanian. Komunitas berbagai asal ini menjadi sebab munculnya
perkampongan sesuai asal. Penempatan pasukan pribumi di seputar Batavia juga
dengan sendirinya bergungsi menjadi pengawal ibu kota (Batavia).
Bagaimana sejarah pasukan pribumi pendukung
militer VOC asal Bali? Yang jelas jumlahnya
semakin berkurang pada era Pemerintah Hindia Belanda. Mengapa? Yang jelas pada
era Pemerintah Hindia Belanda ada beberapa asal yang tidak direkomendasikan
oleh para pejabat seperti dari Batak dan Minahasa. Mengapa? Yang jelas dari
daerah ini tidak pernah disertakan dalam pemerintahan Hindia Belanda (sebagai
bupati). Di Bali, bupati hanya ada di Boeleleng dan Djembrana. Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Pasukan Pribumi Pendukung Militer VOC
Hampir 3.5 abad kehadiran Belanda, baru tahun 1940
orang Batak direkrut menjadi militer untuk mendukung militer Pemerintah Hindia
Belanda. Boleh jadi karena itu terpaksa dan tidak sengaja. Pemerintah Hindia
Belanda membutuhkan perwira cadangan untuk menghadapi Perang Pasifik.
Pemerintah membuka lowongan itu untuk yang memiliki kualifikasi dan akan
dilatih di Akademi Militer di Bandoeng. Dua pemuda Batak yang termasuk memenuhi
kualifikasi adalah Abdoel Haris Nasoetion dan TB Simatoepang.

lulus sekolah guru di Fort de Kock, Abdoel Haris Nasoetion melanjutkan
pendidikan guru (HIK) di Bandoeng tahun 1935. Setelah lulus Abdul Haris
Nasoetion akan ditempatkan sebagai guru di Bengkoelen. Namun sebelum itu,
Abdoel Haris Nasoetion ikut ujian persamaan di AMS-Salemba Afdeeling B (jurusan IPA)
dan dinyatakan lulus bulan Juni 1938 (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 14-06-1938).
Pada bulan Mei Ir. Soekarno dipindahkan dari pengasingan di Flores ke
Bengkoelen (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-05-1938). Sekolah dimana Abdul
Haris mengajar di Boengkoelen tidak jauh dari rumah pengasingan Ir. Soekarno.
Beberapa waktu kemudian Abdoel Haris Nasution dipindahkan ke Palembang.
Bertepatan dengan adanya pengumuman pemerintah pada awal tahun 1940 tentang
rekrutmen perwira cadangan, Abdoel Haris Nasoetion mendaftar dengan menggunakan
ijazah AMS. Oleh karena diterima maka Abdoel Haris Nasoetion melepaskan guru
dan mengikuti pendidikan militer di Bandoeng. Boleh jadi Ir. Soekarno dan
Abdoel Haris Nasoetion di Bengkoelen sudah intens memikirkan kemerdekaan
Indonesia. Pada awal tahun kedua pendidikan (1941) Sersan Abdoel Haris
Nasoetion dipromosikan untuk mengikuti pendidikan perwira profesional di Akademi Militer di Bandoeng (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 31-03-1941). Disebutkan pelatihan perwira cadangan tahun
kedua (akselerasi) di Akademi Militer Kerajaan di Bandoen akan diterima untuk
pelatihan sebagai perwira profesional di Wapen der Infanterie, sersan milisi
Abdoel Haris Nasoetion, L. Barneveld Binkhuysen, WA Gout, HJ van Moll dan AO
Spangenberg dan untuk dilatih sebagai perwira profesional di bidang penerbangan
militer ajudan sersan milisi HF Buiskool, R. Groeneveld dan JGC Koes. Sebagai
kadet akselerasi, Abdoel Haris Nasoetion akan memulai pendidikan bersama
kadet-kadet lain yang dimulai pada tangga 28 Juni 1941 (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 28-06-1941). Dari daftar nama-nama yang memulai pendidikan terdapat
tujuh pribumi, yakni: Mas Mohammad Rachmat Kartakoesoema, AE Kawilarang, AH
Mantiri, Abdoel Haris Nasoetion, Raden Askari, Tahi Bonar Simatoepang dan Samsoedarso.
Namun tidak lama kemudian terjadi pendudukan militer Jepang. Pemerintah Hindia
Belanda menyerah. Pada era Jepang, Abdoel Haris Nasoetion sempat diminta untuk
menjadi instruktur untuk melatih milisi Jepang (PETA). Jepang menyerrah kepada
Sekutu lalu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Abdoel Haris Nasoetion yang selama pendudukan Jepang tinggal di Bandoeng segera
membentuk pasukan di Bandoeng (pasukan itu kemudian dikenal Divisi Siliwangi).
Itulah riwayat terakhir pasukan pribumi pendukung
militer Belanda sejak era VOC. Lantas bagaimana mulanya. Itu terjadi jauh di
masa lampau. Pasukan pribumi pendukung militer Belanda bermula ketika kebijakan
Pemerintah VOC bergeser dari pedagangan yang longgar di pantai-pantai dengan
kebijakan baru yang mana penduduk (pribumi) dijadikan subyek pada tahun 1665.
Untuk membantu Pemerintah VOC dalam melancarkan kebijakan baru ini (juga)
diperlukan penduduk yang terlatih untuk dijadikan sebagai pasukan pendukung
militer. Para pasukan ini direkrut dari berbagai tempat, temasuk yang berasal
dari Bali.
Asal
dari pasukan pribumi ini adalah kerajaan-kerajaan yang memiliki hubungan dekat
dengan Pemerintah VOC. Sebelum terbentuk VOCpada tahun 1619 (di Batavia),
hubungan Belanda dengan kerajaan Bali (Gelgel) sudah terjadi sejak ekspedisi
pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pada tahun 1597. Hubungan
bilateral ini kemudian diperbarui di era VOC tahun 1633 semasa Gubernur
Jenderal Hendrik Brouwer. Hal ini terjadi karena ada
keinginan radja Bali untuk menyerang Mataram (di Banjowangi) yang juga menjadi
musuk Pemerintah VOC. Namun keinginan radja Bali ini tidak segera
direalisasikan Belanda karena terjadi perselisihan Pemerintah VOC dengan
kerajaan Gowa yang mana gubernur VOC di Soambaopoe N van Vliet terbunuh pada
tahun 1638. Pemerintah VOC juga memiliki masalah dengan Portugis (yang kemudian
berhasil manaklukkan Malaka tahun 1641. Pada 1655 Pemerintah VOC merelokasi pos
perdagangannya di Soembaopoe ke Bima (Soembawa). Pemerintah VOC juga mulai memiliki
masalah dengan Atjeh di pantai barat Sumatra (yang kemudian mengusir Atjeh dari
Padang tahun 1666. Pasukan pribumi yang berasal dari Bone yang dipimpin oleh
Aroe Palaka turut dalam penaklukkan Malaka dan Padang.
Orang Bali sendiri sudah banyak yang berada di
wilayah jurisdiksi VOC (lihat Daghregister 30 April 1659). Wilayah jurisdiksi
utama berada di Batavia. Pada tahun 1665 surat dari Gusty Pangy dari Bali
diterima di Batavia (lihat Daghregister 28 Agustus 1665). Goesti Pandji adalah
radja Bali yang baru dari Boeleleng. Komunike ini antara radja Boeleleng dengan
Gubernur Jenderal beberapa kali terjadi hingga tahun 1666. Besar dugaan
komunike ini dalam hubungannya dengan dukungan Boeleleng sehubungan dengan rencana
Pemerintah VOC untuk menaklukkan kerajaan Gowa. Dukungan ini diduga kuat dengan
penyediaan pasukan untuk mendukung militer VOC ke Gowa. Pasukan Aroe Palaka
yang belum lama pulang dari Padang akan dikerahkan ke Gowa.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Militer di Era Pemerintah Hindia Belanda
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





