Namun
tidak lama setelah Lauw Tek Lok menjual
Land Tjimanggis, Lauw Tek Lok dikabarkan meninggal dunia tanggal 26 Mei (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 27-05-1882).
Disebutkan dalam proses pemakaman, Luitenent Meester Cornelis dihadiri oleh
para perempuan dan anak perempuannya. Juga dihadiri oleh para pejabat Tionghoa
dan pejabat pribumi dan rekan-rekannya sendiri. Dalam berita ini Lauw Tek Lok teridentifikasi
tidak memiliki anak laki-laki dan dimana dimakamkan tidak terinformasikan.
  Â
merupakan tetangga Land Tjimanggis diketahui pemiliknya adalah seorang Tionghoa
bernama Lauw Tjeng Siang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-06-1898). Tidak
diketahui jelas apakah pemilik Land Tjimanggis dan pemilik Land Pondok Tjina
dari keluarga yang sama (dilihat dari marganya yang sama: Lauw). Kepemilikan
kedua lahan kemungkinan berkaitan satu sama lain karena selain kedua land
bertetangga, juga satu-satunya interchage di sungai Tjiliwong hanya terdapat di
antara kedua sisi land ini (Land Tjimanggis di sisi timur sungai Tjiliwong dan
Land Pondok Tjina di sisi barat sungai Tjiliwong
Tjimanggis) sudah didirikan suatu maskapai yang diberi nama NV. Maatschappij
tot Exploitatie vaa het Land Tjimanggies. Adanya maskapai ini didasarkan pada
suatu iklan pemberitahuan yang dimuat surat kabar Bataviaasch nieuwsblad, 05-04-1909.
Exploitatie vaa het Land Tjimanggies. Majelis Umum Pemegang Saham pada tanggal
18 April 1909, pagi hari pukul 10 di rumah Direktur yang berada di Buitenzorg. Agenda
acara: Perkembangan usaha sekitar tahun 1897 hingga pada tahun 1908 dan penentuan
dan pemberian dividen setelah bertahun-tahun. Acara rapat pemegang saham
dilakukan di rumah direktur. Tertanda Direktur’.
Exploitatie vaa het Land Tjimanggies didirikan pada tahun 1897. Dalam iklan tersebut tidak disebutkan siapa nama direktur NV.
Maatschappij tot Exploitatie vaa het Land Tjimanggies.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 14-04-1925 |
NV. Maatschappij
tot Exploitatie vaa het Land Tjimanggies cukup lama eksis. Pada rapat pemegang
saham tahun 1923 diinformasikan bahwa terjadi pengangkatan seorang komisaris
untuk menggantikan almarhum Mr TL Tan Sr (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 27-08-1923).
Lalu pada tahun 1925 muncul identitas baru dari perusahaan (NV) dengan merek Soen
Hin sebagaimana terbaca dalam iklan pengumuman rapat pemegang saham (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 14-04-1925). Di dalam iklan ini juga tercantum alamat direktur yang
(tetap) beralamat di Buitenzorg, tepatnya di Handelsstraat No. 162. Dalam rapat
pemegang saham ini, selain membicarakan laporan keuangan juga penggantian seorang
komisaris karena pengunduran diri yang bernama Mr. TK Tan. Dalam hal ini diduga
sebelumnya TK Tan Jr yang menggantikan (ayahnya) Mr TL Tan Sr.
karena di tempat ini pada tempo doeloe, mantan Gubernur Jenderal Petrus
Albertus Van der Parra mendirikan rumah tinggal (huis). Di lokasi tempat
tinggal van der Parra tersebut, pada saat ini masih ditemukan rumah tua yang
disebut Rumah Tua Cimanggis.
berkembang menjadi pasar (yang kini
menjadi cikal bakal Pasar Cimanggis). Pada era Pemerintahan Hindia Belanda,
sejak penataan lahan-lahan perkebunan ditertibkan (yang dimulai pada era
Daendels) intensifikasi lahan-lahan ditingkatkan sebagai usaha pertanian untuk
komoditi ekspor dengan skema verponding. Hal ini juga terkait dengan
pembangunan selokkan (kanal irigasi) yang airnya disodet dari sungai Tjiliwong
di Katoelampa. Lahan-lahan (land) di sekitar, selain Land Tjimanggies antara
lain Land Pondok Tjina, Land Tjibinong, Land Tjilodong, Land Tjimpoen en
Patingie (kemudian disebut lnad Tapos) dan Land Tjiboeboer. Pusat land ini
berada di landhuis. Rumah Tua Cimanggis yang jejaknya masih terlihat sekarang
adalah salah satu landhuis yang pernah ada.
dapat dilihat artikel yang ditulis lima tahun lalu dimuat dalam blog ini dengan
judul: ‘Rumah Tua Cimanggis di Depok: Pesanggrahan Janda Gubernur Jenderal Belanda’
Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan
lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta.
Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap
buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah
disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan
atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di
artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.






