Setelah Gemeente Batavia dibentuk tahun 1903, Kota
Buitenzorg dan Kota Chirebon termasuk kota yang terbilang awal dibentuk menjadi
kota praja (gemeente). Pembentukan Kota Buitenzorg
sebagai gemeente berdasarkan Staatblads No 206 Tahun 1905. Kota Bandung sendiri
ditetapkan statusnya menjadi gemeente baru terjadi pada tahun 1906. Ini mengindikasikan bahwa Kota Bogor sebagai penerus Kota Buitenzorg adalah kota praja yang terbilang cukup tua di Indonesia.
![]() |
| Daftar Wali Kota Bogor |
Pada tahun 1927 dua pejabat penting
diangkat di Buitenzorg, yakni: Residen Buitenzorg FWW Slangen dan Burgemeester
Buitenzorg Mr. Wesseling (Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1927). Dengan wali kota baru ini, Buitenzorg
telah memiliki wali kota yang kedua sejak diangkatnya wali kota Buitenzorg yang
pertama tahun 1920, A. Bagchus (Bataviaasch nieuwsblad, 31-01-1920). Â Â
belum diangkat wali kota (burgemeester) di Buitenzorg, peran wali kota
dilakukan oleh Asisten/Residen Buitenzorg. Hal serupa ini juga yang terjadi di
kota-kota lain. Kota Bandung menjadi gemeente tahun 1906 sementara wali kota
definitif baru diangkat pada tahun 1817. Demikian juga di Kota Medan yang
menjadi gemeente tahun 1909 baru memiliki wali kota definitif pada tahun 1918.
(burgemeester) adalah pertanda bahwa gemeente harus dipimpin oleh wali kota
secara otonom. Ini menunjukkan suatu kota sudah bisa melakukan pengaturan
sendiri dengan pembiayaan yang bersumber dari kota. Kota Medan misalnya, baru
diubah statusnya menjadi gemeente tahun 1909, tetapi sudah memiliki wali kota
definitif tahun 1918. Hal ini karena Kota Medan memiliki potensi pendapatan
yang besar.
suatu kota diresmikan sebagai gemeente, dewan kota (gemeenteraad) dengan sendirinya
dibentuk. Dewan ini bekerja untuk membuat undang-undang kota yang akan
dijalankan oleh para eksekutif (Asisten/Residen atau burgemeester). Ketua dewan
kota adalah Asisten/Residen atau burgemeester.
Eropa/Belanda, Tionghoa dan pribumi. Dalam perkembangannya anggota dewan kota
pribumi semakin banyak. Pemilihan anggota dewan kota untuk golongan Tionghoa
dan pribumi didasarkan pada suatu pemilihan (pilkada) yang mana yang berhak
memilih adalah individu yang didasarkan pada pendapatan tertentu (tidak semua
warga kota).
Dewan di Hindia Belanda
di seluruh Hindia Belanda hanya terdapat 53
dewan, termasuk gemeenteraad Buitenzorg.
Uniknya, hanya satu dewan yang berada di level onder-afdeeling (kecamatan),
yakni Angkola en Sipirok (kini Padang Sidempuan). Sementara di level afdeeling
juga hanya terdapat satu yakni di Minahasa (lihat Tabel-1). Selebihnya terbagi
ke dalam sejumlah kota (gemeente) dan sejumlah kabupaten (afdeeling atau
regentschap).
Tabel-1. Jumlah anggota dewan pribumi/timur asing (non-Eropa)
di Hindia Belanda | |||
No |
Nama Daerah |
Bentuk administrasi |
Jumlah anggota dewan pribumi
(non-Eropa) |
Angkola en Sipirok
( afd. Padang Sidempoean) |
Onder-afdeeling |
23 | |
Bandjermasin |
Gemeente |
12 | |
Bandoeng |
Gemeente |
13 | |
Bantam (Banten) |
Gewest |
12 | |
Banjoemas |
Gewest |
13 | |
Basoeki |
Gewest |
15 | |
Batavia |
Gemeente |
17 | |
Batavia |
Gewest |
22 | |
Bindjei |
Gemeente |
6 | |
Blitar |
Gemeente |
9 | |
Buitenzorg (Bogor) |
Gemeente |
14 | |
Cheribon (Cirebon) |
Gemeente |
7 | |
Cheribon (Cirebon) |
Gewest |
16 | |
Fort de Kock (Bukittinggi) |
Gemeente |
7 | |
Kediri |
Gemeente |
9 | |
Kediri |
Gewest |
19 | |
Kedoe |
Gewest |
26 | |
Komering Ilir |
Gewest |
17 | |
Lematang Ilir |
Gewest |
17 | |
Madioen |
Gemeente |
11 | |
Madioen |
Gewest |
13 | |
Madura |
Gewest |
12 | |
Magelang |
Gemeente |
11 | |
Makasser |
Gemeente |
12 | |
Malang |
Gemeente |
12 | |
Medan |
Gemeente |
10 | |
Menado |
Gemeente |
9 | |
Minahasa |
Afdeeling |
37 | |
Mr. Cornelis (Jatinegara) |
Gemeente |
12 | |
Modjokerto |
Gemeente |
8 | |
Ogan Ilir |
Gewest |
23 | |
Oostkust Sumatra
(Sumtra Timur) |
Gewest |
21 | |
Padang |
Gemeente |
15 | |
Padang Pandjang |
Gewest |
20 | |
Palembang |
Gemeente |
12 | |
Pasoeroean |
Gemeente |
9 | |
Pasoeroean |
Gewest |
25 | |
Pekalongan |
Gemeente |
12 | |
Pekalongan |
Gewest |
11 | |
Pematang Siantar |
Gemeente |
8 | |
Preanger Regentschappen |
Gewest |
28 | |
Probolinggo |
Gemeente |
12 | |
Rembang |
Gewest |
16 | |
Salatiga |
Gemeente |
8 | |
Sawah Loento |
Gemeente |
5 | |
Semarang |
Gemeente |
16 | |
Semarang |
Gewest |
27 | |
Soekaboemi |
Gemeente |
10 | |
Soerabaja |
Gemeente |
19 | |
Soerabaja |
Gewest |
24 | |
Tandjong Balei |
Gemeente |
6 | |
Tebing Tinggi |
Gemeente |
9 | |
Tegal |
Gemeente |
10 | |
Total |
767 | ||
Catatan:
-Koefisien Pemilu adalah 50
-Gemeente=kota
-Gewest=Terdiri dari beberapa afdeeling
-Afdeeling=Terdiri dari beberapa onder-afdeeling
Sumber: De Preanger-bode, 01-02-1921 | |||
Residentie Tapanoeli dewan hanya terdapat di onder-afdeeling Angkola en
Sipirok. Jumlah kursi di dewan di onder-afdeeling Angkola en Sipirok sebanyak
23 kursi. Sementara di Province Sumatra’s Oostkust (Sumatra Timur) terdapat
dewan di lima kota (gemeente): Kota Medan (10 kursi), Kota Tandjong Balai (6
kursi), Kota Pematang Siantar (8 kursi), Kota Bindjei (6 kursi), Kota
Tebingtinggi (9 kursi). Selain itu masih terdapat satu kabupaten (geweest) yang
memiliki dewan dengan jumlah kursi untuk pribumi/timur asing sebanyak 21 orang
(lebih sedikit dibandingkan dengan onder-afdeeling Angkola en Sipirok).
anggota dewan di Onder-afdeeling Angkola en Sipirok antara lain dapat dilihat
pada Bataviaasch nieuwsblad, 20-08-1926. Mereka ini adalah anggota dewan
pengganti: ‘Gewestelijke en Plaatselijke Baden. Pada tanggal 17 Agustus 1926
diangkat menjadi anggota plaatselijken raad di ondcrafdeeling Angkola en
Sipirok: golongan Belanda, G.H. van Nie1, adm. der onderneming Simarpinggan dan
S. Radersma, adm. der onderneming Sigalagala; golongan penduduk lokal, Ma’moer
Al Rasjid (Nasoetion), dokter di Padang Sidempoean, Peter Tamboenan,
zendelingleeraar di Sipirok, Mangaradja Goenoeng, pedagang di Padang Sidimpoean,
MJ Soetan Naga, pedagang di Batang Toroe; Dja Saridin, pedagang di Batang
Toroe, Soetan Josia Diapari, pedagang di
Padang Sidempoean, Mangaradja Dori, pedagang di Padang Sidimpoean, Dja Oloan,
pedagang di Padang Sidempoean dan Hadji Mohamad Thaib, pedagang di Padang
Sidcmpoean; golongan timur asing, Kim Hong Boh, pedagang di Padang
Sidempoean’.:
bertanya-tanya, mengapa di onder-afdeeling Angkola en Sipirok, sebuah kecamatan
pula justru terdapat dewan. Jawabnya adalah bahwa di onder-afdeeling Angkola en
Sipirok terdapat ibukota afdeeling Padang Sidempuan yakni Padang Sidempuan.
Selain itu, di onder-afdeeling (kecamatan) Angkola en Sipirok terdapat belasan
perusahaan perkebunan (maschappij) seperti halnya di Sumatra Timur. Pertimbangan
lainnya, Padang Sidempoean adalah kota tua (didirikan tahun 1844) dan sejak
1870 menjadi ibukota afdeeling Mandailing en Angkola (menjadi afdeeling Padang
Sidempuan sejak 1905). Kota Padang Sidempuan sendiri sejak tahun 1870 sudah
memiliki fasilitas lengkap: sekolah Eropa (ELS), sekolah guru pribumi
(kweekschool) dan tiga sekolah dasar negeri (pribumi),
![]() |
| Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota |
Medan
sendiri pada tahun 1870 masih terbilang sebuah kampong. Sedangkan Padang
Sidempuan sudah menjadi kota besar. Onder–afdeeling
Medan baru dibentuk tahun 1875 dengan menempatkan seorang controleur di Medan.
Sedangkan di Padang Sidempuan sejak 1870 sudah menjadi ibukota afdeeling
Mandailing en Angkola tempat dimana asisten residen berkedudukan. Sejak
dibukanya sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan tahun 1879, perkembangan
kota berlangsung cepat. Alumni Kweekschool menyebar dan menjadi guru di
Tapanoeli en Nias, Sumatra Timur, Riau
dan Atjeh. Ketika Kweekschool Padang Sidempuan melakukan wisuda guru pertama
tahun 1883, belum ada sekolah dasar di Medan.
sekolah dasar Padang Sidempuan banyak yang berkiprah sebagai angggota dewan di
berbagai tempat di Hindia Belanda, tidak hanya di Dewan Angkola en Sipirok di Padang
Sidempoean, tetapi juga di Kota Medan, Kota
Tandjong Balai, Kota Pematang Siantar, Kota Bindjei, Kota Tebingtinggi tetapi
juga di Kota Padang dan Kota Soerabaja. Kota Padang Sidempuan tidak pernah naik
statusnya menjadi gemeente di era Hindia Belanda tetapi tiga alumninya menjadi
walikota pribumi pertama di tiga kota berbeda: Kota Medan (Mr. Loeat Siregar), Kota
Padang (Dr. Abdoel Hakim Nasoetion) dan Kota Surabaya (Dr. Radjamin Nasoetion).
Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang
digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi
karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.






