berada di Bandung karena om dan tante mau naik haji. Ketika sampai di
rumahnyam, ternyata gak ada orang. Om langsung mengajak kami menyusul ke
Warung Nasi Ampera.

tante saya lainnya juga hadir. Karena kami memang sedang berkumpul
bersama untuk nganterin yang mau naik haji.
Saya sekeluarga baru aja selesai makan siang di salah satu resto, perut
masih sangat kenyang. Jadi, cuma ikut ngumpul aja. Hanya pesan es kelapa
dan kopi susu gula aren. Udah gak sanggup untuk makan lagi. Masih kenyang
banget!

Sahabat KeNai memilih makanan yang diinginkan. Bisa minta dihangatkan
kembali. Tapi, saya gak tau apakah kemudian harus membawa makanannya
sendiri seperti di Nasi Bancakan atau enggak. Karena kami hanya pesan
minuman dan seingat saya diantarkan. Bayarnya pun kayaknya terakhir
setelah selesai makan. Karena kami sempat menunjuk tempat keluarga besar
duduk yang saungnya terihat dari depan.
Silakan Baca:
Kembali Makan Siang di Nasi Bancakan Bandung


mulai parkiran. Untuk kumpul keluarga besar hingga bikin acara
sepertinya bisa banget. Suasananya pun nyaman. Tamu bisa makan di
saung-saung atau di resto yang ada kursinya. Tersedia pula mushola dan
toilet.

tengah yang ada meja kursi. Lebih terasa adem. Kalau di area paling
depan dan belakang kayak kursi-kursi plastik gitu. Lumayan gerah juga
apalagi kalau siang hari. Meskipun saat itu lumayan sepi, para tamu
dihibur dengan live music.

keluarga saya gak hanya sambalnya. Semua makanan dan minumannya juga
cenderung ke manis. Malah es jeruknya katanya manis banget.
Apakah Citarasa Warung Nasi Ampera Berubah?

Warung Nasi Ampera didirikan pada tahun 1963.
Awalnya, warung ini berawal dari sebuah warung tenda sederhana di
pinggir Terminal Kebon Kalapa, Bandung. Pemiliknya adalah H. Tatang Sujani dan istrinya, St. E. Rochaety. Nama Ampera sendiri merupakan kependekan dari “Amanat Penderitaan
Rakyat”, mencerminkan visi pemilik untuk menyediakan makanan
terjangkau bagi masyarakat.Sumber:
Menilik Sejarah RM Ampera
sudah ada sejak 1963. Tapi, saya termasuk jarang banget makan di sini.
Seingat saya baru 2x. Itu pun semuanya ditraktir. Pengalaman pertama,
ditraktir alm papah. Waktu anak-anak masih kecil. Jadi udah lebih dari
10 tahun lalu. Pengalaman kedua, ya, tahun lalu diajak keluarga
om.

nasi Ampera ketika ditraktir papah. Saya hanya ingat, sambalnya sangat
pedas. Lantas kenapa saya sempat berpikir kalau citarasanya ada yang
berubah?
papah saya. Rasanya gak mungkin, papah saya menyukai resto yang
citarasanya cenderung ke manis. Kalau bikin sambal di rumah aja, untuk
papah selalu dipisah. Karena gak mau dikasih gula sama sekali. Pokoknya
selera papah tuh lebih ke gurih banget. Gak suka yang manis.

Jadi harus agak membungkukkan badan kalau mau mencuci tangan hehehe.
manis. Apalagi jus jeruknya terlalu kemanisan. Tapi, memang kembali lagi
ke selera, ya. Hingga sekarang Warung Nasi Ampera sepertinya masih
termasuk salah satu favorit om saya sekeluarga. Karena beberapa kali
saya tau mereka sedang makan di sana.

kekenyangan banget. Sampai rumah, langsung dimasukkan kulkas. Besok pagi
saat mengantar om dan tante ke tempat pemberangkatan jamaah haji,
kopinya saya bawa.
Seperti sudah diduga, rasa manisnya berasa banget. Ya, mungkin saya akan
pesan less sugar kalau makan di Warung Nasi Ampera lagi.
Konsep Warung Nasi Ampera Premium Metro Bandung

mungkin akan menemukan cabang yang lain. Sepertinya memang ada 2 resto
Ampera di jalan yang sama.
Coba googling “RM Ampera”. Baru deh ketemu resto yang saya ceritakan
ini. Seperti konsep restonya beda. Makanya di IGnya pun ada kata
‘Premium’. Jam operasionalnya pun 24 jam kalau di resto yang premium
ini.
Saya gak tau apakah ada perbedaan rasa dan harga atau enggak. Harusnya
sih untuk rasa gak ada yang beda, ya. Tapi, mungkin saya harus
membuktikan sendiri dengan datang ke Warung Nasi Ampera cabang yang
lain.






































