
Bilik kecil itu tampak rapi dengan perabotan tua di sekelilingnya. Tak ada lagi
yang tidur di ranjang berkelambu itu. Tak ada lagi nenek yang duduk di kursi
goyang kesayangannya. Tak ada lagi burung bertengger di dahan tepat di depan
jendela kamar, menyenandungkan lagu yang akan membuatku dan nenek merasakan
makna alam. Ruangan itu menyepi selama bertahun-tahun terakhir ini. Yang ada
hanya potret tua wajah nenek yang terletak di atas meja.
sekumpulan kisah lama yang diperbarui. Semoga kelamaannya tidak menjadikannya
kuno di masa kini maupun masa depan. Cerpen berbagai latar ini adalah sentuhan
pandanganku terhadap hidup dan kehidupanku, dulu. Kini tentunya hanya sebuah
memori yang tercerita. Lalu semua dirangkum dalam 1 buku.
kumpulan cerpen pertamaku yang jadi bentuk buku (digital). Kisahnya mungkin
bukan apa-apa dibanding kisah keren yang banyak merajalela di luar sana. Namun,
perjuangan menulis ini, setapak demi setapak, berpindah komputer, berpindah
terminal file, menjadikan kisah ini bermakna bagiku tentunya, dan semoga juga
bagi orang lain.
menkmati studio Sansadhia di sini.

menggema di dunia digital. Guru Kehidupan sebagai permulaan cerita, bercermin
diri merenungi pertanyaan-pertanyaan kehidupan dalam diri. Gundahku Menatap
Potret Itu adalah nyawa dalam karyanya yang mengalun indah, bahasanya mengalir
tanpa sela. Cerita dongeng masa kecil yang diramu kembali berjudul Kecantikan
Putri Salju mampu membawa imaji melayang. Kau Butuh Teman kemudian yang
menguatkan ceritanya ini, bahwa teman adalah sayap untuk kita terbang ketika
tak mampu berpijak. Panas Jakarta dan Stasiun Kereta membawa kita masuk ke
dalam dunia yang tak tentu. Sebuah Pilihanlah yang akhirnya membawa kita
masing-masing dalam setiap langkah kehidupan yang terus bergerak. Ceritanya
berirama walau berbeda tema namun tak
membuat alunannya terhenti.










































