
berfungsi sebagai makanan sela (volumenya tidak seberapa besar dan satu
porsi tidak membuat kenyang) yang dibuat dari ketupat nasi yang diiris
tipis-tipis, lalu disiram dengan saus wijen yang dicampur kemiri dan
kelapa parut yang terlebih dulu disangrai, serta ditambah beberapa
potong karak (sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi kering dan bleng).
Oleh penjaja di pinggir jalan biasanya disajikan tidak dengan piring
tetapi dengan wadah dari daun pisang yang dilipat dengan cara tertentu
(disebut pincuk).
Nama ‘cabuk’ mengacu pada wijen (ada sejenis
sambal/saus lagi dengan nama ini yang terbuat dari wijen bakar di daerah
yang sama). Agak mengherankan dengan nama ‘rambak’, karena sama sekali
tidak ada kerupuk kulit (rambak) yang disajikan.
Cabuk rambak
sudah terbilang makanan langka dan hanya bisa dijumpai hanya
daerah-daerah tertentu. Penyajian Cabuk rambak dengan pincuk (daun
pisang yang dilipat) dan ketupat dipotong-potong kecil dan diatasnya
dibubuhi cabuk. Sangat cocok jika makan Cabuk rambek dengan karak atau
biasa disebut dengan krupuk gendar.












