(1994 – Studio Ghibli)
dir. Isao Takahata
cast: Makoto Nonomura, Shigeru Izumiya, Nijiko Kiyokawa, Kosan Yanagiya, Norihei Miki, Hayashiya Shozo IX, Akira Kamiya, Takehiro Murata, Megumi Hayashibara, Akira Fukuzawa, Kokontei Shincho

Ghibli hampir identik dengan Hayao Miyazaki, tetapi untuk urusan ketidakterdugaan dalam visual dan penuturan, bagi gw itu lebih banyak ditemukan pada film-film arahan alm. Takahata. Pom Poko ini bisa dibilang karya beliau yang paling imajinatif, absurd, sekaligus paling lucu. Menyajikan kisah tentang kaum tanuki (rakun Jepang) yang dapat berubah aneka wujud, mereka harus berhadapan dengan meluasnya pembangunan modern dari kaum manusia yang menggusur peradaban-peradaban lama. Film ini memberi komentar sosial dalam bentuk magical realism yang menggelitik sekaligus relevan. Walaupun panjang durasinya, tiap segmen cerita bisa terjalin dengan apik dalam menuturkan berbagai sisi persoalan yang timbul dari perubahan zaman, dibungkus dalam gambar-gambar yang sesekali mencengangkan saking absurdnya, dan diikat oleh karakter-karakter yang antik.
(2023 – Warner Bros.)

Kemunculan The Flash versi DCEU akhirnya menempatkan salah satu superhero populer ini ke layar lebar, cukup gw nantikan apalagi dengan ketersediaan teknologi sinema zaman sekarang. Ternyata, hasilnya cukup di luar dugaan. Pertama adalah film ini bisa merangkaikan cerita superhero yang nggak sama dengan pola film-film sejenis–bahkan hampir nggak ketahuan yang ‘jahat’ itu apa dan yang mana, namun penuturannya masih menyenangkan dan sesekali mengetuk emosi, sehingga buat gw secara cerita film ini salah satu yang terbaik dari DC. Tapi, yang tak terduga juga–nggak bisa pura-pura nggak lihat bahwa penggunaan CGI-nya lemah padahal skala cerita film ini termasuk akbar, akibatnya secara visual film ini cukup punya ganjalan, jadi agak sulit menikmatinya secara paripurna. Penataan action yang exciting, kehadiran karakter-karakter kesayangan dari semesta DC Comics, serta celetukan witty Barry Allen untungnya cukup bisa mengompensasi, masih bisa banget menghibur.




