
Penyakit
yang aneh, begitu kabar tersiar. Panas yang mendera setiap kali matahari surup dan lebam yang membungkus sekujur tubuh, menimbulkan tanya yang tak berkesudahan. Sudah berkali-kali pergi ke dokter, tak ada satu keteranganpun yang
memuaskan. Beberapa dukun dan kiai didatangi, meminta petunjuk penyembuhan, ia
tidak juga memperoleh jawaban yang jelas dan masuk akal. Ia selalu pulang dengan teka-teki yang
menyesaki dadanya.
Sejak
itulah, orang-orang sekitar mulai berbicara. Tak ada penyakit yang datang
secara tiba-tiba, tanpa sebab tertentu. Ocehan demi ocehan
kerap didengar hampir setiap hari. Katanya, sakit yang menimpa Saminah adalah tulah dari satu-satunya bhuju’ yang terletak di
pesisir, beberapa meter ke arah timur rumahnya.
***
Kampung
kecil itu, memiliki satu bhuju’ keramat yang sering dikunjungi banyak
orang dari berbagai penjuru. Setiap ada peziarah datang, orang-orang berarak
membuntutinya. Sampai di area bhuju’, mereka duduk di tanah pasir, di bawah pohon besar yang rindang, menunggu hingga peziarah selesai
mengaji dengan seperangkat ritual-ritual lainnya. Tidak hanya itu, peziarah
juga membawa sembako berupa beras, jagung, telur, gula, kopi dan sejumlah uang
yang diletakkan di atas batu, usai merapal doa.
Sudah
menjadi kebiasaan, apa saja yang dibawa peziarah selalu dibagi rata pada
orang-orang sekitar yang menyambangi. Tetapi, Saminah selalu mendapat bagian
lebih dari yang lain. Karena ia sebagai penjaga bhuju’, meneruskan posisi
ibunya yang telah lama meninggal dunia. Pada awalnya, orang-orang sekitar
sama sekali tidak mempersoalkan itu, yang penting mendapat bagian, mereka bisa
pulang dengan riang.
“Nanti
sore, ada peziarah lagi dari Legung, katanya dua pikep lengkap dengan saronen-nya,”
ucap Sitti memecah riuh kerumunan orang-orang yang sedang mengambil bagian beras
di gardu bhuju’ itu.
“Biasanya,
kalau dari sana bawa seekor kambing,” celetuk Sarima sambil
beranjak dengan sekantong plastik hitam yang berisi beras dan telur.
“Sebulan
lagi acara rokat bhuju’ akan digelar. Jadi, kalau ada peziarah yang bawa
kambing, biar saya pelihara untuk persiapan selamatan nanti.” Saminah
menjelaskan, membuat yang lain diam mengiyakan.
Pada
bulan tertentu, bhuju’ memang ramai dengan peziarah. Suara tahlil dan Yasin dibaca dengan khusyuk. Do’a dipanjatkan, memohon hajatnya segera
dikabulkan. Orang-orang sekitar, bukan hanya senang karena mendapat bagian,
tetapi mereka juga ikut mengamini doanya sebagai
imbalan meski tidak setimpal.
***
Seminggu
sebelum acara rokat bhuju’ digelar, Saminah adalah orang yang dengan
giat mendatangi rumah warga satu persatu, memberi kabar sekaligus meminta
sumbangan uang untuk keperluan acara rokat itu. Warga suka rela
mengeluarkan uang dengan nominal yang berbeda-beda.
Tak
cukup hanya warga sekampung yang didatangi, Saminah juga mengabari warga desa
lain dan meminta keikhlasannya menyumbang. Karena, masyarakat masih memegang
kuat tradisi, banyak dari mereka yang bersedekah dengan nominal yang tinggi. Mata
Saminah berbinar penuh syukur melihat masyarakat antusias pada pergelaran rokat
bhuju’ minggu depan, pelaksanaannya tepat di hari Selasa setelah asar.
Saminah
yang mengatur semuanya. Mulai dari membeli seekor kambing, dan beberapa kilo
daging ayam, termasuk beras, rempah-rempah dan bahan-bahan lain yang diperlukan.
Warga sekitar hanya cukup datang dan membantu memasak sekaligus menyiapkan
perlengkapan lainnya.
Seekor
kambing disembelih, dagingnya dimasak, lalu kulitnya diisi rumput kering hingga
berbentuk seperti kambing semula dan digantung di pohon yang terletak di area bhuju’.
Itu adalah tanda bahwa bhuju’ ini sudah melaksanakan rokat. Begitu
kata salah seorang warga yang baru saja selesai menggantung kulit kambing
dengan menggunakan tali rafia.
Tepat
pukul tiga sore, orang-orang mulai berdatangan ke bhuju’. Perempuan
duduk di gardu sambil menyiapkan makanan, sedangkan laki-laki berkumpul di
mushalla membaca Yasin dan tahlil bersama. Setelah itu,
dilanjutkan dengan acara mamaca yang dilakukan oleh dua orang saja. Kemudian sebagai acara puncak setelah makan bersama ialah melarungkan bhitek
yang birisi aneka macam makanan dan sejumlah uang. Sebagian uangnya dibuat
bendera di tiang bhitek itu.
Dengan
mengucap bismillah, bhitek dilarungkan di atas air laut setinggi perut,
lalu dibawa arus semakin menjauh hingga tak kelihatan batang hidungnya. Menurut
keyakinan masyarakat setempat, pelepasan bhitek itu sebagai bentuk
syukur sekaligus simbol melarungkan segala marabahaya ke tengah lautan yang
luas. Kini, warga merasa lega, satu tanggung jawab dianggap telah usai.
Riuh
orang-orang di bhuju’ berpacu dengan desau angin dan rerintik hujan yang
jatuh. Sambil lalu menikmati hidangan gule kambing, sebagian warga pulang
membawa sepiring nasi. Sudah bisa dipastikan, yang paling sibuk dalam acara rokat
ini ialah Saminah. Mulai dari persiapan sampai pelaksanaan, dialah yang
paling semangat dan tak sedikitpun rasa lesu terpancar dari auranya yang
jenaka. Bahkan, saat acara sakral ini selesai, pada semua yang datang, hanya
dia yang selalu mengucapkan terima kasih dengan senyuman.
“Saya
senang, warga kampung ini masih kuat menjaga tradisi nenek moyang,” ucap salah
seorang pengunjung dari desa sebelah sambil merogoh kantong bajunya, lalu menyerahkan uang ratusan ribuan, entah berapa lembar banyaknya. “Mohon
diterima, ada sedikit rezeki buat perbaikan bhuju’ ini,” imbuhnya.
“Wah,
terima kasih. Bhuju’ ini memang rencananya mau kami renovasi, tapi masih
mengumpulkan dana.” Saminah menjawab dengan binar bahagia terpancar dari kedua
matanya. Sedangkan warga yang lain sibuk membereskan sisa-sisa makanan yang
masih berserakan.
***
Hari
ini, peziarah memenuhi serambi bhuju’. Warga sekitar yang datang
celingak-celinguk mencari Saminah. Karena di dekat batu itu, tempat peziarah
mengaji dan menyebutkan hajat, dia raib. Tidak seperti biasanya, dia selalu
datang lebih dulu, bahkan sebelum peziarah sampai, dia sudah menunggu. Orang-orang
menaruh pertanyaan yang sama, namun satupun tak ada yang bisa memberikan
jawaban.
“Saminah
kurang enak badan. Dia tidak bisa datang ke sini sekarang.” Imah yang baru tiba membawa kabar tentang Saminah, si penjaga bhuju’
ini.
“Sejak
kapan sakit? Padahal tadi pagi saya masih lihat dia pergi ke ladangnya di
belakang rumah.” Marni menanggapinya dengan sebuah
pertanyaan.
“Katanya
tadi siang, perutnya tiba-tiba sakit dan sekujur tubuhnya panas,” jelas Imah.
“Namanya
penyakit, datangnya bisa kapan saja. Nanti kita mampir ke sana sepulangnya dari
sini.” Ajak Sitti yang dari tadi menyimak. Yang lain mengangguk mengiyakan.
Para
peziarah mulai menyusut, satu persatu pulang setelah tuntas melakukan
ritualnya. Saat bhuju’ sudah sepi dari pengunjung, warga berarak pulang
bersama-sama, sebagian dari mereka mampir ke rumah Saminah, menjenguk dia yang
sedang terbaring sakit. Wajah Saminah pucat lesu, tubuhnya panas, kedua kakinya dingin. Ia
mengaku pusing, tidak bisa berjalan sendiri sekadar untuk ke kamar mandi.
Mereka
iba melihat kondisi Saminah yang tak berdaya. Semakin hari bukan semakin
membaik, tetapi kondisinya menurun. Berbagai terapi penyembuhan sudah
dilakukan, tetapi sakit yang diderita semakin parah. Setiap hari, rumahnya
tidak pernah sepi. Orang-orang datang-pergi untuk membesuk dan menghiburnya
dengan sepenuh hati.
Sejak
beberapa hari ini, Saminah sering dihantui rasa takut. Ia mengaku pernah
bermimpi didatangi seseorang dari arah timur seperti sedang menuntut sesuatu.
Detak di dadanya tak lagi teratur, segenap keberaniannya luruh bersama dengan
kesehatannya yang kian lumpuh. Sesekali, ia menangis tanpa diketahui
penyebabnya, karena dia enggan berterus terang.
Sejak
itu, sakit Saminah menjadi buah bibir masyarakat. Tak jarang yang membicarakannya
kalau sakit yang diderita adalah tulah dari bhuju’, tempat bersemayamnya
waliyullah. Berkali-kali dia mengelak, karena merasa orang yang paling
berjasa. Tetapi, keadaannya yang semakin memprihatinkan, membuka tabir yang
selama ini disembunyikan.
“Itu kualat.
Tulah dari bhuju’,” celetuk Imah sambil menyabit rumput di pinggir
sawah. Dia adalah tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan Saminah.
“Kualat
gimana? Dia penjaganya, mana mungkin kena tulah,” Sitti mengerutkan kening. Semua tatapan tertuju ke Imah.
“Iya
kalau benar, kalau salah? Kalian jangan tertipu dengan sikap antusiasnya.” Tangan Imah tiba-tiba berhenti menyabit
rumput. Kemudian ia melanjutkan dengan suara sedikit pelan, “Kalian masih
ingat, berapa peziarah yang bawa kambing ke bhuju’?, Saminah selalu
bilang kambing itu akan disimpan untuk persiapan rokat, nyatanya setiap
kali gelar acara rokat, kambing selalu beli dari hasil sumbangan warga.
Lalu, kambing-kambing dari peziarah ke mana?” Tatapan yang lain masih menjurus ke
Imah. “Dijual buat renovasi rumahnya. Lihat rumahnya sudah mentereng. Mau dapat
uang dari mana? Wong sapi peliharaannya dan tegal miliknya masih utuh,” tukas Imah sambil lalu kembali menyabit
rumput dengan tangannya yang lihai.
Sitti,
Marni, Sarima dan yang lain, termasuk aku terkejut mendengar penjelasan dari
Imah. Aku bagian dari mereka, meski lebih banyak diam dari pada ikut berbicara.
Mengingat yang sudah-sudah, perlahan aku membenarkan cerita Imah yang baru saja
kudengar. Tetapi, rasa iba pada sakit yang dialami Saminah tetap tidak bisa kuelakkan.
Akupun bersyukur saat dikabarkan kondisi Saminah mulai membaik, ia sudah bisa
berjalan sendiri meski cukup pelan dan hati-hati.
Sudah
hampir setahun, tubuh Saminah tinggal tulang dan seluruh kulitnya gelap,
seperti bekas kebakaran. Dua hari lagi, acara rokat bhuju’ akan kembali
digelar. Tradisi ini memang dilaksanakan setahun sekali. Bedanya, sekarang
Saminah masih belum pulih. Selain harga kambing dan semabako cukup tinggi,
tidak ada orang yang giat menagih sumbangan seperti Saminah pada tahun-tahun
sebelumnya.
Hingga
malam tiba, semua persiapan masih belum ada. Malam dirundung pilu, bulan sabit
di antara awan yang menggulung terlihat sendu. “Rokat tetap harus dilaksanakan,” ucap Saminah padaku. Tekatnya bulat, kedua
matanya tegas menghujam waktu yang telah terlewat.
***
“Embekkk….” Bunyi itu terdengar berkali-kali. Di luar masih gelap. Kulirik jam,
masih pukul satu lewat seperempat. Bunyi itu semakin jelas terdengar. Aku
keluar bersama warga yang lain, mendekati sumber bunyi itu berasal. Ternyata
dari arah bhuju’, kamipun berlarian ke sana. Suasana bhuju’ lengang,
tak ada lampu penerang. Bunyi yang serupa kambing juga lenyap. Hanya debur
ombak yang sesekali terdengar mewakili gemuruh badai dalam diriku.
Senter
warga mengitari area bhuju’, dan tatapan disertai jeritan dari seluruh
warga serentak saat melihat wujud perempuan menggantung diri di tempat biasa
kulit kambing digantung setelah rokat. Satu dua warga mendekati, debur
di dadaku semakin menjadi. Saat diketahui wajah perempuan itu, jerit tangis
kami pecah. Warga hampir tidak percaya, apa yang terlihat seperti khayalan
belaka. Dalam desau yang berlimbah air mata, aku sangat berduka cita melihat
Saminah yang kini telah tiada.
“Rokat
bhuju’ tahun ini sudah selesai.” Seperti ada yang berbisik di telingaku.
Aku kaget, dan melihat ke sekelilingku, tak ada siapa-siapa. Warga di bawah
pohon sana, tengah sibuk melepas tali yang mengikat dan tertambat kuat di leher
Saminah.
Totale, 02 Januari 2022
Keterangan:
Bhuju’ :
makam
Rokat :
tradisi selamatan
Saronen :
musik khas Madura
Mamaca :
macopat
Bhitek : perahu kecil yang terbuat dari pelepah
pisang, salah satu alat yang harus ada dalam pelaksanaan rokat bhuju’
(Cerpen ini masuk 15 besar dalam LMCN 2022 yang diselenggarakan oleh fun bahasa dan dibukukan dalam antologi bersama dengan judul “Karotangan”)










