Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bahasa (11): Bahasa Bugis Sulawesi Selatan dan Ragam Dialek; Seberapa Dekat Bahasa Makassar dengan Bahasa Bugis

Tempo Doelo by Tempo Doelo
10.09.2023
Reading Time: 18 mins read
0
Pontianak
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa
menunjukkan bangsa. Seperti umumnya identifikasi bahasa mengindikasikan nama
etnik, bahasa Bugis juga menunjukkan orang (etnik) Bugis. Bahasa Bugis utamanya
ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan dengan berbagai dialek. Pada masa ini penutur
bahasa Bugis ditemukan di berbagai wilayah. Dialek bahasa Bugis yang mana yang
digunakan di luar wilayah Sulawesi Selatan. Di wilayah Sumatra Utara tidak
ditemukan secara signifikan penutur bahasa Bugis. Mengapa? Terlalu jauh.
Bagaimana dengan di wilayah Sulawesi Utara.


Bahasa
Bugis adalah salah satu bahasa dari rumpun bahasa Austronesia. Penutur bahasa
Bugis umumnya di Sulawesi Selatan, terutama di kabupaten Maros, Pangkajene dan kepulauan,
Barru, Majene, Luwu, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo, Bone, Sinjai, Pinrang, Parepare.
Bahasa Bugis juga dipertuturkan di sebagian wilayah di kabupaten Enrekang, Majene,
dan Bulukumba. Dalam bahasa Bugis, bahasa disebut Basa Ugi dan suku Bugis disebut
To Ugi. Menurut mitos, istilah Ugi diambil dari nama La Sattumpugi, raja
pertama Cina kerajaan kuno di tanah Bugis. To Ugi diartikan “pengikut La
Sattumpugi”. Hanya sedikit diketahui sejarah awal bahasa Bugis. Catatan paling
awal adalah Sureq Galigo. Sumber tertulis lain adalah Lontara. Catatan sejarah
Lontara paling awal berasal dari sekitar abad ke-17. Bahasa Bugis terdiri beberapa
dialek. Kosakata dialek Pinrang dan Sidrap menyebut “loka” untuk
pisang, sementara dialek Bugis lain menyebut “otti” atau
“utti”. Dialek Sinjai setiap bahasa Bugis menggunakan huruf ‘w’
diganti dengan ‘h’, seperti ‘diawa’ menjadi ‘diaha’. Huruf ‘c’, dalam dialek
Sinjai berubah menjadi ‘sy’ seperti ‘cappa’ (ujung) menjadi ‘syappa’.
 (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Bugis di
Sulawesi Selatan dan ragam dialek? Seperti disebut di atas, bahasa Bugis
terutama di wilayah Sulawesi Selatan dengan ragam dialeknya. Bahasa Bugis kini
ditemukan di berbagai wilayah. Seberapa dekat bahasa Makassar dengan bahasa
Bugis? Lalu bagaimana sejarah bahasa Bugis di Sulawesi Selatan dan ragam dialek?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

Bahasa Bugis di Sulawesi Selatan dan Ragam Dialek;
Seberapa Dekat Bahasa Makassar dengan Bahasa Bugis

Pada masa ini, selain bahasa
Melayu yang telah membentuk bahasa Indonesia, ada sejumlah bahasa yang telah
penuturnya menyebar jauh dari pusat budayanya seperti bahasa Jawa, bahasa
Madura, bahasa Bugis dan bahasa Batak. Bahasa Bugis berdasarkan data statistic terakhir,
penutur bahasa Bugis, selain terkonsentrasi di wilayah Sulawesi Selatan juga penutur
bahasa Bugis cukup signifikan di wilayah-wilayah seperti Sulawesi Tenggara,
Kalimantan Timur. Sulawesi Tenganga, Sulawesi Barat, Riau dan Jambi. Bagaimana itu
terjadi, itu satu hal. Dalam hal ini bagaimana sejarah bahasa Bugis menarik
diperhatikan. Karena sejarah pembentukan bahasa Bugis menjadi pendahulu penyebaraan
bahasa Bugis.


La Galigo ditulis dalam aksara Lontara. Sementara catatan tentang
Kerajaan Gowa ditulis dalam Lontara Bilang-Bilang (lihat Bijdragen tot de
taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1878). La Galigo sendiri
paling tidak diketahui telah diterjemahkan belum lama (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 09-08-1905). Kapan La Galigo ditulis dalam aksara Lontara tidak
diketahui secara pasti. Namun yang jelas bahwa catatan (sejarah) Gowa ditulis
dengan Lontara Baling-Baling pada era Kerajaan Gowa.
Aksara Bilang-Bilang sejatinya bukanlah aksara Lontara. Aksara Lontara sendiri
sudah terbentuk lama. Aksara Bilang-Bilang mengadaptasi bilangan Arab dengan
membuat aksara baru yang disebut aksara Bilang-Bilang (Lontara Bilang-Bilang).
Aksara Lontara diduga berasal dari zaman lampau yang mirip dengan aksara-aksara
di wilayah utara seperti Minahasa dan Filipina. Masuknya pengaruh Islam di
Makassar pada era Kerajaan Gowa diduga menjadi awal munculnya Lontara
Bilang-Bilang. Dalam hal ini Lontara Bilang-Bilang adalah sandi aksara Lontara
yang digunakan dalam sastra di Makassar untuk penulisan genre tertentu disertai
dengan waktu kejadian. Aksara Lontara dan Lontara Bilang-Bilang sama-sama
diakrtik. Lontara Bilang-Bilang ini mirip abjad Arab yang pernah digunakan di
Asia Selatan abad 19 M di wilayah Pakistan dan Afghanistan.

Banyak penulis tempo doeloe
yang menyatakan bahwa kerajaan pertama di Sulawesi (selatan) adalah Kerajaan
Luwu (Loeboe, Lubuk, Luwuk). Nama Luwu sendiri paling tidak sudah
diidentifikasi dalam teks Negarakertagama 1365. Dalam teks ini juga sudah
diidentifikasi nama-nama Makassar, Boeton, Bontaeng dan Selajar. Tentu saja
pada masa itu kerajaan Gowa(-Tallo) belum terbentuk yang berpusat di Makassar.
Dalam hal ini di dalam La Galigo diceritakan kisah penciptaan
.


Kapan (kota, kerajaan) Luwu terbentuk tidak diketahui secara pasti.
Keterangan yang diduga berhubungan dengan munculnya peradaban baru (di
Sulawesi) adalah prasasti Seko (Toraja) dan prasasti Watu Rerumeran di
Minahasa. Prasasti-prasasti tersebut berada di pedalaman di dekat gunung-gunung
dan danau-danau pedalaman. Prasasti Seko tidak jauh dari pegunungan Latimojong,
gunung Balease, gunung Gandangdewata, gunung Pompangeo, gunung Bulu Kandela,
gunung Buyu Lumut, gunung Tumpu dan gunung Torompupu serta danau-danau Poso,
Matano dan Towuti. Sementara prasasti Watu Rerumeran di gunung Empung, gunung
Lokon serta danau Tondano. Prasasti-prasasti ini mengindikasikan federasi dari
beberapa kerajaan awal di dua wilayah budaya awal. Federasi kerajaan-kerajaan
ini sebagaimana di Seko direpresentasikan sebagai daliang. Dua prasasti ini
juga mengindikasikan adanya konsep religi (pemujaan terhadap leluhur) dan
keutamaan kesuburan (lingga dan yoni). Satu-satunya sumber tertua yang terdekat
(ruang dan waktu) dengan dua prasasti Sulawesi ini adalah prasasti di teluk
Manila pulau Luzon (prasasti Laguna bertarih 900 M). Dalam prasasti Laguna
disebutkan raja yang termasyhur yang berada di Binwangan yang menguasai
kerajaan-kerajaan yang ada di teluk Manila. Nama yang mirip dengan Binwangan
ini juga pada masa kini ditemukan di Toraja dan Minahasa serta teluk Manila
yakni Minanga. Nama yang mirip Binwangan atau Minanga juga ditemukan di pulau
Seram (Binaiya). Nama yang mirip yang usianya lebih tua ditemukan pada prasasti
Kedukan Bukit (682 M). Lalu apakah ada garis continuum peradaban awal di utara
khatulistiwa dari pantai timur Sumatra di barat hingga di timur di pulau-pulau
di Maluku seperti pulau Halemahera, pulau Morotai. Peradaban awal yang menjadi pendahulu
peradaban di wilayah selatan Sulawesi?

Kerajaan Luwu yang berawal dari munculnya peradaban
baru di Sulawesi diduga kuat adalah era yang membedakan era pra-Bugis (Luwu)
dan era Bugis (Makassar). Seperti disebut di atas, pendahulu era pra-Bugis
(Luwu) adalah wilayah-wilayah di utara khatulistiwa. Lalu pada era Luwu kemudian
terbentuk kebudayaan baru seperti religi (pemujaan terhadap leluhur), bahasa,
aksara, seni (bangunan dan sebagainya) dan sistem pemerintahan tradisi yang
berbentuk federasi (daliang). Munculnya religi inilah kisah penciptaan di dalam
La Galigo yang mana dunia terbagi tiga: atas, tengah dan bawah.


Jika memperhatikan arah rute navigasi pelayaran dari utara, Kerajaan Luwu
diduga berada di pantai timur (sisi timur danau Towuti) kemudian bergeser ke
sisi barat danau di teluk Bone. Demikian juga halnya dengan Toraja awalnya di
pantai barat bergeser ke pedalaman yang menjadi kawasan yang berdekatan dengan
Luwu (Luwu-Toraja). Hal ini juga di wilayah utara Minahasa awalnya di pantai
utara kemudian bergeser ke pedalaman dan pantai selatan. Pada saat Luwu di pantai
timur, Toraja di pantai barat dan Minahasa di pantai utara, juga bersamaan
terbentuk peradaban baru di wilayah Maluku (Gigolo di utara dan Seram di
selatan). Terbentuknya Ternate dan Amboina diduga kuat sejaman dengan terbentuknya
Manado, Bugis, Bouton dan Makassar.

Dalam teks La Galigo diceritakan awal dari dunia
yang kosong dan turunnya Batara Guru ke bumi. Manusia pertama ini turun di
daerah Luwu yang mana Batara Guru sebagai raja digantikan oleh anaknya, La
Tiuleng bergelar Batara Lattu’. La Tiuleng atau Batara Lattu’ punya anak
kembar, yakni Sawérigading dan Wé Tenriabéng yang keduanya dibesarkan terpisah
yang kemudian mereka baru bertemu lagi saat menginjak usia dewasa. Sawérigading
terpesona dan jatuh hati pada saudara kembarnya. Sawérigading pun berniat menikahi
Wé Tenriabéng. Namun itu dihambat untuk menghindari kawin semarga.


Kisah ini bermula ketika Raja Di Langit, La Patiganna [Batoegana]
mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa
[Sriwijaya] dan Peretiwi [Portibi] dari alam gaib dan membuat keputusan untuk
melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge’ Langi’ [Ompu Toga Langit] menjadi
Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge’ Langi’ kemudian
menikah dengan sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng [Sialang],
Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia
harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu
ia turun ke bumi, yaitu di Ussu’, sebuah daerah di Luwu’ [Loeboe Raja atau Lubuk
Raya].

Kisah itu lebih lanjut diceritakanlah bahwa kasih
yang tak sampai ini kemudian menyebabkan Sawérigading pergi merantau ke
Tiongkok. Sawérigading bertemu putri yang berwajah sama persis dengan saudari
kembarnya, bernama Wé Cudaiq, anak seorang raja. Lahirlah anak laki-laki
sebagai buah cinta dan perkawinan mereka. Anak laki-laki inilah kemudian diberi
nama ‘La Galigo’. Sawérigading dengan Wé Cudaiq kembali ke Luwuk, namun kapal
yang dinahkodainya karam. Mereka berdua lantas menjadi penguasa ‘dunia bawah’.
Sedangkan saudari kembarnya Wé Tenriabéng naik ke alam dewa atau ‘dunia atas’.
Tak berselang lama setelah itu, semua manusia pertama itu dipanggil kembali
pulang ke alam Dewata dan meninggalkan La Galigo dan saudara lainnya di ‘dunia
tengah’ dan menjadi penguasa di Luwuk.


Kisah penciptaan dalam La Galigo mirip dengan kisah penciptaan yang
terdapat di Tanah Batak tentang dunia ginjang, dunia tonga dan dunia toru.
Meski pembagian dunia ini bersifat umum (era Hindoe Boedha), namun ada beberapa
nama yang mirip yakni gunung Loeboe Raja dan gunung Malea di Angkola
Mandailing. Hal mirip lainnya adalah Raja Di Langit (Raja Langit); La Patiganna
(Batoegana); Senrijawa (Sriwijaya); Peretiwi [Portibi]; La Toge’ Langi’ [Ompu
Toga Langit], Raja Alekawa; We Nyili’timo’; Guru ri Selleng [Sialang], Ussu’
(Pusuk); Luwu’ [Loeboe Raja]; La Tiuleng (Tulang atau Tolang); Batara Lattu’
(Raja Lottung); Sawérigading (Oedjoenggading); Wé Tenriabéng.

Bagaimana La Galigo ditulis dalam aksara Lontara dapat diangap sebagai asal-usul
bahasa dan aksara Bugis. Hikayat La Galigo adalah sejarah La Galigo. Lontara
adalah sejarah bahasa dan aksara itu sendiri. Jika La Galigo ditulis dalam
aksara Lontara, lalu bahasa apa yang digunakan? Ada yang berpendapat La Galigo
baru ditulis dalam aksara Lontara pada abad ke-19 dan ceritanya sendiri berasal
dari abad ke-15.


Yang menjadi pertanyaan dalam hal ini sejak kapan aksara Lontara terbentuk?
Sejak kapan bahasa Bugis (yang dicatat dalam Lontara) terbentuk? Sebagai
perbandingan: aksara Jawa baru (yang dipahami sekarang) berbeda dengan aksara
yang diugunakan dalam teks Negarakertagama (1365) di era Majapahit. Aksara
Intjung yang dipahami di Kerintji berbeda dengan aksara yang digunakan dalam
teks Tanjung Tanah (1386). Aksara Batak pada makam-makam tua yang ditemukan di
wilayah Padang Lawas (Angkola Mandailing) yang berasal dari abad ke-15 berbeda
dengan aksara yang digunakan dalam prasasti-prasasti Padang Lawas.

Lalu bagaimana kedudukan aksara dan bahasa Lontara
dalam konteks aksara dan bahasa di wilayah nusantara. Selepas era Hindoe-Boedha,
terbentuk aksara-aksara nusantara diantaranya aksara Jawa dan aksara Batak
(Sumatra).


Pusat peradaban di Sumatra terutama di Padang Lawas dan pusat peradaban
di Jawa (barat, lalu ke tengah dan akhirnya ke timur/era Majapahit). Meski
berasal dari aksara yang sama, antara aksara di Jawa dan aksara di Sumatra ada
perbedaan. Namun aksara di utara khatulistiwa yakni aksara di Sumatra (aksara
Batak Angkola Mandailing) terkesan ada kemiripan satu sama lain dengan aksara
di Sulawesi.

Bagaimana dengan soal asal usul bahasa-bahasa di
Sulawesi, termasuk dalam hal ini bahasa Bugis?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Seberapa Dekat Bahasa Makassar dengan Bahasa Bugis:
Ragam Dialek Bahasa dan Aksara Tradisi

Perhatian terhadap bahasa Bugis baru mulai dilakukan
pada era Pemerintah Hindia Belanda. Perhatian ini dilakukan setelah mempelajari
bahasa Melayu dan bahasa Batak yang kemudian berlanjut pada perhatian pada bahasa-bahasa
Jawa, Sunda, Lampong, Bali dan Bugis. Salah satu ahli bahasa yang dikirim ke
wilayah Bugis di Sulawesi Selatan adalah Dr Matthes.


Penunjukan Dr Matthes untuk menyelidiki bahasa Bugis dan bahasa Makssar
di wilayah Sulawesi Selatan muncul pada tahun 1847 (lihat Rotterdamsche courant,
25-11-1847). Disebutkan Nederlandsen Bijbelgenootschap baru-baru ini
memutuskan, berdasarkan laporan yang baik dan mendalam dari Profesor Veth di
Amsterdam, untuk mengirim orang ke Hindia Timur untuk melatih diri mereka dalam
bahasa Makasar dan Bugis serta bahasa Batak, untuk menerjemahkan bahasa
tersebut. Serikat sekarang telah menemukan orang yang benar-benar cocok untuk
misi ke Makasar dalam diri sub-direktur yang berpengetahuan luas di rumah
misionaris di Rotterdam, juga sangat berpengalaman dalam studi bahasa Timur, BF
Matthes, pendukung Evangelis Lutheran.
 

Dr Matthes mempelajari bahasa Makassar dan bahasa
Bugis tidak hanya bersumber secara lisan pada penduduk di Sulawesi Selatan, Dr Matthes
juga menggunakan sumber tertulis yang menggunakan akasa Lontara. Konon Lontara La
Galigo ditulis sejak abad ke-14.


Aksara Makassar (alias Ukiri’ Jangang-jangang
dalam bahasa Makassar) adalah salah satu aksara historis Indonesia yang pernah
digunakan di Sulawesi Selatan untuk penulisan bahasa Makassar antar abad 17 M
hingga abad 19 M ketika fungsinya tergantikan oleh aksara Lontara Bugis.
Aksara Makassar adalah sistem tulisan abugida
yang terdiri dari 18 aksara dasar. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap
konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/ yang dapat
diubah dengan pemberian diakritik tertentu. Arah penulisan aksara Lontara
adalah kiri ke kanan. Aksara ini ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio
continua) dengan tanda baca yang minimal. Suku kata mati, atau suku kata yang
diakhiri dengan konsonan, tidak ditulis dalam aksara Makassar, sehingga teks
Makassar secara inheren dapat memiliki banyak kerancuan kata yang hanya dapat
dibedakan dengan konteks.
Aksara
Lontara, juga dikenal sebagai aksara Bugis, aksara Bugis-Makassar, atau aksara
Lontara Baru adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Aksara ini terutama digunakan untuk
menulis bahasa Bugis, Mandar, dan Makassar, tetapi dalam pekembangannya juga
digunakan di wilayah lain yang mendapat pengaruh Bugis-Makassar seperti Bima di
Sumbawa timur dan Ende di Flores dengan tambahan atau modifikasi
. Aksara ini merupakan turunan
dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi.
Aksara Lontara aktif digunakan sebagai tulisan
sehari-hari maupun sastra Sulawesi Selatan setidaknya sejak abad 16 M hingga
awal abad 20 M sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf
Latin
. (Wikipedia)

Dari berbagai aksata yang pernah eksis di nusantara
seperti Pallawa, Kawi, Sunda, Rencong dan Batak, sejatinya aksara Lontara mirip
aksara yang mana? Dalam daftar aksara nusantara, secara grafis aksara terbagi dua:
aksara Pallawa dan Jawa dan lainnya; aksara Lampong dan Batak dan lainnya
termasuk aksara Bugis-Makassar. Dalam hal ini aksara di Sulawesi selatan terkesan
berbeda dengan aksara di Lombok, Bali dan Jawa. Aksara di Sulawesi (hingga di
Filipina) justru lebih dekat dengan aksara di Sumatra.


Studi tentang aksara di nusantara sudah dimulai sejak era Dr NH van der
Tuuk dan Dr Matthes (1850an). KF Holle tahun 1880 telah mengumpulkan semua
aksara yang terdapat di nusantara (lihat Tabel Oud en Nieuw Indisch Alphabetten:
Bijdrage tot de Palaeographi van Nederlandsch Indie (Bruining en Co, 1882). Aksara-aksara
inilah kemudian yang digunakan oleh para ahli untuk mempelajari aksara-akasara
di Indonesia hingga sekarang. Tabek (Schröder, 1927)

Pada tahun 1927 Schröder, seorang Jerman menemukan
ada keimiripan aksara Funisia dengan aksara Batak (lihat
A Phoenician Alphabet on
Sumatra
by EEW Gs Schröder ini Journal of the American
Oriental Society, Vol. 47
, 1927). Sebagaimana diketahui bangsa Fenisia atau Funisia (Phoenices) adalah bangsa kuno
yang pernah menguasai pesisir Laut Tengah. Mereka berasal dari wilayah Timur
Tengah, atau sekarang di Lebanon
dan Suriah.


Penemuan aksara oleh Schröder tentulah menarik perhatian dunia internasional di bidang linguistic dan
aksara. Jarak antara Laut Tengah dan pantai barat Sumatra sangat berjauahan.
Selama ini dipahami bahwa dari dua kelompok aksara Semit Utara yang terdiri
dari aksara Aramee dan aksara Fenesia. Aksara Aramee diduga yang menurunkan
aksara Jawa melalui aksara Pallawa dan ke atas aksara Brahmi. Sedangkan aksara
Fenesia (silabis) menurunkan aksara Yunasi (alfabet) hingga ke aksara Latin. Jika
kesimpulan
Schröder benar bahwa aksara Fenesia
mirip bahasa Batak, maka aksara-aksara di nusantara berasal dari sumber yang
berbeda. Seperti disebut di atas, aksara Jawa di satu sisi dan aksara Batak di
sisi lain berbeda, lalu apakah aksara Bugis Makassar juga sudah berumur tua?

Lalu bagaimana aksara Batak dan aksara Bugis
Makassar mirip?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post
Where to go in Golden Week: Koinobori Festival &  Street Jazz Festival at Takatsuki, Osaka

Sejarah Bahasa (12): Bahasa Banjar, Selatan Kalimantan; Bahasa Minangkabau Sumatra, Betawi di Jawa, Bahasa Iban Borneo Utara

Inilah Rekomendasi Toko Elektronik Terdekat di Cibubur yang Berkualitas

Iklan

Recommended Stories

Boleh Saya Pinjam 25 Dollar?

29.10.2011
Wahai Sufyan, Janganlah Engkau Isbal !

Wahai Sufyan, Janganlah Engkau Isbal !

19.03.2016

Hadits Tentang Menuntut Ilmu

09.10.2019

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?