Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Tata Kota Indonesia (3): Batavia Tempo Dulu Jakarta Masa Kini, Bagaimana Bermula? Peta Tata Kota Batavia Pertama

Tempo Doelo by Tempo Doelo
02.07.2023
Reading Time: 11 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Batavia
adalah nama wilayah di Belanda, yang kemudian ditabalkan sebagai nama benteng
Belanda/VOC di hilir sungai Tjiliwong. Itu dimulai tahun 1619. Pembangunan
benteng Batavia tidak hanya soal benten in situ, tetapi juga benteng dijadikan
bagian dari suatu rencanan kota. Artinya, benteng hanya akan menjadi fungsi pertahanan
jika terdapat ancaman dan serangan benar-benar terjadi. Dalam konteks inilah
sejarah awal Batavia dimulai (yang kelak Namanya disebut Jakarta).


Tanggal 30 Mei 1619, Penaklukan Jayakarta dan
Berdirinya Batavia yang Kini Jadi Jakarta. Merdeka.com. 30 Mei 2021. Pendirian
kota Batavia tidak lepas dari peran Jean Pieterzoon Coen. Meskipun sebelumnya
Jayakarta, dikuasai dan dibangun oleh Pangeran Fatahillah, namun situasi dan
kondisi Jayakarta tidak seperti pada masa pengelolaan JP Coen. Setelah
Jayakarta dikuasai VOC, melalui kebijakan ekspedisi militer yang dirancang oleh
JP. Coen, keadaan kota Jayakarta perlahan meningkat dalam bidang sosial maupun
ekonomi. Di atas reruntuhan kota dibangun kota dengan pola dan tata letaknya
meniru kota di negeri Belanda. Rancangan kota tersebut membentuk fortalezza
berbentuk kotak di bagian depan dari benteng digali parit. Di bagian
belakangnya terdapat berbagai bangunan dan gudang yang juga dikelilingi oleh
parit, pagar besi dan tiang-tiang yang kokoh. Benteng ini pada mulanya akan
difungsikan sebagai kastil dan pusat perdagangan yang di masa kemudian akan merangkap
sebagai pusat pemerintahan merangkap sebagai tempat para pegawai kompeni.
Pembangunan ini merupakan cikal bakal dari berdirinya kota dengan lambang
sebilah pedang dan perisai yang dikenal dengan nama Batavia. Batavia adalah
nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh
menjadi Jakarta yang merupakan ibu kota dari Indonesia. Sebelum dikuasai
Banten, bandar ini dikenal sebagai Sunda Kelapa yang merupakan salah satu titik
perdagangan di Kerajaan Sunda.
(https://www.merdeka.com/) 

Lantas bagaimana sejarah Batavia tempo doeloe
Jakarta masa kini, bagaimana bermula? Seperti disebut di atas, kota Batavia
bermula tahun 1619 dimana benteng dibangun yang diintegrasikan dengan
pengembangan suatu kota baru. Peta tata kota Batavia pertama dibuat oleh
Jean Pieterzoon Coen. Lalu
bagaimana sejarah Batavia tempo doeloe Jakarta masa kini, bagaimana bermula? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Batavia Tempo Doeloe Jakarta Masa Kini, Bagaimana
Bermula; Peta Tata Kota Batavia Pertama

Sunda Kelapa (Cunda Calapa)
dari catatan
Cornelis de Houtman (Peta 1597) dan Iacatra dari peta Portugis Peta
No.19 (1619) mengindikasikan dua nama untuk menunjukkan
dua kota di wilayah yang sama. Pelaut Portugis sudah mendarat di Malacca tahun 1508 dan menguasainya
tahun 1511. 
Dalam literatur Portugis, satu sumber yang cukup
detail menggambarkan situasi dan kondisi umum di Jawa adalah buku Tome Pires
(1512-1515). Tome Pires menyebut nama pelabuhan (port) Calapa. Penyebutan nama
Cunda Calapa baru ditemukan dalam laporan Duarte Barbosa (1518). Sedangkan nama
Jacatra baru muncul dalam laporan Joao de Barros (1527). Joao de Barros di
dalam laporannya menyebut di pantai utara Jawa terdapat tujuh pelabuhan
penting, yakni: Chiamo, Xacatara, Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang dan
Bantam.


Penulis-penulis geografi Belanda mengidentifikasi Chiamo sebagai
Tjimanoek (Indramajoe), Xacatara sebagai Jacatra, Caravam sebagai Karawang,
Tangaram sebagai Tangerang, Cheguide (Tjikande), Pondang (Pontang) dan Bantam
(lihat Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1906, 01-01-1906). Dari
keterangan ini, dapat diinterpretasi, sudah tentu nama Jakarta sudah ada jauh
sebelum tahun 1527. Nama Sunda Kelapa baru disebutkan kemudian sebagai pelabuhan
Sunda dari Pajajaran di Pakuan (kini Bogor) yang beragama Hindu. Pelabuhan ini
diserang Demak (Cheribon da Banten) yang beragama Islam dibawah pimpinan
Fatahillah 1526. Di bawah kekuasaan Demak, disebutkan Sunda Kelapa berganti
nama menjadi Jayakarta. Oleh karena itu nama tempat yang dimaksud harus dilihat
dari dua sisi: dari sisi Pajajaran disebut Sunda Kelapa dan dari sisi Demak/Banten
disebut Jayakarta. Dua nama ini terus eksis dan saling dipertukarkan.
 

Pelaut-pelaut Belanda baru muncul satu abad setelah
kehadiran Portugis. Setelah kehadiran Belanda di bawah pelaut Cornelis
de Houtman, lalu kemudian pelaut-pelaut
Belanda tahun 1602 membuka pos perdagangan di Banten, lalu pindah ke Ambon,
kemudian Sulawesi Selatan, lalu ke Banten lagi dan akhirnya menetap di Batavia
tahun 1619. Ini berarti buku ‘Itinerarivm, ofte schipvaert naer Oost ofte
Portugaels Indien’ sudah beredar luas sebelum Belanda di Batavia. Ini juga
berarti peta kuno 1619 bersamaan munculnya dengan Batavia ditetapkan sebagai
markas VOC (Belanda).
 


Peta tahun 1619 (berbahasa Portugis) boleh jadi merupakan peta kuno
paling lengkap tentang
navigasi pelayaran
perdagangan dunia. Informasi seluruh
nusantara (Oost ofte Portugaels Indien) dari Birma hingga Papua dan dari Luzon
hingga Timor terdapat pada Peta No.19. Dalam peta ini satu nama yang tercatat
di Teluk Jakarta adalah Icatra (Jacatra).
Sedangkan buku kono paling
lengkap tentang identifikasi nama-nama tempat di dunia adalah berjudul
‘Itinerarivm, ofte schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indien’ yang terbit di
Amsterdam tahun 1614. Buku berbahasa Belanda ini masih dicetak dengan huruf
gothiek. Buku ini besar kemungkinan juga merujuk pada jurnal Belanda tahun 1598
berjudul: ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost
Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent
zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent…’. Jurnal ini sepenuhnya
berisi catatan hari demi hari tentang ekspedisi yang dilakukan oleh Cornelis de
Houtman yang dimulai pada tanggal 2 April 1595 dengan total 249 pelaut. Di
dalam jurnal ini juga berisi beberapa peta termasuk peta Pulau Jawa yang dibuat
pada tahun 1597 dimana dalam peta ini terdapat dua nama tempat yang berdekatan
di Teluk Jakarta: Bantam (Banten) dan Cunda Calapa (Sunda Kelapa).
Penulis-penulis Portugis
selanjutnya, pelabuhan Kalapa adakalanya ditulis sebagai pelabuhan Sonda Calapa
(Soenda Kalapa). Penyebutan Kalapa menjadi Soenda Kalapa menjadi lebih intens
setelah pendudukan Demak hingga menjelang kehadiran pelaut-pelaut Belanda yang
dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597).
Nama Kalapa (Xalapa) juga
ditemukan di Mexico sebagai pelabuhan penting. Tidak jelas mana yang lebih dulu
Kalapa di timur atau Xalapa di barat. Dua pelabuhan ini berada di wilayah
(dekat) tropis. Faktor Portugis (sebelum kedatangan Spanyol) sangat pnting di
dua pelabuhan yang berjauhan.

Nama Xunda Kalapa diduga adalah nama kuno (era
Hindoe/Boenda). N
ama
Jakarta
(Iacatra; Portugis) dalam hal
ini
sudah eksis sebelum 1527. Dengan kata lain sejak
kehadiran
Demak
pada tahun 1527
muncul nama
Jayakarta
. Penaklukkan
Jakarta mengakibatkan (pusat) kerajaan Jakarta berganti rezim, dari rezim lama
menjadi rezim (asal) Demak. Kerajaan Jakarta sebelum dan sesudah berganti
rezim, pelabuhannya adalah Kalapa. Oleh karena itu, pelabuhan Kalapa adalah
pelabuhan Jakarta (sesuai Joao de Barros: Xacatara).


Pelabuhan
Kalapa tidak hanya digunakan oleh (kerajaan) Jakarta, tetapi juga oleh kerajaan
di Tanah Soenda, Pakwan-Padjadjaran. Dalam hal ini, pelabuhan Kalapa adalah
pelabuhan internasional yang mana Jakarta dan Pakwan-Padjadjaran memiliki
akses. Kerajaan Jakarta melalui akses air (sungai) Tjiliwong (sisi timur sungai
Tjiliwong). Sedangkan Kerajaan Pakwan-Padjadjaran melalui akses darat (sisi barat
sungai Tjiliwong)
. Pakwan-Padjadjaran,
sebagai kerajaan besar yang berpusat di Bogor sekarang, memiliki banyak akses
menuju laut (pelabuhan): ke pantai selatan melalui Tjimandiri ke Pelabuhan Ratu
sekarang; ke pantai utara, yakni Chiamo (Cimanuk/Indramayu), Xacatara (Kalapa
Jakarta melalui sungai Ciliwung), Caravam (Karawang melalui sungai Cibeet),
Tangaram (Tangerang melalui sungai Cisadane), Cheguide (Cikande melalui sungai
Tjikande atau sungai Tjidoerian), Pondang (Pontang) dan Bantam (Banten).
Kerajaan Jakarta diduga adalah kerajaan kecil yang menjadi vassal dari Kerajaan
Pakwan-Padjadjaran (yang menjadi sebab pelabuhan Kalapa dipandang sebagai
pelabuhan bersama).
Akses kerajaan Pakwan-Padjadjaran ke laut/pelabuhan melalui sisi barat
sungai Tjiliwong. Jalan akses ini merupakan jalan kuno yang kini dikenal
melalui Kedong Badang, Tjileboet, Bodjongmanggis/Bodjong Gede,
Pondokterong/Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Sringsing/Lenteng-agoeng,
Tandjoeng/Pasar Minggu, Menteng, Tjikini, terus ke Soenda Kalapa. Jalan akses
ini tidak pernah memotong sungai, jalan ini berada diantara sungai Tjiliwong
dengan sungai Kroekoet (bermuara di setu Tjitajam di Pondokterong).

Dalam ekspedisi Belanda berikutnya tiba di pulau Sumatra pada tanggal 13 Desember
1604
. Lalu pada tanggal 17 Januari
1605 kapal-(kapal) Belanda menyingkir dari Banten dan bergerak ke kepulauan
Maluku. Sebelum ke Maluku mereka singgah di Jacatra dan tanggal 15 Februari
tiba di Bima. Ini mengindikasikan nama Jacatra
juga sudah dicatat Belanda. Pada ekspedisi pertama
Belanda hanya mencatat nama pelabuhannya saja (Cunda Calapa). Ini
mengindikasikan pemahaman mereka di seputar muara sungai Tjiliwong semakin
meningkat. Pelabuhan Cunda Calapa berada di sisi barat muara sungai Tjiliwong,
sedangkan (pusat kerajaan) Jacatra berada agak ke pedalaman (di sekitar Mangga
Dua sekarang).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Peta Tata Kota Batavia Pertama: Dibuat Sendiri Jean
Pieterzoon Coen

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetSendShare
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Sejarah Tata Kota Indonesia (4): Tata Kota Baru di Weltevreden Era Daendels; Kota Kuno di Batavia - Kota Baru di Weltevreden

20 Daftar Restoran Enak & Terpopuler di Bekasi Bikin Ketagihan

Iklan

Recommended Stories

Women Who Dared to Invent

22.10.2010

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album I: Sungai di sekitar beberapa perkebunan

20.12.2020

Foto-foto dari sebuah perkebunan tembakau di awal abad ke-20 (1)

24.04.2024

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Pinocchio OST (2014)

Pinocchio OST (2014)

24.01.2026
Yoon Seo Bin – HOW COULD I LIVE WITHOUT YOU (Kissable Lips OST Part.4)

Yoon Seo Bin – HOW COULD I LIVE WITHOUT YOU (Kissable Lips OST Part.4)

24.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Chord Lirik
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Review
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains
  • Terjemahan Lagu

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?