*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini
Pada
masa ini persentase penduduk di wilayah Banyuwangi beragama Islam sebesar 84,37
persen dari keseluruhan penduduk. Persentasi kedua adalah agama Hindu sebesar 13,23
persen. Gambaran seakan Banyuwangi dalam banyak hal begitu dekat dengan (pulau)
Bali. Dalam sejarah agama, di wilayah Banyuwangi, seperti halnya di Jawa bagian
lainnya, umumnya Hindu. Masuknya agama Islam ke Jawa juga pada akhirnya
mencapai wilayah Banyuwangi (pada era VOC). Bagaimana dengan keberadaan masjid?

Masjid
Baiturrahman Banyuwangi adalah sebuah masjid yang berada di Banyuwangi, kabupaten
Banyuwangi. Latar belakang berdirinya masjid ini dimulai sejak tanggal 7
Desember 1773, hal ini berdasarkan data pada surat wakaf yang berupa denah
gambar arsitektur masjid dari keluarga besar Raden Tumenggung Wiraguna I—Bupati
pertama Banyuwangi. Masjid ini sejak awal pembangunan setidaknya mengalami
beberapa renovasi, yakni pada tahun 1844, 1971, 1990, dan tahun 2005. (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah agama Islam di wilayah
Banyuwangi? Seperti disebut di atas, penyebaran agama Islam di wilayah Banyuwangi
bermula pada era VOC. Salah satu penanda navigasi sejarah adalah keberadaan
masjid. Pada masa ini masjid Baiturrahman di kota Banyuwangi disebut masjid tertua.
Lalu bagaimana sejarah agama Islam di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Agama Islam di Wilayah Banyuwangi; Masjid Baiturrahman
Masjid Tertua di Kota Banyuwangi
Sebelum membicarakan pendirian masjid di wilayah
Baanjoewangi, ada baiknya membicarakan lebih dahulu masuknya agama Islam di
wilayah Banjoewangi di ujung timur pulau Jawa. Yang mana ini bermula ketika kota
Banjoewangi belum terbentuk, masih ada kehidupan Hindoe di seluruh wilayah dimana
pusat kerajaan di kota (stad) Balambangan (tidak jauh dari teluk Balambangan).
Dalam laporan Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi pertama Belanda ke
Hindia Timur (1595-1597), ketika dalam pelayaran dari Zunda Kalapa menuju
Maluku di sekitar perairan Japara (sekitar Rembang) bertemu dengan utusan
Balambangan yang meminta bantuan mereka untuk menghalangi ancaman Mataram
(Islam). Cornelis menolak karena tujuan mereka hanya semata-mata ke Maluku.
Namun situasi kondisi berubah, saat mana mereka berada di Laut Bali (selepas
pulua Madura), salah satu kapal mereka rusak dan harus memutar balik di laut
Sape di timur pulau Lombok untuk kembali ke Eropa. Kapal yang rusak kemudian dditenggelamkan
dengan membakat di selatan pulau Lombok. Sebelum pulang mereka singgah di
pantai timur Bali (kini Padang Bai). Cukup
lama singgah karena radja Bali menerima mereka dengan baik. Pada saat pulang
dua pelaut mereka ditinggalkan di Bali dan mereka kembali melalui pantai utara
Bali dan berbelok ke selatan melalui selat Balambangan. Besar dugaan
pelaut-pelaut Belanda telah memberi bantuan kepada kerajaan Balambangan.
Jauh sebelum kehadiran Belanda di kawasan selat
Balambangan, sudah lama kehadiran misionaris Portugis di wilayah Balambangan di
lereng gunung, di barat laut kota Banyuwangi yang sekarang. Gunung tersebut
dalam peta-peta diidentidikasi sebagai Peters Berg. Lalu bagaimana ancaman selanjutnya
di Balambangan dari Mataram?
Di masa lampau pada era Portugis, di barat pulau Jawa, juga ada kehidupan
Hindoe yang berpusat di Pakwan Padjadjaran. Ancaman dari Demak dan Cheribon
terhadap Pakwan Padjadjaran dari dua arah yakni di Tjeribon dan di Banten.
Pengepungan Pakwan Padjadajran dari arah pantai, di wilayah Banjoewangi datang
dari satu arah, yakni dari arah pedalaman. Seperti halnya Pakwan Padjadjaran,
di Balambangan (jalur escape ke pantai selatan Jawa), di wilayah Balambangan
masih ada jalur escape ke perairan (ke arah Bali).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Masjid Baiturrahman Masjid Tertua di Kota Banyuwangi: Pada
Era VOC pusat Relokasi dari Balambangan ke Banjoewangi
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




