*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini
Lain
tempo doeloe, lain pula sekarang. Lain di zaman kuno, lain pula masa nanti.
Tidak hanya populasi penduduk yang berubah, juga wilayah geografis juga berubah
dari masa ke masa. Dalam narasi sejarah masa kini, tidak pernah dinarasikan
sejarah geografi wilayah. Semuanya dianggap tetap (tidak berubah) dari zaman ke
zaman; dari zaman megalitikum hingga ke zaman melenium. Membicarakan sejarah
perubahan geografis, kita sedang berbicara tentang geomorfologis wilayah.

Wilayah
Banyuwangi kini dengan panjang garis pantai 175,8 Km. Jumlah pulau 10 buah. Letak geografis di ujung timur Pulau Jawa. Wilayah
daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang merupakan daerah
penghasil produk perkebunan; dan dataran rendah dengan berbagai potensi produk
hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara
ke selatan yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut. Batas wilayah sebelah utara adalah Kabupaten Situbondo, sebelah
timur adalah Selat Bali, sebelah selatan adalah Samudera Indonesia dan sebelah
barat berbatasan dengan Kabupaten Jember dan Bondowoso. Topografi bagian barat dan utara pada umumnya
merupakan pegunungan, dan bagian selatan sebagian besar merupakan dataran
rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah bagian barat dan utara 40°,
dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian wilayah
lainnya. Daratan yang datar sebagian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang
dari 15°, dengan rata-rata curah hujan cukup memadai sehingga bisa menambah
tingkat kesuburan tanah. Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan
hingga utara dimana di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di
sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga disamping
dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif
terhadap tingkat kesuburan tanah. (https://banyuwangikab.go.id/)
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi wilayah
Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa? Seperti disebut di atas wilayah
Banyuwangi berada di huk garis pantai selatan dan pantai timur (Selat Bali).
Ada gunung Raung, pulau Bali, pulau Alas Purwo. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi
wilayah Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Geomorfologi Wilayah Banyuwangi di Ujung Timur Pulau
Jawa; Gunung Raung, Selat Bali, Pulau Alas Purwo
Banyuwangi dan Blambangan adalah dua hal yang
berbeda. Blambangan adalah nama lama, tempat yang berbeda dengan nama baru
Banyuwangi. Dari dua tempat berbeda masa inilah kita mulai memahami wilayah (kabupaten)
Banyuwangi yang sekarang secara geomorfologis. Kita mulai dengan nama
Blambangan. Dalam artikel sebelumnya, Blambangan adalah kerajaan yang sudah
diketahui sejak masa lampau. Nama Balambangan sudah dicatat dalam teks
Negarakertagama (1365 M).

Pada Peta 1724 ibu kota (stad) Balambangan berada jauh di pedalaman di sisi
selatan hulu sungai (sungai Balambangan). Sungai tersebut diduga kuat adalah
sungai Setail yang sekarang. Kerajaan di wilayah Balambangan tempo doeloe ini
lebih tepat disebut kerajaan yang berada di pantai selatan Jawa (kerajaan
Balambangan) dibandingkan dengan kerajaan di pantai utara (kerajaan Panaroekan).
Apakah itu penting? Dalam hal inilah pentingnya studi geomorfologis. Sementara
itu teluk di tenggara kota Balambangan diidentifikasi teluk Balambangan;
sedangkan pegunungan yang dekat pantai di sebelah utara disebut (gunung)
Balambangan.
Dimana kota Balambangan (diidentifikasi pada Peta
1724) berada sekarang? Apakah di desa Blambangan kecamatan Muncar atau di desa
Kradenan kecamatan Purwoharjo? Yang jelas bukan di (kota) Muncar. Mengapa? Sebab
masih perairan/laut. Kota Muncar yang sekarang merupakan tanah sedimen yang
merupakan daratan baru di sekitar area muara sungai Balambangan.
Masih dalam peta, di bagian luar teluk Balambangan diidietifikasi suatu
pulau (pulau sedimentasi yang bermula dari pulau karang). Pulau karang/sedimentasi
ini kini telah menyatu dengan tanjung di sisi timur teluk. Pulau larang/sedimen inilah yang sekarang
disebut Tanjung Gebang. Dengan demikian, pada masa lampau teluk ini lebih dekat,
rellatif dengan sekarang yang terkesan jauh ke dalam.
Tanjung yang berada di sisi timur teluk Balambangan
(Peta 1724) adalah suatu daratan awal (pegunungan rendah) yang menyatu dengan
area di selatan (kini Kawasan Taman Nasional Alas Purwo). Apa yang menarik
dalam hal ini adalah kawasan yang kini berada di antara teluk Balambangan
dengan pantai selatan Jawa merupakan perairan/laut. Dengan demikian Kawasan Taman
Nasional Alas Purwo yang sekarang dulunya adalah suatu pulau (pulau yang
terpisah dari daratan Jawa).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Gunung Raung, Selat Bali, Pulau Alas Purwo: Lain Dulu
Lain Sekarang
Lain kota Balambangan kuno, lain pula secara
geomorfologis kota baru Banjoewangi. Dalam artikel sebelumnya, nama Banjoewangi
baru teridentifikasi pada tahu 1776. Banjoewangi diduga awalnya adalah suatu
kampong kecil dimana militer VOC membangun benteng (Fort Banjoewangi). Lantas
mengapa di kampong ini yang dipilih oleh pelaut Eropa (Inggris dan Belanda)
sebagai pos perdagangan/militer? Areanya sangat strategis dari arah utara
(selat Bali) dan tidak begitu jauh dengan ibu kota Blambangan di selatan.
Secara navigasi posisi kampong Banjoewangi berada di kawasan selat yang sempit
(kini selat Bali).
Kampong Banjoewangi berada diantara gunung Balambangan di utara dan teluk/kota
Balambangan di selatan. Bagaimana secara geomorfologis kampong Banjoewangi ini?
Berdasarkan Peta 1724 area kampong Banjoewangi hanya bagian dari garis pantai
yang lurus dari utara ke selatan. Namun demikian, kampong Banjoewangi secara
geografis berada di suatu teluk kecil, dimana di teluk kecil bermuara dua buah
sungai kecil (kali Klampok dan kali Telik). Teluk kecil ini boleh jadi memiliki
air yang jernih dan karena itu diduga menjadi asal usul nama (kampong) Banjoewangi.
Pada masa ini, teluk kecil ini telah menjadi daratan, dimana dua sungai kecil
sebelumnya Bersatu membentuk sungai tunggal ke pantai/laut (posisi kampong
Banjoewangi di sisi utara). Kampong Banjoewangi inilah yang diduga benteng VOC berada
yang kemudian menjadi cikal bakal kota Banyuwangi yang sekarang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






