*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini
Kota
Banjar dari masa ke masa dapat dikatakan kota terpenting di perbatasan wilayah
Jawa dan wilayah Sunda. Pada masa ini batas wilayah tepat di batas timur Kota
Banjar (daerah aliran sungai Citandui). Di masa lalu, batas wilayah Banyumas disebut
hanya di daerah aliran sungai Cibeureum. Mengapa berubah, itu satu hal. Mengapa
yang dipilih kemudian batas sungai Citandui hal lain lagi. Namun yang menjadi
pertanyaan dalam hal ini adalah apakah Kota Banjar di masa lampau adalah suatu
pelabuhan laut?

Banjar
sebuah kota di Jawa Barat, di berbatasan dengan Jawa Tengah sehingga disebut
sebagai “gerbangnya Jawa Barat”. Kota Banjar memiliki landscape beragam.
Di bagian utara, selatan dan barat kota merupakan wilayah berbukit-bukit. Kota
ini dibelah oleh Sungai Citanduy di bagian tengah. Kota Banjar terbagi 4
kecamatan, yaitu: Banjar, Langensari, Pataruman, dan Purwaharja. Di era kolonial
Hindia-Belanda, wilayah Banjar bersama dengan Kawasen, Pamotan, Pangandaran,
dan Cijulang masuk wilayah Galuh Imbadanegara dengan Bupati Galuh Imbadanegara
Raden Aria Panji Jayanagara dengan pusat pemerintahan di Imbadanegara Ciamis. Tahun
1815, saat Jawa dikuasai Inggris, Banjar masuk wilayah Sukapura (kini Tasikmalaya)
bersama wilayah di Ciamis bagian selatan. Pada tahun 1936, Banjar masuk kembali
wilayah Ciamis. Selama masa penjajahan, Banjar tumbuh menjadi pusat kegiatan
masyarakat. Letaknya yang strategis menjadikan kota ini sebagai daerah transit
antara wilayah Jawa Tengah dengan Ciamis bagian selatan. Hingga pada tahun 1941
Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Banjar sebagai wilayah kewedanan yang
meliputi Banjar, Cisaga, Rancah, dan Cimaragas. Tahun 1991 status Banjar dijadikan
Kota Administratif dan pada tahun 2003 menjadi daerah otonom baru pemekaran
dari kabupaten Ciamis. (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Kota Banjar, apakah pelabuhan
laut di masa lampau? Seperti disebut di atas, Kota Banjar berada jauh di
pedalaman di daerah hulu sungai Citandui. Permukaan air sungai di Banjar tempo
doeloe cukup tenang dan ketinggiannya kini tidak berbeda jauh dengan wilayah
dataran di pesisir, apakah ini mengindikasikan bahwa tempo doeloe Banjar adalah
pelabuhan laut? Bagaimana dengan geomorfologi wilayah di daerah aliran sungai
Citandui? Lalu bagaimana sejarah Kota Banjar, apakah pelabuhan laut di masa lampau?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Kota Banjar, Apakah Pelabuhan Laut di Masa Lampau?
Geomorfologi Wilayah di Daerah Aliran Sungai Citandui
Seberapa tua nama Banjar di daerah aliran sungai Tjitandoey?
Pada tahun 1815 Raffles melakukan perjalanan darat dari Bandoeng ke Solo
melalui Soekapoera. Dalam perjalanan ini Raffles menyeberang dari Soekapoeran melalui
Dajeuh Loehoer dan Madjenang hingga tiba di Adjibarang. Dalam surat Raffles tidak
disebut nama Bandjar, sudah barang tentu dari Soekapoera (kini Tasikmalaya) ke
Dajeuh Loehoer harusnya melalui Bandjar.
Dalam Peta 1817 diidentifikasi rute perjalanan Raffles dari Singaparna, melalui
Radjapola, kemudian Imbanagara, Chiamis, selanjutnya ke Kwale dan Banche
(diduga Banjar) terus ke Dajeuh Loehoer. Dalam hal ini meski di dalam surat
disebut Soekapoera, tetapi di dalam peta tidak dilewati. Boleh jadi Raffles
mengidentifikasi nama wilayah saja (Soekapoera). Dalam peta yang lebih tua (Peta 1724) nama
wilayah disebut Imbanagara di sebelah timur dan Soekapoera di wilayah barat. Di
wilayah dimana kini Banjar, pada peta tersebut hanya disebut Magara. Di sisi
sebelah timur sungai diidentfikasi Madoera dan di sebelah utara diidentifikasi
Dajeuhloehoer.
Identifikasi nama tempat di dalam peta, biasanya
mengikuti informasi yang diperoleh yang kemudian dipetakan oleh pembuat peta
(kartografi). Informasi bersifat kumulatif sehingga adakalanya dalam peta baru,
nama-nama yang lama yang sejatinya sudah hilang tetap terpetakan. Oleh karena
itu, keberadaan nama suatu tempat tidak sepenuhnya dapat mengandalkan
peta-peta. Dalam hal ini nama tempat dapat berlakuk semasa (dikenal luas)
tetapi pada masa berikutnya telah digantikan oleh nama tempat yang lebih dikenal.
Nama Banjar sendiri paling tidak sudah terinformasikan pada Peta 1817.
Setelah Soesoehoenan menyerahkan Jawa bagian barat di bawah otoritas
Pemerintah VOC, pada masa komandan Jacob Couper (dari Chirebon) telah melakukan
perjanjian di Chirebon dengan Pangeran Soemedang (yang sejak 1677 menempatkan
diri di bawah VOC); Demang Timbanganten (?) yang diangkat menjadi bupati
Bandoeng tahun 1681 oleh komisaris van Dijk; Toemenggoeng Soekapoera dan
Toemenggoeng Galoenggoeng dan Parakan Moentjang; Kijai Imbanagara. Apakah sudah
ada ekspedisi VOC (Couper) ke wilayah Priangan (Preanger) tidak terinformasikan.
Yang jelas pada tahun 1686 adalah tahun terakhir Mataram di wilayah Galoeh (Imbanagara).
Untuk sekadar menambahkan wilayah hulu sungai Tjiliwong dilakukan ekspedisi
pata tahun 1687.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Geomorfologi Wilayah di Daerah Aliran Sungai Citandui:
Dimana Batas Wilayah Jawa dan Wilayah Sunda?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang
(publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



