*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pers dalam blog ini Klik Disini
Apakah ada serikat perusahaan pers Indonesia
pada era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti halnya persatuan wartawan Indonesia
yang tempo doeloe disebut persatoean djurnalis Indonesia (PERDI, juga ada serikat
perusahaan pers yang disebut sarikat pengusaha surat kabar (SPS). O, begitu.
Nah, itu dia! Hanya saja dalam narasi sejarah pers masa ini, jika tidak mau
disebut tidak diinformasikan, ya kurang terinformasikan. Ada adagium, sejarah
pers masa kini lebih hebat jika dibandingkan tempoe doeloe. Benarkah?

Serikat
Perusahaan Pers atau SPS adalah sebuah organisasi tempat berkumpulnya para
penerbit pers dan media cetak. SPS didirikan di Jogjakarta, 8 Juni 1946. Sebelumnya,
organisasi ini bernama Serikat Penerbit Suratkabar mengganti namanya menjadi
Serikat Perusahaan Pers pada 2011, bertepatan dengan hari jadi SPS yang ke-65.
Penggantian nama ini terjadi dalam Kongres XXXIII di Bali pada 7-09 Juni 2010.
Tidak hanya mengganti nama, SPS juga melakukan perubahan logo dan
mentransformasi dirinya tidak hanya sebagai organisasi penerbit media cetak
seperti suratkabar, tabloid, dan majalah, tetapi juga menjadi organisasi yang
mewadahi para penerbit perusahaan pers. Setelah mengubah namanya menjadi
Serikat Perusahaan Pers, SPS memperluas cakupannya tidak hanya di media cetak
tetapi juga merambah ke media non cetak (media siber dan penyiaran). Perubahan
ini dilatarbelakangi oleh dinamika yang terjadi pada bisnis industri media
secara global. Hingga Desember 2014, SPS memiliki 471 anggota yang tersebar di
30 cabang seluruh Indonesia (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah sarikat surat kabar
Indonesia? Seperti disebut di atas, dalam narasi sejarah pers masa kini,
sarikat surat kabar Indonesia tempo doeloe kurang terinformasikan. Mengapa
begitu? Yang jelas pada masa ini tidak hanya PWI, juga ada SPS. Demikian pula
adanya tempoe doeloe. Nama yang perlu disebut tempoe doeloe antara lain Dja
Endar Moeda radja persuratkabaran Sumatra dan Parada Harahap The King of Java
Press di Jawa. Lalu bagaimana sejarah sarikat surat kabar Indonesia? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Sarikat Surat Kabar; Dja Endar Moeda Radja Surat Kabar
Sumatra dan The King of Java Press di Jawa
Diantara para jurnalis, apakah orang Eropa/Belanda
atau orang pribumi, tidak ada yang peduli dengan surat kabar lain. Setiap
jurnalis hanya memikirkan surat kabar yang mereka miliki atau tempatnya bekerja
tetap eksis, oplah semakin besar, pendapatan iklan yang naik dan tidak terkena
delik pers. Itu adalah normal. Namun menjadi aneh, ketika seorang jurnalis
Parada Harahap sangat merisaukan juga pers pribumi tidak tumbuh, apakah pers berbahasa
Melayu atau berbahasa daerah.
Pada tahun 1933 Parada Harahap dari Batavia membangkitkan kembali nama
Sinar Pasoendan surat kabar berbahasa Sunda yang pernah terbit tahun 1911.
Parada Harahap adalah pemilik percetakan NV Bintang Hindia yang menerbitkan
surat kabar Bintang Timoer. Di Bandoeng sendiri pada tahun 1933 sudah ada surat
kabar berbahasa Sunda yakni Sipatahoenan. Surat kabar Sipatahoenan didirikan
pada tahun 1923 di Tasikmalaja yang terbit sekali seminggu. Sejak tahun 1929
Sipatahoean terbit tiga keli seminggu. Pada tahun 1930 surat kabar Sipatahoenan
pindah ke Bandoeng yang terbit setiap hari. Seperti kita lihat nanti, surat kabar
Fikiran Rakjat berbahasa Melayu yang terbit tahun 1932, kelak pada tahun 1950 Sakti
Alamsjah Siregar dkk di Bandoeng menerbitkan surat kabar Fikiran Rakjat yang masih
eksis hingga ini hari sebagai surat kabar Pokiran Rakyat (dimana kini putra
sulung Sakti Alamsjah Siregar yang menjadi pemimpinnya, Perdana Alamsjah).
Kepedulian Parada Harahap
terhadap surat kabar berbahasa daerah sudah sejak lama ada. Ini dapat dilihat
dari pernyataannya pada tahun 1925 (lihat De
Indische courant, 23-12-1925). Hal serupa ini sudah pernah dilakukan Parada Harahap pada tahun 1919 yang
kembali ke kampong dari Medan, saat mana memulai mendirikan surat kabar
berbahasa Melayu, Sinar Merdeka di Padang Sidempoean, Parada Harahap juga
melakukan pembinaan terhadap surat kabar berbahasa daerah Poestaha (suatu surat
kabar satu-satunya di Padang Sidempoean sebelum 1919, yang boleh jadi langganan
Parada Harahap sewaktu kecil, sebelum merantau ke Deli/Medan).
De Indische courant, 23-12-1925: ‘Sungguh luar biasa bagaimana kuat hari
ini jumlah surat kabar di Jawa meningkat. Banyak yang tutup tetapi lebih banyak
yang muncul. Semakin berwarna (nasionalis, keagamaan) dan juga khusus
perempuan. Wartawannya juga bertambah pesat, bahkan wartawan Sumatra (di Jawa)
sudah mencapai 700 anggota. Sangat disayangkan oleh Parada Harahap dari Bintang
Hindia dan kantor berita Alpena, yang merupakan wartawan terbaik dari
Europeescbe pers, bahwa majalah berbahasa Jawa (baca: juga Sunda) kurang diperhatikan oleh komunitasnya.
Perjalanannya melalui Sumatera dan Selat baru-baru manjadi saksi ini’.
Parada Harahap membangkitkan
surat kabar Sinar Pasoendan sebagai salah satu upayanya membangun aliansi
jurnalistik pribumi (percetakan dan penerbitan) agar lebih banyak dari yang ada
dan lebih menyebar di berbagai daerah dalam hubungannya dengan pers Belanda
yang selalu memojokkan pers pribumi. Kegelisahan pers Belanda ini terasa
setelah jurnalis pribumi membentuk organisasi pada tahun 1931.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18-07-1931 (Congres
Inlandsche Journalisten): ‘Kongres wartawan pribumi pertama diadakan di
Semarang pada 8 Agustus. Kongres ini diketuai oleh jurnalis Semarang,
sekretaris jurnalis Sumatra, Paroehoem [Siregar]. Program: editor Bahagia
Semarang, Pak Yunus, akan mengadakan kuliah tentang: ‘Jurnalisme dan
pengembangan bisnis surat kabar’; Haji [Agoes] Salim akan berbicara pada
‘Jurnalisme dan kode etik’; RM Soedarjo tentang ‘Orang-orang dan Jurnalisme;
Maradja Loebis tentang ‘Jurnalisme dan kehidupan sosial’; Saeroen dari Sin Po
tentang ‘Jurnalisme dan gerakan rakyat’ dan Parada Harahap tentang ‘Jurnalisme
dan ekonomi’, sementara editor Soeara Oemoem akan berbicara pada ‘Jurnalisme
dan malaise’. Kemudian, organisasi wartawan, dengan Mr Saeroen sebagai ketua
dan Bapak Parada Harahap sebagai sekretaris dan bendahara. Komisaris adalah Bakrie [Soeraatmadja], Junus dan
Koesoemodirdjo’.
Aliansi (jaringan surat kabar)
yang dibentuk Parada Harahap ini terdiri dari NV Bintang Timoer sendiri (milik
Parada Harahap), percetakan Soeka Negara di Bandoeng; Koernia di Tasikmalaja
yang menerbitkan surat kabar Galoeh Pakeoan; Bahagia di Semarang dengan surat
kabar dengan nama yang sama; surat kabar Sinar Deli di Medan dan surat kabar
Djawa Timoer di Soerabaja (lihat De Indische courant, 09-09-1933).
Pada masa ini kira-kira mirip dengan munculnya sejumlah jaringan surat
kabar nasional. Jika masa ini networking ini dimaksudkan untuk efesiensi dalam
kegiatan jurnalistik dan menyebarkan modal kepada para investor baru. Kongsi
ini juga untuk mengantisipasi semakin kuatnya informasi di dunia maya dan juga
tekanan surat kabar daring. Aliansi ini juga sudah ada di dalam pers Belanda.
Gagasan Parada Harahap dalam hal ini tidak hanya untuk melawan tekanan pers
Belanda, tetapi juga tantangan yang berat untuk meningkatkan minat baca di
kalangan pribumi terutama kelas menengah ke bawah. Yang jelas kehadiran aliansi
surat kabar ala Parada Harahap ini sudah langsung menjadi sorotan (pers)
Belanda. Mengapa?
Langkah pertama yang dilakukan
Parada Harahap dalam membangun aliansi surat kabar ini adalah mendirikan grup
perusahaan pecetakan dan penerbitan NV Vereenigde Indonesische Drukkers en
Uitgevers Maatschappijen (NV. VIDUM) dengan modal f500.000 yang terbagi dalam
lembar saham f100 dan f10. Sebagai langkah awal grup perusahaan di bawah NV.
VIDUM ini adalah NV Bintang Timoer yakni surat kabar Bintang Timoer dan Djawa
Barat edisi surat kabar edisi Bintang Timoer di Bandoeng; percetakan Economy
yang menerbitkan surat kabar Soemangat di Bandoeng; surat kabar Sinar Pasundan
yang telah diaktifkan kembali Parada Harahap di Batavia sejak tanggal 16
Agustus 1933 dipindahkan ke Bandoeng. Total grup perusahaan untuk sementara
terdiri dari dua percetakan dan empat buah surat kabar.
Ide semacam ini sudah direalisasikan Parada Harahap pada tahun 1927. Parada Harahap direktur NV Bintang Timoer
dan juga sekaligus sekretaris organisasi kebangsaan Sumatranen Bond, yang dalam hubungannnya
dengan penyelenggarakan kongres PPPKI (senior) dan Kongres Pemuda (junior) bulan Oktober 1928. Untuk menggaungkan pergelaran
dua kongres ini Parada Harahap membuat surat kabar Bintang Timoer edisi
Semarang (untuk pemasaran Midden Java) dan edisi Soerabaja (untuk pemasaran
Oost Java). Untuk edisi West Java sudah ada surat kabar Sinar Pasoendan.
Setelah kongres surat kabar edisi Soerabaja mandiri menjadi surat kabar Soera
Oemoem yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Surat kabar edisi Semarang diduga kuat telah mandiri menjadi surat kabar
Bahagia di Semarang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dja Endar Moeda Radja Surat Kabar Sumatra dan The King
of Java Press di Jawa: Mengapa Terbentuk Sarikat Surat Kabar Tempo Doeloe?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




