*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini
Pendudukan Jepang terjadi di Hindia Belanda
(1942-1945). Pada saat yang sama Indonesia sudah terbebaskan dari rezim
colonial Belanda. Apakah dalam kebebasan ini Jepang melakukan tindakan
penjajahan di wilayah Indonesia (eks Hindia Belanda)? Secara khusus, bagaimana
dengan situasi dan kondisi di wilayah Jawa khususunya di di wilayah Soerakarta?

Eksploitasi
Ekonomi Pendudukan Jepang di Surakarta (1942-1945). Julianto Ibrahim. Abstrak. Tulisan
ini mengungkapkan eksploitasi ekonomi yang dilakukan pemerintah militer Jepang
di Surakarta. Kebijakan dilakukan dengan cara mengumpulkan sumber bahan makanan
pokok dan penanaman paksa terhadap tanaman yang menguntungkan untuk perang.
Sumber bahan makanan pokok yang wajib dikumpulkan adalah padi, gaplek, jagung,
kapas, dan rosela. Pengumpulan padi dan gaplek yang sangat eksploitatif
menyebabkan masyarakat Surakarta mengalami kekurangan pangan, sehingga banyak
di antara mereka mengkonsumsi makanan yang tidak layak dimakan, yaitu bonggol
pisang dan bonggol sente (https://journal.ugm.ac.id)
Lantas bagaimana sejarah pendudukan Jepang di
Soerakarta, bagaimana masa pendudukan Inggris? Seperti disebut di atas, lain
Belanda lain pula Inggris dan Jepang. Dalam hal ini apakah Jepang penjajah atau
tidak? Lalu bagaimana sejarah pendudukan Jepang di Soerakarta, bagaimana masa pendudukan
Inggris? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pendudukan Jepang di Soerakarta, Bagaimana Masa
Pendudukan Inggris; Era Belanda Berlalu, Masa Depan RI
Orang-orang Jepang sudah lama ada di Hindia Belanda.
Begitu kuatnya kekuatan politik Jepang saat itu, pada tahun 1897 Pemerintah
Hindia Belanda mengkategorikan orang-orang Jepang di Hindia Belanda sebagai warga
kelas satu (setara orang Eropa/Belanda). Pada tahun 1915 sudah ada tiga
konsulat Jepang di Hindia Belanda yakni di Batavia, Soerabaja dan Medan (tentu
saja di wilayah Inggris di Singapoera). Pada masa inilah hubungan persahabatan
antara Jepang dengan orang pribumi.
Salah satu hubungan akrab antara Jepang dan orang pribumi ini terjadi di
Medan. Pada tahun 1918 yang belum lama berhasil membongkar kasus penerapan
poenalie sanctie. Parada Harahap menginvestigasi kekejaman para planter di
perkebunan-perkebunan terhadap kuli asal Jawa yang membuat heboh di Jawa. Lalu,
Parada Harahap membongkar kasus prostitusi dan trafficking wanita-wanita Jepang
di hotel-hotel di Medan (yang didatangkan melalui Singapoera). Konsulat Jepang
memuji dan mengapresiasi upaya Parada Harahap tersebut. Sementara itu
orang-orang Jepang sudah banyak yang berdaganga di berbagai tempat termasuk Tsukimoto
di Padang Sidempoean.
Hubungan persahabatan Jepang dengan orang Indonesia
semakin intens tahun 1930an termasuk di Soerakarta. Hubungan tersebut tampak
dalam urusan pers pribumi dan urusan perdagangan dengan para pedagang pribumi.
Pada saat ini di Batavia, Parada Harahap adalah ketua organisasi perdagangan
pribumi (semacam KADIN masa ini) dan pemimpin dari surat kabar yang bersifat revolusioner
Bintang Timoer. Ketika pers pribumi dibreidel oleh Pemerintah Hindia Belanda
tahun 1932 dan atas penangkapan Ir Soekarno, Parada Harahap dalam suasana
genting di Hindia Belanda, memimpin tujuh revolusioner berangkat ke Jepang pada
bulan Novermber 1933. Dua diantara rombongan ke Jepang adalah Drs Mohamad Hatta
(yang belum lama pulang studi dari Belanda) dan Dr Sjamsi Widagda (doktor lulusan
Belanda dalam bidang ekonomi, asal Soerakarta). Rombongan kembali ke tanah air
pada tanggal 14 Januari 1934 dan mendarat di pelabuhan Tanjung Perak, Soerabaja
dan pada hari yang sama, Ir Soekarno diberangkatkan ke pengasingan di Flores
dari pelabuhan Tanjung Priok, Batavia.
Pada bulan September 1934 di Soerakarta diadakan Kongres PERDI (organisasi
wartawan Indonesia, semacam PWI sekarang) yang mana dalam kongres ini dihadirkan
seorang wartawan senior Jepang yang juga banyak terlibat dalam urusan
perdagangan Jepang dengan Hindia Belanda. Wartawan tersebut berbicara di dalam
kongres itu. Beberapa hari sebelumnya, di Soerakarta diadakan pertemuan para
pemimpin surat kabar yang kemudian terbentuk organisasi penerbit surat kabar
(semacam SPS sekarang). Kehadiran wartawan Jepang tersebut di Solo tentu
merupakan bentuk lebih lanjut hubungan Jepang dan orang-orang Indonesia.
Demikianlah seterusnya hubungan lama Jepang dengan
orang-orang Indonesia yang sudah terbentuk lama tetap terus terjaga hingga pada
detik-detik berakhir Belanda di Indonesia. Dengan kata lain, misi pendudukan
Jepang di Hindia sudah terindikasi lama dan akan mendapat sambutan dari pihak
orang Indonesia ketika militer Jepang bertindak. Dalam hal ini, invasi Jepang
ke Hindia Belanda (baca: Indonesia) adalah satu hal, hubungan yang terbentuk
diantara orang-orang Jepang dengan orang-orang Indonesia adalah hal lagi. Dua
hal inilah yang kemudian pada saat terjadi pendudukan Jepang, langsung
terbentuk hubungan akrab antara militer Jepang dengan para pemimpin Indonesia
(termasuk Ir Soekarno dan Drs Mohamad Hatta yang sudah terbebaskan dari
pengasingan).
Jelang kehadiran Jepang terinformasikan di Soerakarta seorang raja di
Jawa Tengah memerintahkan agar doa dipanjatkan di masjid utama Islam untuk
kemenangan demokrasi melawan Jepang. Pemimpin umat Islam di Surakarta mengimbau
kepada semua umat Islam di seluruh Hindia Belanda untuk menempatkan “semua
kekuatan dan kekuasaan di belakang pemerintah” (lihat Amigoe di Curacao:
weekblad voor de Curacaosche eilanden, 05-01-1942). Lalu tidak lama kemudian
surat kabar Algemeen Handelsblad, 06-03-1942 memberitakan sebagai berikut: ‘Jepang
Mendarata di Batavia. Tokio, 6 Maret. (DNB). Markas Kekaisaran Jepang
melaporkan bahwa pasukan Jepang menduduki Batavia tadi malam. Keseluruhan
pendudukan selesai pada pukul setengah sembilan tadi malam, meskipun Sekutu
melakukan perlawanan keras terhadap pergerakan militer Jepang. Dalam berita ini
juga disebut sambungan kereta api antara Surabaya dan bagian barat pulau ini
telah dipatahkan oleh penaklukan Surakarta (Solo) yang terletak 65 km sebelah
barat Surabaya. Sedikitnya sebelas kota di Jawa Tengah telah direbut tentara
Jepang. Menurut radio Australia, unit Jepang bergerak maju dengan kecepatan
sekitar 15 mil sehari di beberapa tempat.
Pendudukan militer Jepang di Soerakarta dan
Jogjakarta tidak hanya penting untuk geostragis perang juga wilayah Soerakarta
adalah menjadi target pertama di (pedalaman) Jawa. Mengapa? Satu yang jelas, setelah
Jepang menduduki Sumatra Selatan dan Bali, praktis pulau Jawa sudah dalam
posisi terkepung (lihat Algemeen Handelsblad, 06-05-1942). Disebutkan lebih
lanjut, dalam permulaan pendudukan Jawa, saat mana posisi Jawa terkepung tersebut
militer Jepang mulai menyerang di pulau Jawa: Soerabaja, Madioen, Malang dan
Magetan. Lalu sebelum menduduki Soerakarta militer Jepang terlebih dahulu mematahkan
jalur kereta api di Madioen (dengan demikian jalur kereta api antara barat Jawa
dan timur Jawa terhenti).

Algemeen Handelsblad, 06-05-1942: ‘Jepang merebut sisi utara dan barat Laut
Jawa, dan (pulau) Jawa tampil di hadapan sebagai target berikutnya. Memulai
operasi melawan Jawa, “Westdeutscher Beobachter”, pasukan terjun
payung dan pasukan lintas udara melakukan penyerangan ke Palembang (Sumatera)
pada tanggal 14 Februari. Dari sana ke Telok Betong tercapai pada tanggal 20
Februari, dan segera seluruh Sumatera Tenggara berada di tangan Jepang. Di
timur Jawa, pulau Bali diduduki dari 20 hingga 22 Februari. Pada saat yang
sama, pasukan Jepang mendarat di Timor (20 Februari). Di selatan Jawa. Di wilayah
Inggris di Christmas Island terlibat dalam operasi angkatan udara Jepang dan
Jawa dikepung. Pada tanggal 1 Maret, pasukan Jepang mendarat di empat titik di
pulau itu, di Teluk Peper di Provinsi Banten, di Serang, di Indramajoe dan di
Rembang. Operasi tiga kelompok pertama diarahkan ke pusat pemerintahan
Batavia-Buitenzorg-Bandoeng. Pada tanggal 4 Maret, Jepang mencapai Tangerang
dan Soebang, masing-masing mengancam Batavia dan Bandoeng.Pada tanggal 6 Maret,
ibu kota jatuh; hari berikutnya Buitenzorg diambil. Pasukan yang mendarat di
Rembang sudah merebut Blora pada hari pendaratan; apalagi, pasukan diluncurkan
di Madura. Dalam aksi ke barat dan selatan, Semarang (6 Maret), Surakarta (7
Maret) dan Djokjakarta (8 Maret) diduduki, membelah Jawa menjadi dua. Surabaya
diambil pada hari yang sama dengan Djokjakarta (8 Maret). Terakhir pada 7 Maret
pukul 11 malam penyerahan bagian barat pulau ditawarkan. Penyerahan sebenarnya
terjadi pada 9 Maret. Dengan pendaratan di New Guinea, (wilayah) Hindia Belanda
telah jatuh sepenuhnya ke tangan Jepang’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Era Belanda Berlalu, Masa Depan RI: Beladan vs Jepang
di Mata Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





