Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Surakarta (41): Sragen di Surakarta, Padjang hingga Soekowati; Fosil Manusia Sangiran, Sungai Bengawan, Gunung Lawu

Tempo Doelo by Tempo Doelo
17.01.2023
Reading Time: 11 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini 

Sragen memiliki keutamaan, bahkan
dari zaman ke zaman, jaman kuno megalitik hingga jaman modern masa kini. Jauh
sebelum terbentuk Padjang dan Soekowati, wilayah Sragen sudah dikenal sebagai
wilayah strategis sejak zaman purba (manusia Sangiran). Dalam hal inilah gunung
Lawu dan terbentuknya sungai Bengawan Solo menjadi Sragen strategis. Sungai Semanggi/Bengawan
terus memanjang sehingga kini wilayah Sragen terkesan jauh dari pantai. Akan
tetapi di masa lampau Sragen adalah suatu kawasan pantai. Wilayah Sragen tetap
di tempatnya, sungai yang memanjang dan pantai yang menjauh. Hal itulah juga
sebab mengapa ada garam di Grobogan dan ada minyak di Blora. Dalam konteks
itulah keutaman Sragen (manusia Sangiran dan mansia Trinil).


Sragen
adalah kabupaten di Surakarta Raya, Provinsi Jawa Tengah. Ibu kota di kecamatan
Sragen, 30 Km sebelah timur kota Surakarta. Kabupaten berbatasan dengan kabupaten
Grobogan di utara, kabupaten Ngawi di timur, kabupaten Karanganyar di selatan,
serta kabupaten Boyolali di barat. Kabupaten dikenal sebutan “Bumi
Sukowati”, nama digunakan sejak Kasunanan Surakarta. Kawasan Sangiran tempat
ditemukannya fosil manusia purba. Secara geografis, kabupaten Sragen berada di
lembah daerah aliran sungai Bengawan Solo mengalir ke arah timur, sebagian
besar dataran rendah dengan ketinggian antara 70-480 M dpl. Sebelah utara perbukitan,
rangkaian pegunungan Kendeng, sebagian kecil wilayah selatan perbukitan kaki gunung
Lawu. Hari jadi kabupaten Sragen ditetapkan dengan Perda 1987, yaitu hari
Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1746. tanggal dan waktu ketika Pangeran Mangkubumi, kelak
menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I pertama melakukan perlawanan terhadap
Belanda dengan membentuk pemerintahan di desa Pandak, Karangnongko, dan meresmikan
namanya menjadi Pangeran Sukowati, tetapi sejak tahun 1746 dipindahkan ke desa
Gebang. Sejak itu Pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya meliputi
Desa Krikilan, Pakis, Jati, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grompol,
Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari dan lainnya. Perjanjian Giyanti tahun 1755, kasunanan
Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dimana Pangeran Sukowati menjadi Sultan
Hamengku Buwono I dan Perjanjian Salatiga tahun 1757, dimana Raden Mas Said ditetapkan
menjadi Mangkunegara I dengan mendapatkan separuh wilayah Kasunanan Surakarta. Perkembangan
selanjutnya sejak tahun 1869, daerah kabupaten pulisi Sragen memiliki 4 distrik,
yaitu Sragen, Grompol, Sambungmacan dan Majenang
(Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Sragen di Surakarta, era
Padjang hingga Soekowati? Seperti disebut di atas wilayah Sragen yang sekarang
adalah wilayah sejarah lama di pedalaman Jawa. Wilayah Sragen memiliki sejarah panjang
sejak era (fosil) manusia Sangiran, sungai Bengawan dan gunung Lawu. Lalu bagaimana
sejarah Sragen di Surakarta, era Padjang hingga Soekowati? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Sragen di Surakarta, Era Padjang hingga Soekowati;
Fosil Manusia Sangiran, Sungai Bengawan, Gunung Lawu

Sebelum membicarakan sejarah Sragen yang baru, Sragen
harus dilihat ke masa lampau. Antara Kartosura dan Madiun yang dipisahkan
gunung Lawu, terhubung melalui sungai. Di Ngawi sungai Madiun bermuara ke
sungai Semanggi (sungai Solo). Seperti sungai Bengawan/sungai Semanggi berhulu
di lereng gunung Merapi dan gunung Lawu, sungai Madiun berhulu di lereng gunung
Lawu dan gunung Liman. Dalam hal inilah kita melihat posisi kota/kampong Sragen
dilihat dari kampong/kota Kartasura.


Kartosura berada di sisi utara sungai Semanggi dan Sragen berada di hilir
di sisi selatan sungai. Pada era VOC, dalam ekspedisi pertama ke pedalaman
Jawa, diidentifikasi jalan dari arah barat ke timur (Peta 1696) melalui kampong
Kartosuro menyeberangi sungai hingga ke seberang di kampong/kota Panombangan
(kini sekitar stasion Palur). Dalam perkembangannya kraton Kartosura relokasi
ke kampong Sala yang tepat berada sisi sungai (seberang kampong Panombangan). Area
kraton di Sala yang kemudian menjadi cikal bakal kota Soerakarta/Solo. Dari kampong
Panombangan inilah terbentuk jalan darat ke Madioen melalui wilayah Sragen dan
wilayah Ngawi. Jalan di sisi timur gunung Lawu ini, tetap berada di sisi
selatan sungai Semanggi/Solo dengan menjaga ketinggian dari daerah aliran
sungai Semanggi/Solo (banjir). Saat itu arus perdagangan di pedalaman Jawa
hingga Soerakarta masih melalui sungai hingga ke pantai timur di Gresik, Sidaju
dan Soerabaya serta Tuban. Demikian juga arus perdagang dari dan ke Madioen.
Jalan darat yang terbentuk dari zaman kuno antara Kartosuro. Sala dan Panombangan
ke Madioen adalah lalu lintas alternatif dengan menggunakan kuda dan pedati.

Pada permulaan Pemerintah Hindia Belanda, pasa masa
Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) lalu lintas darat mulai diutamakan di
wilayah belakang pantai hingga ke pedalaman. Lalu dikembangkan jalan darat dari
Batavia ke Anyer, dan dari Batavia ke Panaroekan melalui Buitenzorg, Tjianjoer,
Soemedang, Cirebon, Tegal, Semarang, Rembang hingga Sidajoe dan seterusnya
hingga ke Panaroekan. Pada era Pendudukan Inggris (1811-1816) jalan trans-Java
ini dimaksimumkan penggunaannya, tetapi Inggris sendiri tidak menambah jalan
trans-Java yang baru (mungkin belum sempat karena singkat). Pasca Pendudukan
Inggris, Pemerintah Hindia Belanda baru mulai merintis perdagangan (jalan darat)
ke pedalaman dari Semarang ke Soerakarta dan Jogjakarta, terjadi penundaan
karena Perang Jawa yang berlarut-larut (1825-1830). Pasca Perang Jawa barulah pengembangan
jalan trans-Java dilaksanakan di pedalaman, termasuk ruas jalan Soerakarta ke
Madioen melalui Sragen dan Ngawi (lihat Javasche courant, 17-11-1831).


Dalam rancangan trans-Java ke
wilayah pedalaman (pulau) Jawa ini pada era Gubernur Jenderal van den Bosch
(1830-1833) jalur trans-Java lama (era GG Daendels) dihubungkan ke pedalaman diantaranya
dari Tegal via Bagelen ke Banjoemas dan ke Jogjakarta, dan dari Rembang ke
Madioen. Titik-titik di selatan (pantai selatan Jawa) dihubungkan satu sama
lain. Bagaimana dengan ruas Semarang dan Soerakarta? Itu by eccident, sudah terlaksana
yang berlangsung bersamaan dengan Perang Jawa (untuk meningkatkan arus
pergerakan militer). Harus diingat bahwa van den Bosch dalam urusan jalan ini
sangat berperan. Pada era Daendels yang menjadi tangan kanan dalam pembangunan
jalan ini adalah van den Bosh sendiri yang masih berpangkat kolonel. Pada saar
era Perang Jawa van den Bosch berada dalam posisi Raad van Indie yang berkenaan
dengan urusan logistic dan transportasi. Lalu saat menjadi GG ini sejak 1830
van den Bosch memprioritaskan jalan baru ke pedalaman. Ini dimaklumi karena van
den Bosch selama GG terkenal dengan programnya koffiecultuur/koffiestelsel.

Ruas jalan Sragen-Pandak dari arah timur akan
tersambung dari arah Soerakarta (Palur-Pandak). Kampong/kota Pandak dalam hal
ini berada di Grompol/Mesara, Surakarta. Dengan demikian
 pada tahun 1831 jalan trans-Java antara
Soerakarta dan Madioen melalui Sragen dan Ngawi sudah terbentuk. Pada fase
inilah nama Sragen menjadi lebih dikenal.


Nama Sragen diduga adalah nama baru. Pada peta era VOC (Peta 1700)
belum/tidak teridentifikasi nama Sragen atau yang mirip dengannya. Nama yang
teridentifikasi adalah Kartosura, Padjang dan Jatinom. Dari kampong/kota
Jatinom (kini masuk Klaten) ada jalan sepanjang sisi selatan sungai Semanggi/Bengawan
hingga ke Grompol (sekitar Mesaran yang sekarang). Jalan ini dari Grompol terus
ke timur hingga Jagaraga (kini Jogorogo masuk Ngawi). Jalan ini adalah jalan
lama (era VOC) dan digantikan jalan baru (era Pemerintah Hindia Belanda) tahun
1831 dari Ngawi ke arah barat ke Sragen dan Pandak. Para Peta 1700 tersebut jalan
antara Grompol dan Jagaraga terdapat beberapa kampong yakni (dari arah Grompol)
Munkan, Mourang, Kalikupin, Indulam, Calangien (Jagaraga). Yang mana diantara
nama-nama tersebut yang menjadi Sragen atau area dimana kampong/kota Sragen
terbentuk? Pada Peta 1724 nama-nama tersebut masih eksis, tetapi ada penambahan
nama kampong antara Moukan dan Grompol yakni Gabang. Dari Gabang ini ada jalan
menyeberangi sungai Semanggi melalui kampong ke arah Kalowi, Hampak, Calang
terus ke pantai utara hingga Demak. Dalam Peta 1724 di wilayah Kota Surakarta
yang sekarang adalah wilayah kosong. Mengapa? Mungkin masih rawa-rawa/kerap
banjir? Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Peta 1817 nama Jagaraga masih eksis,
namun nama-nama yang lain tidak ada lagi, dan nama yang muncul adalah kampong
Wato, Samban dan Sambur, Meteseg, Ulu dan Gangang (sekitar Pulur yang
sekarang). Dalam peta ini ditandai kampong Solo dimana di arah belakangnya kraton
Soerakarta. Nama sungai juga sudah diidentifikasi sebagai sungai Solo (tidak
lagi sungai Semanggi). Di Klaten diidentifikasi suatu benteng.

Dalam perkembanngannya, nama Sragen telah ditetapkan
sebagai pusat pemerintahan hukum pribumi (Pradoto) yang menjadi prakondisi ibu
kota distrik (lihat Javasche courant, 03-05-1854). Disebutkan di Buitenzorg
tanggal 30 April 1854 No.1 (Srbl No. 32) diumumkan, Pasal-1 pendirian regtbank
Pradoto di Klaten. Ampel, Bojolali, Kartasura dan Sragen. Ini mengindikasikan
di wilatah (Residentie) Soerakarta untuk kali pertama dibentuk lembaga hukum/peradilan
yang menjadi pendahulu pembentukan pemerintahan local. Keutamaan nama Sragen
iniu juga dapat diperhatikan pada Peta 1859, dimana nama Sragen di jalan
trans-Java antara Soerakarta dan Madioen tersebut menjadi nama yang penting,
yang diidentifikasi sebagai ibu kota district. Nama-nama lama di jalan kuno
antara Grompol dan Jagaraga hanya teridentifikasi nama Grompol (dekat Pandak/Masaran).
Antara Sragen dan Grompol terdapat kampong yang diidentifikasi Moengkong (suatu
kampong tua yang sudah ada sejak era VOC, Munkan/Moukan?). Jika benar Munkan
adalah Moengkong dalam Peta 1817 ini, maka dalam peta era VOC, nama kampong
terdekat di arah timur adalah Mourang. Apakah Sragen ini yang menggantikan nama
kampong Mourang?


Nama Morang adalah nama kuno yang berasal dari era Hindoe Boedha. Nama
Morang terdapat di Tapanuli Selatan (di dekat percandian Padang Lawas). Jika
Mourang adalah Sragen, di sebelah timur Mourang ini terdapat kampong Kalikupin,
tempat dimana kini terdapat desa Gondang (menjadi nama kecamatan Gondang di
kabupaten Sragen). Gondang juga adalah nama tempat di Tapanuli Selatan. Nama
Gondang dan Morang di daerah aliran sungai Bengawan Solo terdapat nama turunan/variasinya.
Apakah dalam hubungan nama tempat ini terkait dengan candi Sewu di Klaten
dengan candi Simangambat di Tapanulis Selatan yang berasal dari abad 8 yang
memiliki karakteristik candi yang mirip satu sama lain. Tentu saja masih dapat ditambahkan
disini bahwa nama gunung Luwu di dekat kampong Morang dan kampong Gondang serta
candi Simangambat di Tapanuli Selatan namanya mirip dengan nama gunung Lawu
(asalnya diidentifikasi Loewoe). Candi Simangambat berada diantara gunung Luwu (Raja)
dan gunung (Sarik) Marapi yang idem dito juga letak candi Sewu berada diantara
gunung Merapi dan gunung Lawu. Nama-nama kampong di Tapanuli Selatan banyak
yang mirip dengan nama-nama kampong kuno di hulu sungai Bengawan Solo seperti
kampong Kadjoran dekat Klaten (kampong Hadjoran di Tapanuli Selatan dekat percandian
Padang Lawas). Nama sungai yang menjadi sungai-sungai di hulu yang membentuk
sungai Bengawan Solo ke hilir banyak yang mirip dengan di Tapanuli Selatan
seperti sungai Panabasan (di Tapanuli Selatan, Panobasan); sungai Pitjes (Pice)
dan sungai Dengkeng (Dekke).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Fosil Manusia Sangiran, Sungai Bengawan, Gunung Lawu:
Sragen Sepanjang Masa Sejauh Air Mengalir Sampai Jauh

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan
(ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami
ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah
catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Sejarah Surakarta (42): Sangiran di Sragen Surakarta Pulau Jawa ; Situs, Asal Muasal Populasi Nusantara, Peta Wilayah Indonesia

Hukum Membeli Motor Bodong

Hukum Membeli Motor Bodong

Iklan

Recommended Stories

al-Muhalla karya fiqh Imam Ibn Hazm al-Andalusi

09.08.2012

PMC 2013

28.06.2013

Keliling Kebumen, Berkunjung ke Bukit Pentulu Indah Karangsambung

10.03.2018

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?