*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini
Sukoharjo adalah senang makmur. Itu satu hal.
Hal lain adalah mengapa banyak nama-nama kampong tua di wilayah (residentie) Soerakarta
yang mirip dengan nama-nama kampong di Batavia (Jakarta dan sekitar) seperti
Sukabumi, Grogol dan Larangan. Sebaliknya mengapa ada nama-nama kampong di
Tanah Batak mirip dengan nama-nama kampong di Soekoharjo seperti Bulu, Jombor
dan Gupit. Yang jelas nama distrik Larangan di wilayah Soerakarta kini menjadi nama
kabupaten Sukoharjo.

Sukoharjo
adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Ibu
kotanya adalah Kecamatan Sukoharjo Kota, sekitar kurang lebih 10 km sebelah
selatan Kota Surakarta. Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen
Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk
wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat
perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad
nomor 209. Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa
Kamis, 7 Mei 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum
itu bernama Kawedanan Larangan. Nama Sukoharjo dalam penulisan Bahasa Jawa
adalah “Sukaharja” yang berarti Bumi yang selalu “Suka = Senang
/ Gembira” dan “Raharja = Makmur”. Bengawan Solo membelah
kabupaten ini menjadi dua bagian: Bagian utara pada umumnya merupakan dataran
rendah dan bergelombang, sedang bagian selatan dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian
daerah di perbatasan utara merupakan daerah perkembangan Kota Surakarta,
mencakup kawasan Grogol dan Kartasura. Nama-nama kecamatan di kabupaten Sukoharjo
antara lain Baki, Bendosari, Bulu, Gatak, Grogol, Kartasura, Mojolaban, Nguter,
Polokarto, Sukoharjo, Tawangsari, Weru (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Sukoharjo di
Soerakarta, Kartasoera di Sukoharjo? Seperti disebut di atas, wilayah kabupaten
Sukoharjo yang sekarang tempo doeloe dikenal sebagai district Larangan. Lalu bagaimana
sejarah Sukoharjo di Soerakarta, Kartasoera di Sukoharjo? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Sukoharjo di Soerakarta, Kartasoera di Sukoharjo;
Distrik Larangan Menjadi Kebupaten Sukaharjo
Beslit
tertanggal 6 Januari 1873 No.8, (Stbl. No.5) menyebutkan bahwa ibu kota (hoofdplaats) Soerakarta tetap berada di bawah kekuasaan langsung Residen dan territorial di Residentie Soerakarta dibagi ke dalam
empat afdeeling, yakni Sragen, Klaten, Boyolali dan Karang Pandan. Selanjutnya tanggal 4 Agustus 1873 disetujui dan dipahami penataan wilayah di keempat afdeeeling tersebut (lihat De locomotief:
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 06-09-1873).

Untuk afdeeeling Klaten terdiri dari — kecuali desa-desa eclavee
Mangkoenegaraan menjadi milik distrik Malangdjiwan — regentschappen Klatten, terdiri dari enam distrik, yaitu: Klaten, Sepoeloeh, Prambanan, Gesikan, Gedongan dan Kali Sogo, dan Kartasoera terdiri dari lima distrik, yaitu: Kartasoera. Kelitang, Bendo, Tanaman dan Djenon; ditambahkan onderregentschappen Larangan, yang terdiri dari empat distrik, yaitu: Soeko-ardjo, Oeter, Tawang-sari dan Massaran.
Selanjutnya berdasarkan beslit tertanggal 6 Januari
1873 No.8, (Stbl. No.5), yang diubah dengan Stbl. 1874 No.186 di Residentie Soerakarta
diberikan kepada residen ditambah empat pejabat berpangkat Asisten Residen yang
ditempatkan di Sragen, Klaten, Bojolali dan Wonogiri (lihat Almanak 1874).
Dalam perubahan tersebut sudah termasuk nama onderregentschappen Larangan diubah
menjadi regentschappen Soeko-ardjo sesuai dengan persetujuan yang dilakukan
pada tanggal 8 September 1874 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 15-09-1874).

Seperti dikutip di atas, dinyatakan bahwa pada
tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta,
Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah
Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut
disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874 (Staatsblad nomor 209). Catatan: keputusan tanggal 7 Mei 1874 bukan Stbl 209, tetapi Stbl 128 dan
Stbl 129. Sementara itu Stbl 209 tentang perubahan nama afdeeling (Karang
Pandan menjadi Wonogiri).
Dalam hal, mengapa kini disebut hari lahir kabupaten
Sukoharjo tanggal 7 Mei 1874 sesuai dengan Srbl 209, padahal tidak ada
keterangan yang menyatakan itu pada Stbl bertanggal 7 Mei 1874 dan Stbl No 209.
Apakah ada kesalahan dalam mengutip? Yang jelas setiap tahun pada masa ini dirayakan
hari lahir kabupaten Sukoharjo pada tangga 7 Mei. Dalam hal ini tidak
dihubungkan dengan penetapan hari lahir versi kedu pada era RI yakni 16 Juni
1946.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Distrik Larangan Menjadi Kebupaten Sukaharjo: Riwayat
Nama-Nama Kampong Kuno
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




