*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Di Indonesia hanya ada dua negara yang
berlangsung lama: negara Pemerintah Hindia Belanda (1800-1942) dan negara
Republik Indonesia (1945-sekarang). Diantara dua negara terjadi sela yakni
pendudukan Inggris (1811-1816) dan pendudukan Jepang (1942-1845). Pada saat
permulaan negara Republik Indonesia, orang Belanda yang Kembali ingin membentuk
negara Serikat Indonesia, yang akhirnya terbentuk negara-negara federal dimana
negara Republik Indonesia hanya satu bagian dari negara yang dibentuk negara
Repeublik Indonesia Serikat (RIS). Negara Madura adalah satu dari negara-negara
federal yang sejatinya terbentuk/dibentuk oleh orang Belanda.

Negara
Madura adalah negara dalam konteks Negara-Negara Federalis dibentuk 23 Januari
1948. Wilayah negara meliputi pulau Madura dan pulaul sekitar. Bulan Desember
1947 di Jakarta terbentuk komite serikat yang terdiri dari wakil-wakil negara
bagian untuk membentuk negara Indonesia Serikat. Pada tanggal 14 Januari 1948
Residen Madura mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk membicarakan dan
membentuk komite penentuan kedudukan Madura. Komite itu terdiri dari 11 orang
dan RAA Tjakraningrat (eks Bupati Bangkalan) sebagai penasehat. Tugas komite adalah
membentuk negara Indonesia Serikat dan perwakilan yang hadir setelah pertemuan merundingkan
dengan rakyat di daerahnya. Pada 16 Januari 1948 didirikan Komite Penentuan
Kedudukan Madura yang mengeluarkan resolusi isinya: Memenuhi, resolusi pada
tanggal 23 Januari 1948; Negara Madura meliputi pulau Madura dan pulau sekitar;
Mengakui RAT Tjakraningrat, Residen Madura sebagai Wali Negara Madura; Membentuk
dewan Madura. Komite 11 orang menentukan pemungutan suara hanya menentukan
setuju, tidak setuju, blanco. Tanggal 23 Januari 1948 diadakan pemungutan suara.
Hasil sebagai berikut: Dari 305.546 orang, yang hadir: 219.660; Setuju: 90%; Tidak
setuju: 4,51%; Blanco: 10.230 4,65%. Pada tanggal 20 Februari 1948 pemerintah
Hindia Belanda mengakui berdirinya negara Madura. RAA Tjakraningrat terpilih
sebagai wali negara Madura (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Negara Madura era
NICA/Belanda? Seperti disebutkan di atas, terbentuknya negara-negara (federal)
di Indonesia adalah inisiatif orang Belanda yang disetujui Ratu Belanda selepas
perang (di Eropa dan di Asia). Pada fase ini pengaruh Dinasti Tjakranegara di
pulau Madura dibangkitkan kembali sementara di luas sudah mengkristal pejuang revolusioner
asal Madura di Jawa. Lalu bagaimana sejarah Negara Madura era NICA/Belanda? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Negara Madura Era NICA/Belanda; Dinasti Tjakranegara
dan Pejuang Revolusioner Asal Madura di Jawa
Bagaimana terbentuknya Negara Madura, harus dimulai
sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 hingga Perjanjian
Linggarjati (1946). Takluknya Jepang terhadap Sekutu/Amerika yang mendahului
proklamasi, Sekutu/Inggris masuk wilayah Indonesia untuk melucuti dan evakuasi
(militer) Jepang. Tidak sesuai yang disepakati antara pihak Republik Indonesia
dengan Sekutu/Inggris, orang-orang Belanda (NICA/Belanda) berada di belakang
Sekutu/Inggris, yang membuat kerusuhaan yang menjadi pangkal perkara terjadi
perang (kemerderkaan Indonesia). Situasi dan kondisi tidak menentu di Djakarta,
akhirnya ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Djogjakarta tanggal 1
Januari 1946. Sementara perang terjadi khususnya di Jawa dan Sumatra, pihak
NICA/Belanda berhasil menyelenggarakan konferensi Malino yang berlangsung pada
tanggal 15 Juli – 25 Juli 1946. Wilayah bagian tengah (Kalimantan dan Nusa
Tenggara) dan bagian timur dapat dikatakan telah memisahkan/dipisahkan dari
wilayah Republik Indonesia. Implikasi perang dan hasil konferensi Malino
menjadi sebab diadakannya perundingan/perjanjian Linggarjati

Perundingan Linggarjati dilakukan pada 11-15 November 1946 dan
ditandatangani secara sah oleh pihak Belanda (NICA) dan pihak Indonesia
(Republik Indonesia) pada 25 Maret 1947. Hasil perundingan menghasilkan 17
pasal, antara lain berisi: (1) Belanda mengakui secara de facto wilayah
Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera, dan Madura; (2) Belanda harus
meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949; Pihak Belanda dan
Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).
Tidak lama setelah hasil perundingan Linggarjati ditandatangani,
surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Djakarta/Batavia memberitakan
berita panas dengan judul yang menyengat, Madoera melawan Republik (lihat Het dagblad: uitgave van de
Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 21-05-1947). Apa yang sebelumnya terjadi?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dinasti Tjakranegara dan Pejuang Revolusioner Asal
Madura di Jawa: Semangat Orang Madura Terbelah?
Perang kemerdekaan terus terjadi khususnya di
Sumatra dan Jawa. Perjanjian Linggarjati telah dilanggar kedua belah pihak.
Sementara itu di wilayah lain NICA/Belanda telah sukses membentuk negara-negara
federal, termasuk negara federal yabru di Sumatra yakni Negara Sumatra Timur
(sejak akhir Desember 1947). Perundingan antara pihak Belanda dan pihak
Republik Indonesia kembali diadakan.
Perjanjian Renville Perjanjian Renville adalah perjanjian antara
Indonesia dengan Belanda yang terjadi pada tanggal 8 Desember 1947 sampai 17
Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral
USS Renville. Dari pihak Republik Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Mr Amir
Sjarifoeddin Harahap dengan anggota inti antara lain Mr Ali Sastroamidjojo, Agus
Salim, Dr Leimena, Mr Latuharhary dan Kolonel TB Simatupang.
Hasil perjanjian Renville tampaknya menjadi jalan
menuju terbentuknya Negara Madura semakin dekat dan prosesnya semakin
dipercepat. Pada tanggal 24 Januari hasil referendum di (wilayah) Madura
mayoritas menyetujuan pembentukan Negara Madura (lihat Nieuwe courant, 26-01-1948). Dengan demikian bertambah
lagi jumlanh negara federal dan sebaliknya wilayah Republik Indonesia semakin berkurang.

Nieuwe courant, 26-01-1948: ‘Madura menjadi Negara. Baru pada Sabtu malam
hasil lengkap jajak pendapat di Madura diketahui. Dari total 290.464 pemilih
yang berhak memilih, 207.278 memilih atau sekitar 75 persen. Lebih dari 95
persen di antaranya ternyata berpihak pada institusi suatu negara. Keputusan
Panitia Penetapan Status Madura. seperti yang kami publikasikan pada hari Sabtu
itu, antara lain disahkan oleh 187.978 pemilih yang memenuhi syarat. 9.853
pemilih menentang resolusi tersebut, sementara 9.447 tidak memilih atau
menentang resolusi tersebut’. Nieuwe courant, 24-01-1948: ‘Plebisit berlangsung
di seluruh Madura pada jam yang sama, antara jam 3 dan 4 sore. Di dalam 1900
desa di Madura dan sekitar 100 desa di sekitar pulau-pulau wilayah Madura,
rakyat berkumpul untuk menentukan masa depan Madura dan rakyat Madura. Dalam edisi
hari ini juga disebutkan Formatur Kabinet Hatta dimana dalam pidato radio
pada peringatan hari lahir Muhammad, Presiden Soekarno mengumumkan bahwa
kabinet Mr Amir Sjarifoeddin Harahap telah mengundurkan diri dan telah
menginstruksikan Drs Mohammad Hatta untuk membentuk kabinet baru.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


