*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Apakah ada jalur kereta api di pulau Madura
saat ini? Tidak ada lagi, tetapi pernah eksis di masa lampau pada era Pemerintah
Hindia Belanda. Namun sejarah tetaplah sejarah. Dalam hal inilah sejarah
perkeretaapian di Madura adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah Madura.
Ke depan tampaknya jalur kereta api di pulau Madura adakan diaktifkan/dioperasikan
Kembali.

Jalur kereta api lintas Madura pernah
melayani rute pulau Madura. Jalur ini memiliki panjang 225 Km. Jalur ini di
bawah Madoera Stoomtram Maatschappij (MdrSM) sejak 1897. Sejak dibangunnya
jalur kereta api melalui Sukolilo pada 1913, lalu dibuat stasiun Kamal dan
Stasiun Kalianget, sedangkan Stasiun Kwanyar merupakan stasiun cabang untuk
menunjang jalur ini. MdrSM juga melayani transportasi antarmoda lanjutan
bersama Staatsspoorwegen, seperti penyeberangan kapal feri Kalianget–Panarukan maupun
Kamal–Surabaya untuk menunjang pelayanan kereta api. Dalam Buku Jarak oleh DKA 1950,
jalur kereta api ruas Bangkalan–Kwanyar dan Pamekasan–Kalianget tidak tercatat,
sementara ruas Kamal–Pamekasan dan Kamal–Bangkalan tercatat. Hal ini
kemungkinan terjadi karena jalur kereta api ruas Bangkalan–Kwanyar dan
Pamekasan–Kalianget mengalami pembongkaran pada masa pendudukan Jepang untuk
kepentingan perang. Selanjutnya, Rikuyu Sokyuku membuat jalur percabangan dari
Stasiun Telang menuju Stasiun Sukolilobaru agar langsung tersambung ke
Pamekasan, karena daerah Batuporon—suatu daerah yang dilalui jalur kereta api
lintas Kamal–Sukolilo—merupakan kawasan militer, sehingga jalur kereta api ruas
Kamal–Sukolilo–Kwanyar ditutup karena kalah bersaing dengan mobil. PJKA
akhirnya menutup jalur ini pada tahun 1984. Berdasarkan Perpres No. 80 Tahun
2019, jalur kereta api akan diaktifkan Kembali khususnya dari Kamal–Sumenep (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah kereta api di pulau
Madura? Seperti disebut di atas pulau Madura juga memiliki sejarah
perkeretaapian namun secara spesifik kurang terinformasikan. Sejarah
perkeretapian di pulau terkait dengan perkeretaapian di seluruh Hindia Belanda
tetapi secara teknis terkait dengan pengembangan di pulau Jawa, pulau Bali dan pulau
Lombok. Lanlu bagaimana sejarah kereta api di pulau Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Kereta Api di Pulau Madura; Sejarah Perkeretaapian di
Pulau Jawa di Pulau Bali dan Pulau Lombok
Nun jauh disana, di Amsterdam satu maskapai kereta
api dibentuk dan telah diumumkan ke public dengan nama Naamlooze Vennootschap (NV)
Madoera-Stoomtram-Mij (lihat Algemeen Handelsblad, 09-06-1897). Dari namanya mengindikasikan
perusahaan baru itu mendapat konsesi di Hindia Belanda dengan wilayah operasi
di (pulau) Madura. Perusahaan terbatas ini telah menerbitkan 3.000 lembar saham
@ f1.000 sehingga izin yang diberikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda
akan memiliki modal dasar sebesar f3.000.000. Disebutkan jalur kereta api ini
kira-kira 192 Km, di sebelah barat berhadapan dengan kota Soerabaja dan di
sebelah timur berhadapan dengan Panaroekan di Oosthoek van Java.

Selain prospek usaha di (pulau) Madoera dan uraian permodalan, disebutkan
jalur trem akan mengikuti jalan pos yang ada dari Kamal melewati Bangkalan ke
Tanah Merah, dari sana hingga Balega diahlihkan untuk menghindari tanjakan yang
besar, dan tersambung kembali ke jalan pos utama dari Balega ke Sampang. Dari
Sampang ke Pamekasan jalur mengikuti jalan pintas untuk mencapai pasar Omben.
Dari Pamekasan mengikuti jalan pos dilanjutkan melalui Soemenep hingga ke
Kalianget, dengan pengalihan di Baloetoe. Diharapkan dalam waktu lebih dari
satu tahun, ruas Kamal-Bangkalan sepanjang 18 Km, dan Kalianget-Baloetoe,
sepanjang 25,7 Km sudah dapat beroperasi. Dalam waktu dua tahun district
Tanah Merah yang bersebelahan sepanjang 18 Km dan Baloetoe-Pamekasan sepanjang
43 Km. Sisanya sepanjang 96,5 Km dapat mulai beroperasi dalam waktu dua tahun
setelahnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sejarah Perkeretaapian di Pulau Jawa di Pulau Bali dan
Pulau Lombok: Kebutuhan dan Realisasi di Pulau Madura
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




