*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Apa pentingnya sejarah jalan? Apakah sepenting
sejarah pelabuhan? Kurang lebih sama. Sejak zaman kuno untuk mencapai pedalaman
dari pantai (dan sebaliknya) fungsi jalan terbentuk. Sesuai perkembangan jaman,
jalan-jalan yang ada awalnya jalan setapak untuk pejalan kaki maupun jalan
pengendara kuda. Lalu jalan semakin diperlebar seiring dengan penggunaan gerobak
(yang ditarik kuda, sapi atau kerbau). Jalan-jalan rintisan ini yang kemudian sebagian
besar ditingkatkan pada era Pemerintah Hindia Belanda dan menjadi jalan raya
yang sekarang.

Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) disebut
juga Jalan Daendels, adalah sebuah jalan pos sepanjang 1.000 kilometer (620 mi)
di Jawa yang membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Jalan
ini dibangun atas perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36,
Herman Willem Daendels (m. 1808-1811) sebagai salah satu langkahnya dalam
memodernisasi Jawa terutama dalam bidang pertahanan dan pemerintahan. Selanjutnya,
jalan ini dimanfaatkan sarana mengangkut hasil bumi dan pos komunikasi. Kantor
pos pertama kali didirikan pada 26 Agustus 1746 di Batavia oleh Gubernur
Jenderal yang ke-26, Gustaaf Willem van Imhoff. Empat tahun kemudian, kantor
pos Semarang didirikan dan menggunakan rute melalui Karawang, Cirebon, dan
Pekalongan. Sementara itu, transportasi daratan sudah ada setidaknya pada
sekitar 1750, yaitu jalan yang menghubungkan Batavia ke Semarang dan seterusnya
ke Surabaya. Juga jalan menghubungkan Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Pada
28 Januari 1807, Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda
oleh Louis Bonaparte. Cemas akan masa depan Jawa, dan serangan Inggris, pada tahun
1807 Louis memberi tugas kepada Daendels, yaitu mempertahankan Jawa dari
serbuan Inggris dan membenahi sistem administrasi pemerintahannya (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah jalan di pulau Madura?
Seperti disebut di atas pulau Madura terbilang pulau kecil yang di wilayah
pantai peran pelabuhan sangat penting. Berbeda dengan di bagian pedalaman,
kebutuhan jalan raya dari waktu ke waktu semakin penting. Mengapa? Apakah proses
pembangunan jalan di pulau Madura mengikuti pola pembangunan trans-Java
Daendels Batavia-Panaroekan via Sidajoe, Gresik, Soerabaja, Pasoeroean? Lalu bagaimana
sejarah jalan di pulau Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.Bataviasche koloniale
courant, 05-01-1810
Jalan di Pulau Madura; Trans-Java Daendels
Batavia-Panaroekan via Sidajoe, Gresik, Soerabaja, Pasoeroean
Keberadaan jaringan di pulau Madura baru diidentifikasi pada peta Francois
Valentijn (Peta 1724). Di pulau Madura sudah diidentifikasi jalan dari ibu kota
kerajaan Maduretna di wilayah barat pulau Madura ke arah pantai di barat daya
di (pelabuhan) Kamal. Kota Maduretna berada di pedalamanan, Pada titik diantara
Maduretna dengan Kamal jalan terhubung ke arah tenggara di Quanjer. Seperti
kita lihat nanti, dimana posisi GPS kota Maduretna pada masa ini sulit diidentifikasi.

Dalam Peta 1724 di wilayah pulau
Jawa juga sudah ada jalan yang diidentifikasi. Di wilayah Jawa bagian tengah
diidentifikasi jalan dari benteng Semarang di pantai hingga ke pedalaman di Cartosoera
melalui kampong Salatiga. Sementara di wilayah Jawa bagian timur juga jalan
diidentifikasi jalan dari benteng Soerabaja ke arah pedalaman melalui Madjapahit.
Sudah barang tentu banyak jalan yang ada tetapi di dalam peta hanya untuk
kebutuhan dan sepengetahuan bagi nara sumber (laporan ekspedisi) dalam pembuatan
peta.
Peta
yang mengindikasikan adanya jalan di pulau Madura baru ditemukan satu abad
kemudian pada peta era Pemerintah Hindia Belanda (Peta 1818). Seperti disebut di atas, identifikasi jalan dalam peta
tergantung pada kebutuhan dan sepengetahuan bagi nara sumber (laporan
ekspedisi) dalam pembuatan peta. Di wilayah pulau Madura, pada Peta 1818 jalan
diidentifikasi jalan arteri dari ibu kota Bangkalan ke pedalaman melalui Madura
(pada Peta 1724 disebut Maduretna). Pada Peta 1818 sudah didientifikasi jalan raya
dari kota Bangkalan ke arah tenggara di wilayah pantai melalui Belega dan
Sampang terus ke timur pula melalui Pamekasan dan Soemenep hingga ke kampong
Maringan (benteng). Tampaknya ibu kota telah relokasi dari Maduretna ke
Bangkalan.

Sebagaimana diketahui
pada awal Pemerintah Hindia Belanda, pada masa Gubernut Jenderal Daendels
dibangun jalan trans-Java dari Batavia ke Anjer dan dari Batavia ke Tjirebon
melalui Buitenzoeg, Bandoeng dan Soemedang. Lalu jalan tersebut yang berada di
belakang pantai dari Tjirebon ke Toeban via Soerabaja terus ke Panaroekan
(lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Jalan trans-Java di wilayah Soerabaja (antara
Gresik dan Pasoeoran) melalui kampong Simpang (dan dari kampong Simpang jalan
raya dihubungkan ke kota Soerabaja kea rah timur/pantai). Tidak lama setelah
selesai jalan trans-Java terjadi pendudukan Inggris (1811-1816). Pada Peta 1818
(Pemerintah Hindia Belanda), jalan trans-Java tersebut teridentifikasi dengan
jelas.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Trans-Java Daendels Batavia-Panaroekan via Sidajoe,
Gresik, Soerabaja, Pasoeroean: Bagaimana Rute Pembangunan Jalan Raya di
Bangkalan Era Pemerintah Hindia Belanda
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




