*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Apakah ada aksara Madura? Yang jelas sudah ada
penelitian tentang bahasa Madura. Disebutkan aksara Madura mirip aksara Jawa. Dalam
aksara-aksara nusantara, para peneliti merujuk pada kebedaan aksara Pallawa di
masa lampau. Di duga aksara asli Nusantara (seperti aksara Batak dan aksara
Jawa) diturunkan dari aksara Pallawa. Pada zaman berikutnya muncul aksara Jawi
(aksara Arab gundul). Sejak kehadiran orang Eropa (Portugis dan Belanda),
diintroduksi aksara Latin (yang umum digunakan di Indonesia pada masa ini).
.

Abstrak:
Dalam perkembangan kebudayaan suatu masyarakat, tulisan memainkan peranan
yang penting sekall dalam sejarah kehidupan manusia, berkenaan dengan masalah
kehidupan sehari-hari, sosial, politik, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan
sebagainya. Salah satu suku bangsa di Nusantara yang masyarakatnya memiliki
sistem tulisan adalah suku bangsa Madura. Masyarakat Madura menyebutnya dengan
istilah carakan Madam atau aksara jaba. Disebut aksara jaba karena tulisan
iniherasal dari luar Madura, yaitu Jawa. Secara fisik, bentuk maupun jumlah
hurufnya memang mirip dengan tulisan Jawa, hanacaraka, hanya cara membacanya
yang agak berbeda. Pada masa dahulu, aksara jaba bulcan saja digunakan sebagai
sarana komunikasi melainkan juga sarana untuk menuangkan aspirasi keindahan.
Sayang sekali, pada masa kini, tulisan Madura nyaris dilupakan oleh para
pendukungnya, terutama generasi mudanya. Meskipun demikian, sebagai sarana
sastra, fenomena tulisan Madura. di masa Ialu sampai sekarang rnasih dapat kita
lihat buktinya, terabadikan dalam naskah-naskah kuno Madura. Sayang sekall,
keterikatan orang pada tradisi lama seringkali menyebabkan munculnya pandangan
khusus mengenai naskah-naskah lama tersebut, sehingga ada orang yang mengkultuskannya
dan ada pula yang tidak memperdulikannya. Berkenaan dengan hal di atas,
penelitian ini dilakukan. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana peranan
tulisan Madura dalam masyarakat pendukungnya, dilihat dari fenomena rnasa lalu
dan kini. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa orang Madura yang dapat
membaca dan menulis aksara Jawa pada masa kini sudah sangat sedikit jurnlahnya,
sedangkan naskah-naskahnya pun sekarang hanya dihargai sebagai benda keramat
atau benda antik yang laku dijual (Aksara dan Naskah Madura: Peninggalan Budaya
Nusantara, Titik Pudjiastuti dan Muhammad Fuad, Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya Universitas Indonesia, 1997).
Lantas bagaimana sejarah aksara di pulau
Madura, bagaimana awal terbentuk aksara Madura? Seperti disebut di atas, aksara
Madura mirip aksara Jawa dan untuk itu sudah ada penelitian tentang kebedaaan aksara
Madura. Bagaimana dengan persebaran aksara-aksara di Nusantara? Lalu bagaimana sejarah
aksara di pulau Madura, bagaimana awal terbentuk aksara Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Aksara di Pulau Madura, Bagaimana Awal Terbentuk
Aksara Madura? Persebaran Aksara-Aksara di Nusantara
Kapan aksara Jawa terbentuk? Sumber tertua dalam hal
ini dapat ditelusuri apakah terdapat dalam prasasti. Salah satu teks tertua
adalah teks Negarakertagama (1365). Apakah aksara dalam teks bersesuaian dengan
aksara Jawa adalah suatu hal. Dalam hal ini satu sumber yang dapat dibandingkan
dengan bentuk aksara Jawa dapat ditemukan di dalam buku yang ditulis oleh
Francois Valentijn (1726).

Francois Valentijn adalah seorang yang sudah lama berada di Hindia Timur
terutama di Amboina. Valentijn sudah banyak mengunjungi wilayah di Hindia. Francois
Valentijn dalam hal ini dapat dikatakan ahli geografi pertama di Hindia Timur. Francois
Valentijn masih memiliki akses ke sumber-sumber Portugis dan Francois Valentijn
juga orang pertama yang menggunakan catatan harian Kasteel Batavia (Daghregister)
yang menjadi salah satu sumber penting dalam penulisan bukunya. Di dalam Kasteel
Batavia, catatan hari berfungsi untuk mendeskripsikan banyak hal yang terjadi
suatu peristiwa yang dianggap penting di Hindia, termasuk soal kedatangan maupun
keberangkatan (orang, kapal, surat dan sebagainya). Surat-surat dari pemimpin local
dari berbagai wilayah juga disalin ke dalam bahasa Belanda dan surat aslinya
diarsipkan. Surat-surat dari berbagai daerah ini ada yang berbahasa Melayu
maupun berbahasa local, ada yang ditulis dengan aksara Jawa (Arab gundul) dan
juga ada yang ditulis dengan aksara local seperti aksara Jawa. Foto: Teks akasara
Jaw dalam buku Francois Valentijn (1726)
Aksara Jawa yang disalin oleh Francois Valentijn (1726)
menjadi penting karena terbilang dokumen tertua dengan aksara yang sejenis,
dalam hal ini aksara Jawa yang ditulis pada masa ini (di internet). Aksara Jawa
diantara dua waktu yang berbeda (sekitar tiga abad) tampak ada kemiripan,
tetapi aksara Jawa yang ditulis sekarang sesungguhnya banyak perbedaan. Hal ini dapat dikatakan aksara Jawa yang
ditulis sekarang sudah mengalami perubahan, baik bentuk maupun detailnya.

Gambar disamping ini adalah aksara Jawa modern (internet, cetakan masa
kini) dengan aksara Jawa klasik (Francois Valentijn, ditulis tangan 1726).
Lepas dari kerapihan (perubahan dari tulis tangan ke bentuk cetakan) dalam
penulisan aksara, bentuk umum dapat dibedakan, dan semakin jelas perbedaan
dalam detailnya. Sebagai misal aksara ‘ya’ aksara Valentijn memiliki lima garis
tegak sementara aksara modern/cetakan menjadi enam. Perbedaan yang kontras
terdapat pada aksara ‘ma’. Demikian dengan aksara lainnya.
Dalam sejarahnya, aksara Jawa sendiri telah
mengalami perubahan. Itu satu hal. Aksara yang dihubungkan dengan aksara di
Jawa adalah aksara yang digunakan dalam teks Negarakertagama (1365). Antara dua
sumber tua tersebut dapat diperbandingkan bentuk aksara yang digunakan dalam
teks Negarakertagama 1365 (aksara/bahasa Jawa Kuno/Kwi) dan aksara dalam buku
Francois Valentijn, 1726 (aksara modern Jawa). Sangat jauh perbedaannya.

Kakawin Nāgarakṛtâgama karya Empu Prapañca bisa
dikatakan merupakan kakawin Jawa Kuno yang paling termasyhur. Kakawin ini
adalah yang paling banyak diteliti pula. Kakawin yang ditulis tahun 1365 ini,
pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh JLA Brandes, seorang
ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok. Dia menyelamatkan isi
perpustakaan Raja Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja itu dibakar
oleh tentara KNIL. Judul kakawin ini, Nagarakretagama artinya adalah
“Negara dengan Tradisi (Agama) yang suci”. Nama
“Nagarakretagama” sendiri tidak disebut dalam kakawin tersebut. Pada
pupuh 94/2, Prapanca menyebut ciptaannya Deçawarnana atau uraian tentang
desa-desa. Namun, nama yang diberikan oleh pengarangnya tersebut malah
dilupakan oleh umum. Kakawin itu hingga sekarang biasa disebut sebagai
Nagarakretagama. Nama Nagarakretagama tercantum pada kolofon naskah yang digarap
Dr JLA Brandes: “Iti Nagarakretagama Samapta”. Rupanya, nama
Nagarakretagama adalah tambahan penyalin Arthapamasah pada bulan Kartika tahun
saka 1662 (20 Oktober 1740 Masehi). Nagarakretagama disalin dengan huruf Bali
di Kancana. Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287
(September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran
Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui
bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra, bekas pembesar urusan
agama Buddha di istana Majapahit (Wikipedia). Gambar: Teks Negarakertagama (1365)
Sementara itu aksara di Sumatra dapat dilihat pada naskah
Tanjung Tanah yang ditemukan di (wilayah) Kerinci dan aksara yang digunakan
dalam prasasti sejaman yang ditemukan di Padang Lawas (Tapanuli Selatan). Jadi
dalam hal ini kita dapat memperbandingkan antara aksara-aksara yang digunakan
di Jawa/Bali antara zaman berbeda dengan aksara-aksaran yang digunakan di
Sumatra.

Naskah Tanjung Tanah ditemukan di Tanjung Tanah di Mendapo Seleman (terletak
sekitar 15 Km dari Sungai Penuh, Kerinci) dan masih disimpan sampai sekarang
oleh pemiliknya. Naskah Tanjung Tanah sebetulnya ditemukan dua kali, pertama
pada tahun 1941 oleh Petrus Voorhoeve yang pada saat itu menjabat sebagai taal
ambtenar (pegawai bahasa pada zaman kolonial) untuk wilayah Sumatra dan
kemudian didaftarkan oleh sekretarisnya dengan nomor 252 di dalam Tambo
Kerinci. Penemuan kedua oleh Uli Kozok pada tahun 2002. Kozok lalu membawa
sampel naskah ini ke Wellington, Selandia Baru, untuk diperiksa di laboratorium
menggunakan metode penanggalan radiokarbon. Hasil pengujian ini memperkuat
dugaan Kozok bahwa naskah Tanjung Tanah adalah naskah Melayu yang tertua. Tarikh
penangggalan naskah secara penanggalan radiokarbon diperoleh kisaran antara
tahun 1304 dan 1436, dan berdasarkan data sejarah kemungkinan ditulis sebelum
tahun 1397. Mengingat bahwa pada periode tersebut, yaitu antara 1377 dan 1397,
ditandai oleh ketidakpastian dan diwarnai peperangan, dapat diduga bahwa naskah
ini malahan ditulis sebelum tahun 1377, yaitu selama masa pemerintahan
Adityawarman (Wikipedia)
Gambar: Teks Tanjung Tanah (1377)
Tunggu deskripsi lengkapnya
Persebaran Aksara-Aksara di Nusantara: Aksara Sumatra versus
Aksara Jawa
Aksara Madura digunakan dalam penyusunan kamus
bahasa Madura-Belanda (Madoereesch-Nederlandsch woordenboek) yang diterbitkan
pada tahun 1904. Setiap entri kamus ini juga juga ada dikaitkan dengan
menemukan padanannya dalam bahas Jawa dan bahasa Melayu (serta bahasa Bali).
Kamus ini yang mendaftarkan kosa kata bahasa Madura ditulis dengan aksara
Madura, suatu aksara yang identic aksara Jawa.

Biasanya
dalam berbagai kamas yang diterbitkan pada masa itu sudah ditulis dalam aksara
Latin. Kamus-kamus bahasa Melayu bisanya sudah ditulis dalam aksara Latin,
meski dalam teks-teks yang berasal dari (bahasa) Melayu masih banyak yang
ditulis dalam aksara Jawi (Arab gundul). Kamus bahasa Batak, kamus bahasa Bali
sudah ditulis dalam aksara Latin oleh NH van der Tuuk. Kamus yang menggunakan
aksaran local (aksara asli, tradisi) juga ditemukan dalam kamus bahasa Jawa dan
bahasa Soenda. Mengapa kamus ditulis dalam bahasa asli yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Belanda tidak diketahui secara pasti tujuannya untuk apa. Apakah
itu dimaksdukan untuk orang Madura dari golongan atas? Madoereesch-Nederlandsch
woordenboek, 1904
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



