*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Benteng Sumenep terkenal dari dulu hingga
kini. Benteng ini kini terkesan berada di pedalaman. Tentu saja berbeda posisi GPS
masa kini dengan masa lalu. Benteng Sumenap, sejatinya hanya salah satu benteng
yang terdapat di pulau Madura. Lalu dimana benteng lain berada? Disamping
benteng Mangari di pulau Mengare sebagai benteng Madura, juga di kampong/kota
Bangkalan juga dibangun benteng pada era Pemerintah Hindia Belanda.

Benteng
VOC/Belanda Kalimo’ok adalah salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi
oleh BP3 Trowulan Jawa Timur. Benteng ini merupakan satu-satunya bangunan
benteng yang ada di pulau Madura. Posisi benteng ini berada jauh dari pelabuhan
Kalianget dan juga pusat kota, kira-kira 4 Km dari pelabuhan Kalianget dan 7 Km
dari keraton Sumenep, Atau 1 Km dari Bandar Udara Trunojoyo. Dalam sejarahnya VOC
membangun dua buah benteng di Sumenep, benteng yang pertama dibangun di desa
Kalianget barat kecamatan Kalianget, kabupaten Sumenep namun, pembangunan
benteng tersebut kurang sempurna dan lokasinya juga berada pada tempat yang
kurang strategis, sehingga dalam kenyataannya benteng ini hanya digunakan
sebagai gudang perdagangan kala itu. oleh karena itu bekas benteng tersebut
oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan “Loji Kanthang” atau
“Jikanthang”. Kemudian pada tahun 1785, VOC membangun lagi sebuah
benteng di dusun Bara’ Lorong Desa Kalimo’ok, kecamatan Kalianget, kira-kira
500 m sebelah utara Kali Marengan. Benteng Kalimo’ok berdiri di atas tanah
seluas 15.000 m2, panjang 150 m, lebar 100 m dengan tinggi tembok kurang lebih
3 m dalam kondisi saat ini rusak dan tidak terawat. Benteng Sumenep mempunyai
area persegi dengan empat bastion dengan lebar 5 meter. Pada setiap sudutnya
selain itu di benteng ini juga diasramakan sekitar 25 – 30 tentara di bawah
pimpinan seorang Letnan. Benteng Kalimo’ok Sumenep dibangun dari bata dengan
dua pintu masuk, masing-masing ada di sisi utara dan sisi selatan (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah benteng-benteng di pulau
Madura? Seperti disebut di atas, di pulau Madura tidak hanya benteng yang
terdapat di Sumenep, juga terdapat di Kawasan lain di pulau Madura.
Benteng-benteng di pulau Madura adalah bagian dari riwayat benteng-benteng era
VOC hingga era Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah benteng-benteng
di pulau Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung
(pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis)
dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Benteng-Benteng di Pulau Madura; Riwayat
Benteng-Benteng Era VOC hingga Era Pemerintah Hindia Belanda
Pada tahun 1707 pulau Madura menjadi bagian dari VOC. Itu bermula karena tingkah lakunya didemo massa. Setelah peristiwa itu putranya yang masih kecil, berada di bawah perwalian ibunya dan meminta perlindungan kepada VOC untuk menggantikan
sang pangeran. Sejak itulah benteng dibangun di pulau Madura.

Mengapa disebut benteng Kalimook? Sebuah desa yang disebut Kalimook. Tentu saja ada nama pada
masa ini nama kecamatan Kalianget di kabupaten
Sumenep. Kalimook sebagai sebuah
desa sudah diberitakan tahun 1884 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 19-01-1884). Apakah nama kali Mook merujuk pada nama (marga)
Belanda (van Mook). Tentu saja ada nama pribumi Mook sebagai Pak Mook. Peta 1861
Dalam Peta 1861 nama-nama tempat di pulau Madura
bagian timur (Sammanap) tidak banyak nama tempat yang diidentififikasi. Dimana
tempat benteng (fort) belum disebut, hanya diidentifikasi sebagai fort (saja).
Sementara itu dalam Peta 1878 sejumlah nama tempat di sekitar Soemanap disebut.
Satu yang jelas nama pulau Poeteran sebelumnya disebut pulau Talang (kini
Poeteran disebut Poteran).

Sementara nama (desa) Kalimook belum disebut, yang agak membingungkan adalah
nama-nama tempat di sekitar Soemenep, adalah Lombang, Tambangan, Maringan,
Limboeng (Limbong), Gaddoe (Gadu), Manding (Monding). Juga nama-nama pulau Talang
(Tolang) dan nama pengunungan Lagoendi (Sialagundi). Nama-nama yang disebut
(termasuk dalam kurung) adalah nama-nama yang mirip dengan nama-nama tempat di
Tapabuli bagian selatan. Di lereng pegunungan Lagoendi, berdasarkan Peta 1817
disebut sungai Saroha (kampong Saroka). Peta 1878
Posisi GPS benteng (fort) di Soemenep berada di
dekat kampong Maringan, suatu wilayah dimana nama-nama tempat banyak yang mirip
dengan di Tapanuli Selatan. Sementara nama kampong Kaliangit berada tidak jauh dari
muara sungai (sungai Kaliangit?) dan berada tempat di selat sempit yang
memisahkan daratan pulau Madura dengan pulau Talang. Kampong Kaliangit, kampong
Maringan dengan kota Soemenep dalam satu garus lurus. Sedangkan dari Soemenep
di pedalaman garis lurus yang lain ke kampong Tambangan di sungai Sarokka.

Dua garis lurus inilah kemudian yang membentuk jalan raya. Lalu mengapa tidak
ada nama tempat bagian dalam di segitiga dua garis lurus daratan tersebut?
Sebab kawasan itu pada dasarnya pada bagian dalam adalah rawa-rawa, sedangkan
bagian luar merupakan tambak-tambak garam. Lalu apakah di masa lampau, kota/kampong
Soemenep, kampong Maringan dan kampong Tambangan sejatinya berada di pantai?
Peta 1740
Kapan terbentuk kampong/kota Soemanap tidak
diketahui secara pasti. Namun yang jelas Francois Valentijn dalam bukunya yang
terbit tahun 1726 Soemanap disebut kota (stad). Sebelumnya pada tahun 1718 di
Amfterdam oleh Gerard van Keulen seorang pedagang di Hindia menerbitkan
sejumlah peta yang meliputi pulau Java, pulau Madura, pulau Baly, wilayah
Sourabaja dan wilayah Samanap (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 15-12-1718).
Peta yang dimaksud diduga merujuk pada nama suatu kampong/kota yan menjadi nama
wilayah di bagian timur pulau Madura.

Dalam peta Valentijn (Peta 1924) kota Soemanap agak sedikit berada di
belakang pantai. Pulau Poteran tampaknya telah meluas, sementara teluk Soemanap
telah menyempit. Semua itu tampaknya karena proses sedimentasi jangka panjang. Daratan
yang sudah lama terbentuk di Kawasan ini adalah area kota Maringan dan area
dimana benteng VOC dibangun pada tahun 1786. Dua area ini diduga adalah dua
pulau yang berbeda di masa sebelumnya. Oleh karenanya pulau Poteran bukan
satu-satunya pulau di Kawasan, tetapi ada juga dua eks pulau (pulau Marengan
dan pulau Mook).
Pada tahun 1754 Amsterdamse courant, 31-12-1754
memberitakan bahwa selama 3 hari terakhir dikabarkan Belanda telah menguasai
pulau Madura di timur laut Jawa berkat bantuan kapal perang Inggris The-Onflow.
Lalu pada tahun 1785 VOC membangun benteng di kampong Maringan. Dalam
perkembangannya benteng pada era Pemerintah Hindia Belanda benteng diperkaya di
kampong Maringan. Sebagaimana umumnya sejak era VOC hingga era Pemerintah
Hindia Belanda benteng dibangun tidak di dekat kampong asli tetapi agak jauh di
kampong para pendatang atau lokasi yang kosong.

Dengan mengacu pada peta-peta lama seperti peta yang dibuat Francois
Valentijn (Peta 1724) dan peta yang dibuat oleh van den Bosch pada awal
Pemerintah Hindia Belanda (Peta 1818) kampong Maringan diduga kuat masih berada
di suatu pulau dekat dengan daratan Sumenep. Lalu dalam perkembangannya pulau
(Maringan) ini menyatu dengan Sumenep (menjadi Tanjung Maringan). Sementara di
teluk Sumenep awalnya terbentuk pulau sedimen, yang kemudian lambat laun meluas
dan menyatu dengan daratan di bagian dalam teluk.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Riwayat Benteng-Benteng Era VOC hingga Era Pemerintah
Hindia Belanda: Benteng Sumenep di Maringan, Benteng Bangkalan, Benteng Mangari, Benteng Lainnya
Pada era VOC, di pulau Madura dibentuk usaha
maskapai (lihat Verhandelingen van het Bataviaasch genootschap, der konsten en
weetenschappen, 1781). Disebutkan sebanyak 10,000 tenaga produktif dan 60.000
penduduk. Pulau Madura sendiri dibagi tiga wilayah: barat (Sampang), tengah
(Pamekasan) dan timur (Soemanap). Wilayah maskapai VOC berada di di tengah dan
timur (lihat Batavia, de hoofdstad van Neêrlands O. Indien […] beschreeven, 1782).
Yang dimaksud tenaga kerja 10.000 orang itu diduga berada di tengah dan timur.

Trunajaya,
pangeran Madura melakukan pemberontakan. Trunajaya bekerjasama dengan pemimpin asal
Makassar, Karaeng Galesong. Mataram lalu meminta bantuan VOC Trunajaya ditangkap
pada 1679. Raja Mataram membunuh Trunajaya 1680. Pada tahun 1707 pulau Madura menjadi bagian dari VOC. Trunojoyo menikah dengan
putri ulama Moor, Cadjoran, yang sangat terkesan dengan garis keturunannya yang
tinggi. Seperti disebut di atas. Baru beberapa decade kemudian VOC membuka
maskapai di Madura, dimana di Quenjer dan Sampang berada di bawah kuasa Kaisar
Moor (sementara bagian tengah dan timur di bawah perlindungan VOC). Dalam hal
ini ada hubungan kekeluargaan diantara para pengeran di Madura antara Jawa dan
Madura di satu pihak dan orang Moor di pihak lainnya. Maskapai VOC di Madura dalam rangka usaha tiram (mutiara). Peta 1724
Disebutkan orang Belanda
mengambil tempat sebagai pemukiman di Kota Maringan dan membangun benteng tahun
1785. Kota Maringan dihuni 19 orang pribumi, seorang Cina, seorang Arab, dan
seorang Malayu dan juga menjadi kota (tempat tinggal) orang Eropa. Benteng
dengan empat bastion yang mana terdapat empat meriam yang diperkuat 25 atau 30
tentara Eropa di bawah komando seorang letnan. Ini adalah satu-satunya kekuatan
militer pemerintah (di pulau Madura).

Pada
saat permulaan Pemerintah Hindia Belanda (sejak 1800), pada masa pendudukan
Inggris (1811-1816) terjadi penentangan terhadap kehadiran otoritas Inggris.
Implikasinya satu ekspedisi dikirim ke Soemanap untuk mengatasi perlawanan.
Oleh karena situasi dan kondisi yang tidak kondusif di bagian timur lalu,
militer Inggris mulai membangun benteng baru di bagian barat Madura di wilayah
Bangkalan (lihat Peta 1818). Benteng Bangkalan ini di satu sisi memperkuat pertahanan
di selat Madura (dimana terdapat benteng-benteng Sidajoe, Gresik dan Soerabaja)
dan di sisi lain benteng yang masih digunakan di Sumanap tetap dapat memperkuat
pertahanan di wilayah Tapal Kuda (karena hanya ada dua benteng yang berjauhan
yakni benteng Pasoeroean dan benteng Banjoewangi). Peta 1818
Setelah kembalinya Pemerintah Hindia Belanda
(pasca penduddukan Inggris) benteng Soemenep di pulau Madura dipulihkan.
Pemerintah Hindia Belanda juga kemudian memperkuat benteng Bangkalan, tetapi
tidak yang berada di pedalaman (eks ibu kota Maduretna) tetapi benteng Sidajoe
sendiri, suatu benteng lama yang secara historis diawali oleh penduduk Madura.
Oleh karenanya dua benteng ini menjadi seakan pengawal pertahanan di pulau
Madura, yang satu di timur (kampong pulau Maringan) dan yang lain di barat (benteng
Lodewijk di pulau Mangarai).

Posisi
GPS benteng Lodewijk yang digambarkan pada Peta 1818 dengan situs benteng masa
kini, bersesuaian. Dalam Peta 1818 pulau Maringan (kecil) diidentifikasi
benteng. Sementara pulau di selatannnya kini adalah pusat desa Tanjung Widoro.
Dalam hal ini di muara sunga0 (bengawan) Solo terdapat tiga pulau. Pada masa
ini ketiga pulau ini telah menyatu dengan daratan yang kemudian terbentuk muara
baru di Kali Maring. Sejak tahun 1880an muara sungai bengawan Solo (Kali
Miring) telah ditutup (menjadi siungai mati) sehubungan dengan selesainya
pembangunan kanal hilir sungai Solo ke arah utara melalui Sidajoe.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi
ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



