*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Pulau Masalembo dan pulau Masakambing di
wilayah kabupaten Sumenep di pulau Madura dan pulau Kalamba di wilayah kabupaten
Kotabaru, pulau Kalimantan. Lalu memang ada apa? Itu nama masa Masalembu dan
Masakambing. Ok itu satu hal. Lantas ada apa dengan pulau Kalamba? Itu hal lain
lagi. Dalam ha lini apakah ada sejarah masa lalu Masalembo? Nah, itu dia.

Kepulauan
Masalembu adalah kepulauan di Laut Jawa dengan tiga pulau utama: Masalembu, Masakambing,
dan Keramaian. Secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Masalembu,
Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Posisi Pulau Masalembu berada di bagian
utara wilayah Kabupaten Sumenep, berjarak sekitar 112 mil laut dari Pelabuhan
Kalianget. Pulau Masakambing berjarak sekitar 10 mil dari arah utara pulau
Masalembu. Luas wilayah pulau Masakambing adalah sekitar 3,18 km2 dihuni satu
desa, Desa Masakambing, dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 1.268 jiwa
penduduk. Pulau Keramaian berjarak sekitar 29 mil dari arah utara pulau
Masalembu, mempunyai luas wilayah sekitar 9,79 km2 dan dihuni oleh satu desa,
yaitu Desa Keramaian, dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 3.287
jiwa. Penduduk Pulau Masalembu merupakan campuran berbagai etnis, termasuk Suku
Madura dan Suku Bugis. Pulau Kalambau adalah pulau terletak di sebalah tenggara
provinsi Kalimantan Selatan. Pulau ini diperkirakan memiliki luas sekitar 7,82
Km². Pulau ini terdiri dari 1 RT saja yang berada dalam wilayah desa Labuan
Barat. Kontur pulau ini sedikit berbukit. Titik tertinggi pulau ini berada pada
ketinggian 317 meter di atas permukaan laut. Panjang garis pantai dari utara ke
selatan berjarak 5,5 Km dan berjarak 5 Km dari timur ke barat (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Pulau Masalembo? Mengapa
namanya menjadi pulau Masalembu? Seperti disebut di atas, pulau Masalembo yang
membentuk kepulauan Masalembo berada diantara kabupaten Sumenep di pulau Madura
dan Kota Baru di pulau Kalimantan. Lalu bagaimana sejarah Pulau Masalembo? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Pulau Masalembo, Mengapa Menjadi Pulau Masalembu?
Antara Sumenep Madura dan Kota Baru Kalimantan
Kapan nama Masalembo muncul? Sudah lama, sebagai
nama suatu district di wilayah hulu daerah aliran sungai Kapauas. Lalu kapan
nama pulau Masalembo diidentifikasi. Yang jelas pulau Masalembo telah dipetakan
oleh Angkatan laut Pemerintah Hindia Belanda (lihat Zeemansgids voor den
Oost-Indischen Archipel, 1904-1914). Pulau ini tepat di sebelah selatan Residentie
Zuider en Oster Afdeelingen van Borneo, tetapi juga berada di sebelah utara
pulau Madura.

Dalam deskripsi Angkatan Laut Pemerintah Hindia
Belanda ditulis sebagai berikut: ‘Kepulauan Salembouw. Klein-Salembouw
atau Masalembo Ketjil berada di N 204° E yang berajarak 24 mil laut dari ujung
selatan Pulau Arends dan tingginya sekitar 265 kaki; titik Utara dan Selatan
sedikit miring. NW. sekitar 2 mil laut dari pulau kecil ini terdapat gundukan
pasir yang tidak tergenang saat air pasang. Groot Salembouw atau ‘Masalembo Besar’
berjarak 4,5 mil laut di selatan Klein-Salembouw. Di pulau ini sebuah bukit
menjulang setinggi 695 kaki, tetapi sebaliknya pulau ini tingginya sekitar 135
kaki. Dari utara bukit ini terlihat sebagai punggungan, dari selatan sebagai
puncak. Saat air pasang, pulau ini mudah didekati dengan perahu kecil di
beberapa tempat, namun dimana-mana hanya terdapat pantai berpasir yang sangat
sempit. Pohon-pohon tinggi di ketinggian dekat ke hutan yang tidak bisa
ditembus. Di sisi barat daya pulau terdapat sebuah danau kecil, yang
menyediakan air minum yang sangat baik. Pulau ini dikunjungi oleh nelayan
tripang’.
Berdasarkan Stbls. 101 April 1899 No 133 ditetapkan bahwa selatan dari Residentie Zuider en Ooster Afdeeeling van Borneo berlokasi kepulauan Salembouw dan kepulauan Arends adalah
bagian
dari onderdistrict Djoengkat, district Sapoedi, Afdeeling Soemenep. Besar kemungkinan setelah
dipetakan Angkatan laut, wilayah tersebut ditetapkan masuk wilayah mana.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Antara Sumenep Madura dan Kota Baru Kalimantan: Salambouw,
Sisa Pulau Zaman Kuno?
Nama pulau Masalembo awalnya adalah pulau
Salambouw. Namun entah mengapa bergeser lagi masa kini menjadi Masalembu (yang vis-à-vis
dengan nama pulau Masakambing). Salambouw diduga kuat nama yang berasal dari zaman
kuno er Hindoe Boedha. Nama Salambow tidak hanya di Laut Jawa (pulau), juga
terdapat di hulu daerah aliran sungai Kapuas (district). Nama pulau Salambouw
juga terdapat di pantai barat Sumatra (Residentie Tapanoeli, dekat Singkil).
Salambouw sendiri merupakan alat penangkap ikan (bubu). Oleh karenanya
nama-nama geografis dengan nama Salambouw diduga kuat dengan kegiatan
penangkapan ikan (di laut maupun di sungai).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






