Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bengkulu (9): Rejang Lebong di Bengkulu, Wilayah Orang Rejang di Lebong dan di Kapahiang; Palembang vs Bengkulu

Tempo Doelo by Tempo Doelo
12.11.2022
Reading Time: 16 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini 

Wilayah Rejang Lebong (Rejang dan Lebong) berada di wilayah pedalaman
Sumatra di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Kabupaten Rejang Lebong dimekarkan
pada tahun 2003 dengan membentuk Kabupaten Lebong dengan ibu kota di Tubei.
Lalu pada tahun 2004 kembali kabupaten Rejang Lebong dimekarkan dengan
membentuk kabupaten Kapahiang dengan ibu kota di Kapahiang. Sejarah kabupaten
Rejang Lebong juga adalah sejarah kabupaten Lebong dan sejarah kabupaten Kapahiang.
Tiga kabupaten ini seakan berada jauh dari pesisir wilayah Bengkulu (di barat).
Sebaliknya wilayah Rejang Lebong sendiri adalah hulu dari sungai Musi (di timur).

Rejang Lebong adalah
kabupaten di provinsi Bengkulu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.515,76
km² dan populasi sekitar 257.498 jiwa (2016). Mayoritas penduduk kabupaten
Rejang Lebong merupakan suku Rejang yang jumlahnya mencapai 43%, disusul suku
Jawa yang merupakan pendatang dengan jumlah sekitar 35,2%. Suku Melayu Lembak
dengan persentase lebih kecil. Ibu kotanya ialah Curup yang berada pada
ketinggian 600-700 mdpl. Kabupaten ini terletak di luak Ulu Musi, sebuah lembah
di tengah rangkaian Bukit Barisan dan berjarak 85 km dari Kota Bengkulu. Penduduk
asli terdiri dari 2 suku utama yaitu suku Rejang dan suku Melayu. Suku Rejang
mendiami tanah atas yaitu kecamatan Curup, Curup Utara, Curup Timur, Curup
Selatan, Curup Tengah, Bermani Ulu, Bermani Ulu Raya, dan sebagian Selupu
Rejang. Suku Lembak mendiami tanah bawah yaitu kecamatan Kota Padang, Padang
Ulak Tanding, Binduriang, Sindang Dataran, Sindang Beliti Ulu, Sindang Beliti
Ilir, dan Sindang Kelingi. Batas-batas wilayah Kabupaten Rejang Lebong. Utara, Kabupaten
Lebong dan kabupaten Musi Rawas; Timur, Kota Lubuklinggau dan kabupaten Musi
Rawas; Selatan, Kabupaten Kepahiang dan kabupaten Empat Lawang; Barat, Kabupaten
Bengkulu Tengah dan kabupaten Bengkulu Utara. Secara topografi, Kabupaten
Rejang Lebong merupakan daerah yang berbukit-bukit, terletak pada dataran
tinggi pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 100 hingga 1000 m dpl. Secara
umum kondisi fisik Kabupaten Rejang Lebong sebagai berikut: Kelerengan: datar
sampai bergelombang, Jenis Tanah: Andosol, Regosol, Podsolik, Latasol dan
Alluvial

(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Rejang Lebong di
Bengkulu, Orang Rejang dan Orang Lebong di Residentie Bengkulu? Seperti disebut
di atas orang Rejang dan Orang Lebong kini terdapat di kabupaten Rejang Lebong
dan di kabupaten Lebong. Lalu bagaimana sejarah Rejang Lebong di Bengkulu,
Orang Rejang dan Orang Lebong di Residentie Bengkulu? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Rejang Lebong di Bengkulu, Orang Rejang dan Orang
Lebong di Residentie Bengkulu; Residentie Palembang vs Residentie Bengkoelen

Apakah kita tidak pernah berpikir wilayah Curup yang
sekarang, di masa lampau adalah suatu danau besar, danau yang lebih luas dari
danau Ranau dan danau Kerinci? Ada beberapa danau purba di (pulau) Sumatra yang
diduga telah hilang, selain danau Curup, juga ada danau-danau pegunungan
seperti danau Siabu di wilayah Angkola Mandailing (Tapanuli bagian selatan) dan
danau Tangse di Atjeh telah hilang. Danau-danau tersebut hilang karena jebol
akibat aktivitas vulkanik dan gempa yang sangat besar. Dalam konteks inilah
pertanyaan tentang eks danau Curup di masa lampau. Bekas danau-danau tersebut kemudian
menjadi lahan subur dimana di atasnya terbentuk dan berkembang peradaban yang
lebih baru.


Secara geomorfologis, sebagai danau besar di pegunungan, di danau Curup
bermuata sejumlah sungai, diantaranya sungai yang lebih besar sungai Musi
(berhulu di gunung/bukit Oeloe Moesi). Sungai besar lainnya yang bermuara di
danau adalah sungai Air Dingin yang berhulu di gunung/bukit Daoen. Seperti
dikutip di atas wilayah Curup yang dilapisi tanah-tanah alluvial merupakan sisa
sedimen danau yang telah menghilang yang menjadi kawasan wilayah Curup sangat
subur.

Peradaban awal populasi penduduk Rejang bermula di
sekitar danau purba. Pusat peradaban awal tersebut diduga bermulan di wilayah
kabupaten Lebong yang sekarang. Sedangkan peradaban baru dari populasi penduduk
Rejang bergeser ke dalam lembah (eks danau). Hal itulah mengapa wilayah asal
populasi penduduk Rejang di era yang lebih baru meliputi wilayah yang kini
terbagai tiga kabupaten: kabupaten Tejang Lebong, kabupaten Lebong dan kabupaten
Kapahiang. Kota Kapahiang sendiri adalah kota baru, yang merupakan pemukiman
awal dari penduduk pendatang yang berasal dari pantai barat Sumatra.


Lembah Curup (Tjoeroep) diapit oleh tiga puncak gunung, yang merupakan
gugus pegunungan Bukit Barisan, yakni gunung Daun di utara, gunung Moesi (juga
disebut gunung Tjoendoeng) di timur dan gunung Kaba di selatan. Gunung Kaba adalah
aktif. Di masa lampu, letusan gunung Kaba telah membentuk kaldera yang kemudian
menjadi danau yang disebut danau kaldera gunung Kaba.

Hilangnya danau purba, danau Curup yang menjadi wilayah lembah, populasi
penduduk Rejang yang hidup di lembah masih memiliki sisa danau yang berada sebelah
timur kota Curup yang disebut danau Ketjil. Sekitar dua abad yang lalu, tahun
1833 terjadi bencana besar di danau Ketjil. Gunung Kabau meletus. Danau kecil
ini kini lebih popular disebut danau Kaba. Sebelum meletus gunung Kaba tahun 1833,
danau Kaba/danau Ketjil masih sangat luas, permukaan airnya bahkan setinggi
permukaan kawasan tempat dimana orang berdiri sekarang (tapi kini permukaan air
danau agak jauh di bawah).


Javasche courant, 08-02-1834: ‘Batavia, 7 Februari 8134. Gempa bumi yang
terjadi pada tanggal 24 hingga 25 November yang lalu itu terjadi di Jawa dan di
tempat lain, tetapi terutama di Sumatera, dengan kekerasannya, dan rinciannya,
sebagaimana diketahui, telah dilaporkan oleh kami, menurut laporan lebih lanjut
dari Palembang, ada kaitannya dengan letusan gunung berapi Bukit Kaba yang
terletak di district Sindang Klingie dan Sindang Blietie, res. Palembang,
berbatasan dengan district Bengkoelen, Redjang. Terlepas dari kerusakan yang disebabkan
oleh guncangan gempa bumi yang berulang-ulang, efek banjir air dari gunung
tersebut adalah yang paling menyedihkan dari semua fenomena alam yang
mengerikan ini. Diantara dua puncak utama gunung tersebut, yakni terdapat
sebuah danau di pedalaman yang dikenal dengan nama Telaga Ketjiel, yang kini
harus hilang sama sekali akibat gempa. Air yang tumpah dari danau ini segera
membanjiri kampong-kampong terdekat, didukung oleh pasokan dari sungai Aijer
Dingien, yang juga telah tersumbat secara massal oleh pohon-pohon yang tumbang
dan tanah yang runtuh. Dusun Talang Aijer Lang antara lain terendam banjir
hingga kedalaman 21 kaki, sedangkan setelah banjir tersisa lumpur setinggi 7
kaki. Dalam penghancuran dusun ini, 36 warga kehilangan nyawanya. Jumlah total
korban di distrik Klingie dan Blietie adalah sembilan puluh orang. Gunung Kaba
berjarak sekitar lima puluh jam berjalan kaki dari ibu kota Palembang, namun
terlepas dari jarak tersebut, air di sungai Groote Moessie tidak dapat diminum
selama beberapa minggu’.

Fakta bahwa telah terjadi bencana besar di Tjoeroep
pada tahun 1833. Yang menjadi sisa pertanyaan dalam hal ini adalah apa yang
terjadi di Tjoeroep sendiri? Tampaknya tidak terinformasikan. Boleh jadi
pengamatan dan pelaporan yang dikumpulkan baru dari sisi timur (wilayah Residentie
Palembang). Bagaimana dari sisi barat di Bengkoelen? Sebagaimana diketahui ada
akses jalan pegunungan dari timur di Moeara Bliti ke pantai barat Sumatra di
Bengkoeloe melalui Tjoeroep dan Kapahiang. Besar dugaan orang Eropa/Belanda
dari Bengkoeloe ke arah pegunungan baru sampai di Kapahiang.


Hulu sungai Moesi berada di gunung Musi (gunung Tjoendoeng). Sungai Musi
ini melalui kota Curup. Semua sungai di lembag Curup bermuara ke sungai Musi
ini. Ke hilir sungai Musi melewati celah antara lereng gunung Kaba dan gunung Boengkoek
dan kemudian ke arah selatan melalui kampong (kota) Kapahiang dan berbelok ke arah
timur di Talang Padang dan seterusnya ke kota Tebingtinggi berbelok lagi ke
utara di Moera Klingi dimana sungai Klingi bermuara. Sementara itu, dari gunung
Kaba mengalir sungai Sepiang yang bersama-sama dengan sungai dari danau Ketjil ke
arah timur membentuk sungai Klingi melalui kmapong Padang Oelak Tandjoeng terus
ke Moeara Bliti (dimana sungai Bliti bermuara ke sungai Klingi) lalu ke hilir
sungai bermuara ke sungai Musi (di Moeara Klingi). Sejatinya tidak ada aliran
sungai yang mengalir ke pantai barat Sumatra dari wilayah (orang) Rejang. Kampong/kota
Kapahiang sendiri berada di lembah dimana mengalir sungai Musi yang berhulu di
Tjoeroep. Dalam situasi dan kondisi inilah dinamikan populasi penduduk Redjang diantara
Bengkoeloe di barat dan Palembang di timur. Yang jelas orang Rejang di
pedalaman (di pegunungan) berada diantara orang Melayu di pantai barat dan di
pantai timur Sumatra. Hal serupa ini juga yang terjadi di zaman kuno bagi orang
Lampoeng, orang Kerintji, orang Minangkabau, orang Batak (Angkola Mandailing dan
Toba) dan orang Gajo/Alas.

Seberapa intens letusan gunung Kaba pada tahun 1833
tidak terinformasikan secara lengkap. Akan tetapi gempa yang ditimbulkannnya
haruslah dianggap gempa yang sangat luar biasa besarnya karena air danau Ketjil
bisa tumpah seluruhnya dan salah satu dusun yang diinformasikan terendam
setinggi lebih dari enam meter. Dalam hal ini apa yang terjadi di lembah Curup?
Seberapa besar dampak gempa di lembah Curup, seberapa besar dampak yang
ditimbulkan efek gempa pada hulu sungai Musi di lembah Curup? Tidak
terinformasikan.


Jika kembali ke pertanyaan awal bahwa lembah Curup di zaman kuno adalah
suatu danau besar (jauh lebih besar dari danau Ketjil), bagaimana danau Curup
kering dan kondisinya yang tampak seperti sekarang? Besar dugaan gunung Kaba
pernah Meletus dengan dampak gempa yang sangat besar. Tanggul danau di arah
hilir hulu sungai Musi di selatan lembah Curup telah jebol. Posisi dimana
tanggul danau itu jebol diduga pada jarak terpendek antara tebing barat dan
tebing timur sungai Musi. Dalam hal ini antara lereng gunung Ketam dengan
lereng gunung Boengkoek. Secara geomorfologis sungai Musi diantara dua lereng
ini terdapat celah sempit yang menjadi jalan aliran sungai Musi ke arah selatan
(lihat peta).

Dalam perkembangannya, wilayah orang Redjang yang
awalnya masuk wilayah Residentie Palembang, dimasukkan ke wilayah administrasi
Residentie Bengkoelen (lihat Tijdschrift voor Neerland’s Indie jrg 2, 1839).
Dalam hal ini pengalihan ini lebih pada sifat administrative untuk upaya
efektivitas pemerintahan dan efisiensi dalam pengeluaran pemerintah. Namun
seperti disebut di atas, wilayah Redjang secara geomorfologis lebih mengaraj ke
timur (Residentie Palembang) di daerah aliran sungau Musi.


Berdasarkan catatan statistic dalam Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1839
wilayah (onder) afdeeeling Redjang terdiri dari distrik Tjiento Mandie, Kaloeba,
Kasambe dan Tahapahé, Secara keseluruhan wilayah Redjang memiliki populasi
gabungan sekitar 10.000 jiwa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Residentie Palembang vs Residentie Bengkoelen:
Pembagian Wilayah Administrasi Didasarkan Atas Rentang Kendali, Efisiensi dan
Efektivitas Pemerintahan era Pemerintah Hindia Belanda

Populasi penduduk terawal di (pulau) Sumatra berada
di pegunungan di seputar danau-danau besar, seperti di danau Ranau (orang
Lampung), danau Curup (orang Rejang), danau Kerinci (orang Kerinci), danau
Singkarak dan danau Maninjau (orang Minangkabau), danau Siabu (orang Angkola Mandailing),
danau Toba (orang Toba), danau Tekengon (orang Alas) dan danau Tangse (orang Gajo).
Populasi penduduk pegunungan ini sudah berkembang sebelum memanjangnya
sungai-sungai pegunungan yang mengalir ke pantai timur. Pada fase itu populasi
pegunungan masih memiliki akses dekat ke pantai, naik ke pantai barat maupun ke
pantai timur. Memanjangnya sungai-sungai ke timur karena terjadinya proses
sedimentasi. Dengan kata lain pulau Sumatra semakin membengkak ke arah timur. Proses
sedimentasi karena massa padat dari pegunung berupa lumpur dan sampah vegetasi akibat
aktivitas penduduk di pegunungan (plus aktivitas vulkanik).


Banyak elemen budaya yang memiliki kesamaan diantara populasi penduduk
pegunungan di Sumatra, bahkan masih dapat diidentifikasi hingga sekarang.
Elemen bahasa dapat ditrace diantara kosa kata elementer di masing-masing bahasa
suku (terawal) yang sekarang. Elemen aksara juga memiliki kedekatan dan mirip
satu sama lain. Elemen adat istiadat (djoedjoer), system pemerintahan non monarki.
 Elemen seni (music, tari dan lagu) dan
elemen arsitektur. Khusus elemen arsitektur tampak pada pola bentuk atap rumah,
suatu wujud elementer dalam arsitektur bangunan di Sumatra. Bentuk dasar adalah
segi tiga yang terdapat di Angkola Mandailing, Kerinci/Jambi dan Rejang. Tekesan
ada pegeseran minor di Toba. Perubahan signifikan pola atap rumah terdapat di
Minangkabau dan Lampung. Pola atap rumah di Lampong lebih mirip dengan pola
yang terdapat di (pulau) Jawa. Pola di Toba dan Minangkabau struktur dasarnya
sama tetapi yang membedakan adalah ujung atap (adanya bentuk gonjong di
Minangkabau). Kecuali di Lampong, bentuk dasar pola atap rumah di Sumatra kurang
lebih sama. Ini mengindikasikan adanya keterkaitan budaya di masa lampau,
seperti halnya aksara dan elemen budaya lainnya.

Disamping kesamaan aksara dan kosa kata elementer
yang memiliki kemiripan diantara populasi penduduk pedalaman Sumatra (orang
Rejang dan lainnya), arsitektur rumah sebagai wujud peradaban yang lebih maju,
pola bentuk alam menjadi pananda navigasi budaya yang paling penting. Di dalam
bentuk rumah, dalam hal ini pola atap, terdapat lambing sosio-budaya populasi
penduduk. Suatu bagian rumah yang jauh dari jangkauan, terlestarikan dan dapat
diperhatikan dari jauh dari berbagai arah mata angin, menjadi lambing
eksistensi yang secara sosiohistoris diwariskan. Satu yang penting dalam pola
atap rumah ini adalah penambahan elemen tertentu sebagai lambing pada kedua
ujung atap. Pola rumah orang Rejang yang memiliki bentuk tanduk (v) di kedua
ujung atap, sama dengan yang digunakan orang Kerinci/Jambi dan orang
Batak/Angkola Mandailing. Lambang yang sederhana tetapi memiliki arti.


Secara teoritis dapat diperhatikan pola bentuk-bentuk atap rumah di
Sumatra seperti yang digambarkan di atas, pada dasarnya sama (kecuali Lampung).
Bentuk dasar adalah sederhana, bentuk terawal yakni berbentuk lurus (atap
segitiga) dimana elemen tanduk ditambahkan, Tanduk dalam hal ini merupakan
lambing sosiomagis seperti tanduk kerbau. Bentuk pola atap rumah orang
Minangkabau dan orang Batak/Toba telah bergeser menjadi bentuk lengkung. Boleh
jadi pergeseran itu karena perubahan dalam merespon perubahan baru (penhgaruh
dari luar). Dalam hal ini elemen takduk menghilang. Di Minangkabaau dan
Batak/Toba elemen tanduk digantikan dengan elemen ujung atap, tetapi secara
spesifik di Minangkabau lebih runcing (gonjong). Apakah bentuk gonjong di
Minangkabau sebagai wujud lambing tunggal (misalnya pengaruh agama Islam),
sementara di Angkola Mandailing, Kerinci dan Rejang pola lama tetap
dipertahankan, tidak dengan tanduk yang sebenarnya tetapi dalam bentuk lambing
(bentuk v) saja (yang terbuat dari kayu). Sedangkan di wilayah Lampong, bentuk
pola atap rumah tidak lagi mengikuti pola bentu dasar (pola asli) rumah
Sumatra, tetapi mengadopsi pola bentuk rumah di (pulau) Jawa yang disebut limas
atau joglo.

Pola bentuk atap rumah diduga kuat menjadi pola
rumah yang sudah terbentuk dari zaman kuno. Di dalam relief candi Borobudur,
hanya ada dua pola bentuk atap yang diabadikan yakni pola bentuk yang sederhana
dari Sumatra dan pola bentuk limas dari Jawa. Pola bentuk atap rumah di
Minangkabau dan di Toba tidak terwakili di dalam museum budaya zaman kuno di
dinding relief candi Borobudur. Ini mengindikasikan pola atap di Minangkabau
dan Toba dapat dikatakan relatif masih baru.


Pola bentuk atap rumah di Toba dan Minankabau terkesan bersifat anomaly.
Ada di dalam barisan tetapi berbeda secara umum dengan yang lainnya di wilayah
Sumatra. Oleh karena pola bentuk atap di dua wilayah tersebut bersifat berbeda,
ada baiknya dengan mengidentifikasi bentuk atap proksinya (wilayah terdekat).
Dengan demikian pola bentuk rumah yang berbeda diantara diantara dua wilayah
yang sama dapat disimpulkan sebagai pola yang umum (kurang lebih serupa untuk
keseluruhan). Proksi pola bentuk atap rumah di Minangkabau (elemen gonjong)
dapat diperhatikan pola bentuk atap rumah di wilayah kota Padang. Pola bentuk
atap rumah di Kota Padang kerap disebut Kajang Padati (lihat gambar). Dalam hal
ini dapat ditambahkan, pola atap rumah di Nias kurang lebih sama dengan di Sumatra,
Sementara itu, pola bentuk atap rumah di Karo adanya kemiripan dengan pola
bentuk atap rumah Melayu Deli. Sedangkan pola bentuk atap rumah di Lampung,
sejatinya mirip dengan Pasemah, tetapi di Lampong diduga mendapat pengaruh dari
Jawa (Banten) sehingga terkesan berbentuk pol alimas (joglo)..

Oleh karena kebaruan bentuk atap di pedalaman
Minangkabau dan Toba, dengan memperhatikan garis continuum sepanjang garis
budaya di Sumatra dapat dikatakan bahwa pada awalnya diduga pola bentuk atap
rumah di Sumatra kurang lebih sama, pola sederhana dengan elemen tanduk. Hal
ini karena terdapatnya pola bentuk yang sama mulau dari utara Gayo Alas hingga
ke selatan dengan elemen tanduk seperti pola bentuk atap rumah Angkola
Mandailing (Tapanuli) hingga di selatan Rejang Lebong (Bengkulu) dan
Pasemah/Basemah (Sumatra Selatan).
 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Sejarah Bengkulu (10):Hazairin Ahli Hukum Adat Redjang dan Adat Tapanoeli Selatan; Lulus Sekolah Hukum RHS Batavia (1936)

Fikih Hukum Air Kencing dan Kotoran Hewan

Extension Chrome Ini Dapat Membantu Anda Menghemat Biaya Penerbangan

Iklan

Recommended Stories

Alila Villas Uluwatu Meluncurkan Opsi Reservasi Terbaru untuk Tetap Berkelanjutan, dan Meninggalkan Jejak Positif

Resep Tomat Hijau Goreng (Fried Green Tomatoes) – So Yummy!

10.10.2016

Destinasi Rekreasi sampai Wisata Pendakian Gunung di Jawa Ini Kembali Ditutup Sementara

06.10.2021

Lailatul-Qadar Malam ke-27 Ramadhan

27.05.2019

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?