Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Lampung (20): Sejarah Kesehatan di Lampung; Dr Mohamad Hamzah Harahap hingga Nama Rumah Sakit Abdul Moeloek

Tempo Doelo by Tempo Doelo
28.10.2022
Reading Time: 21 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini  

Status kesehatan penduduk, termasuk di
(district) Lampung sangat tergantung dari kehadiran dokter-dokter. Namun siapa
Dr Mohamad Hamzah Harahap dalam narasi sejarah Kesehatan di Lampung, tampaknya
tidak ada. Faktanya, Dr Mohamad Hamzah Harahap terbilang sebagai dokter pribumi
pada era pertama di (residentie) Lampung, sejak 1902. Dalam narasi sejarah kesehatan
di Lampung nama-nama yang dicatat antara lain adalah Dr. Dam Stoh dan Dr Abdul
Moeloek. Nama Abdul Moeloek kini ditabalkan menjadi nama rumah sakit umunm di Kota
Bandar Lampung.  


Rumah
Sakit Umum Daerah Dr.H. Abdul Moeloek (RSUD Dr H Abdul Moeloek) adalah rumah
sakit pendidikan di Bandar Lampung Rumah sakit ini kini menjadi rujukan
tertinggi untuk semua rumah sakit di Provinsi Lampung. Rumah sakit didirikan
tahun 1914 sebagai rumah sakit perkebunan era Pemerintah Hindia Belanda dengan
berkapasitas 100 tempat tidur. Sejak tahun 1942 digunakan untuk merawat tentara
Jepang dan 1945 s.d 1950 sebagai RSU, dikelola oleh Pemerintah Pusat RI. Sejak 1965
s.d sekarang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Sejak tahun 1984 nama
rumah sakit ini berganti menjadi Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek. Sejak
berdiri sampai sekarang rumah sakit ini tujuh belas kali pergantian direktur,
mulai dari Dr. Dam Stoh sebagai direktur pertama pada tahun 1929 sampai dengan
sekarang. Nama Abdul Moeloek diabadikan karena dia adalah direktur ke-5 rumah
sakit (1942-1957)
(https://rsudam.lampungprov.go.id/pages/).
Sementara itu Dinas Kesehatan pada tahun 1957 masih berbentuk kantor
keresidenan (DOKARES) dan tahun 1958 dibentuk kantor Pengawasan Jawatan
Kesehatan Rakyat/Impek Kesehatan (INKES). Pada tanggal 29 Oktober 1970 Prof. GA
Siswabesi selaku Menteri Kesehatan melantik dr. R. Sutrisno menjadi pengawas
kepala. Sejak 1996 Kepemimpinana Dinas Kesehatan Provinsi telah terpisah dari
Kanwil Departemen Kesehatan Provinsi Lampung
(https://dinkes.lampungprov.go.id)

Lantas bagaimana sejarah sejarah kesehatan di
Lampung? Seperti disebut di atas, salah satu dokter pribimu yang pernah bertugas
di (residentie) Lampoeng pada era pertama adalah Dr Mohamad Hamzah Harahap. Dokter
lain yang pernah bertugas di keresidenan Lampung antara lain Dr Abdul Moeloek yang
kini namanya ditabalkan sebagai nama RSUD di Kota Bandar Lampung. Lalu bagaimana
sejarah sejarah kesehatan di Lampung? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Bataviaasch nieuwsblad, 24-11-1902

Sejarah Kesehatan di Lampung; Dr Mohamad Hamzah
Harahap hingga Rumah Sakit Abdul Moeloek

Pada tahun 1902 di sekolah kedokteran di Batavaa
Docter Djawa School dua lulus menjadi dokter Dr Mohamad Hamzah Harahap dan Dr
Haroen Al Rasjid Nasoetion. Keduanya ditempatkan di Sumatra, Dr Mohamad Hamzah
Harahap ditempatkan di Telok Betoeng, sedangkan Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion ditempatkan
di Padang. Dengan kapal ss Riemsdijk kedua dokter mud aini berangkat dari pelabuhan
Tandjoeng Priok, Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-01-1903). Dr Mohamad
Hamzah Harahap turun di Telok Betoeng dan Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion turun
di Padang. Dr Mohamad Hamzah Harahap adalah dokter pribumi pertama di Lampong.


Keberadaan
dokter pertama kali di Lampoeng dilaporkan oleh G Zollinger (1846). Dokter
Belanda tersebut ditempatkanm di Tarabangi untuk membantu pejabat Pemerintah
Hindia Belanda dan militer yang berada di benteng. Cabang pemerintahan di Lampoeng
dimulai tahun 1836 dengan ibu kota di Tarabangi (kini Terbanggi Besar). Seiring
dengan ekskalasi politik di selatan Lampong tahun 1856, garnisiun militer dibangun
di Telok Betoeng. Dokter Belanda ditempatkan di garnisun. Pada tahun-tahun ini
ibu kota district Lampoeng direlokasi dari Tarabangi ke Telok Betoeng.

Setelah sekian dasawarsa situasi dan kondisi
di residentie District Lampong kondusif, mulai didatangkan dokter pribumi.
Seperti disebut di atas, dokter pribumi pertama tersebut adalah Dr Mohamad
Hamzah Harahap pada tahun 1903. Namun tidak lama kemudian Dr Mohamad Hamzah
Harahap dipindahkan ke Pariaman (De locomotief, 16-06-1903). Di Pariaman tidak
lama, dan Kembali ke Telok Betoeng. Pada bulan Januari 1904 Dr Mohamad Hamzah
dari Telok Betoeng dipindahkan ke Kroei (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-01-1904).


Dr Mohamad
Hamzah Harahap ditempatkan ke Pariaman hanya untuk sementara waktu, boleh jadi
untuk menggantikan dokter tertentu untuk sementara. Basis dokter Mohamad Hamzah
tampaknya di wilayah selatan pulau Sumatra antara Telok Betoeng dan Kroei.
Sebagaimana diketahui Kroei adalah salah satu district di Reisdentie Bengkoelen
yang populasinya adalah orang Lampong (kini Krui masuk wilayah provinsi
Lampung). Dalam perkembangannya wilayah kerja Dr Mohamad Hamzah Harahap semakin
diperluas, selain Residentie Lampong juga residentie Bengkoelen. Terakhir Dr Mohamad
Hamzah Harahap ditempatkan di Selolong.

Pada tahun 1909 Dr Mohamad Hamzah Harahap
dipindahkan dari Bengkoelen (Selolong) ke Sibolga di Residentie Tapanoeli
(lihat Sumatra-bode, 21-10-1909). Dr Mohamad Hamzah Harahap di Sibolga akan
dengan mudah pulang kampong di Padang Sidempoean. Sepupu Dr Mohamad Hamzah
Harahap yakni Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun-tahun ini
studi di Belanda.


Sebagaimana
diketahui pada tahun 1908 Soetan Casajangan di Belanda (Leiden) menginisiasi
pembentukan organisasi mahasiswa pribumi yang disebut Indische Vereeninging
yang juga bertindak sebagai ketua pertama. Pada tahun 1911 Soetan Casajangan
lulus sarjana pendidikan di Belanda (dan baru kembali ke tanah air tahun 1913).
Pada tahun 1914 Soetan Casajangan ditempatkan di Fort de Kock sebagai direktur
sekolah guru (kweekschool) Fort de Kock. Pada tahun 1821 Dr Soetomo dkk di Belanda
mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesiasche Vereeniging. Pada
tahun 1924 Mohamad Hatta dkk mengubah lagi naman Indische Vereeining dengan
nama Perhimpoenan Indonesia (PI).

Dr Mohamad Hamzah Harahap bertugas di selatan
Sumatra (Lampong dan Bengkoelen) selama enam tahun sebelum dipindahkan ke
kampong halaman di Tapanuli. Sebagai pengganti Dr Mohamad Hamzah Harahap di
Bengkolen adalah Dr Soekadi (sebelumnya di Blora). Dr Mohamad Hamzah Harahap di
Sibolga untuk mengisi kekosongan, karena rekan lamanya Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion
telah meminta pensiun dini dan telah diizinkan pemerintah.


Dr
Haroen Al Rasjid Nasoetion pertama kali ditempatkan di Padang, namun tidak lama
kemudian dipindahkan ke Sibolga. Anak pertama Dr Haroen Al Rasjid lahir di
Padang yang diberi nama Ida Loemongga. Pada tahun 1910 anak Dr Haroen Al Rasjid
Nasoetion lahir di Sibolga yang diberi nama Gele Harun. Ida Loemongga kelak
menjadi perempuan pertama pribumi yang meraih gelar Pendidikan tertinggi (doctor)
dalam bidang kedokteran di Univeristie Amsterdam (1930). Gele Haroen Nasoetion kelak
menjadi Residen Lampong.

Dr Mohamad Hamzah Harahap setelah berdinas di
Sibolga kemudian dipindahkan ke Pematang Siantar (Reisdentie Oost Sumatra)
sebagai kepala dinas Kesehatan kota. Sebaliknya rekan Dr Mohamad Hamzah Harahap
yang sudah pensiun dini. Haroen Al Rasjid Nasoetion memilih tempat tinggal di Telok
Betoeng untuk membuka dokter praktek. Boleh jadi hal ini karena rekomendasi Dr
Mohamad Hamzah Harahap, selain karena kekosongan dokter di Lampong (Telok
Betoeng) juga seiring dengan rencana pemerintah Pemerintah Hindia Belanda membuka
konsesi perkebunan di Lampong.
 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Mohamad Hamzah Harahap hingga Rumah Sakit Abdul
Moeloek: Status Kesehatan di Lampung Masa ke Masa

Bagaimana kehadiran dokter lain di Lampong
sejak kehadiran Dr Haroen Al Rasjid di Lampong (Telok Betoeng) adalah satu hal.
Sementara peran Dr Haroen Al Rasjid di Lampong adalah hal lain. Yang jelas Dr
Mohamad Hamzah Harahap sudah pindah berdinas di Pematang Siantar. Lalu
bagaimana di Lampong sendiri? Pada tahun 1917 terjadi peristiwa kesehatan di
Lampong (lihat
Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-11-1917).


Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-11-1917: ‘Dia meninggal pada hari
Sabtu, tanggal 17 malam ini pada jam 9. di perusahaan yang agak terisolasi Wai
Rate, Administratur Pylger de Vries, keadaan dimana pria planter yang dihormati
dan simpatik ini meninggal agak tragis. Perusahaan perkebunan tersebut masih disibukkan
dengan lahan budidaya yang luas sehingga kondisi kesehatan secara umum kurang
baik, sedangkan dokter yang bekerja pada perusahaan tersebut, Dr. Bintang belum
juga tiba di lokasi. Pengawasan medis untuk sementara diserahkan kepada dokter
sipil Dr Stigter, yang, bagaimanapun–(untuk alasan yang tidak dapat dipahami)–belum
mengunjungi perusahaan dalam beberapa minggu terakhir. Sebelumnya, de Vries
mengirim surat yang meminta bantuan medis dan juga dengan sia-sia menanyakan
mengapa kunjungan biasa tidak datang. Oleh karena dokter tersebut tidak ada
respon, lalu dokter pribumi yang selalu dermawan, Dr Haroen [Al Rasjid
Nasoetion], yang bantuannya dipanggil oleh Administrator tersebut, hari Minggu memutuskan
untuk pergi ke perusahaan dari Telok Tandjoeng Karang dan Telok Betong dengan
terlebih dahulu mencoba menemui Dr Stigter. Ketika, setelah perjalanan yang
melelahkan, pertama melalui laut, mereka mencapai tempat itu, ternyata,
sayangnya, bantuan medis datang terlambat, karena pasien, setelah penderitaan
yang mengerikan, karena kekurangan pertahanan tubuh yang paling diperlukan, sudah
meninggal karena kolera…’.

Dalam hubungannya dengan kolera di Lampoeng, Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-12-1917
personil (kapal) ss dan
seluruh warga Tanjung Karang dan Telok Betong segera divaksinasi, karena
laporan pertama agak mengkhawatirkan. Di luar tuan de Vries, tidak ada korban
diantara orang-orang Eropa. Dokter swasta Dr Malver melakukan tindakan
karantina kepada pasiennya. Dr Haroen Al Rasjid yang juga menemukan diantara
para pasiennya melakukan tindakan karantina. Namun pejabat pemerintah (Residen)
melarangnya. Perlu diapresisasi pertama-tama kita harus mengenal persahabatan
antara dokter Eropa dan rekan-rekan pribumi, untuk memahami kolegialitas yang
dilakukan Dr. Haroen dalam tindakan karantina.


Dari
berita ini terkesan pers berbahasa Belanda di Hindia Belanda mengapresiasi tindakan
pencegahan penyakit menular (kolera) dengan tindakan karantina. Dr Haroen
bernar-benar menjalankan profesinya sebagai dokter meski bukan (lagi) dokter
pemerintah. Tidak lama kemudian, Dr Haroen anaknya yang pertama, Ida Loemongga
diterima di sekolah menengah (HBS) elit di Batavia, Prins Hendrik School (PHS).
Ida Loemongga disebut berasal dari sekolah dasar Eropa (ELS) di Telok Betong
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-05-1918).

Pada tahun 1919 Pemerintah Hindia Belanda
mengangkat Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion untuk bertanggungjawab sebagai pekerjaan
dokter pribumi pemerintah, obat-obatan. pelayanan di Telok Betong (district
Lampung) Haroen al Rasjid, dokter pribumi berprofesi disana (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 27-05-1919). Dalam berita ini juga disebut bahwa di Telok Betong (district
Lampung) dokter pemerintah J Kwast, tetap sebagai kepala, bagaimanapun,
bertanggung jawab atas pengawasan umum vaksin, serta pengawasan staf vaksinasi
di residentie District Lampoeng.


Pengangkatan
dokter yang pensiun menjadi dokter pemerintah sangat jarang jika tidak mau
dikatakan tidak ada. Boleh jadi dalam hal ini, karena adanya wabah, namun yang
penting tampaknya ada kebersediaan dengan visi yang sama (pengentasan kolera)
antara Pemerintah Hindia Belanda dan Dr Haroen Al Rasjid sendiri.

Dalam berita tersebut di atas juga disebut
bahwa sejumlah dokter diangkat kembali sebagai dokter pemerintah kota. Dua yang
diangkat adalah Abdul Hakim gelar Soetan Isrinsah dan Mamoer Al Rasjid. Dr
Abdoel Hakim dan Dr Mamoer Al Rasjid.adalah adik kandung dari Dr Haroen Al
Rasjid Nasoetion.


Dalam
berita lain Dr Abdoel Hakim diangkat menjadi dokter pemerintah kota di Padang.
Dr Abdul Hakim Nasoetion sendiri adalah sama-sama lulus dari Docter Djawa
School Bersama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo pada tahun 1905. Dalam berita ini juga
disebutkan Dr Achmad Mochtar dipindahkan dari Padang Sidempoean ke Sibolga
sebagai dokter pemerintah. Dr Achmad Mochtar kelahir Bondjol yang berasal dari
Mandailing (Tapanoeli). Achmad Mochtar lulus di sekolah kedokteran STOVIA
(sukses Docter Djawa School) tahun 1916 yang kemudian langsung ditempatkan di
Medan untuk ikut membantu Kepala Inspektur Dinas Kesehatan di Sumatra, Dr. W.
Schüffnerm (lihat De Preanger-bode, 05-07-1916). Tiga nama yang disebut
tersebut, Dr Abdoel Hakim Nasoetion, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan dokter muda
Dr Achmad Mochtar Nasoetion kelak dikenal sangat dikenal. Dr Abdoel Hakim
Nasoetion adalah salah satu dari dua wakil walikota (locoburgemeester) di era
Hindia Belanda, Abdoel Hakim Nasoetion di kota Padang dan MH Thamrin di
Batavia. Dr Tjipto Mangeoenkoesoemo yang namanya ditabalkan sebagai rumaha
sakit di Jakarta (RSCM). Dr Tjipto adalah ketua Indisch Partij (PNI) sedangkan
Dr Abdoel Hakim Nasoetion (besan dari MH Thamrin) sebagai ketua PNI di pantai
barat Sumatra. Dr Achmad Mochtar Nasoetion menjadi kepala Lembaga Eijkman di
Batavia yang menjadi korban (dibunuh) dalam soal vaksin pada era pendudukan
Jepang.

Pada saat mana di Teloek Betoeng. Ibu kota
Residentie Lampeong, Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion, seorang dokter swasta yang
telah membuka klinik Bersama istrinya Alimanatoe’Saadiah Harahap di Telok
Betoeng dan Tandjoeng Karang. Ditunjuk pemertintah untuk bertanggungjawab dalam
hal pelayaran pengobatan dan penyediaan obat-obatan dalam hal epidemic wabah
kolera, nun jauh disana di Batavia sekolah kedokteran (STOVIA) baru saja
mengumumkan hasil seleksi siswa baru, semacam UMPTN pada masa kini (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 06-05-1920). Salah satu yang diterima adalah Abdoel
Moeloek.


Abdoel
Moeloek lulus ujian di Padang Pandjang (yang juga bersama dengan Mohamad
Jamin). Yang juga diterima Ali Besar Harahap dari Medan, LG Siregar dan Pamenan
Harahap dari Sibolga; RCL Senduk dari Manado. Sebagaimana di kutip di atas, Abdoel
Moeloek kelak namanya ditabalkan sebagai nama rumah sakit umum daerah di (kota)
Bandar Lampoeng. Mohamad Jamin dan Senduk menjadi anggota komite Kongres Pemuda
1928 yang mana sebagai ketua adalah Soegondo, Mohamad Jamin sebagai sekretaris,
Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai bendahara dan beberapa anggota antara lain
Senduk. L Gindo Siregar pada saat perang kemerdekaan dengan profesi sebagai
dokter menjadi komandan perang di Sumatra Timur dan Tapanoeli dengan pangkat
Majoor Jenderal. Abdoel Moeloek dan Pamenan Harahap pada akhir era Pemerintah
Hindia Belanda (1939) setelah berdinas di berbagai daerah ditempatkan di Liwa
(Residentie Bengkoelen) Dr Abdoel Moeloe dan di rumah sakit kota di Batavia (Dr
Pamenan Harahap).

Siswa yang masuk STOVIA tahun 1920 pada tahun
1930 pertama lulus (lihat De Indische courant, 06-05-1931). Yang lulus tahun
1930 antara lain Gindo Siregar, JL Makalew, RM Soekasno dan Darwis. Dalam
berita tersebut Abdoel Moeloek lulus ujian tahun ke-7. Ini mengindikasikan
bahwa Abdoel Moeloek tertinggal satu tahun dari wakti normal. Yang sama-sama
lulus tahun ke-7 antara lain Roezin, Pamenan Harahap, JF Malaiholo, Aboe
Hanipah dan Ali Besar Harahap.


Sementara
yang lulus tahun ke-7 yang normal antara lain Kasmir Harahap, Mohamad Iljas,
dan R Hendarmin. Sedangkan yang lulus dokter pada tahun 1931, selain yang
disebut di atas, antara lain Daliloedin Loebis, Roebini. J Leimena dan
Askarani. Roebini dan J Leimena adalah dua diantara panitia Kongres Pemuda
1928.

Kapan Abdoel Moeloek lulus menjadi dokter
belum diketahui. Yang jelas rekannya Pamenan Harahap lulus bulan Agustus tahun
1931 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-08-1931). Namun
akhirnya diketahui Abdoel Moeloek lulus menjadi dokter, pada bulan Februari tahun
1932 (lihat De locomotief, 22-02-1932).


Nun
jauh disana di Belanda, putri Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion, dokter di Lampong,
Ida Loemongga berhasil memperoleh gelar sarjana kedokteran pada tahun 1927 di
Universiteit Utrecht. Setelah dipromosikan menjadi dokter di universitas
tersebut, Ida Loemongga pada tahun berikutnya mengambil dokter spesialis di
Universiteit Lieden. De Tijd: godsdienstig-staatkundigdagblad, 21-03-1929
melaporkan: ‘Mij. I. Rasjid kelahiran Padang Sidempoean (tercetak, seharusnya Padang)
dinyatakan lulus dan berhak sebagai dokter. Lantas kemudian, Ida Loemongga
ternyata diminati oleh banyak institute. Setelah beberapa waktu sebagai asisten
Dr. Caroline Lang, Ida Loemongga meneruskan pendidikan doktoral di Universiteit
Amsterdam. Pada tahun 1931, Ida Loemongga dipromosikan sebagai doktor di bidang
kedokteran dengan promotor Dr. Lang sendiri. Bataviaasch nieuwsblad, 20-01-1931
memberitakan bahwa ‘Nona Haroen Al Rasjid yang dalam hal ini Mej. I.L. Haroen
Al Rasjid yang menandai dari sisi adat sebagai perempuan pribumi pertama yang
meraih doktor di bidang kedokteran’. Di dalam berita ini disebut Mej. Haroen
adalah putri seorang dokter pribumi di Padang Sidempoean (mungkin mengacu pada
tempat lahir Dr. Haroen Al Rasjid Nasoetion) sementara Haroen Al Rasjid
Nsoetion sudah sejak 1911 berada di Lampoeng. Ida Loemongga lulus dari sekolah
dasar Eropa di Telok Betoeng tahun 1918 dan melanjutkan sekolah menengah Prins
Hendrik School di Batavia (HBS lima tahun, IPA) dan lulus tahun 1922 langsung
melanjutkan studi ke Belanda (Utreecht) di bidang kedokteran. Pada tahun 1921
di sekolah PHS yang sama Mohamad Hatta lulus dari HBS bidang sosial dan ekonomi
melanjutkan studi ke Rotterdam. Dr Ida Loemongga Nasoetion, Ph.D adalah
perempuan pribumi pertama yang meraih gelar doctor.

Di Lampoeng, Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion dan
istrinya Alomatoe’Saadiah Harahap pada tahun 1931 yang belum lama pulang dari
Belanda menghadiri promosi doctor prutrinya Ida Loemongga, diketahui sebagai
dokter terkenal di Lampoeng yang telah memiliki beberapa klinik kesehatan di
Lampong, antara lain di Telok Betoeng, Tandjoeng Karang dan Way Lima. Pada
tahun 1931 putra bungsu Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion setelah lulus AMS di
Bandoeng melanjutkan studi hukum di Leiden. Namanya Gele Haroen (yang kelak
menjadi pribumi pertama sebagai advokat di Lampoeng, setelah lulus di Leiden
pada tahun 1936).


Gele
Haroen Nasoetion selama perang kemerdekaan ikut berperang melawan kehadiran
Belanda/NICA kembali ke Lampoeng pada tahun 1946. Gele Haroen di dalam
pengungsian memimpin para Republiken dalam perang dengan NICA dengan pangkat
Letnan Kolonel. Setelah gencatan senjata dalam persiapan konferensi KMB di
Belanda, Pemerintah RI di wilayah Republik mengangkat Letnan Kolonel Mr Gele
Haroen Nasoetion sebagai Residen Lampoeng. Markas Gele Haroen di Liwa.

Singkat cerita: pada tahun 1939 Dr Abdoel
Moeloek dipindahkan dari Semarang ke Bandoeng sebagai dokter pemerintah (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 17-02-1939). Namun perpindahan terseburt diduga tidak
terlaksana. Yang jelas pada bbulan Juli 1939 diberitakan bahwa Dr Abdoel
Moeloeok dipindahkan dari Semarang ke Liwa, Bengkoelen (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 15-07-1939). Sejak itu, nama Dr Abdoel Moeloek tidak
terinformasikan lagi. Lantas bagaimana tentang Dr Mohamad Hamzah Harahap. Dokter
pribumi pertama di Lampoeng? Pada tahun 1941 Dr Mohamad Hamzah Harahap pension sebagai
dokter dimana di Pematang Siantar kepadanya diberikan masyarakat gelar
kehormatan sebagai ‘Bapak Dokter’.


Bataviaasch nieuwsblad, 12-06-1941: ‘BAPAK DOKTER PENSIUN’. Bapak
dokter adalah; sebutan kehormatan. diberekan rakyat, di Semeloengöen kepada
dokter di Siantar karena rajin desa ke desa, dokter Mohanad Hamzah. Sejak
beberapa tahun yang lalu Dr. Hamzah sedang cuti sakit, ‘karena dia saat itu
‘lemah’. dia tidak pernah bisa tampil lagi. Sekarang dokter itu pensiun,
setelah 24 tahun telah bertugas terus menerus di Simaloengon. Dokter Hamzah lulusan
Docter Djawa School (STOVIA) lulus sebagai ahli bedah medis untuk dipekerjakan pertama
kali di Pematang Siantar 1917 untuk wilayah kerja di Simeloengoen., dia bekerja
disana dengan keras dan sangat ambisius di antara penduduk dan mereka tahu itu,
lalu memberi dokter gelar kehormatan “bapa dokter”. Bagin rakyat hanya
ada seorang ‘bapa dokter’ yang selalu siap sedia setiap saat. Tidak hanya
sebagai dokter, tetapi sebagai konselor datang untuk berkonsultasi dengan
dokter. Dr. Hamzah, yang menyaksikan populasi tumbuh dan putranya ditempatkan
tahun sebelumnya sebagai dokter kedua di Siantar. Setelah kedatangan Dr Mahmoed,
populasi datang dalam jumlah besar untuknya. Dokter Hamzah diangkat sebagai
anggota dewan kota beberapa tahun setelah kedatangannya di Siaatar. Disini dia
telah menunjukkan anggota yang paling pantas di dewan. Bahwa dewan kota
(gemeenteraad) Pematang Siantar mengakui hal ini, kehormatan membuktikan dari
Dr. Hamzah, beberapa tahun yang lalu. Dr. Hamzah, secara terbuka, sampai beberapa
tahun kemudian, menjadi juru bicara penuh dari raja-raja Simalungun. Terakhir
kali dia telah menarik diri dari segalanya: sejak penyakitnya yang serius tahun
sebelumnya dia tidak muncul di depan umum lagi, Untungnya dia sekarang telah
pulih dari penyakitnya, tetapi belum sepenuhnya pulih. Semoga dalam waktu
istirahat yang diizinkan secara resmi pensiun menemukan kedamaian yang tidak
pernah ia cari, sehingga ia dapat menikmati masa pensiunnya untuk waktu yang
lama’.

Dr Mohamad Hamzah Harahap yang menjadi dokter
pribumi pertama di Lampong (1903), di Pematang Siantar telah dihormati oleh
penduduk Simaloengoen sebagai dokter berdedikasi dan diberikan gelar adat
sebagai Bapak Dokter. Dr Mohamad Hamzah Harahap telah pensin belum lama ini di
Pematang Siantar karena sakit, tetapi sudah pulih. Rekannya di Lampoeng Dr
Haroen Al Rasjid Nasoetion hanya focus peda pengembangan klinik Kesehatan sehingga
memungkin penduduk Lampong mendapat kemudahan akses kesehatan. Dr Haroen Al
Rasjid Nasoetion di Lampong masih sehat juga, namun perannya di Lampoeng telah
digantikan anaknya di Lampoeng sebagai tokoh yang juga dikenal, advokat Mr Gele
Haroen Nasoetion. Sebagaimana di Pematang Siantar perannya telah digantikan
oleh anaknya Dr Mahmoed Hamzah Harahap.


Itulah
kisah dua dokter asal Padang Sidempoean, lulusan ELS Padang Sidempoean, Dr
Mohamad Hamzah Harahap dan Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion yang sebagai dokter
bekerja penuh dedikasi untuk penduduk Lampong dan Simaloengoen. Keduanya, low
profile, hanya tertuju kepada bagaimana untuk meningkatkan status Kesehatan penduduk.
Dalam kasis epidemic kolera di Lampoeng pada tahun 1919, banyak penduduk yang
terselamatkan oleh Dr Haroen Al Radjid Nasoetion, demikian juga dengan peran
berikut Dr Mohamad Hamzah Harahap di Siantar yang oleh penduduk diberi gelar
Bapak Dokter. Bagaimana dengan di Lampoeng? Apa yang diberikan kepada Dr Haroen
Al Rasjid nasoetion? Mungkin sudah cukup karena belakangan ini penduduk Lampung
telah mengusulkan sang putra Mr Gele Haroen Nasoetion untuk diusulkan sebagai
Pahlawan Nasional dari daerah Lampung.

Tunggu deskripsi lengkapnya 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Sejarah Lampung (21): Sejarah Pendidikan di Lampung, Sejak Kapan? Awal Pendidikan Buku Sejarah Pendidikan Daerah Lampung

Pameran "Swara Iboe", Cara Muspada Rayakan Hari Sumpah Pemuda Lebih Spesial

Iklan

Recommended Stories

Pantai Samas Bantul yang Terkenal Konservasi Penyu nya

12.06.2015

Kode Pos Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau Kalimantan timur

12.05.2017

Khutbah Arafah Rasulullah SAW

24.10.2012

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?