Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bangka Belitung (36): Asal Usul Nama Belitung, Billiton Sejak Era Portugis; Gunung Blitong, Kampong Batang, Kundur

Tempo Doelo by Tempo Doelo
09.10.2022
Reading Time: 12 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini 

Seperti halnya nama-nama lainnya seperti Sumatra,
Jawa, Nias dan Bali, nama pulau Belitung juga bersifat unik (tidak ada di
tempat lain). Nama-nama unik tersebut diduga adalah nama-nama lama yang berasal
dari masa lampau, zaman kuno. Jika nama desa/sungai Bangka menjadi nama pulau
Bangka, lalu bagaimana dengan nama pulau Belitung? Seperti kita lihat nanti,
nama pulau Belitung diduga kuat berawal dari nama kampong kemudian menjadi gunung
Blitong. Nama gunung/kampong awal inilah yang menjadi nama pulau.


Sejarah
asal usul nama Belitung tentu saja sudah ada yang menulis. Satu tulisan yang
secara khusus menulis hal tersebut menyebut nama Pulau Belitung sudah dikenal
oleh para pelaut dunia setidaknya sudah dikenal sejak abad ke-16. Rujukannya
yakni Peta Giacomo Gastaldi berjudul ‘Il Disegno Della Terza Parte Dell’ Asia’.
Peta ini diterbitkan di Roma, Italia pada tahun 1580. Namun penyusunan peta ini
sudah berlangsung jauh sebelumnya yakni pada tahun 1565 dimana Pulau Belitung
ditulis dengan nama ‘Beleiton’. Sedangkan rujukan di abad ke-17 adalah sebuah
peta Indonesia karya Nicholas Sanson yang dipublikasikan di Paris, Prancis pada
1657. Dalam peta tersebut, Pulau Belitung ditulis dengan nama ‘Billeton’. Sebelas
tahun kemudian, tepatnya pada 1668 Jan de Harde menjadi Orang Belanda pertama
yang melakukan ekspedisi ke Pulau Belitung. Dalam catatan perjalanannya, Pulau
Belitung ditulis dengan nama Billitongh, Billitong, dan Blitongh. Pada 1687,
sebuah peta yang menggambarkan Indonesia bagian barat karya Jean Baptiste Nolin
menulis Pulau Belitung dengan nama ‘Billiton’. Baru setelah memasuki abad
ke-18, gambaran mengenai bentuk asli Pulau Belitung mulai disajikan lebih baik.
Salah satunya terlihat dari peta Laut Jawa karya Johannes van Keulen yang
diterbitkan di Amsterdam Belanda pada 1728. Dalam peta itu Keulen menulis Pulau
Belitung dengan nama ‘Billeton’. Keulen juga mencantumkan dua nama tempat yang
hingga saat ini masih dikenal yakni Lenggang dan Balok. Buku terbitan 1887,
Herinneringen aan Blitong: historisch, lithologisch, mineralogisch, geographisch,
geologisch en mijnbouwkundig karya Cornelis de Groot memberikan pandangan baru
terhadap penyebutan nama Pulau Belitung. De Groot mengatakan kurun 1745-1765
Pulau Belitung dikenal dengan nama ‘Bliton’. Ia menjelaskan, penulisan kata
‘Bliton’ secara umum dipraktekkan dalam surat menyurat atau surat keputusan
(besluit) Pemerintah Hindia-Belanda, Dewan Negeri Belanda, dan Direksi VOC di
Amsterdam. Kemudian pada 1815-1851, secara umum nama pulau ini ditulis Billiton
dan sebagian lagi Biliton. De Groot menjadi orang pertama yang mengoreksi cara
penulisan tersebut. Menurut dia, penduduk Pulau Belitung menyebut pulau tempat
mereka tinggal dengan nama ‘Blitong’ yang dalam penulisan atau informasi
lainnya tidak pernah sekalipun diubah. Pada 1856, Pieter Baron Melvill van
Carnbee membuat peta Pulau Belitung dengan bentuk yang hampir sempurna. Peta
tersebut diberi judul ‘Kaart van de afdeeling Billiton (of Blitong)’. Tahun
1892, Dr. I. Dornseiffen merilis Atlas van Nederlandsch Oost- en West-Indie di
Amsterdam, Belanda. Dalam peta tersebut, Dornseiffen menulis peta Pulau
Belitong dengan tulisan ‘Blitong’. Namun setahun kemudian yakni pada 1893, Peta
Indonesia yang dirilis oleh Witkamp telah menuliskan nama Pulau Belitung dengan
tulisan ‘Belitoeng’. Merujuk pada ejaan Belanda, cara penulisan Witkamp
tersebut akan membuat pulau ini dibaca dengan bunyi ‘Belitung’. Penyebutan ini
terus bertahan hingga kini (Wahyu Kurniawan)

Lantas bagaimana sejarah asal usul nama
Belitung, Billiton sejak era Portugis? Seperti disebut di atas, soal itu sudah
ada yang menulis. Namun yang tetap menyisakan pertanyaan, bagaimana nama pulau
disebut pulau Belitung. Besar dugaan itu bermula dari nama Blitong sebagai nama
gunung, yang mana mana nama kampong Blitong kemudian menjadi Kundur. Nama
Belitung sebagai nama kampong dan nama gunung telah menghilang, tetapi tetap
lestari sebagai nama pulau. Lalu bagaimana sejarah asal usul nama Belitung,
Billiton sejak era Portugis? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Asal Usul Nama Belitung,
Billiton Sejak Era Portugis; Blitong Nama Gunung, Kampong Batang di Kundur

Asal usul nama geografis tentulah penting.
Karena nama menunjukkan tempatnya. Nama geografis itu menjadi penanda navigasi
yang penting, baik dalam pelayaran, wilayah administrative maupun dalam penyelidikan
sejarah. Mengabaikan nama geografis, hanya akan mengecilkan arti nama geografis
itu, dan mengabaikan nama geografis akan mengurangi pemahaman dalam penyelidikan
sejarah dalam hal pengumpulan data dan menarasikannya.


Dalam
hal ini nama Billiton adalah nama yang pernah eksis. Tidak hanya eksis dalam
peta-peta navigasi pelayaran, juga eksis dalam narasi sejarah dan dokumen yang
terkait pada satu zaman yang sama. Sudah barang tentu nama Billiton tidak
dikenal pada masa ini, karena yang eksis adalah nama Belitung. Oleh karenanya
nama Billiton dan nama Belitung harus dibedakan dalam analisis (data) sejarah.

Hingga tahun 1849 nama pulau secara resmi
masih disiebut sebagai pulau Billiton, nama yang diikuti sejak masa lampau.
Tahun 1849 dianggap penting karena di satu sisi ada wacana di Belanda agar
dimungkinkan perusahaan swasta mengambil bagian di Hindia Belanda (lihat Nieuwe
Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad,
07-09-1849). Sementara itu di dalam Almanak 1849 pemerintah telah mengangkat
pemimpin local di (pulau) Billiton. Depati Tjakradiningrat. Dalam hal ini di
pulau Billiton belum ada kehadiran orang Eropa/Belanda.


Sehubungan
dengan pendirian Billiton Maatschappij tahun 1852, orang Eropa/Belanda mulai
ditempatkan di pulau Billiton, yakni yang bertindak sebagai adminitratur
pertambangan timah swasta, Jhr. C. G. van Haeften dan JF den Dekker. Seiring
dengan kehadiran orang Eropa/Belanda di pulau, pemerintah merencanakan akan
menempatkan seorang pejabat pemerintah di Billiton setingkat Asisten Residen.
Pada tahun 1854 Asisten Residen di Billiton adalah HG Dielwart. Catatan:
pengelolaan pertambangan timah di Bangka di bawah pemerintah.

Nama Billiton adalah nama resmi pulau oleh Pemerintah
Hindia Belanda. Sudah barang tentu Billiton adalah nama yang diidentifikasi dan
dieja pelaut-pelaut Portugis untuk pulau Belitung. Tentu saja pedagang-pedaganga
VOC/Belanda kemudian mengeja dengan penulisan yang lain seperti Billitongh,
Billitong, Blitongh dan sebagainya. Nama yang diidentifikasi dan dieja seperti
sekarang Belitung muncul pertama pada tahun 1855 dengan diidentifikasi dan
dieja Belitoeng (lihat Algemeen Nederduitsch-Maleisch Woordenboek, in de hof-,
volks- en lage taal, met aanduiding der woorden, welke uit oostersche en
westersche talen ontleend zijn door Philippus Pieter Roorda van Eijsinga, 1855).


Besar
dugaan nama Belitoeng ini muncul karena kehadiran Pemerintah Hindia Belanda di
pulau Belitung. Seperti disebut di atas, Asisten Residen di pulau Billiton
ditempatkan tahun 1854. Meski nomenklatur pemerintah masih menggunakan nama
Billiton, tetapi bagaimana penulisan nama pulau yang benar sudah ditemukan. Hal
serupa ini ditemukan di tempat lain. Sejak 1855, penulisan nama Belitoeng
semakin kerap muncul. Namun dalam hal ini nama resmi untuk pemerintah (nama
wilayah) adalah satu hal, sementara penulisan nama yang sebenarnya adalah hal
lain lagi.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Blitong Nama Gunung, Kampong
Batang di Kundur: Geomorfologis Pulau dan Toponimi

Sejak keberadaan Pemerintah Hindia Belanda di
pulau Belitung nama wilayah disebut Billiton (mengacu pada nama pulau, nama
pulau sejak era Portugis). Hal seperti itu yang terjadi pada nama sungai besar
di kota Tandjong Pandan yang sekarang disebut sungai Tjeroepoet (merujuk pada
nama kampong). Kota Tandjoeng Pandan sendiri adalah kota baru, kota yang dirintis
Pemerintah Hindia Belanda dan kemudian mengembangkannya. Lantas, bagaimana asal
usul nama Billiton/Belitoeng?


Sehubungan
dengan adanya kerusuhan di Palembang dan pantai barat pulau Bangka pada tahun
1820/1821, pemerintah menempatkan Kapten Motte di pulau Belitoeng di sungai
Tjeroepoet sebagai Civielen cn Militairen Kommandant. Kapten Motte dengan
pasukannya mendirikan benteng di selatan tanjong, sisi utara sungai Tjeroepoet.
Kampong utama di daerah aliran sungai Tjeropeoet ini adalah kampong Tjeroepoet
yang namanya diberikan kepada nama sungai. Tanjung Pandan sendiri adalah
kampong kecil di dekat benteng, yang mana benteng dinamai fort/redoute
Tandjoeng Pandan. Populasi yang mendiami muara sungai ini adalah Orang Laut,
yang menjadi mitra penduduk di Tjeroepoet dalam perdagangan. Sejak kehadiran
militer di muara sungai 1822 Orang Laut tidak pernah lagi mendatanginya.

Nama Billiton/Belitoeng diduga kuat merujuk
pada nama gunung/bukit. Sementarea itu nama pulau Bangka merujuk pada nama
kampong dan nama sungai di pantai barat pulau Bangka. Seperti halnya nama
Bangka, nama Belitoeng juga adalah nama kuno, nama yang sudah eksis sejak masa
lampau (era Hindoe Boedha). Gunung Belitoeng berada di pantai selatan pulau
Belitung. Gunung Belitoeng memiliki ketinggian 125 meter (dpl).


Di
sebelah barat gunung Belitoeng terdapat beberapa bukit diantaranya gunung
Loedai, gunung Parang Boeloeh dan gunung Tambat serta gunung Gadoeng dan gunung
Poetat. Tiga gunung yang pertama terbentuk sungai yang mnegalir ke pantai
selatan, Dari dua gunung terakhir ini terbentuk sungai Koendoer melalui kampong
Koendoer yang kemudian bermuara ke sungai Kembiri.

Di pantai selatan pulau Belitung terdapat satu
teluk besar. Teluk tersebut dinamai Teluk Balok. Sungai-sungai yang bermuara ke
teluk antara lain sungai Balok (Bolak?), sungai Dendang (Dondong?), sungai Kembiri
(Kambiri?), sungai Engkalas (Angkola?). Sungai terbesar adalah sungai Balok
yang diduga merujuk pada nama kampong Balok yang kemudian menjadi asal usul
nama teluk. Sementara nama kampong Dendang diduga merujuk (atau sebaliknya)
pada nama gunung dan nama sungai Dendang. Nama kampong Kembiri merujuk pada
nama sungai Kembiri. Sedangkan sungai Engkalas berhulu di gunung Belitoeng,
dimana daerah aliran sungai Engkalas terdapat kampong Batang. Nama gunung Belitoeng
ini diduga menjadi nama pulau. Mengapa?


Sejarah
pulau Belitung diduga bermula dari pulau Bangka. Catatan sejarah pulau Bangka
diduga bermula pada abad ke-7 dimana kini ditemukan prasasti di pantai barat
pulau Bangka (prasasti Kota Kapoer 686 M). Desa Kota Kapoer sendiri pada masa
ini berada di lereng suatu gunung di dekat aliran sungai Mendoe. Besar dugaan
antara pulau Bangka dan pulau Belitung di masa lampau terhubung di pantai
selatan kedua pulau. Oleh karena itu, sekitar teluk Balok adalah salah satu
pusat peradaban di pulau Belitoeng. Dalam hal ini teluk Balok menjadi sangat
penting saat itu hingga masa ke masa. Untuk memasuki teluk dari arah barat
(pulau Bangka) sebagai penanda navigasi adalah gunung Belitoeng. Boleh jadi
dari nama gunung inilah diduga menjadi nama pulau Belitoeng.

Secara geomorfologis, meski kini nama Dendang
sebagai nama tempat utama di teluk, tetapi kampong Dendang diduga adalah
kampong baru, suatu kampong yang terbentuk baru di pantai yang merujuk pada nama
gunung/sungai Dendang (di belakang pantai). Kampong-kampong tua yang diduga
kota-kota kuno di kawasan teluk Balok adalah kampong Batang, kampong Koendoer,
kampong Balok dan kampong Kembiri. Oleh karena kawasan teluk sejak masa lampau
sangat ramai dimana diduga terdapat kerajaan dengan kota-kota utama tersebut,
menjadikan gunung Belitoeng sebagai penanda navigasi memasuki teluk, maka dalam
navigasi pelayaran zaman kuno, nama pulau kemudian disebut pulau Belitoeng.


Seperti
halnya bahasa, nama-nama geografi juga diwariskan. Nama-nama geografis (nama
tempat, gunung dan sungai) adalah bahasa permukaan bumi. Pada era pelaut-pelaut
Eropa para ahli kartografi meneruskan nama-nama geografi ini dengan menambahkan
nama-nama geografis baru seperti nama tanjong, nama teluk dan nama selat.
Nama-nama geografi adalah penanda navigasi pelayaran yang penting. Semakin
penting nama-nama geografis di masa lampau, nama-nama tersebut sulit diubah.
Namun para ahli kartografi Eropa ada alasan tertentu mengubah nama geografi.
Nama-nama pulau seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Lingga, Bangka, Belitung dan
Karimata serta Soneda adalah nama-nama tua sejak zaman kuno (era Hindoe Boedha).
Nama Soenda adalah nama pulau yang kemudian menjadi nama selat (selat Soenda).
Nama pulau Soenda kemudian disebut pulau Sangiang. Demikian juga nama selat
Bangka (merujuk pada nama pulau) dan selat Karimata (merujuk pada nama pulau).
Nama selat Gaspar merujuk pada nama pulau Gaspar (nama yang diberikan oleh para
pelaut era Hindia Belanda).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

Sejarah Bangka Belitung (37): Geopark di Kepulauan Belitung dan Destinasi Wisata Pulau; Kelayang, Lebong, Seliu, Lengkuas

Berharap Regenerasi Yang Serasi

Berharap Regenerasi Yang Serasi

Iklan

Recommended Stories

Bank Mandiri KCP Pademangan Jakarta

30.12.2015

Resep Ayam Kecap Wijen Masak Bumbu Jahe

28.07.2016

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (2)

10.03.2025

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?