*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini
Di pulau Bangka terdapat suku Maras. Konon,
disebutkan Orang Maras adalah suku tertua di pulau Bangka. Bagaimana nama Maras
dihubungkan dengan populasi penduduk asli di pulau Bangka, tidak terinformasikan,
Yang jelas di pulau Bangka gunung tertinggi disebut gunung Maras. Sementara itu
di pulau Belitung ada adat Orang Melayu yang disebut Maras Taun. Apakah nama
Maras ini tekait satu sama lain?

Gunung
Maras adalah gunung yang terletak di Pulau Bangka, tepatnya di Desa Rambang,
Kecamatan Riau Silip’, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Jarak Gunung Maras dengan Kota Sungailiat sekitar 70 km, sedangkan dari Kota
Belinyu sekitar 33 km. Gunung Maras merupakan satu-satunya gunung yang berada
di Pulau Bangka. Sementara itu, di pulaiu Belitung penduduk asli adalah Melayu.
Berdasarkan ciri-ciri bahasa, asal usul dan adat istiadatnya, orang Belitung
dapat digolongkan dalam kelompok besar suku bangsa Melayu, sehingga identitas
mereka lebih tepat disebut sebagai Melayu Belitung. Orang Melayu Belitung sendiri
menyebut diri mereka Urang Belitong. Salah satu tradisi menarik yang sampai
saat ini masih eksis di Kabupaten Belitung, yaitu tradisi upacara adat maras
taun. Maras taun adalah ucapan syukur atas limpahan rezeki dari hasil panen
bagi para petani padi ladang di Pulau Belitung dengan cara se-dekah pada
kekuatan alam ketika masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Maras,
mempunyai pengertian kegiatan membersihkan duri kecil yang terdapat pada
tanaman. Sedangkan, Taun mempunyai arti Tahun. Jadi, secara sederhana maras
taun berarti pemotongan tahun, dari tahun yang lama ke tahun yang baru, dan atau
disebut juga Selamatan Kampung yang dipimpin oleh dukun kampung bersama
masyarakat (lihat Pemaknaan dan Nilai dalam Upacara Adat Maras Taun di
Kabupaten Belitung. 2022. Tri Rahma Juniarti dkk).
Lantas bagaimana sejarah Maras, suku tertua di
Bangka, Maras gunung tertinggi di Bangka? Seperti disebut di atas nama Maras
tidak hanya nama suku, juga nama gunung di Bangkan dan maras juga digunakan di
pulau Belitung sebagai kegiatan adat yang disebut Maras Taun. Lalu bagaimana sejarah
Maras, suku tertua di Bangka, Maras gunung tertinggi di Bangka? Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.Peta
gunung di Bangka (tertinggi Maras)
Maras, Suku Tertua di Bangka, Maras Gunung Tertinggi
di Bangka; Kegiatan Adat Maras Taun di Belitung
Seperti dikutip di atas, suku Maras adalah
suku tertua di pulau Bangka. Bagaimana menjelaskannya? Suatu populasi disebut
Maras diduga merujuk pada nama gunung di pulau Bangka (gunung Maras). Gunung
ini dapat dikatakan gunung tertinggi di pulau Bangka (700 m). Gunung Maras ini
seakan berada di pedalaman pulau, tetapi dapat diakses dari pantai utara pulau
memasuki teluk besar yang memanjang ke pedalaman. Besar dugaan pada masa lampau
gunung Maras ini tepat berada di pesisir pantai di ujung teluk ke arah selatan.

Secara
geomorfologis, gunung Maras, di lerengnya sebelah timur diduga adalah pantai di
dalam suatu suatu teluk yang memanjang ke pedalaman. Ke dalam teluk ini
sejumlah sungai bermuara seperti sungai Layang, sungai Sangiang dan sungai
Temera. Berdasarkan Peta 1897 teluk ini telah mengalami penyempitan karena
terbentuknya perluasan daratan akibat sedimentasi jangka Panjang. Sungai-sungai
yang bermuara ke teluk membawa massa padat dari pedalaman berupa lumpur dan
sampah vegetasi. Sungai Layang yang berhulu di pegunungan granit telah memimpin
sungai-sungai lainnya menemukan jalan diantara rawa-rawa yang terbentuk hingga mencapai
garis pantai teluk yang baru di arah utara. Lalu dalam perkembangannya di muara
sungai Layang yang baru di teluk terbentuk pulau sedimentasi yang disebut pulau
Tinam (masih eksis hingga ini hari). Kini gunung Maras seakan jauh berada di
belakang pantai teluk (teluk Klabat), tetapi awalnya gunung tersebut tepat
berada di pantai teluk.
Besar dugaan di masa lampau di lereng gunung
Maras terdapat suatu kota, suatu pusat peradaban awal di pulau Bangka. Lokasinya
sangat strategis, bisa diakses dari laut, berada di pinggir teluk (di bagian
dalam) yang aman dari musuh (ada jalur escape ke pedalaman maupun ke pegunungan
di gunung Maras). Kota ini boleh jadi disebut kota Maras, yang mana nama gunung
mengambil nama tempat/kota Maras. Namun yang menjadi pertanyaan, siapa populasi
awal ini di kota Maras di lereng gunung Maras di ujung teluk Klabat tidak
diketahui secara jelas.

Tipologi
kawasan populasi (mirip kota Maras), yang diduga berasal dari zaman kuno cukup
banyak di wilayah Indonesia sekarang ini. Diantaranya adalah teluk Bima di
pulau Sumbawa dimana di ujung teluk terbentuk Kota Bima; Teluk Tual di pulau
Kei Kecil (Maluku Tenggara) dimana terbentuk kota Tual; di pantai barat Sulawesi
ditemukan di teluk Donggala dimana di ujung teluk terbentuk Kota Palu; kota
Ambon terbentuk di teluk Amboina; dan lainnya. Bagian dalam teluk-teluk tersebut
dimana terbentuk kota-kota merupakan pusat peradaban awal di Kawasan/pulau.
Oleh karenanya jika suku Maras dianggap
sebagai suku tertua penduduk asli pulau Bangka, secara geomorfologi sangat masuk
akal. Sebab, satu-satunya wilayah yang paling strategis di pulau Bangka dalam
pembentukan peradaban awal hanya ditemukan di lereng gunung Maras. Tidak hanya
aman dari ancaman luar, juga memiliki sumber ekonomi yang berasal dari
pertambangan timah di wilayah hulu di pedalaman. Kota Maras yang dulu berada di
tepi danau Klabat, dalam perkembangannya kota Maras masih dapay diakses dari
laut/danau melalui sungai Layang.Boleh jadi masa peradaban di lerengan gunung
Maras ini sudah berlangsung sejak lama. Ribuan tahun yang lalu, bahkan hingga
kini dimana populasi mengidentifikasi/diidentifikasi sebagai suku Maras.
Nama
Maras sendiri diduga adalah nama kuno. Tidak hanya nama tempat, tetapi juga
penanda navigasi pelayaran perdagangan di zaman kuno (nama gunung yang dapat
diolihat dari jauh). Secara toponimi juga nama Maras dapat dikatakan nama kuno,
yang nama Maras banyak ditemukan di India (era Hindioe/Boedha). Boleh jadi
kotas Maras ini sudah terbentuk jauh sebelum terbentuk Kota Kapur di pantai
barat pulau Bangka (dimana kini ditemukan prasasti yang berasal dari abad ke-7).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kegiatan Adat Maras Taun di
Belitung: Suku Melayu di Belitung
Wilayah Maras (kini desa Berbura, kecamatan
Riau Silip, kabupaten Bangka), gunung dan pusat peradaban awal di pulau Bangka,
diduga peradaban semakin berkembang dengan terbentuknya kota-kota baru seperti
kota Muntok, kota Sungai Liat dan kota Pangkal Pinang. Kota-kota besar di pulau
Bangka (bagian utara) ini, berada di lingkaran radar peradaban awal di pulau
Bangka yang dulunya berpusat di Maras.

Pada
zaman kuno, Maras berkiblat ke utara sepanjang danau Klabat. Namun pada masa
kini, Kawasan Maras di yang masuk wilayah desa Berbura di kecamatan Raiu Silip
lebih berorientasi ke pantai timur di Sungai Liat. Perkembangan jalan darat
pada era Hindia Belanda diduga menjadi factor yang mengubah orientasi wilayah kea
rah Sungai Liat (kini menjadi ibukota kabupaten Bangka). Desa Berbura terbentuk
sebagai gabungan kampong-kampong yang memiliki dialek Bahasa dan adat yang sama
di sekitar gunung Maras. Yakni kampong Bernai dan kampong Buhir yang masuk desa Riau
dan kampong Rambang yang masuk desa Pangkal Niur.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





