*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Awal peradaban baru di Nusantara diduga kuat berasal
dari wilayah Asia. Sebagai awal peradaban baru, berbagai elemen budaya baru bagi
populasi penduduk asli yang terbentuk, merupakan interaksi penduduk pulau-pulau
nusantara dengan orang asing di wilayah Asia. Arah kehadiran peradaban baru itu
berasal dari arah barat (khusunya India) melalui daratan (pegunungan Himalaya
ke Semenanjung Malaya dan semenanjung Indochina) maupun melalui navigasi
pelayaran pantai (pantai-pantai sepaanjang India Timur, teluk Bengale hingga ke
semenanjung Pegu/Burma (kini Myanmar) dan seterusnya melalui daratan awal (gugus
pulau0pulau Andaman/Nicobar) hingga pantai barat Sumatra dimana peradaban awal
dimulai di wilayah Angkola yang sekarang. Selanjutnya, kehadiran orang Eropa ke
Nusantara, termasuk pantai barat Sumatra teknologi navigasi pelayaran sudah
sangat maju.

Seorang botanis Inggris Charles Miller mengunjungi
(wilayah) Angkola pada tahun 1772. Pengiriman Miller ini ke Tanah Batak diduga
dalam upaya Inggris menguasai nusantara. Pada tahun yang sama James Cookj
dikirim melakukan ekspedisi ke Australia dan Pasifik. Saat itu, Inggris yang
berpusat di India (Calcutta) telah memiliki koloni kecil di Bengkulu. Boleh
jadi pengiriman ini diduga kaitannya dengan semakin terdesaknya Inggris di
Amerika Serikat. Dua tahun kemudian Inggris menyerah di Amerika Serikat
sehubungan dengan proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli
1774. Hasil ekspedisi James Cook diterbitkan pada tahun 1775. Dalam laporan ini,
Cook merekomendasikan ahar Inggris membentuk koloni di Aistralia (bagian
tenggara). Pada tahun 1877 koloni Inggris dimulai di Australia di Sydney. Dua
tahun kemudian, pada tahun 1879 skuadron Inggris yang berpangkalan di Madras
dipindahkan ke Bengkulu. Inilah awal invasi Inggris di Nusantara (wilayah yang
telah dikuasasi Belanda/VOC sejak 1619). Tujuan Inggris menggeser pangkalan di
India ke pantai barat Sumatra diduga kuat untuk: (1) mengamankan koloni baru di
Australia, (2) mengamankan jalur perdagangan antara India dan Tiongkok melalui
selat Malaka; dan (3) upaya menaklukkan Belanda/VOC yang berpusat di Jawa
dengan ibu kota di Batavia.
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi Pantai
Barat Sumatra? Seperti disebut di atas, awal
mula peradaban baru Nusantara di pantai barat Sumatra diduga bermula di wilayah
Angkola yang kemduian mempengaruhi perubahan geomorfologi wilayah. Perubahan ini terus terjadi hingga kehadiran orang
Eropa. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi
Pantai Barat Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Geomorfologi Pantai Barat Sumatra; Wilayah Angkola,
Tapanuli Mula Peradaban Awal Nusantara
Perubahan geomorfologis pantai barat Sumatra tidak
seradikal geomorgologi pantai timur Sumatra. Hal itu karena banyak faktor,
seperti permukaan dasar laut, kedalaman
laut, arus laut, angin, banyak sedikitnya (gugus) pulau yang dekat ke daratan dan
sebagainya. Faktor sungai hanya bersifat sekunder. Panjang pendeknya sungai-sungai
yang sekarang ditentukan oleh faktor-faktor utama, yakni terjadinya proses
sedimentasi jangka panjang. Sungai yang terus memanjang, juga pada gilirannya
ikut mempengaruhi intensitas proses sedimentasi jangka panjang di muara-muara
sungai.

Pada masa ini sungai-sungai yang terbilang besar di pantai barat Sumatra
antara lain sungai Singkil (Aceh), sungai Batang Toru (Sumatra Utara), sungai
Pasaman (Sumatra Barat) dan sungai Ketahun di Bengkulu. Sungai-sungai ini meski
terbilang panjang di barat, tetapi relatif pendek jika dibandingkan di pantai
timur Sumatra. Ada puluhan sungai besar yang bermuara ke pantai timur Sumatra,
sungai-sungai yang terkenal antara lain sungai Musi (Sumatra Selatan), sungai
Batanghari (Jambi), sungai Kampar (Riau) dan sungai Batang Barumun (Sumatra
Utara). Secara geomorfologis seperti sungai Musi dan sungai Batanghari awalnya
sungai-sungai yang pendek seperti di pantai barat, akibat factor-faktor utama yang
menyebabkan proses sedimentasi jangka Panjang di muara sungai terbentuk daratan
baru yang mana sungai menemukan jalannya sendiri ke laut. Proses sedimentasi
yang terus berlanjut (sungai terus memanjang) menyebabkan sungai-sungai seperti
sungai Musi dan sungai Batanghari terus semakin Panjang. Hingga masa ini proses
sedimientasi dan memanjangnya sungai terus berlangsung.
Sungai-sungai yang bermuara ke pantai barat Sumatra
di wilayah Angkola (Tapanuli Selatan, Sumatra Utara) ada dua yakni sungai
Batangtoru dan sungai Batang Angkola. Semenatara di wilayah selatannya (wilayah
Mandailing) bermuara ke pantai barat Sumatra yakni sungai Batang Gadis, sungai
Batang Natal dan sungai Batahan. Sungai Batang Angkola dari utara dan sungai
Batang Gadis dari selatan bertemu di Siabu dan kemudian dengan nama sungai
Batang Gadis bermuara ke pantai barat Sumatra. Sungai Batang Toru berhulu di
Silindung (Tapanuli Utara). Sungai-sungai di Angkola yang bermuara ke pantai barat
Sumatra pada awalnya terbilang pendek tetapi kemudian memanjang,

Seperti dikutip di atas, Charles Miller mengunjungi wilayah Angkola pada
tahun 1772 memulai pelayaran dari teluk Tapanuli di pulau Pontjang Kecil lalu
memasuki muara sungai Lumut. Dengan perahu yang lebih kecil, Miller menyusuru
sungai Lumut melewati beberapa kampong seperti kampong Pinangsori hingga tiba mendarat
di kampong Lumut. Dari kampong Lumut melanjutkan perjalanan ke wilayah Angkola di
sekitar Gunung Lubuk Raya dengan melewati jembatan suspense (jembatan gantung)
di atas sungai Batangtoru. Sepulang dari wilayah Angkola, Charles Miller pulang
dengan jalan yang sama tetapi setelah melewati jembatan gantung sungai Batang
Toru, Miller tidak kembali ke Lumut tetapi menyusuri sisi barat sungai Batang
Toru hingga tiba di kampong Sipisang, muara sungai Batang Toru. Yang kemudian
dilanjutkan dengan perahu besar berlayar ke pulau Pontjang Kecil. Kampong Sipisang
ini, yang pada tahun 1772 berada di muara sungai Batangtoru, pada masa ini
kampong ini terkesan berada jauh di pedalaman. Ini mengindikasikan bahwa sungai
Batang Toru sejak 1772 terus memanjang di hilir menuju laut. Proses memanjang
sungai ini diduga kuat karena proses sedimentasi jangka panjang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Wilayah Angkola, Tapanuli Mula Peradaban Awal
Nusantara: Sungai-Sungai Besar di Pantai Barat Sumatra dan di Pantai Timur
Sumatra
Wilayah Angkola di Tapanuli, pada zaman dahulu,
adalah wilayah pedalaman Sunatra dimana terdapat jalur pintas antara pantai
barat Sumatr dengan pantai timur Sumatra. Dengan kata lain wilayah Angkola
memiliki lebar terpendek pulau Sumatra. Ibarat wilayah Kota Bogor adalah jarak
terpeden antara sungai Ciliwung dengan sungai Cisadane atau wilayah negara
Panama yang menjadi jarak terpendek benua Ameruka antara Lautan Atlantik dan
Lautan Teduh/Pasifik, atau Kra (di Semenanjung Malaya). Pada masa itu pantai
barat Sumatra di wilayah Angkola berada di kampong Sangkunur dan di pantai
timur berada di Binanga.
Wilayah Angkola di pantai barat awalnya garis pantai di kampong Sangkunur
(muara sungai Batang Toru). Dari pusat Angkola di sekitar lereng gunung Lubuk
Raua sejak lama telah terbentuk jalur jalan darat ke Sangkunan (Pelabuhan awal
Angkola). Setelah terjadi proses sedimentasi jangka panjang, di teluk Sangkunur
terbentuk daratan hingga muara sungai Batang Toru bergeser ke suatu titik
dimana kemudian terbentuk kampong baru yang diberi nama kampong Sipisang (seperti
disebut di atas dikunjungi Charles Miller tahun 1772). Muara sungai ini terus
bergeser menjauhi Sangkunur (kini Sangkunur seakan berada di pedalaman). Oleh
karena satu-satunya jalur darat dari pusat Angkola ke laut, lalu dibangun jalur
darat baru dengan membangun jembatan gantung di atas sungai Batang Toru hingga
ke kampong Lumut (kampong yang berada di panatai di suatu teluk). Kampong Lumut
menjadi Pelabuhan Angkola berikutnya. Pelabuhan Angkola adalah Pelabuhan feeder
dimana Pelabuhan utama berada di Baroes. Sungai Lumut juga membentuk daratan
baru di teluk sehingga kedalaman air di dekat kampong Lumut semakin dangkal.
Namun dibandingkan jalur air/laut dari Angkola ke Baroes melalui pelabuhan/sungai
Lumut masih lebih pendek/singkat Seperti dilihat nanti pada era Hindia Belanda,
untuk membangun pelabuhan tidak dimungkinkan lagi di Lumut lalu dipilih di
Jaga-Jaga (pantai). Hal serupa ini juga terjadi di pantai timur yang berawal di
Binanga (muara sungai Barumun). Muara sungai kemudian bergeser ke Kota
Pinang/Tor Gamba, lalu berlanjut terus hingga pada masa ini muara sungai berada
di Labuhan Bilik..
Sangkunur adalah nama kuno, seperti halnya nama Angkola,
Baroes dan Batang/Langgabayu. Di dekat Sangkunur juga terdapat nama kuno yakni
danau Siais dan kampong di pinggir danau Batu Rombi. Peradaban baru Angkola
diduga dimulai di sekitar danau Siais (danau di belakang pantai/di ketinggian/dpl).
Dengan terjadinya interaksi dengan penduduk pendatang dan penduduk asli di pedalaman
membentuk populasi baru (orang Angkola?). Pusat peradaban baru ini kemudian
bergeser ke sekitar lereng gunung Lubuk Raya di pedalaman melalui jalur sisi
sungai Angkola yang berhulu di sekitar danau.
Nama Angkola diduga adalah nama paling terawal. Nama Angkola diduga
merujuk pada nama kuno Tacola. Dalam catatan geografis Ptolomeus abad ke-2
disebutkan sentra produksi kamper berada di pulau Sumatra bagian utara. Ptolomeus juga membuat peta (semenanjung)
Aurea Chersonesus (pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya). Di dalam pet aini diidentifikasi
di arah barat laut semenanjung nama Tacola. Nama yang diidentifikasi Ptolomeus
inilah yang diduga asal muasal (keberadaan) nama Angkola/Akkola. Masih pada
abad ke-2 disebut dalam catatan Tiongkok Dinasti Han bahwa utusan raja Yeh-tiau
menghadap Kaiser Tiongkok untuk tujuan membuka pos perdagangan. Besar dugaan
Kerajaan Tacola sentra produksi kamper ingin membuka perdagangan di pantai
selatan Tiongkok dalam pertukaran produk kamper dengan barang industry dari
Tiongkok. Pos perdagangan itu diduga berada di Vietnam di kota Nha Trang yang
sekarang (dimana ditemukan prasasti yang berasal dari abad ke-3), sedangkan pelabuhan
Angkola di pantai timur berada di Binanga. Pada abad ke-5 menurut catatan Eropa
disebutkan bahwa kamper diekspor dari pelabuhan yang dinamai Baroes. Besar
dugaan Baroes adalah pelabuhan yang terbentuk baru, sebagai pelabuhan pertemuan
antara berbagai pedagang mancanegara. Pelabuhan Sangkunur/Lumut menjadi
pelabuhan feeder untuk pelabuhan besar Nama. Langgabayu juga diduga adalah nama
kuno yang berada di selatan (wilayah Natal yang sekarang). Kampong Linggabayu
berada di muara sungai yang menjadi pelabuhan wilayah Angkola/Mandailing dari
pedalaman. Sejak kampong Linggabayu muncul tidak diketahui secara pasti. Namun
sejak kehadiran pedagang-pedagang Arab (sejak abad ke-7) nama Linggabayu juga
disebut dengan (kampong) Batang. Nama Batang ini masih eksis hingga kehadiran
orang Eropa/Portugis abad ke-16 (lihat peta Portugis di atas). Oleh karena
kampong Batang berada di muara sungai, penduduk menganggap suatu kata baru ‘batang’-sungai
untuk sinonim dengan kata ‘aek’ plus kata serqapan ‘aroe’ dari bahasa India. Besar
dugaan nama Batang ini bagi orang Eropa ditulis
dengan ‘batac’.
Dengan andalan produk alami, kamper, emas, gading,
damar, kulit manis dan kemenyan, wilayah Angkola menjadi kaya raya. Interaksi
dengan orang asing di satu sisi telah meningkatkan peradaban Angkola dan di
sisi lain kerajaan yang semakin kuat (sebut saja Kerajaan Angkola) lalu upaya
perluasan wilayah semakin dimungkinkan (untuk memperluas perdagangan). Wilayah
kerajaan sudah meliputi seluruh Sumatra bagian utara (termasuk pelabuhan
Baroes). Pada abad ke-7 Kerajaan Angkola memperluas wilayah ke Sumatra bagian
selatan (lihat prasasti Kedoekan Boekit 682 M).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





