*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Nama Kota Kuching adalah nama kota baru. Kota yang
menggantikan nama Kota Serawak. Jauh sebelum kota Serawak/Kuching terbentuk ada
dua kota lain yang lebih tua di wilayah Serawak yakni Kota Sibu dan Kota
Bintulu. Pada masa ini Kota Sibu seakan berada jauh di pedalaman sementara Kota
Bintulu berada di pantai. Dua kota tua ini dulunya sama-sama di pantai.

Sibu is an inland city in the
central region of Sarawak. It is the capital of Sibu District in Sibu Division,
Sarawak, Malaysia. The city is located on the island of Borneo and covers an
area of 129.5 square kilometres (50.0 sq mi). It is located at the confluence
of the Rajang and Igan Rivers, Sibu is mainly populated by people of Chinese
descent, mainly from Fuzhou. Other ethnic groups such as Iban, Malay and
Melanau are also present, but unlike other regions of Sarawak, they are not as
significant. Sibu was founded by James Brooke
in 1862 when he built a fort in the town to fend off attacks by the indigenous
Dayak people. Before 1873, Sibu was called “Maling”, which was named
after a bend of the Rajang river called “Tanjung Maling” opposite the
present day town of Sibu near the confluence of Igan and Rajang rivers. On 1
June 1873, the third division of Sarawak (present day Sibu Division) was
created under the Brooke administration. The division was later named after the
native Pulasan fruit which can be found abundantly at the region
(“Pulasan” is known as “Buah Sibau” in the Iban language). In the 15th
century, the Malays living in southern Sarawak displaced the immigrant Iban
people towards the present-day Sibu region. Throughout the 17th and 18th
centuries, the Rajang basin was rife with tribal wars between the Ibans and
indigenous people in the Rajang basin. The Ibans would occasionally form a
loose alliance with the Malays to attack the Kayan tribes and perform raids on
Chinese and Indonesian ships passing through the region. Bintulu is a
coastal town on the island of Borneo in the central region of Sarawak,
Malaysia. Bintulu is located 610 kilometres (380 mi) northeast of Kuching, 216
kilometres (134 mi) northeast of Sibu, and 200 kilometres (120 mi) southwest of
Miri. With a population of 114,058 as of 2010, Bintulu is the capital of the
Bintulu District of the Bintulu Division of Sarawak, Malaysia. The name of
Bintulu was derived from the local native language “Mentu Ulau”
(picking heads). Bintulu was a small fishing village when Rajah James Brooke
acquired it in 1861. Brooke later built a fort there in 1862. In 1867, the
first General Council meeting (now Sarawak State Legislative Assembly) was
convened in Bintulu. (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi wilayah
Sibu dan wilayah Bintulu, dua kota lama di Serawak? Seperti disebut di atas, wilayah Sibu dan wilayah
Bintulu adalah pusat perdagangan awal dimana kini terbentuk kota besar Sibu dan
Bintulu. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi
wilayah Sibu dan wilayah Bintulu, dua kota lama di Serawak? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber
baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain
disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Geomorfologi Wilayah Sibu dan Wilayah Bintulu: Dua
Kota Lama di Serawak
Sebelum terbentuk kota baru Serawak (kini Kuching)
di masa lampau, kota tua yang sudah eksis sejak zaman kuno antara lain adalah
kota Sibu dan kota Bintulu. Dua kota bertetangga ini berada di barat daya
Brunai. Jauh sebelum dikenal Sibu dan Bintulu, tiga kota yang dikenal sejak
zaman kuno dan masih eksis lama adalah Melano, Brunai, dan Marudu. Kota Sibu
dan kota Bintulu baru popular belakangan.

Pada masa ini dari tiga kota kuno tersebut hanya kota Brunai (di negara
Brunai) dan Marudu (di negara Sabah) yang masih eksis hingga hari ini. Nama kota
Malano telah hilang, dimana tepatnya posisi GPS eks kota Malano tua itu tidak
diketahui secara pasti. Yang jelas nama Malano diduga kuat telah
bertransformasi menjadi nama etnik di wilayah negara Sarawak yakni etnik
Melanau. Etnik Melanau di Serawak populasinya kini cukup signifikan tersebar di
berbagai tempat termasuk di wilayah daerah aliran sungai Batang Lupar. Sungai
terbesar di Borneo Utara adalah sungai Rajang, sungai yang melintasi Kota Sibu.
Kota ini diduga kuat pada zaman kuno tepat berada di muara sungai Batang Rajang.
Secara geografis kota Sibu dan kota Bintulu di
negara Serawak bertetangga. Wilayah kota Sibu memanjang dari pedalaman kea rah pantai,
sementara wilayah kota Bintulu memanjang sepanjang pantai. Gambaran itu dapat
mengindikasikan secara terbentuk wilayahnya. Secara geomorfologis, wilayah Kota
Sibu memiliki lanskap yang berbeda dengan wilayah Kota Bintulu.

Hingga kehadiran Inggris di Borneo Utara nama tempat (kampong) Sibu dan
Bintoeloe belum diidentifikasi di dalam peta. Nama yang sudah diidentifikasi antara
lain sungai Redjang dan sungai Bintoeloe. Nama-nama kampong yang diidentifikasi
hanya di garis pantai seperti kampong Kidorong dan kampong Tatan di sekitar
muara sungai Bintoeloe dan kampong Egan, kampong Sirik dan kampong Jerri. Penanda
navigasi pelayaran zaman kuno antara wilayah Serawak dan wilayah Brunai adalah
Tanjung Baraon (lihat Peta 1657). Tanjung ini pada itu kini menjadi Kawasan gunung
Lambir dan gunung Siloengan. Dalam perkembangannya di timur tanjong ini menjadi
jalan air menuju laut (sungai Baram), sedangkan di barat tanjong ini menjadi
jalan arus air menuju laut (sungai Bintoeloe). Di muara sungai Bintoeloe inilah
terletak nama kampong Bintoeloe (nama sungai biasanya mengikuti nama tempat).
Antara Kota Sibu dan Kota Bintoeloe yang sekarang,
diduga pada zaman kuno adalah suatu garis pantai. Saat itu kampong Bintoeloe berada
di sebelah timur laut yang dibatasi tanjong Baraon sedangkan kampong Sibu di sebelah
barat (ujung bagian timur tanjong yang lain). Di belakang kampong Sibu terdapat
garis perbukitan yang memanjang dari pedalaman (yang menjadi batas wilayah
dengan sungai Batang Loepar di sisi barat).

Di garis pantai diantara Bintoeloe dan Sibu bermuara
sungai Binroeloe dan sungai Redjang dan sungai-sungai kecil lain. Semakin
intens aktivitas di hulu/pedalaman terjadi proses sedimentasi di pantai.
Tampaknya wilayah kampong Sibu menjadi area tangkapan air dimana terjadi proses
sedimentasi jangka Panjang yang membentuk rawa-rawa kemudian menjadi daratan
baru. Hal itulah seakan kampong/kota Sibu kini seakan berada jauh di pedalaman.
Pengaruh yang besar dari sedimentasi ini karena sungai Redjang adalah sungai
besar yang telah membawa massa padat dari pedalaman.
Sungai besar Batang Redjang telah mempengaruhi
geomorfologi kampong Sibu. Endapan lumpur di muara sungai Batang Redjang
menyebabkan terbentuk rawa yang luas dan kemudian membentuk daratan baru. Arus
sungai Batang Radjang mencari jalan sendiri menuju laut dengan membentuk
sungai-sungai baru di hilir kampong Sibu seperti sungai Igan, sungai Batang
Lassa.

Seperti biasa penamaan sungai mengikuti sejarah awal. Sunga Batang
Radjang awalnya Bernama sungai Sibu. Oleh karena terbentuk daratan di hilir dan
kemudian terbentuk kampong baru, maka kampong baru di dekat pantai sebagai pos
perdagangan pertama sebelum menuju Sibu dijadikakan sebagai penanda navigasi
yakni sungai Batang Redjang, suatu kampong di pesisir yang menjadi pos
perdagangan pertama di sungai Batang Sibu.
Secara geomorfologis Kawasan wilayah Sibu yang
awalnya merupakan muara sungai lalu terbentuk daratan di depannya, maka arah
arus sungai Sibu mengarah ke barat sesuai dengan garis pantai awal di lereng
bukit. Dalam pembentuk rawa-rawa menjadi daratan di depan kampong sibu
terbentuk sungai-sungai baru yang menjadi cabang sungai Batang Radjang (seperti
sungai Lassa). Di ujung sungai Batang Sibu di arah barat di pesisir diduga
terbentuk kampong baru yang disebut kampong Redjang. Sejak itulah nama sungai
Sibu bagi para pendatang dikenal sebagai sungai Batang Redjang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kuching Nama Kota Baru: Sejarah Awal Sibu dan Bintulu
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



